Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 131 - Perjamuan Makan Malam dari Presiden Indonesia


__ADS_3

Suatu pagi yang begitu cerah, bahkan sepertinya pagi ini kalah cerahnya dengan para pemain Indonesia yang baru saja turun dari pesawat setelah perjalanan panjang dari Qatar menuju Indonesia.


Di bandara Soekarno-Hatta, para pemain Indonesia benar-benar disambut habis-habisan, nyanyian yang begitu lantang menghebohkan dalam sekejap seisi bandara.


“Inikah penyambutan?” gumam Reza.


Harinya semakin cerah, pencapaiannya semakin banyak yang menurutnya akan ada klub-klub raksasa Eropa yang minat akan dirinya. Tentu itu akan datang, tak lama lagi.


Reza yang begitu senang seperti benar-benar mabuk akan pencapaian. Dia sudah tak bisa berkata-kata lagi dan hanya terus mengikuti rekan-rekannya yang berjalan.


Indonesia memenangkan Piala Asia untuk pertama kali, bagaimana tidak bahagia dan sangat heboh seluruh dunia bahkan Indonesia.


Gedung bandara terisi penuh oleh orang-orang yang ingin menyambut kedatangan Timnas Indonesia.


Bahkan secara VVIP, Presiden Indonesia, Jaka Wibawa, datang dan menyambut mereka dengan suka cita dan penuh kemenangan.


Menteri olahraga hingga ketua federasi sepakbola Indonesia pun ikut menemani orang nomor satu di Indonesia tersebut.


“Selamat atas pencapaian kalian, saya turut senang!” ucap Presiden Jaka Wibawa.


Konferensi pers dadakan diadakan di gedung bandara yang sudah dipersiapkan untuk kedatangan Timnas Indonesia. Seluruh penerbangan ditunda selain pesawat khusus Timnas Indonesia.


Mengadakan konferensi pers, di ruang aula bandara, dipenuhi berbagai macam media lokal bahkan internasional.


Siapa yang tak terkejut, tim yang digadang-gadang akan menjadi lumbung gol tim-tim kuat lainnya, malah menciptakan gawang yang tanpa kebobolan satu pun dan menang secara mengejutkan dari Korea Selatan.


“Bagaimana menurut pelatih tentang Timnas Indonesia?” tanya seorang media internasional.


Pelatih Tae-yong yang ditanyai pun segera menjawab, “Sangat bagus. Ini pencapaian terbaik saya selama melatih Indonesia!” Pelatih Tae-yong nampak percaya diri.


“Reza Kusuma! Bagaimana perasaan Anda setelah menjadi pemain yang memboyong seluruh penghargaan dan membawa Indonesia menang untuk pertama kali?”


“Wow! Tentunya saya tidak percaya, tetapi ini adalah kenyataan! Cita-cita saya membawa Indonesia berkancah di turnamen dunia tak lama lagi! Heh! Piala Dunia 2026, kami datang!”


Pernyataan Reza yang begitu mendominasi membuat para media saling melontarkan pertanyaan hingga keadaan sulit dikendalikan lagi.


“Stop~ Saya rasa, kalian tidak perlu menghujani Reza banyak pertanyaan!” Presiden Jaka Wibawa buka suara, seisi ruangan terdiam dan hening.


“Te–Terima kasih, Pak Presiden!” ucap Reza.


“Gini saja, saya akan undang Reza dan rekan-rekannya ke istana negara untuk jamuan makan malam. Nah, di sana saya akan memberi pertanyaan yang kalian inginkan!” jelas Presiden Jaka Wibawa.


Hal ini membuat Reza dan rekan-rekannya menghela napas lega. Ratusan media terlalu ganas, sulit dikendalikan hingga membuat mereka benar-benar sesak napas akan puluhan pertanyaan mereka.

__ADS_1


Presiden Jaka Wibawa pun berdiri diikuti Reza dan Pelatih Tae-yong, jabat tangan dilakukan hingga presiden pun meninggalkan tempat dengan kawalan ketat Pasukan Pengamanan Presiden.


“Wah! Ketemu presiden gini, yak, rasanya!” celetuk Reza.


Reza dan rekan-rekannya pun pergi menggunakan bus, mereka beriringan dengan banyaknya fans yang merayakan kepulangan sang pemenang.


Secara berkala, menteri olahraga dan ketua federasi sepakbola Indonesia mengadakan jadwal keliling kota Jakarta dan juga kota Palu dalam waktu dua hari yang akan dimulai esok hari.


Hari ini, jadwal Timnas Indonesia yang bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia.


Istirahat di penginapan yang tak jauh dari kawasan Gelora Bung Karno, lingkungan ini benar-benar dijaga ketat oleh kepolisian dan menghalau orang-orang yang hendak masuk lebih dalam.


Reza dan rekan-rekannya, hingga staf pelatih merasa lega untuk sementara waktu. Mereka akan istirahat sejenak dan menunggu sore hari untuk pergi menuju Istana Negara yang berada di jalan Veteran dan berhadapan langsung dengan sungai Ciliwung.


“Waahh … Hari ini terlalu padat, saya agak capek!” Reza membaringkan tubuhnya di atas kasur yang begitu empuk.


