Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 44 - Palestina (3)


__ADS_3

Reza mendapatkan bola dari kesalahan umpan lambung para pemain Palestina. Reza kemudian menggiring bola ke depan.


Reza dengan beraninya mencoba mengecoh salah satu pemain Palestina yang maju. Sulaiman benar-benar memalukan. Dia dengan mudahnya dilewati oleh Reza memakai teknik nutmeg.


Sontak sayup-sayup terdengar suara tawa di tribun stadion. Aksi Reza yang membuat pertandingan kali ini berbeda, kali ini Reza bahkan maju hingga tengah lapangan. Dua pemain juga sudah dia kelabui.


“Wah! Nampaknya Reza mencoba maju!


Dia seperti itu teringat kiper Kolombia dulu, yaitu Higuita. Cara dia menggiring sampai ke tengah lapangan pasti membuat orang-orang seperti saya akan teringat dengan salah satu kiper yang dijuluki El Loco atau artinya Si Gila!”


Komentator Hadi mulai menjelaskan hal-hal yang membuatnya nostalgia atas aksi Reza dalam menggiring bola.


Aksi Reza menggiring bola juga mengejutkan rekan setimnya. Bahkan pelatih Bima sendiri berteriak keras untuk Reza berhati-hati. Namun, banyak juga yang menikmati aksi Reza.


Reza kemudian memberi bola pada Achmad Zidan. Dia juga tak segera kembali ke gawangnya, dia mencoba melihat-lihat alur permainan saat ini yang menyentuh menit 43. Reza merasa intensitas permainan dipenghujung babak pertama mulai sedikit mereda.


Tentunya Reza mencoba memanfaatkan situasi ini. Dia dengan segera berteriak pada Iqbal dan juga Sulthan Zaky.


“Jaga pertahanan! Saya akan mencoba maju!”


Satu kata bagi rekan-rekannya Reza pikirkan, yaitu gila. Reza benar-benar gila sebagai kiper hendak maju bahkan sekarang dia sudah melewati garis pertahanan.


Achmad Zidan juga mencoba mengikuti permainan Reza. Dia dengan cepat memberi umpan datar pada Reza yang saat ini berlari di sisi kiri lini serang bagi Indonesia U-17.


Reza mendapatkan bola. Dia melirik sebentar ke belakang, area pertahanan telah dijaga ketat oleh 4 pemain bertahan yang Reza amanahkan.


Reza kemudian menggiring bola menyusuri sisi lapangan. Ketika seorang pemain Palestina mendekat, pemain bernama Zoghayyer tersebut mencoba memberi pelajaran bagi Reza yang begitu berani maju.


Zoghayyer memberikan sliding tekel. Namun, hal yang mengejutkan kembali dipertontonkan. Kali ini, Reza menggeser bolanya untuk menghindari uluran kaki dari Zoghayyer. Alhasil ketika Zoghayyer meluncur melewatinya, Reza dengan cepat berakselerasi menggiring bola ke sisi pertahanan sebelah kanan Palestina atau bisa dibilang sisi serangan bagian kiri untuk Indonesia U-17.


Reza berlari bebas sebelum Barra mendekatinya untuk mencoba kembali lagi menghalau Reza dalam berlari secepat itu. Akselerasinya terlihat seakan penyerang handal. Benar-benar tak terpikirkan banyak orang.


Sekarang, para suporter Indonesia U-17 mulai berdiri dengan antusias menunggu serangan mandiri dari Reza. Reza yang sungguh egois menunjukkan kelasnya sebagai salah satu alternatif penyerangan.


“Ahay! Reza menggocek Barra … Dia semakin mendekati kotak penalti … Ah! Di–Dia mendekat!”


Bahkan komentator profesional Bung Hadi hanya bisa mencoba memberikan kalimat terbaiknya. Namun, rasanya itu sulit bagi dirinya untuk mengomentari aksi gila Reza yang seorang kiper.

__ADS_1


Kali ini, Reza berdiri bebas. Namun, dia didekati Ibrahim dan juga Manassra. Keduanya benar-benar serius menjaga Reza. Para pemain Indonesia U-17 juga mulai maju dan meninggalkan lini pertahanan menjaga ketat gawang yang Reza tinggalkan.


“Reza, umpan!” Arkhan dari sisi kanan penyerangan datang.


Namun, Reza terlihat egois. Dia dengan kelihaian dan kemampuan milik Messi mencoba menggocek dua pemain Palestina. Satu orang, Ibrahim terlewati dengan teknik nutmeg memalukan.


Manassra juga terlewati akibat mati langkah. Pertama, Reza mencoba menggeser bola ke kiri, Manassra yang terperdaya mengikutinya. Alhasil Reza langsung menggeser bola ke kanan dan membuat Manassra mati langkah.


Reza pun berdiri bebas berhadapan dengan Abushaqra. Kiper Palestina ini sedikit bergetar ketika berhadapan dengan lawan baru baginya. Reza terlihat kelelahan akibat akselerasi tinggi dan juga kemampuan yang belum terbiasa baginya, sedikit dirugikan.


Abushaqra menyerang bola yang dikontrol Reza. Namun, disisa-sisa tenaga milik Reza, dia dengan teknik tipuan menggeser bola secara cepat hingga kiper pun terjerembab ke tanah.


Reza kemudian berlari bebas ke arah gawang yang kosong. Dari belakang, Nouri mendekatinya. Reza menyadari itu, dia dengan cepat menendang keras bola hingga menghujam jala gawang begitu cepat dan kekuatan tinggi.


