
“Heh, salam kenal, anakku,” ucap pria itu sembari tersenyum penuh kehangatan.
“Salam kenal juga, pria paling brngsek yang meninggalkan istri dan anaknya,” balas Reza begitu ketus.
“Reza! Dia …” Vera cukup bingung, dia hanya bisa menutup mulutnya tak percaya.
“Entahlah, tapi dia kayaknya ayahku yang sudah lama hilang,” jawab Reza masih dengan nada ketusnya.
Pria itu yang mengatakan dirinya adalah ayah Reza yang bernama Bram segera berdiri dengan sempoyongan, mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
“Anakku, ya, ayah rasa ini pantas, tapi rasanya pukulan ini terlalu lemah,” ucap Bram dengan remeh.
“Ayah! Kau … Entah apa yang ibu akan lakukan jika kau muncul di depannya, tamparan tidak akan cukup Reza rasa!” jelas Reza penuh amarah saat ini.
Bram hanya bisa terdiam, ingin rasanya menjelaskan semuanya, tetapi situasi ini terlalu sulit dan begitu berat untuk menjelaskan segalanya, apalagi ada sosok yang Bram tak percaya harus ada kehadirannya.
“Ini … Pasanganmu, ah, istrimu. Jaga dia, kalau begitu ayahmu ini kembali ke klub, ada urusan, nanti kita bicarakan bersama empat mata!” ucap Bram dengan penekanan pada dua kata terakhir yang membuat Vera terkesiap.
Reza pun menatap punggung Bram yang menghilang tertutupi dinding rumah saat dia keluar, Reza langsung duduk dengan pikiran berat di sofa.
“Haaa … Maaf, Sayang, sepertinya kau harus melihat ini,” ucap Reza merasa lemah dengan situasi saat ini.
“Tak apa, santai, lagipula memang seharusnya meski Vera sudah sah menjadi istrimu, tapi Vera tak bisa ikut campur,” jelas Vera sambil mengambil cangkir yang jatuh karena serangan Reza sebelumnya.
Reza hanya bisa menghela napas berat, hari yang dia ingin santai bersama Vera pun hancur berantakan hanya karena kehadiran sosok pria yang meninggalkan dirinya dan ibunya sejak dahulu.
“Akhh! Kenapa! Kenapa saya mau sedikit santai saja tidak bisa, pria itu!” gerutu Reza sambil membanting bola miliknya.
Vera yang sedang berkemas-kemas merapikan rumah Reza hanya bisa menghela napas panjang, dia tak bisa juga menginterupsi Reza, karena ini di luar kemampuannya.
“Reza, begitu berat, ya, itu seharusnya,” gumam Vera.
“Sayang, saya mau pergi ke klub, kamu tidak apa-apa di sini?” ucap Reza dengan setelan kaos hitam dan celana pendeknya.
“Aman, Vera mau coba adaptasi dengan rumah ini,” ungkap Vera.
“Ya sudah, kalau ada apa-apa, telepon nomor darurat di angka satu pada telepon rumah,” jelas Reza.
Reza pun pergi menuju area klubnya memakai mobil berkapasitas dua orang dengan merek cukup terkenal di kalangannya, BWM edisi terbaru, meski begitu ini masih termasuk mobil biasa di Italia.
__ADS_1
Melajukan mobilnya di jalanan kota yang ramai, Reza sampai di area pelatihan klub dan sebagainya dalam waktu lima belas menit, dia memarkirkannya di tempat khusus kendaraan anggota klub.
Reza segera masuk ke gedung administrasi untuk melakukan absen sejak dia pergi dari klub kurang lebih dua bulan penuh.
“Ah, Tuan Reza! Selamat atas pencapaiannya!” ucap staf administrasi.
Reza menganggukkan kepalanya dengan sopan sembari tersenyum, setelahnya melangkahkan kaki menuju salah satu gedung tempat petugas kebersihan.
Di sana, pria bertubuh besar bernama Maxim sedang merapikan ruangan sembari mendengar musik.
“Tuan Maxim, saya mau tanya, Pak Theo ada di mana?”
“Th–Theo? Ah, dia … Dia ada di–”
“Terima kasih untuk selama ini atas kerahasiaan kalian.” Setelah mengucapkan kalimat yang menohok tersebut, Reza sempat menunduk sejenak dan pergi.
