Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 33 - Tiba di Jakarta


__ADS_3

Hari itu, Reza bersiap dengan meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan mampu bersaing. Dia akan mampu menunjukkan kehebatannya di bawah mistar gawang.


Bahkan tidur malamnya terasa kurang nyenyak. Beberapa kali dia terbangun memikirkan hal yang berhubungan dengan hari esok.


Keesokan hari, tepat pukul 4 pagi.


Reza sudah dibangunkan ibunya. Mereka berdua bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Reza juga sudah selesai membersihkan badannya, seluruh persiapan telah siap.


“Pakaianmu? Sarung tanganmu? Topimu?” cecar Citra dengan beberapa pertanyaan.


“Sudah, Ibu! Sudah semua!” lirih Reza yang merasa bosan ditanyai terus menerus tentang barang-barangnya.


Setelah sarapan alakadarnya. Keduanya mulai menuju bandara Mutiara dengan menaiki taxi online yang telah dipesan Citra.


Setelah menunggu beberapa menit di teras rumah, keduanya mulai mendengar suara deru mesin yang mendekat. Setelah menunggu beberapa detik, kendaraan itu telah tepat di depan rumah.


Reza dan Citra pun mendekati mobil. Di sana, Reza bertanya.


“Dengan Oktavianus?”


Pria paruh baya pengemudi taxi online melirik Reza. Dia mengangguk ringan seraya mengajak keduanya masuk.


Citra dan Reza pun masuk ke dalam mobil pada posisi di belakang pengemudi. Reza melirik ke belakang, setelah tahu tak akan ada yang aneh-aneh dia segera memerintahkan untuk taxi berjalan.


Mobil taxi mulai berjalan perlahan keluar dari jalan kecil yang hanya muat sebuah mobil itu ke jalan lebih besar. Mereka mulai melaju di tengah sepinya jalanan kota menuju bandara Mutiara.


“Nak, kirim pesan kalau sudah sampai di sana yaa!”


Reza mengangguk ringan. Dia kemudian menatap lekat ke arah luar kaca jendela, melihat pemandangan disaat matahari belum menampakkan tubuhnya. Reza membuka sedikit kaca jendela dan dihirupnya udara segar begitu rakus.


“Masih segar … bentaran lagi mulai muncul polusi,” gumam Reza sambil kembali menutup kaca jendela.


Citra meraih pundak anaknya dan mendekatkannya padanya. Dia memeluk begitu hangat anak tercintanya tersebut yang akan dia lepas menuju masa depan Reza.


“Ibu …”


Sementara itu, pengemudi hanya diam sambil mengamati keduanya dari spion yang berada di tengah bagian langit-langit mobil. Dia menyunggingkan senyuman haru, bulir air mata sedikit keluar.

__ADS_1


Namun, karena gelap, maka cairan bening itu tak terlihat sama sekali. Karena suasana yang begitu dingin, pria itu memasang musik yang begitu bersemangat di pagi hari.


Dengan anggukan kecilnya, pria pengemudi bersiul sesekali. Reza juga mengikutinya, sebab musik yang diputar adalah kesukaannya.


***


Tak terasa, mobil telah sampai di parkiran bandara. Di sana, beberapa penumpang yang menunggu pesawat take-off mulai berdatangan. Sekarang masih pukul 05:45.


Masih ada waktu untuk mereka membeli beberapa oleh-oleh kecil di bandara. Beberapa di antaranya juga bolak-balik kamar mandi.


Reza sendiri saat ini menunggu bersama ibunya. Mereka juga sudah melakukan check-in dan segala macam hal telah diurus untuk keberangkatan nantinya.


Sambil menunggu, Reza dan Citra saling berbincang. Mereka mengisi waktu yang membosankan tersebut.


Beberapa menit kemudian, pengumuman akan take-off pesawat Garuda Indonesia.


Reza dan ratusan penumpang lainnya mulai memenuhi pintu menuju jembatan penghubung ke pesawat. Di sana, Reza memeluk Citra.


“Eca pergi yaa!”


Citra mengangguk ringan sambil mencoba menahan cairan bening yang hendak mengalir. Beberapa penumpang lainnya juga saling melepas keberangkatan.


***


Reza meletakkan koper kecilnya, setelahnya dia duduk tepat berada di samping jendela.