Sliding tekel dari Nouri pun hanya mengenai Reza. Reza yang belum siap melompat pun mendapatkan tekelan keras. Beruntungnya Reza tidak begitu merasakan sakit dan segera berdiri.


Dia berlari ke sudut lapangan seraya melakukan selebrasi ikoniknya. Dia mengambil buku di sudut lapangan yang memang telah disediakan, entah dia mencetak gol atau tidak, sediakan lebih dahulu. Itulah prinsip bagi dirinya.


Reza kemudian membuka buku dan duduk bersila. Rekan setimnya mencoba mengikuti selebrasi milik Reza. Mereka duduk berhadapan dengan Reza seakan sang kiper bernomor punggung 1 itu adalah seorang guru.


Cekrek!


“Dengan ini … aku akan menjadi wartawan tetap bagi Triple-A News dan juga scout maniak itu akan mendapatkan anak baru untuk diberikan pada tim itu. Lagipula dia ada di sana,” ucap wanita pirang itu dalam berbahasa Inggris sambil memandang jauh di tribun seberang. Tanpa ada yang tahu, wanita pirang itu akan merubah jalan Reza nantinya.


Reza sendiri membuat gol dengan aksi solonya dari tengah lapangan setelah mendapatkan umpan dari Achmad Zidan. Reza kemudian meneruskan berlarinya dan melewati beberapa pemain sebelum Abushaqra adalah pemain terakhir yang Reza lewati.


Total 5 pemain dari Palestina telah dilewati Reza dengan kemampuan ajaib baginya. Para fotografer di pinggir lapangan juga tak lupa memotret segala momen ajaib itu.


Seusai selebrasi itu, tim Palestina melakukan kick-off. Namun, setelah bola kick-off ditendang, peluit tanda babak pertama dibunyikan.


Semua pemain pun segera menuju ke ruang ganti. Di ruang ganti Indonesia U-17, Reza benar-benar sedikit dimarahi akibat aksi nekadnya maju.


“Kamu! Kalau mau maju harus ada rencana. Jangan segila tadi, hampir jantungan kamu buat saya!” Pelatih Bima sedikit berteriak.


“Hehe … maaf, pelatih. Habisnya refleks saja tadi menyerang. Lagipula saya cukup haus akan gol juga sebagai kiper, hahah!” Reza menimpali tanpa tahu apa yang dipikirkan pelatih Bima dan rekan setimnya.


‘Itu terlalu gila buatmu.’

__ADS_1


Seperti itulah pikiran semua pemain Indonesia U-17 dan juga pelatih Bima.


Setelah pelatih Bima memberikan sedikit taktik kecil dan juga kata-kata motivasi untuk menambah semangat, para pemain kembali ke lapangan karena waktu istirahat telah usai.


Saat Reza memasuki lapangan, sontak kamera stasiun televisi langsung menyorot wajah Reza yang cukup tampan. Cara dia berjalan terlihat berwibawa, tetapi ketika Reza menatap kamera. Dia dengan jahilnya menjulurkan sedikit lidahnya.


Orang yang menonton di seluruh siaran langsung hanya bisa tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan Reza. Namun, rasa kesal mereka tentunya tertutupi dengan penampilan apik Reza.


Di lapangan, Palestina melakukan kick-off babak kedua.


45 menit berjalan begitu membosankan dengan Palestina yang sudah tidak terlalu menyerang seperti babak pertama. Palestina mulai melunak, mereka tidak lagi spartan.


Palestina saat ini hanya mencoba menikmati permainan sepakbola. Lagipula mereka seperti merasa sulit sudah untuk mencoba membobol gawang milik Reza yang sampai pertandingan ketiga ini sama sekali tak tertembus.


“Nampaknya Palestina telah berakhir. Saudara kita sudah merasa pertandingan ini tidak begitu berarti. Mereka patut diapresiasi dengan perjuangan spartan mereka pada babak pertama.


Namun, perjuangan spartan itu dibungkam Reza saat mencetak gol solo run yang melewati total lima pemain. Saya menjadi kasihan.”


Bung Hadi mengeluarkan unek-uneknya. Itu terdengar ke semua orang yang menonton siaran. Tak sedikit orang yang menaruh tingkat hormat pada Palestina.


Hingga waktu pertandingan berakhir, Indonesia U-17 dan Palestina U-17 sama sekali tak menunjukkan pertandingan intensitas tinggi. Kedua tim telah sepakat secara tak langsung menciptakan pertandingan persaudaraan.


Seusai wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, semua pemain terkapar di lapangan. Tak sedikit yang terduduk lemas.


Reza sendiri saat ini berdekatan dengan salah seorang pemain Palestina, yaitu Sulaiman. Dia duduk disamping Sulaiman dan menyapanya.


“Hai … ini pertandingan yang melelahkan, bukan?” ucap Reza dengan berbahasa Inggris yang tidak begitu fasih.


“Ya, terima kasih atas pertandingannya!” Sulaiman pun membalasnya.


Kedua pemain yang saling berangkulan di pundak pun langsung dengan segera dipotret secepat mungkin untuk mengambil momen persaudaraan itu.


***


Reza saat ini bersama pelatih Bima dan juga kapten tim Iqbal menuju ruangan konferensi pers.


Akan ada konferensi pers yang diadakan pada wartawan dari segala macam stasiun berita. Entah apa yang akan ditanyakan dan dijelaskan dari kedua pihak.

__ADS_1


Reza sendiri hanya mengikutinya dan sambil menimbang-nimbang apa yang akan terjadi di konferensi pers kali ini.


__ADS_2