“Akh! Apa Reza sudah mengetahuinya? Maaf, Tuan Theo, saya tak bisa menghalaunya,” gumam Maxim.
Reza dengan cepat pergi ke gedung di mana staf pelatih berada, di salah satu ruang staf pelatih yang bernama Adriano Galliani, Reza mengetuk pintunya secara cepat.
“Masuk!”
“Oh, Reza, ternyata kau sudah tahu ruanganku!”
“Apa-apaan ini, nama yang aneh, pelatih bernama Adriano saja tak pernah saya temukan selama dua tahun bersama Milan!” ucap Reza meremehkannya.
“Ah, kira Reza akan bilang nama yang bagus,” ucap Bram merasa bosan. “Ya, ini sebenarnya rahasia kelam klub AC Milan itu sendiri.”
Reza pun duduk tanpa diizinkan, dia dengan tatapannya menatap sengit Bram, atau sekarang adalah ayahnya yang datang sendiri padanya.
“Oke, kamu pasti meminta banyak penjelasan, akan saya jelaskan satu persatu dan pasang kupingmu!” ucap Bram seraya berdiri.
Reza menyiapkan ponsel pintarnya dan merekam pembicaraan bersejarah yang akan mengubah hubungan keduanya di masa depan, entah bagaimana caranya.
“Di saat usiamu menginjak empat tahun, saya pergi.”
***
Kilas balik, Bram saat itu pergi meninggalkan Reza yang masih berusia empat tahun bersama Citra.
__ADS_1
“Citra, saya akan meninggalkan permata ini bersamamu,” ucap Bram.
“Haaa … Begitu, ya, itu terserah padamu, Bram!”
Reza yang saat itu masih begitu polos hanya menatap keduanya dengan mata besarnya sembari mengisap ibu jarinya.
“Nak, jadilah pria tangguh di masa depan yang akan mengubah sejarah Indonesia, gunakan itu nantinya,” ucap Bram yang berjongkok di depan Reza.
“Itu, itu, itu dan itu! Tak habis-habisnya kau mengatakan hal aneh itu, lebih baik kau segera pergi, biarkan anak ini melupakan perpisahan tak menyedihkan ini atas keputusan bodohmu!” seru Citra sembari menggendong Reza.
“Ah, iya, jika kau menunjukkan wajahmu di depanku lagi sepuluh tahun hingga puluhan tahun di masa depan, entah apa yang akan terjadi dengan wajahmu, mungkin bakat taekwondo sabuk hitam ini bisa dimanfaatkan!” lanjut Citra.
Bram hanya tersenyum dan berbalik, melangkah pergi meninggalkan Reza yang masih berusia empat tahun dipelukan Citra.
“Gunakan itu, meski Citra tak percaya, saya yang menurunkannya padamu jelas percaya seratus persen!” gumam Bram di jalan yang begitu sepi.
***
“Hoaaamm … Oke, itu perpisahan yang tak menyedihkan,” ucap Reza begitu bosan.
“Mungkin, tapi apakah Sistem Kiper sudah mengatakannya?”
Reza terbelalak, segera berdiri dan tubuhnya bergetar hebat, perasaan merinding langsung membuat dia tiba-tiba menaruh sikap waspada pada Bram.
“Melihat sikapmu seperti itu, sepertinya dia tak menjelaskannya, padahal hadiah untuk prestasi puncak dunia sepakbola adalah penjelasan tersebut.” Bram nampak kecewa.
Tiba-tiba, layar hologram muncul, baik Reza maupun Bram mampu melihatnya.
[Hei, kau! Manusia menyebalkan! Anakmu selalu saja menanyai di mana ayahnya, pas ketemu malah pukulan adalah salam perkenalan!]
Reza terdiam, keringat mengucur deras, menatap mata segelap malam dari Bram yang sedang fokus ke layar hologram berwarna biru tersebut.
“Sebenarnya … Siapa sistem kiper dan apa yang terjadi?” ucap Reza terduduk lemah.
“Akhirnya, sepertinya kita akan berakhir di sini, penjelasan terakhir adalah akhir dari ceritamu Reza! Perjalanan karirmu akan menjadi sebuah hal yang dikenang banyak orang!” jelas Bram sembari mengelap bulir air mata yang jatuh.
[Aku adalah …]
Reza menunggu dengan perasaan tegang, ini adalah jawaban dari pertanyaan yang selama bertahun-tahun lamanya terpendam.
__ADS_1