Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 68 - Pekan Ke Sembilan Belas Liga Slowakia


__ADS_3

Hari demi hari Reza jalani di Slowakia. Dia mulai bisa beradaptasi, bahkan beberapa pemain klub mau berkomunikasi bersama Reza dengan ramah.


Dengan bahasa Inggris, Reza mampu berkomunikasi, walaupun ada beberapa perkataannya yang tak dipahami para pemain, Reza dengan pengetahuan smartphone nya menggunakan terjemahan pintar.


Reza sebenarnya berharap jika ada misi yang berhadiah Kemampn Bahasa Asing. Dia sangat menginginkannya agar lebih mudah berinteraksi.


Hingga tepat tanggal 5 Februari, Reza sudah bersiap bersama timnya dalam persiapan laga pekan ke sembilan belas yang akan dilangsungkan pada hari Jumat, 10 Februari 2023.


Meskipun Reza sudah bisa diterima dengan baik, ada beberapa pemain yang mengucilkannya karena katanya pemain Asia akan sulit beradaptasi atau kemampuannya yang buruk.


Mereka baru bisa menerima Witan, dengan kemampuannya, Witan sudah cukup diterima di sana. Namun, Reza yang sebagai kiper, belum ditunjukkan kemampuannya saat ini.


Menjelang laga pekan ke sembilan belas, tim dibagi menjadi empat kelompok.


Masing-masing kelompok berjumlah 5 orang. Kelompok ini dinamakan A hingga D.


Tim A, tempat Reza bersama Witan dan tiga pemain lainnya akan melawan Tim B dalam laga memberikan penghangatan tubuh dan juga pemahaman taktik serta beberapa taktis permainan seperti umpan dan lainnya.


“Reza, kau di belakang saja.” Witan memberi arahan.


Reza sendiri hanya mengiyakannya. Dia melihat tiga pemain lainnya. Tubuh mereka tinggi berisi otot yang kencang. Memang tubuh orang-orang Eropa itu tinggi dan juga lebih terstruktur.


“Hmm … Strahinja Kerkez asal Cyprus, Artur Gajdos asal Slowakia, dan Lekan Okunola asal Nigeria. Wah beragam macam juga yaa!”


Tubuh mereka yang tinggi nampak mendominasi, bahkan Reza yang sudah tinggi masih kalah lagi tingginya. Padahal umur mereka bertiga tak begitu jauh dari Reza. Secara berturut, umur mereka mulai 20 tahun, 18 tahun dan 19 tahun.


Witan sendiri sudah menyentuh umur 21 tahun dan dia yang paling tua di tim A dengan tinggi sekitar 170 centimeter lebih atau kurang. Reza hanya bisa menebak karena Witan sendiri terlihat pendek daripada dirinya.


Kembali ke tim A yang sedang berhadapan dengan tim B. Mereka mulai memainkan pertandingan 2×15 menit.


Awalnya tim B cukup mendominasi dengan isi dari tim itu adalah para pemain inti AS Trenčín. Dengan umpan-umpan satu-dua mereka, berlari dengan tubuh tinggi dan kekar membuat Witan dan tiga pemain lainnya yang menjaga agak kesulitan.


Reza sendiri berada di bawah mistar gawang kecil. Lebar gawang ini sendiri hanya tiga meter dan tinggi dua meter.


“Kak Witan, lepas!”

__ADS_1


Reza mengarahkan Witan agar melepaskan penjagaan. Dia akan segera mengintervensi kendali atas bola. Reza dengan tegas maju dan melompat bagai cheetah menyerang bola.


Dia mengulurkan tangan dan tepat menempel bola itu pada kedua telapak tangannya. Reza bangkit dan menjatuhkan bola di tangan, dia pun segera meinggalkan tiga pemain Tim B yang menyerang.


Reza menggiring bola mendekati seorang pemain yang memang ditinggalkan untuk menjaga kedalaman tim B. Sang kiper Tim B mencoba memberi arahan, tetapi karena kali ini yang menyerang adalah skuad penuh sebanyak lima orang, maka dia kebingungan.


“Reza sini!” Witan di sisi kanan melambaikan tangan.


Reza pun menjadi egois, dia menambah akselerasi kecepatan larinya hingga berhadapan dengan pemain terakhir Tim B sebelum kiper.


Reza mencoba mengecoh dengan membuat gerakan yang hendak ke sisi kanan, tetapi langsung memutar arah ke kiri. Sang pemain tertipu, Reza melewatinya.


Dengan segenap tenaga, Reza menendang bola hingga masuk ke gawang kecil. Kiper sendiri telah mati langkah, kiper itu bernama Matus Slavicek, kiper termuda sebelum Reza datang.


“Yeaha! Gol!” Reza menyeru.


Para pemain dari Tim A dan B sedikit terhenyak, mereka tak menyangka Reza akan dipenuhi dengan kemampuan yang seharusnya bagi kiper itu tak terlalu berfungsi. Kemampuan akselerasi, akurasi menembak, keseimbangan dalam menggiring dan keahlian mengontrol bola dengan mulus.


‘Boo! Kejutan!’ batin Reza seraya tersenyum kecil.


***


Di salah satu televisi swasta Indonesia, mereka sedang menayangkan sebuah pertandingan yang seharusnya sangat jarang bahkan seperti tak pernah bisa.