Reza pun tertidur, tetapi belum lama dia memasuki alam mimpi, smartphone nya berdering dengan keras di ruangan empat kali lima meter tersebut.


“Halo, Bu! Maaf, Eca belum bisa pulang langsung ke Palu hari ini, presiden Jaka undang kita untuk jamuan makan malam!” jelas Reza.


“Hahaha! Baguslah, anakku! Eca sudah bisa mengurus diri. Ibu Cuma mau bilang, belikan dodol betawi, ya!” Citra begitu bahagia, dia bahkan berkata seperti tak ada beban.


“Oke, Bu! Nanti sekalian beli yang lain!”


Turun dari kasurnya, dia segera mandi dan memakai setelan yang sudah disiapkan.


Setelan ini bukanlah jas, hanya sebuah seragam berbahan kain yang agak keras bermotif merah-putih.


Kemudian pada sisi kiri dada ada lambang burung Garuda, pada bagian punggung ada tulisan nama Reza Kusuma.


Reza telah siap, dia pun menuju lobi penginapan yang mana rekan-rekannya telah siap menuju Istana Negara.


“Waahh! Saya tidak sabar!” ucap Reza.


“Yoi! Makan sama presiden sih, bukan main juga!” sahut Asnawi.


“Kapan lagi nih makan bareng presiden!” sahut Marselino yang begitu senang.


Reza dan rekan-rekannya serta staf pelatih pun memasuki bus yang telah dikawal oleh mobil patroli kepolisian secara eksklusif.


“Baiklah, kalian jaga sikap! Jangan membuat malu!” Asisten pelatih Arianto, memberi arahan.


“Siap, Pak!” seru serentak para pemain Indonesia.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju Istana Negara, sekeliling jalan dipenuhi rakyat Indonesia yang mengibarkan bendera merah-putih dengan bangganya.


Benar-benar perayaan yang amat paling bersejarah dalam satu dekade terakhir. Perayaan ini akan sulit tercipta dikemudian hari lagi.


“Reza, ucapanmu tentang kita akan mendatangi Piala Dunia 2026 apa benar begitu?” tanya Witan yang duduk di samping Reza.


Reza menganggukkan kepala dengan tegas. Matanya menyorot tajam begitu meyakinkan. Witan pun hanya tersenyum.


Beberapa menit kemudian, iring-iringan bus Timnas Indonesia dan mobil patroli kepolisian pun sampai di depan Istana Negara yang begitu nampak arsitektur.


“Ayo, masuk. Kalian telah ditunggu!” Seorang pria dengan memakai setelan jas lengkap datang menghampiri.


Para pemain Indonesia pun berjalan di halaman Istana Negara, kemudian memasuki ruangan lobi, setelahnya menuju ruangan di sisi kanan tempat di mana perjamuan makan malam yang kadang digunakan.


“Woah!” Hanya bisa berdecak kagum, penyambutan ini terlalu mewah bagi mereka.


Beberapa pelayan sudah siap-siap di beberapa titik, sedangkan Presiden Jaka Wibawa datang dari pintu seberang yang langsung berhadapan langsung dengan para pemain Indonesia dan juga staf pelatihnya.


“Akhirnya, kalian datang! Selamat datang! Ini adalah perjamuan makan malam– sore seharusnya. Nah, silahkan duduk!” seru Presiden Jaka Wibawa.


Seluruh pemain Indonesia pun duduk satu persatu menyebar di mana meja bundar yang berisi empat orang.


“Mari dinikmati, setelahnya kita akan menuju sesia tanya jawab!” ucap Presiden Jaka Wibawa kemudian duduk dan langsung menyiapkan tisu.


Makanan yang dihidangkan adalah beberapa makanan yang cukup sehat, sebagiannya lagi memang cukup berminyak. Namun, ini adalah jamuan makan malam, tak sopan jika tak dinikmati.


Seluruh pemain langsung menikmati makanan yang begitu lezat dan menggugah selera, staf pelatih pun juga segera menikmatinya.


Sekitar dua jam menikmati apa yang ada sembari sesekali saling berdialog, sekarang Reza dan Presiden Jaka Wibawa memasuki sesi tanya jawab khusus.


Masih di ruangan yang sama, Reza ditanya beberapa pertanyaan tentang karirnya atau masalah yang dihadapi olehnya.


“Apa yang kamu inginkan, pemuda berbakat Reza Kusuma?”


“Maaf, sebelumnya, satu hal yang pasti. Saya ingin federasi sepakbola Indonesia dirombak habis-habisan, pejabat yang cuma tahu uangnya segera tindaklanjuti, kemudian liga Indonesia diperbagus!” jelas Reza.


“Oh … Begitu, ya? Terus apa lagi?”


“Saya hanya perlu kehidupan yang damai, kurangkan awak media yang terlalu membesar-besarkan nama saya,” jelas Reza selanjutnya, dia berdiri sembari menundukkan kepala dan duduk kembali.


“Baguslah, maka itu akan aman!”


Perjamuan makan malam selesai, Presiden Jaka Wibawa secara pribadi memberi penghargaan sebesar 1 miliar rupiah kepada para pemain Indonesia dan juga staf pelatih yang telah bekerja keras selama ini.

__ADS_1


__ADS_2