
Pertandingan menghadapi Irak kembali dilanjutkan yang mana Irak mencoba untuk bermain lebih terbuka dan menempatkan para pemainnya lebih ke depan.
Hasil besar, tetapi resiko besar pula. Hal ini bagi pelatih Irak agak bimbang dalam memilih keputusan. Dia ragu, sebab ada Reza yang sepertinya memiliki banyak kemampuan menyerang.
Kekhawatiran itu malah membuatnya menjadi pelatih yang memiliki tingkat keraguan taktik tinggi.
Setiap taktik yang dia pilih, pelatih Irak memiliki banyak keraguan dan terus menimbang-nimbang apa yang akan terjadi di masa mendatang.
Membuang pikiran tak penting akan misi dari Sistem, Reza memilih tetap fokus apa yang ada di depan, yaitu akan memenangi laga ini.
Di tengah pemikiran liarnya, sebuah bola datang begitu cepat, Reza tentu melakukan gerakan refleks dengan melompat ke samping demi menangkap bola menyusuri tanah dari salah satu pemain Irak, Abbas Mahfud.
Reza melenturkan tubuhnya, dia mampu meraih bola itu dan menangkapnya dengan baik.
“Serang nggak, ya?” gumam Reza sembari menatap waktu digital di stadion.
Melihat menit yang masih menyentuh angka 14, membuatnya mengurungkan niatnya untuk menyerang, dia memilih memberikan bola kepada rekannya dan membiarkan mereka.
“Gerak cepat!” seru Reza.
Dari sisi kanan, Indonesia mencoba menyerang dari para pemain yang memiliki akselerasi tinggi dan bisa mendominasi saat melakukan duel.
Namun, taktik lainnya membuat mereka mengganti jalur serangan dalam jarak interval yang tidak terlalu lama.
Hal ini membuat tentunya para pemain Irak agak kebingungan dalam menanggulangi serangan dari Indonesia.
Pelatih Shin juga tetap setia berdiri sembari memberi arahan demi arahan. Pelatih Shin sendiri adalah pelatih yang tak pernah duduk dikala anak asuhnya berlaga.
Pelatih paling setia, pelatih yang menunggu anak asuhnya sembari memberi arahan, melakukan sikap yang jelas juga mencerminkan perjuangan anak asuhnya.
Melihat jam di tangannya, menit masih menunjukkan tepat angka 16 yang jelas masih sangat lama laga ini berlangsung.
Hujan rintik perlahan turun, hingga sekitar lima menit kemudian hujan dalam intensitas tinggi pun mulai menghantam lapangan.
Staf stadion mulai menutup atap dari stadion yang prosesnya memakan waktu sekitar 20 menit penuh. Hal ini membuat lapangan menjadi basah.
“Bola licin, terus … Apa, ya?” gumam Reza.
Dia terbang ke kanan, merentangkan tangan kanannya demi menangkap bola hasil tendangan Hussein.
Bola yang bergerak dalam jalur lurus, berotasi sangat cepat, menembus udara di tengah hujan yang semakin deras.
Angin menerpa rerumputan, mengajak bergoyang sesaat bola melewatinya. Detik berikutnya, Reza berhasil meraih bola dan menepisnya menjauh.
Mungkin ini adalah beberapa percobaan dari Irak, tetapi satu pun dari tendangan shoot on target mereka tak menghasilkan sebuah skor.
__ADS_1
Hingga menit 30, Indonesia masih mengungguli Irak dalam aspek skor.
Namun, dalam aspek segalanya di lapangan, Irak jelas mendominasi, penguasaan bola menyentuh angka 70% yang kemudian umpan-umpan mereka tentunya lebih banyak daripada Indonesia.
Pelatih Shin jelas mengkhawatirkannya, jika ini berlangsung lama, para pemain akan cepat kelelahan dalam menanggulangi gelombang serangan Irak.
“Ayo, bergerak! Jangan terkekang!” pekik penerjemah Pelatih Shin setelah mendapatkan arahan dari sang pelatih.
Apapun yang diteriaki para staf pelatih di pinggir lapangan, nyaris tak dilakukan karena sangking riuhnya suasana stadion dan suara gemuruh hujan deras.
“Ah! Mereka ini …” gerutu Pelatih Shin kesal.
Reza harus terus menerima serangan, lagipula Timnas Indonesia sebenarnya jelas belum begitu sempurna dalam meracik taktik dan teknik para pemain.
Mungkin chemistry atau hubungan antar pemain bisa terjalin, tetapi teknik dan pengalaman yang harus bicara besar di saat-saat seperti ini.
“Hingga menit tiga puluh tujuh ini, saya sudah menyelamatkan sekitar dua belas tendangan di tengah hujan deras, agak sulit karena bola licin,” gumam Reza secara spontan mengelap keringat. “Percuma Reza.” Dia bermonolog menyadari kebiasaannya.
