
Pagi yang cerah dengan gumpalan awan memenuhi langit, sebuah kelompok yang memakai seragam sama sedang melakukan pemanasan sebelum ke latihan yang lebih intens.
Mereka adalah para pemain Indonesia yang sedang dipersiapkan untuk menghadapi Jerman pada tanggal 30 Juni nantinya.
Indonesia akan bermain menghadapi Jerman, tim yang berhasil menang tipis dari Italia dengan skor 1-0. Meski begitu, skuad Jerman saat ini cukup terbilang menakutkan dengan beberapa pemain yang muda yang diorbitkan demi mencapai trofi piala dunia.
Indonesia yang semakin merasa meningkat pun tak ingin kehilangan kesempatan emas menjadi satu-satunya tim dari Asia yang memenangkan piala dunia. Ya, itu adalah mimpi dari 260 juta rakyat Indonesia.
“Reza, tumben kemarin kau kebobolan?” ucap Witan.
“Ya, kiper mana yang tidak pernah kebobolan? Itu juga karena kesalahpahamanku dan Haikal,” jelas Reza sambil merangkul Haikal.
“Y–Ya, sebenarnya saya juga kurang mendengar arahannya, jadi main sapu langsung!” ungkap Haikal.
“Ya sudah, tidak perlu dipikirkan, lagi pula ini adalah kemenangan bersejarah tim Indonesia, mengalahkan juara bertahan piala dunia empat tahun lalu,” tutur Witan dengan menatap langit yang cerah.
“Kak Fajar, Kakak harus lebih menyeluruh memindai area penguasaan sisi kanan, jangan sampai terlewat. Sisi kanan kita terlalu lemah waktu itu,” ucap Reza kepada Fajar.
“Ya, ya, ya! Adik Reza sudah pandai! Saya tahu kok, tetapi sepertinya bukan hariku juga,” ungkap Fajar dengan mata yang lesu.
Percakapan mereka begitu hangat, tak ada kesan menyombongkan atau bahkan merendahkan satu sama lain, tak ada yang merasa lebih jago, semuanya sama rata dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Semuanya tertawa di tengah latihan, hingga instruktur pelatih mendatanginya, sontak mereka terdiam seribu bahasa.
***
Di hari yang sama, tetapi di tempat yang berbeda, sebuah tim dengan berperawakan tinggi serta juga besar, mereka sedang berlatih begitu keras.
“Hei, ayo! Gerakkan kakimu, tunjukkan kepada tim Asia itu, kita ini kuat!” seru ter Stegen, salah satu kiper senior yang menjadi pembantu pelatih kiper.
“Musiala, kau akan saya jadikan pemain tengah yang berbahaya! Keluarkan itu saat melawan Indonesia nanti!”
__ADS_1
Para pemain Jerman begitu bersemangat, mereka berteriak keras demi membuat pagi yang cerah itu semakin merebak.
Pemain Jerman yang tinggi-tinggi, menjadi sebuah keunggulan untuk memenangi duel udara nantinya, tetapi di tim Indonesia sendiri masih ada Kakang, atau beberapa pemain lain juga yang tinggi.
Kemudian Reza, dia seorang kiper yang sedang tumbuh diusianya yang baru menginjak 20 tahun dengan tinggi 190 cm, benar-benar tinggi untuk seorang pemain Asia, khususnya Indonesia.
***
Hari demi hari, hingga tak terasa pertandingan kedua babak grup B Piala Dunia 2026 pun kembali dilangsungkan, mempertemukan Indonesia Vs. Jerman dan Argentina Vs. Italia.
Dua pertandingan yang akan menentukan nasib mereka selanjutnya, jika Argentina kalah, tim ini akan gugur langsung, jika Italia kalah, maka hal demikian juga mereka alami.
Maka, antara Indonesia dan Jerman, kedua tim meski kalah di antaranya, masih memiliki kesempatan juga pada pertandingan ketiga babak grup nantinya.
Semua itu bisa berubah, maka dari itu apa pun yang terjadi di lapangan hijau tak akan membuat sebuah hasil mutlak, karena bola itu bundar, apa saja bisa terjadi begitu benda ini digulirkan di antara kaki para pemain.
Stadion Lumen Field, Seattle, Amerika Serikat, tempat berlangsungnya laga kedua grup B, di mana stadion berkapasitas 72.280 ini telah dipenuhi oleh para pendukung dari kedua tim, lautan putih-hitam tersaji, dan juga lautan merah tak kalah antusiasnya.
Ini adalah pertandingan panas, pada malam ini, kedua tim akan bermain sangat sengit tanpa ada yang ingin mengalah, Indonesia dengan generasi Garuda emas yang baru telah mendobrak pintu kutukan tak pernah sukses, Jerman yang bak panser kelas berat sedang berusaha meruntuhkan kokohnya Garuda.