Namun, ketika kedatangan Reza, mereka mencoba menawar hak siar untuk menyiarkan debut setengah profesional bagi Reza. Dengan segenap tenaga, mereka pun akhirnya bisa meneken hak siar yang hanya bisa sebanyak dua pertandingan tim saja.


Itu sudah lebih dari cukup. Lagipula hak siar pertandingan di luar negeri akan sulit didapatkan televisi swasta, untuk lebih mudah maka harus ada kerja sama lebih dahulu diawal.


Di rumah kepala sekolah. Kepala sekolah Cahyono, Citra, agen Bryan dan beberapa teman setim Reza SMA Harapan sedang menonton televisi yang menyiarkan program eksklusif khusus debut Reza di tim AS Trenčín.


Di Indonesia, khususnya di Palu, mereka saat ini tepat pukul 04.00 Waktu Indonesia Tengah. Itu tepat waktu tengah malam, mereka bisa-bisanya nonton bareng jam segitu. Yup, waktu Indonesia dengan Slowakia berbeda 7 jam lebih cepat. Indonesia 7 jam lebih cepat WIB, jadi dalam waktu WITA, mereka berada di zona 8 jam lebih cepat daripada Slowakia.


Jadi di Slowakia masih berada di hari Jumat, 10 Februari 2023. Maka di Indonesia, khususnya Palu sudah hari Sabtu, 11 Februari 2023 pukul 04.00 dini hari.


Pertandingan yang akan berlangsung tepat pukul 20.15 waktu Slowakia itu tak lama lagi dimulai.

__ADS_1


Reza dan Witan bersama timnya sedang berkumpul di ruang ganti tim. Mereka tandang ke Dukla Banská Bystrica. Stadion bernama SNP Štiavničky yang mampu menampung sebanyak kurang lebih 10.000 penonton itu sudah terisi sekitar 1.000 penonton.


Ratusan di antaranya adalah para penonton dari Indonesia yang bela-belain datang untuk melihat Reza dan juga Witan bertanding bersama dalam satu tim. Apalagi Reza yang sudah memiliki banyak penggemar, maka dimana pun dia bertanding pasti akan ada paling tidak puluhan orang mendukungnya.


“Kak …”


“Ya? Apa kau gugup? Memang seperti itu, saya juga dulu waktu debut di tim ini cukup gugup, tetapi yaa lumayanlah.”


Keduanya berbincang sejenak sebelum fokus kembali ke papan taktik yang sedang dijelaskan oleh pelatih kepala bernama Marian Zimen.


Pria itu menerangkan, para pemain harus sebaik mungkin memanfaatkan peluang yang ada, umpan-umpan tak boleh terlalu lambat dan membuang-buang waktu, lakukan hal kecil untuk hal besar ke depan.


Pelatih Marian Zimen menatap Reza yang menatap fokus ke papan taktik. Sudah sejak dua hari lalu starting line-up diumumkan, Reza saat ini tiba-tiba saja masuk ke dalam papan taktik sebagai kiper starting yang padahal sebelumnya tak ada dan hanya berada di bangku cadangan.


“En … pelatih?”


Mendengar Reza yang ragu, pelatih Marian Zimen menjelaskan dengan bahasa Inggris. Dia menjelaskan bahwa kiper Kukucka sedang kurang sehat dan Slavicek sama pun demikian halnya, untuk Vozinha, menurutnya kiper muda yang harus diutamakan.


Reza hanya mengangguk ringan. Akhirnya dia, siap tidak siap harus segera melakukan debutnya dari awal laga!


Formasi untuk AS Trenčín sendiri memakai formasi 4-3-3 menyerang.


Reza sebagai pemimpin di bawah mistar gawang. Kemudian berdiri di belakang dengan sejajar terdapat Micuda, Pires, Stojsavjevic, dan juga Kozlovsky.


Di lini tengah ada pengawalan dari tiga talenta muda lainnya, yaitu Holly, Lavrincik, Gajdos. Mereka ditujukan agar lini tengah kreatif dan tak bertele-tele dalam penguasaan bola.


Sementara itu sebagai tiga ujung tombak, ada Okunola di tengah, kemudian di sisi sayap kanan ada Witan yang langsung diturunkan lagi dan kebetulan bersamaan dengan debut Reza. Di sisi kiri ada Azango yang tak kalah jagonya juga dalam menusuk ke pertahanan lawan.


Dengan formasi itu, pelatih Marian Zimen mengincar kemenangan mutlak agar posisi pada klasemen bisa terdongkrak naik paling tidak ke posisi 8 dari 9.


Para pemain berdiri berbaris di lorong stadion yang tidak begitu luas. Bersama wasit dan asistennya yang memimpin berjalan ke arah lapangan, kedua kesebelasan pun masuk ke area lapangan diiringi sorakan pada penonton.


Para penonton asal Indonesia yang hanya ingin melihat dua pemain Indonesia pun mulai menyoraki yel-yel yang khas.


“Haha! Sepertinya kau mengundang beberapa ratus suporter ke sini,” celetuk Witan.

__ADS_1


Setelah berbaris menghadap tribun utama, bersalaman dan tos koin. Wasit pun meniup peluit tanda pertandingan pekan ke sembilan belas telah dimulai.


__ADS_2