Deru mesin pesawat berbunyi kencang. Seluruh penumpang telah duduk, para pramugari cantik juga mulai memberikan arahan dalam tata cara situasi genting.


Reza yang mengantuk pun tertidur sembari memeluk tas ranselnya yang berisi sepatu, sarung tangan dan juga topinya. Ada smartphone miliknya juga di dalam tas ransel tersebut.


“Di sampingku kosong, jadi … cukup aman,” gumam Reza dan mulai mengambil posisi ternyaman miliknya.


Goncangan pesawat saat take-off tak menutup Reza untuk tak jadi tidur. Bahkan Reza semakin pulas.


Pesawat ini tanpa transit dan langsung menuju ke Jakarta dalam jangka waktu 2 jam 30 menit.


***

__ADS_1


Tak terasa 2 jam 30 menit di udara, pesawat besar itu mulai menyentuh daratan dalam kecepatan yang berangsur-angsur pelan. Reza dan para penumpangnya yang tertidur juga telah bangun dan bersiap turun secara bergiliran.


Reza juga di tangannya sudah ada koper miliknya. Dengan menunggu para penumpang perlahan turun.


Semua penumpang langsung berjalan di jembatan penghubung pesawat dan juga bangunan bandara. Reza telah sampai di bandara Soekarno Hatta.


Tanah Jakarta telah dipijaknya, impiannya mulai mendekat pada dirinya tanpa dia sadari. Reza juga segera menghubungi seseorang saat berada di dalam ruang tunggu. Dia juga telah mengabari ibunya bahwa dia telah tiba dengan selamat.


Di sana seorang pria paruh baya datang menjemputnya. Pria itu tersenyum ramah ke arah Reza, di belakangnya ada beberapa pemuda dengan senyuman yang tak kalah ramah.


“Reza Kusuma! Akhirnya kau datang!”


“Pelatih Bima! Terima kasih sudah memberi kesempatan ini!” ucap Reza seraya menyalami tangan pelatih Bima.


“Ini anggota baru kita! Oh, iya! Akan ada seorang lagi datang. Kalau dari waktu tibanya, sekitar lima belas menit lagi!”


Reza menyadari ucapan pelatih Bima. Sekarang dia ingin tahu siapa anggota baru yang memperkuat timnas U-17 bersama dirinya. Dia juga telah melihat skuad U-17 yang begitu kuat di hadapannya.


“Aku Iqbal!” Seorang pemuda berkulit hitam dengan rambut sedikit segelap malam yang pendek.


“Sa–Salam kenal, saya Reza!” Reza begitu gugup.


“Jangan gugup gitu. Sekarang kita kawan!” Iqbal merangkul Reza dan mencoba begitu akrab.


“Halo, Reza! Kau yang terus menahan tendanganku itu!” Seorang pemuda berkulit sawo matang mendatangi Reza.


Dia adalah Nabil Asyura, penyerang timnas U-16 atau pada Kualifikasi Piala Asia nantinya disebut U-17. Dia yang terus gagal membobol gawang Reza pada saat tes terakhir beberapa waktu lalu.


“A–Ah! Iya!” Reza menggaruk kepalanya dengan canggung.


“Perkenalannya nanti dulu, kita akan segera ke penginapan yang disediakan. Biarkan saya menunggu anggota terakhir kita!” Pelatih Bima menyela.


Semuanya pun segera menuju penginapan yang berdekatan dengan stadion tempat timnas U-17 nantinya berlatih dalam Pemusatan Latihan, sementara pelatih Bima tertinggal untuk menunggu anggota baru skuadnya.


Dalam perjalanan menggunakan bus yang telah disediakan, semua anggota tim saling berbincang. Reza sendiri mulai mengakrabkan dirinya dan membangun chemistry yang begitu hangat.


Dalam perjalanan menuju penginapan, seisi bus tak akan bisa dikatakan hening. Ributnya bus itu bahkan sedikit terdengar hingga keluar bus.

__ADS_1


***


Sesampainya di penginapan, semua anggota tim mulai mempersiapkan segalanya. Barang-barang mereka diletakkan pada kamar masing-masing, sedangkan beberapa staf kepelatihan mulai berdatangan.


__ADS_2