Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 137 - Semifinal yang Menentukan!


__ADS_3

Siang yang kelabu, matahari nyaris tak sampai ke permukaan bumi, itu karena awan mendung mendominasi langit membuat matahari hanya menunjukkan lingkaran cahayanya saja.


Siang yang seharusnya panas malah terasa dingin, tetapi hal ini tak dipedulikan oleh tim AS Trenčín yang saat ini sedang berlatih demi semifinal yang menentukan besok hari.


5 April, AS Trenčín secara langsung menantang Livpool yang ditangani oleh Jurgen secara langsung akan menjamu AS Trenčín di Anfield Arena.


Reza dan kawan-kawannya akan dijamu dengan “hangat” oleh mereka, mungkin. Dengan cara yang mengejutkan, rencana dari Jurgen adalah memenangkan laga, atau malu seumur hidup!


Tim kuda hitam, terus merangkak naik hingga tak lama lagi melaju ke puncak, menjadi calon kandidat juara baru UCL setelah Los Blancos pada musim sebelumnya.


Nyatanya, Los Blancos malah tersingkir secara memalukan menghadapi PSG pada enam belas besar beberapa waktu lalu.


Kembali pada Reza yang menerkam bola hasil tendangan rekannya, total sudah lima bola secara beruntun dia bisa tangkap maupun tepis.


Ditendang secara bersamaan, lima bola sepertinya mustahil bagi seorang kiper untuk menyelamatkan gawangnya, hanya saja Reza memecahkan kata mustahil itu.


“Gila kau, ya!” pekik Witan, itu karena tendangannya juga ditepis.


“Yeee, saya mah hebat, hehehe,” balas Reza dengan bertolak pinggang.


“Dah sombong kah?”


“Ya, tidak juga, saya Cuma mengekspresikan diri dengan semua pencapaian ini. Bang Witan tau, saya tidak langsung instan sampai seperti ini. Jadi nostalgia sih,” jelas Reza.


Rekan-rekannya yang lain hanya saling tukar pandang, tak mengerti bahasa Indonesia yang dilontarkan oleh dua pemain Asia Tenggara ini.


“Lanjut! Saya masih bisa, masih tidak capek!”


“Sudah, besok adalah semifinal yang menentukan! Jangan sampai kelelahan, apalagi sebentar malam kita berangkat ke sana!” Pelatih Marian datang sambil memberikan nasihat kepada seluruh pemain.


“Baik, Pelatih!” seru serentak semuanya.


Reza dan Witan saling melirik, ada sesuatu hal yang akan mereka lakukan setelah latihan ini.


“Gas, Warnet Indonesia!”


“Yoi! Kau duluan, nanti saya menyusul!” balas Witan.


***


Malam yang begitu gelap, seharusnya ada bulan yang menerangi bumi, hanya saja awan hitam terlalu mendominasi langit hingga menutupi cahaya bulan.

__ADS_1


Di sebuah stadion yang megah, Anfield Arena, puluhan ribu pendukung Livpool hadir dengan jersey merah menyala mereka.


Para pendukung The Reds benar-benar banyak, pendukung AS Trenčín hanya bisa dilihat dari jersey putih mereka yang mendominasi tribun Barat Daya, hanya sekitar dua ribu pendukung.


Kedua tim sudah memasuki area stadion, langsung menuju ke ruang ganti.


Livpool dengan jersey merah kebanggaan mereka, benar-benar nampak mendominasi.


AS Trenčín yang harusnya jersey tandang mereka warna merah, digantikan menjadi jersey kandang berwarna putih. Tidak bisa saling menyerupai, itu akan sulit.


“Reza! Kiper terbaik sekarang Donnarumma, apa kau bisa lewati?” tanya Witan.


“Iya! Usianya dua puluh lima tahun, sedangkan saya tujuh belas tahun, sudah bisa membawa tim ke UCL. Saya yang terbaik!” jawab Reza dengan percaya diri.


Witan hanya mengangguk paham, mau bagaimana pun pernyataan itu akan segera terjawab dengan duel antara Reza dan Donnarumma, kiper dari Livpool, datang saat transfer musim dingin beberapa waktu lalu.


“Kalian! Dengar, satu hal yang saya tahu, jangan bermain lengah, tetap seperti biasa!” seru Pelatih Marian.


Semuanya berseru, melantangkan semangat yang telah terpendam cukup lama akhir-akhir ini. Ini adalah semifinal yang menentukan!


