
Hari yang panjang begitu tak terasa hanya karena kalian telah terbiasa menjalani kegiatan yang nyaris sama.
Hal ini dirasakan oleh Reza pribadi, dirinya bahkan tak merasa bahwa beberapa hari lagi akan segera menghadapi tim raksasa Italia, Juve, atau yang biasa disebut Nyonya Tua.
Menghadapi Juve tidak mudah, tetapi Reza masih memiliki satu keyakinan penuh yang membuatnya merasa tak perlu khawatir.
Begitu pun rekan-rekan klub AS Trenčín yang sudah semakin memberi ruang bebas bagi Reza. Mereka merasa Reza adalah pangeran yang akan segera beranjak menuju jabatan raja, tak ada orang yang bisa menghalanginya.
Apa pun yang dikatakan orang pada dirinya, Reza hanya santai saja. Dia membawa pujian-pujian itu sebagai pengalaman hidup sisi baiknya.
Meski begitu, masih ada saja yang mengolok-olok dirinya, mengatakan dirinya terlalu sombong atau bahkan kemampuan itu hanya omong kosong belaka.
Mereka yang mengatakan ini jelas tak menyalakan televisinya, mereka bahkan hanya bisa berkurung dalam rumah sambil mengolok-olok banyak orang yang sukses, dan dirinya pribadi hanya pengangguran beban keluarga.
Orang seperti ini menurut Reza patut dibumihanguskan, agar dunia bisa tenteram dengan keberadaan orang-orang yang sederhana dan memahami apa adanya tanpa saling mengolok-olok kelebihan atau kekurangan seseorang.
Reza yang saat ini sedang berbaring di bangku pemain sembari mendengarkan beberapa lagu, terkejut ketika Witan datang dan melempar bola.
“Oy! Bantuin!”
Reza bangun dan segera berjalan menuju tempat Witan berada, di sana dia segera menolong Witan untuk memasukkan sebuah bola yang dipakai latihan ke dalam tempatnya berada.
“Hmm … Reza, kira-kira saat menghadapi Juve, kau bergerak juga.”
Reza menoleh kemudian berkata, “Nanti lihat, saya juga kadang terlalu capek gituan. Agak gimana gitu, intinya keseringan melakukan skill-skill tersebut rasanya kaki ini mati rasa!” jelas Reza seraya melempar bola untuk memasukkannya ke keranjangnya.
“Mana yang lain?” tanya Reza sembari memasukkan bola terakhir.
“Lagi menyebar, istirahat sejenak hari ini seperti libur bagi mereka, Cuma kita dua yang latihan!” jawab Witan kemudian mendorong keranjang bola tersebut.
Hari demi hari yang ditunggu-tunggu semakin dekat, UEFA Champion League atau yang disingkat UCL telah jatuh tempo.
Pertandingan enam belas besar menghadapi Juve akan segera terlaksana. Hari yang paling ditunggu, melihat tim kuda hitam yang mengejutkan publik.
__ADS_1
Publik juga ingin melihat seberapa menakjubkan kiper yang membawa Indonesia menang Piala Asia untuk pertama kali, dan membuat Indonesia memiliki kans besar lolos ke Piala Dunia 2026, apalagi dengan peringkat FIFA yang naik drastis menjadi 125.
Menyisihkan hal-hal yang akan terjadi ke depannya, Reza menatap stadion megah dari kandang Juve, benar-benar megah hingga matanya mengerjap beberapa kali.
“Yaa … Sebenarnya gak kaget-kaget sekali, tapi ini juga cukup megah,” gumam Reza.
16 Februari 2024, adalah hari yang paling ditunggu, puluhan ribu orang berbondong-bondong menuju stadion kandang milik Juve.
Fase gugur UCL memiliki format pertandingan kandang dan tandang, AS Trenčín mendapatkan giliran bermain di kandang Juve terlebih dahulu.
“Oke, Reza, kau harus bermain seperti di tim Indonesiamu!” jelas Pelatih Marian.
Reza mengangguk paham, menguatkan sarung tangannya agar tak mudah lepas nantinya, menatap fokus ke depan hingga dirinya memasuki tahap yang tak dapat diganggu gugat.