“Tetap solid, kita juga akan mencoba sekuat tenaga!” pekik Irianto kepada Reza, karena sejenak melihat Reza yang agak goyah.
“Kamu harus tetap kuat, kita juga ini jelas kelelahan tetapi masih mencoba pantang menyerah!” sahut Asnawi dengan senyuman cerah bercampur lelahnya.
“Ayo! Semangat!” balas Marc dengan lantang.
Reza sebenarnya tak begitu terkejut, hanya saja, sikap rekan-rekannya ini seakan sedang menghadapi lawan di final. Terlalu mendramatisir, tetapi disatu sisi menambah semangat akan dirinya pribadi.
Menit demi menit, Indonesia sesekali menyerang, tetapi masih lebih mendominasi tetap pada Irak.
Hingga tepat di menit 45, Reza yang sudah jenuh di bawah mistar gawang akhirnya maju di tengah hujan yang bertambah deras.
Ini akan menjadi tantangan tersendiri baginya, bermanuver di tengah terpaan hujan, kesulitannya jelas akan bertambah karena tekstur tanah yang berubah dan juga bola yang licin akan sulit dikendalikan.
“Ya, setidaknya tanah rumput stadion Al-Bayt ini sudah kelas dunia! Terbaik seharusnya,” gumam Reza.
Reza menatap Jordi, dia melewatinya sembari berkata sejenak, “En … Jaga gawang, ya?”
“Ayolah, Reza, tidak perlu canggung, panggil saja saya Jordi!” Jordi menanggapinya, tetapi sembari mundur menjaga gawang.
Reza hanya tersenyum yang setelahnya menghentakkan kakinya dengan kuat, akselerasi tinggi menyala dalam kondisi prima.
Dalam sekejap, Reza bergerak dengan cepat di tengah terpaan hujan, tubuhnya meliuk di antara para pemain Irak yang jelas lebih besar dan tinggi meski dengan tinggi Reza sekitar 185 cm.
Reza bergerak ke kiri ketika seorang pemain Irak, Bayesh, bergerak melakukan seluncuran memotong yang cukup berbahaya.
Setelahnya, Reza kemudian melakukan pergerakan Cruyff turn, yaitu gerakan mengelak saat menggiring bola, terkadang dapat diartikan seperti Marseille turn, hanya saja jelas memiliki perbedaan besar.
__ADS_1
Pergerakan Cruyff turn jika dilakukan dengan sempurna dapat membawa bola melewati pemain lebih mulus daripada Marseille turn yang terkadang pemain lawan menyadarinya.
Ya, kembali kepada pemahaman masing-masing penikmat sepakbola.
Reza yang berhasil melewati satu, hingga lima pemain sekaligus sekali lagi membuat para penonton dimanjakan matanya oleh pergerakan indah Reza di bawah terpaan hujan.
“Ambil ini!”
Reza menendang dengan keras, dentumannya sedikit terdengar di tengah hujan yang semakin deras, jalur bola membentuk garis lurus seperti membelah udara.
Bola melintir ajaib, tetapi tiba-tiba jalur tembakan itu dihalangi dengan berani oleh bek Irak, Manaf Nadhim, wajahnya terhantam dengan keras benda bundar itu.
Berat bola sekitar 450 gram, jika memiliki kecepatan yang menyentuh angka 100 km/h, maka … Bayangkan saja jika terkena oleh titik berbahaya pada tubuh.
Manaf jatuh terlentang, terdiam dalam sekejap yang membuat Reza langsung berlari ke arah Manaf.
“Hei!”
Reza tanpa ragu, menyadari sesuatu, lidah Manaf tertelan!
Itu sangat berbahaya, jalur pernapasan tertutupi oleh lidah yang tertelan.
Sontak saja, Reza memasukkan jarinya tanpa takut tergigit.
“Panggil medis!” seru Reza sembari menahan sakit.
Witan yang menyadari sesuatu, dia segera mengangkat tangannya diikuti wasit yang menghentikan pertandingan.
“Ayolah! Saya minta maaf!”
Reza meraih lidahnya, menariknya tanpa berpikir jarinya akan terluka akibat gigitan Manaf.
“Urgh! Jangan gigit!”
Dalam sepersekian detik kemudian, Reza berhasil menarik lidah yang tertelan, tentunya dengan susah payah.
Tim medis datang, memeriksa kondisi Manaf, mereka secara langsung memberi klaim jika Reza tak cepat bergerak, maka nyawa Manaf dalam bahaya.
“Aah~ Lega deh, maaf saja!”
Reza meminta perban, menutupi luka di jarinya yang tergigit oleh Manaf.
“Terima kasih, Bung! Kamu menyelamatkan hidup saya!” ucap Manaf setelah dia bisa kembali berdiri, tentunya memakai bahasa Inggris.
Reza menoleh, dia memberi senyuman hangatnya sembari berkata, “Ya, tak masalah!”
__ADS_1