Semifinal yang menentukan, Pelatih Marian menyatakan akan mengundurkan diri bila tak bisa melaju ke final.


Bahkan beberapa pemain yang kepercayaan dirinya tinggi juga secara lantang menyatakan pemutusan kontrak bila tak bisa melaju ke final.


Livpool tentu waspada, hanya saja ada perasaan bahwa tak perlu dibawa tegang, jalani dengan santai dan tentunya benar.


Di ruang ganti tim Livpool, Pelatih Jurgen sedang memberi arahan pada para pemain.


“Gakpo, lakukan yang kau bisa! Sisi kiri mengandalkanmu!”


“Nunez, keluarkan perasaan haus akan gol itu!”


“Salah, saya mengandalkanmu di sisi kanan!”


“Elliott, sebagai gelandang serang kreatif, saya mengandalkanmu sebagai pengatur serangan!”


“Ah! Jangan lupa, Donnarumma, kau itu kiper terbaik! Kasih paham kepada Reza Kusuma, kiper asal Asia itu!”


***


Kedua kesebelasan sudah berjalan menuju lapangan, lagu iringan UCL juga sedang dikumandangkan, begitu megah di Anfield Arena.

__ADS_1


“Reza! Tetap fokus! Seperti biasa!” teriak Pelatih Marian.


Semifinal yang menentukan pun berlangsung di hadapan puluhan ribu pendukung, Reza sebagai kapten tim berhadapan langsung dengan Donnarumma yang juga kapten tim.


Keduanya saling melepas senyuman ramah, tetapi dibalik senyuman ramah tersebut, mereka perang mental yang justru membuat wasit asal Spanyol, Luigi, mundur satu langkah.


“Sportif, sportivitas adalah utama!” ucap Luigi menggunakan bahasa Inggris.


Koin tos dilakukan, Livpool memenangkannya dan memilih bola untuk sebagai awalan mereka.


“Oke, ayo! Semangat, semangat! Kita kasih paham, seberapa kuat AS Trenčín!” seru Reza.


Dia berdiri fokus di bawah mistar gawang, menatap datar jauh kepada Donnarumma juga yang telah bersiap.


Peluit kick-off babak pertama pun dimulai, semifinal yang menentukan segalanya, meski masih putaran pertama, tetapi ini adalah putaran yang menentukan jalannya putaran kedua nanti.


Livpool kick-off dari kaki Nunez, di sisi kanan, Salah mencoba bergerak dengan lihai dan gesit diusianya yang sudah 32 tahun.


Salah memberi umpan lambung diagonal kepada Gakpo yang bergerak melewati Witan.


Antara pemain muda, Gakpo yang berusia 24 serta Witan 23 tahun. Keduanya jelas saling duel, mencoba melakukan beberapa gerakan fisik yang jelas akan terjadinya kesempatan pelanggaran.


Gakpo yang nyaris melewati Witan, akhirnya terjatuh karena kehilangan keseimbangan ketika adu fisik dengan Witan.


Tak sampai disitu, saat Witan mencoba mengambil bola yang bergerak bebas, Gakpo langsung menarik seragam Witan.


Benar-benar duel panas antar pemain itu diawal-awal menit cukup menghibur dan mantap untuk ditonton.


Wasit memberi peringatan kepada Gakpo, beruntungnya, wasit Luigi masih memberi belas kasihan kepada dua pemain yang terlibat duel fisik ini.


Pertandingan dilanjutkan, Micuda mengambil tendangan bebas ini, memberi umpan lambung di sisi kiri lapangan yang mana Soares sedang berakselerasi.


Pertandingan ini cukup menarik untuk dinikmati, aksi-aksi memukau dari para pemain benar-benar mengisi penuh semifinal yang menentukan ini.


Reza juga beberapa kali mencoba maju, hanya saja sepertinya dua pemain Livpool diplot untuk menjaganya.


Dua pemain itu adalah gelandang bertahan bajcetic dan juga gelandang tengah Jones.


Reza yang sesekali maju hingga tengah lapangan merasa kesulitan menghadapi dua pemain muda ini. Namun, itu belum mengerahkan pemanfaatan Mata Bijak.


Kemungkinan terbesarnya adalah Reza akan menunjukkan tajinya dalam menghadapi dua pemain ini.

__ADS_1


“Menantang, ya? Saya terima kok! Tenang saja!” seru Reza.


__ADS_2