Di ruang ganti tim Indonesia, Pelatih Tae-yong sedang mempersiapkan anak asuhnya dalam laga panas ini.
“Seperti biasa, Reza, kau harus menunjukkan kelasmu, kiper seharga setengah triliun harus kuat!” seru Pelatih Tae-yong.
“Kemudian, para bek, Kakang, Haikal, dan juga Arhan harus cermat dalam penempatan!”
“Setelahnya, lini tengah jangan sampai mati, kalian adalah jantung pertahanan dan penyerangan Indonesia. Marselino, Robi, Egy dan juga Todd Ferre, saya percayakan lini tengah pada kalian!”
“Lini depan, Witan di kanan dan Kwateh di kiri, kemudian Hokky sebagai ujung tombak yang haus akan gol!”
Pelatih Tae-yong menghentikan penjelasannya, mengedarkan pandangannya kemudian berkata, “Ini adalah skuad paling muda di Piala Dunia 2026, saya rasa kita harus menunjukkan bahwa yang muda bisa mentereng layaknya yang senior, tunjukkan kelas kalian!” jelas Pelatih Tae-yong.
__ADS_1
Lantas mata para pemain Indonesia menunjukkan semangat yang membara setelah tersulut kata-kata motivasi dari pelatih, mereka semua berseru begitu lantang.
“Sananta, kau akan main babak kedua, ini adalah ketentuan! Saya akan mencoba meracik belasan taktik demi membingungkan lawan!” jelas Pelatih Tae-yong kepada Sananta, pemain berusia 24 tahun.
Setelah proses panjang penjelasan formasi dan taktik, kesebelasan utama Indonesia segera keluar ruang ganti dan menuju lorong pemain yang mana kesebelasan utama Jerman telah tiba dengan tatapan merendahkan mereka.
“Ter Stegen, kiper senior, ya? Tidak ada peremajaan lagi kah?” gumam Reza menatap Ter Stegen, kiper Barca.
Kedua kesebelasan maju dengan dipimpin oleh wasit asal Inggris, Kevin Ryan, wasit yang terkenal akan ketegasannya dalam memimpin pertandingan di Liga Inggris, dengan puluhan kartu kuning dan juga merah yang setimpal dengan perlakuan pemain.
Berbaris menghadap tribun utama, lagu kebangsaan dari masing-masing tim dikumandangkan, Indonesia dengan lautan merah begitu lantang menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Di kursi VVIP stadion, hal yang akan jarang terlihat, pemimpin negara bisa datang langsung melihat tim sepakbola bertanding, dia adalah Prawibawa, presiden ke-delapan Indonesia.
Dia datang bersama jajarannya, menjadikan jadwal kerjanya tanggal 30 Juni juga bagian dari menonton pertandingan antara Indonesia dan Jerman, lagi pula tanggal ini juga dia ada kunjungan kerja, dan itu sudah diselesaikan siang harinya.
Malam harinya, Prawibawa menyempatkan menonton pertandingan ini, duduk di kursi VVIP, seperti tidak sesuai namanya, dia yang katanya berwibawa justru meneriakkan kalimat-kalimat layaknya seorang suporter.
Reza yang mengedarkan pandangannya, terpaku pada tribun VVIP, di mana orang nomor satu di Indonesia datang secara langsung demi mendukung Indonesia bertanding.
Indonesia yang memenangkan koin tos berkat sedikit kecurangan Reza, dia melihat koin mana yang akan muncul melewati Mata Masa Depannya.
“Baiklah, Jerman, saya akan serius, tidak seperti saat menghadapi Argentina!” seru Reza.
Bola kick-off dimulai dari Hokky yang memberikannya kepada Marselino ke belakang, kemudian sisi kanan dan kiri penyerang maju secara serentak.
Marselino langsung menerbangkan bola ke depan, tetapi sayangnya serangan kejutan ini dapat ditebak oleh para pemain Jerman.
Bola diambil oleh Sane, lantas dari pihak Jerman, serangan mereka lakukan bak panser yang menerobos musuh, begitu cepat dan kuat, adu fisik dengan mudah mereka menangkan.
“Anjir, sampai tersungkur gitu Marselino yang sudah mendapatkan didikan dari klub kasta tertinggi Spanyol!” gumam Reza.
__ADS_1
Marselino, pemain muda yang sudah mendapatkan didikan dari Sevilla, klub kasta tertinggi Spanyol pun harus tersungkur saat adu fisik bersama Goretzka.
“Oke, ini Bahaya! Panser berkaki dua sedang maju!” seru Reza.