
Reza dan Gilang bersama pergi menggunakan taksi. Untuk biayanya sendiri ditanggung oleh federasi sepakbola Indonesia.
Ya, federasi sepakbola Indonesia telah memberikan penghargaan atas Indonesia U-17 mampu lolos ke Piala Asia U-17 2023. Uang sejumlah lima puluh juta pun dibagi kepada mereka semua.
Masing-masing dari mereka mendapat Rp 1.700.000,00. Jumlah yang cukup besar jika berhemat atau paling tidak digunakan dengan bijak.
Reza pun menyimpan satu juta lima ratus ribu rupiah dan dua ratus ribu rupiah akan dia gunakan dalam bersenang-senang di kota Jakarta sebelum balik ke Palu untuk kembali menggelar Youth Tournament.
Reza ingin melihat, bagaimana timnya tanpa dirinya dalam tiga minggu. Dia ingin melihat bagaimana kakak kelasnya Riyandi menanggulangi beban berat yang ditinggalkan Reza untuk mengawal gawang.
Saat ini Reza lebih fokus bertemu ibunya dan bersenang-senang sedikit.
Ketika taksi sampai di depan lobi hotel, keduanya turun dan segera menuju meja resepsionis. Di sana Reza menanyai kamar milik ibunya dengan menyebut nama lengkap dan alasan ibunya menginap di hotel bersama rekan kerjanya.
Semua itu membuat pelayan di resepsionis hanya tersenyum kecut. Awalnya dia tak ingin menunjukkan kepada siapapun bahwa pegawai kantor PT. Cipta Karya menginap di sini.
Namun, setelah mendengar penjelasan Reza. Dia akhirnya percaya bahwa memang benarlah Reza anak dari ibu bernama Citra.
Sembari menunggu di ruang tunggu. Reza dan Gilang sedikit berbincang. Hingga seorang wanita cantik memakai pakaian kerja rapi mendekati Reza.
“Ah! Ibu!” Reza langsung memeluk ibunya.
Citra sendiri memeluk anaknya begitu erat. Bulir air mata mulai terlihat mengalir di pipinya yang lembut. Gilang sendiri bagaikan nyamuk di sana.
“Aksimu benar-benar menakjubkan, Nak!”
Reza hanya tersenyum. Kemudian dia mengenalkan Gilang dan menjelaskan bahwa pelatih Bima memberi liburan bebas hingga masa Pemusatan Latihan selesai pada tanggal 15 Oktober.
“Nak, ibu akan meeting bersama bos segera. Sampai jumpa di Palu!”
Mendengar ucapan terakhir ibunya, Reza hanya menghela nafas. Betapa sibuknya ibunya dalam bekerja. Namun, dia akan mengatakan sesuatu yang bakalan membuat ibunya sedih.
__ADS_1
Ya, Reza sangat ingin membuat ibunya mengakhiri kontrak atau istilahnya mengundurkan diri. Jadi Reza yang akan menjadi tulang punggung keluarga kecil ini.
Reza juga sendiri sudah memiliki gaji di Youth Tournament. Jadi dia tentunya akan menggantikan ibunya dalam mencari pundi-pundi rupiah dalam melanjutkan hidup yang damai.
“Wah … ayo! Kita harus jalan-jalan ke Monas!” ucap Gilang cukup antusias.
Keduanya pun kembali menggunakan taksi untuk menuju Monas. Dalam perjalanan, mata mereka tak habis-habisnya melirik sana-sini, apalagi Reza yang notabenenya anak Palu dan cukup jarang melihat gedung-gedung pencakar langit.
“Gilang … apa kita akan bertemu di National Youth Tournament?”
Gilang melirik Reza yang menatap keluar jendela. Matanya memandang sayu, wajahnya yang tampan benar-benar terpantul dari jendela mobil.
Gilang bersandar dengan rileks pada sandaran kursi. Dia kemudian menghela nafas pelan. “Tergantung apa timmu akan melaju ke National Youth Tournament. Timku juga saat ini agak … terseok-seok. Ya, mari kita nantikan!”