Kedua kesebelasan memasuki lapangan diiringi lagu orisinal dari turnamen UCL ini, lagu itu menggema hingga membuat Reza benar-benar tak percaya.
“Pemain Indonesia pertama yang menyentuh babak enam belas besar UCL, ah! Sebenarnya dari awal sih, pemain Indonesia pertama masuk UCL!” gumam Reza.
Dia melirik para pemain Juve yang tinggi jangkung, mereka menatap remeh kepada Reza seakan sudah tahu identitasnya, tetapi masih tak begitu percaya dengan keajaiban-keajaiban yang ditunjukkan oleh Reza.
Reza kemudian mengedarkan pandangannya, berkeliling di antara para pemain Juve. Salah satu pandangan yang terfokus adalah kepada pemain sayap Di Maria.
“Anjir, tuh orang masih main juga! Dah tiga puluh tujuh!” celetuk Reza dengan ekspresi yang kasihan.
“Ada beberapa pemain muda juga sih, macam Soule sama Iling Junior.”
Para pemain menyebar, hingga posisi mereka telah benar-benar pas, Reza sendiri di bawah mistar gawangnya masih fokus pada kesebelasan utama Juve.
“Vlahovic sama Kean penyerang di depan, ya?”
Reza terus fokus pada para pemain, hingga tak terasa bola kick-off dari Juve telah berada di depan kotak penalti.
Vlahovic yang saat itu bersiap-siap melihat posisi Reza yang tampak aneh, terlalu buruk dalam penempatan posisi.
__ADS_1
Vlahovic melepaskan tendangan, begitu terukur hingga mampu membelah udara sekaligus.
“Alah! Ganggu aja!”
Reza melompat dan meraung, ke sisi kanan dengan begitu fleksibel, lompatannya jauh, tubuhnya bergerak sangat ulet.
Reza menampar bola menjauhkan dari gawang, hal itu mengejutkan Vlahovic, karena menurutnya seharusnya ruang itu akan sangat sulit untuk Reza capai.
Namun, Vlahovic pun menyadari, ada aura yang berbeda dari Reza, yaitu aura pengalaman yang sangat banyak meski diusianya yang masih menginjak 17 tahun, dan itu sangat-sangat muda.
Bola hasil tepisan Reza didapatkan dengan mudah oleh Duriska, bek kanan AS Trenčín.
Dalam sekejap, Duriska melakukan over lap memanfaatkan pertahanan Juve yang masih mengalami kebocoran.
Para pemain AS Trenčín juga maju dengan gagahnya, tak berpikir akan posisi mereka yang mulai melebar dan keluar posisi sebenarnya.
Namun, ini adalah pergerakan yang alami dan naluri dari lima hingga tujuh pemain AS Trenčín.
Sisanya, masih mengawal pertahanan membantu Reza, karena jelas jika satu kesalahan saja terjadi, maka bencana akan benar-benar datang pada AS Trenčín.
Mau sebagus apa pun Reza, dia pasti akan kebobolan. Itu pasti, keadaan terdesak, atau bahkan percobaan tendangan yang melebihi batas penerimaan refleks dari otak Reza, semua kondisi itu membuat Reza terkadang nyaris kebobolan.
Hal itu sering terjadi saat Piala Asia AFC 2023. Maka dari itu, para pemain AS Trenčín yang sudah menonton beberapa pertandingan Reza sebelumnya takut terjadi demikian pada gawang mereka.
Kembali kepada Duriska yang terus bergerak hingga tengah lapangan, dia dihadang oleh Chiesa.
“Sisi kiri!” teriak Reza.
Bagai pesan berantai, para pemain AS Trenčín lain berteriak saling bersahutan demi mengirim pesan itu pada Duriska.
Duriska yang mendengarnya dari Gajdos pun langsung memindahkan bola ke kirinya dengan lebih aman.
Chiesa pun hanya sempat mencoba menekel Duriska, tetapi tak jadi karena Duriska sudah bergerak lebih dahulu.
__ADS_1
Gajdos yang mendapatkan bola tak menyia-nyiakan kesempatan, dia segera berlari, tetapi sayangnya dari arah sisi kiri, sebuah seluncuran memotong langsung menghantam bola yang dikontrol Gajdos.
“Ah … Juve sekelas tim-tim top Eropa sih, jadi jangan kaget,” gumam Reza.