Reza hanya terdiam. Kali ini hatinya cukup galau akibat rekan setim Indonesia U-17 bisa saja akan menjadi rival di sebuah klub. Itu memang hal wajar, tetapi bagi Reza yang pertama kali merasakannya, agak canggung jika berhadapan di lapangan, tetapi beda tim.
Gilang pun tak menghiraukan Reza yang terdiam. Saat ini Reza sedang menikmati lagu yang dipasang oleh taksi. Supir taksi juga menyimak percakapan kedua pemuda ini, dia sedikit terkejut ketika ada dua bintang baru dari tim Indonesia U-17 ada di taksinya.
Beberapa menit kemudian, taksi pun sampai di lingkungan Monumen Nasional. Reza dan Gilang turun dari taksi. Reza mengulurkan selembar uang seratus ribu rupiah untuk membayar argo.
“Ini kembaliannya!”
Sang supir memberi selembar uang lima puluh ribu rupiah. Reza mengernyitkan dahinya, rasanya argo dari taksi sejumlah delapan puluh ribu rupiah.
“Tapi–”
“Anggap aja diskon,” celetuk supir taksi itu kemudian tersenyum.
Dia pun langsung tancap gas meninggalkan kedua pemuda yang dalam keadaan bersenang hati karena liburan.
Gilang sendiri sudah melangkah kea area Monumen Nasional. Dia langsung menuju sebuah jajanan tradisional yang dijajakan oleh para pedagang keliling. Reza hanya mengikutinya sambil memfoto Monas dari kejauhan untuk diberikan pada teman-temannya di SMA Harapan.
__ADS_1
Keduanya sangat bersenang-senang. Setiap sudut Monas dijelajahi hingga waktu tak terasa sudah memasuki sore hari.
Pada saat hampir malam, keduanya menuju sebuah mall yang berada di Jakarta Pusat. Di sana, Reza dan Gilang bermain di Playzone.
Tanpa memedulikan orang-orang yang mengenal keduanya, mereka memainkan beberapa macam permainan dengan wajah yang berseri-seri. Beberapa orang mencoba meminta foto karena dua bintang baru ini telah lahir.
Reza menurutinya. Gilang pun tak masalah, hanya saja raut wajahnya berkata lain. Dia sesekali menunjukkan perasaan risih. Reza yang menyadarinya hanya menepuk pelan pundak temannya tersebut.
Setelah bermain dengan puas di Playzone. Keduanya menuju sebuah pantai yang memiliki anjungannya. Di sana, mereka membeli beberapa jajanan malam, seperti jagung bakar dan juga kacang rebus.
Mereka menikmati suasana pantai di malam hari. Mereka berdua didatangi beberapa rekan setim yang ternyata juga memiliki rencana pergi ke pantai serupa.
“Hei, Nabil dan Iqbal!” sapa Reza.
Keempat pemuda ini pun saling bersenda gurau sambil menikmati makanan yang dipesannya.
Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pelatih Bima sendiri mewajibkan anak asuhnya harus segera pulang sebelum pukul sebelas malam.
Maka dari itu, semuanya satu persatu kembali ke tempat Pemusatan Latihan. Tak ada dikumpulkan lagi, masing-masing dari mereka langsung ke asrama dan memasuki kamar masing-masing.
Tidur mereka benar-benar nyenyak. Hari yang penuh bersenang-senang benar-benar dirasakan ke dua puluh delapan pemain Indonesia U-17. Mereka yang memiliki masih banyak rencana keesokan harinya tentu menyimpan tenaganya.
Reza sendiri saat ini bertelepon dengan ibunya. Reza menceritakan pengalamannya pertama kali mengunjung Monumen Nasional, berjalan-jalan di mall dan lingkungan Jakarta yang padat oleh manusia. Keramaian ini membuat Reza begitu senang.
Dia yang anak Palu dan tidak terlalu bercengkrama pada keramaian, akhirnya merasa ramainya kota terpadat di Indonesia.
“Selamat malam, Bu!”
Akhir kata, keduanya menutup panggilan dan segera beristirahat untuk berkegiatan keesokan harinya lagi. Reza sendiri tak memiliki rencana keesokan hari, dia hanya ingin berlatih kecil.
Di tengah malam, seisi asrama benar-benar tidur nyenyak tanpa rasa berat hati.
__ADS_1