Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 22 - Hadiah Dari Ibu


__ADS_3

Reza bersama rekan-rekannya merayakan kemenangan pertama di pertandingan perdana dengan kecil-kecilan. Mereka juga sekalian merayakan hari kelahiran Reza yang bertepatan pada laga perdana, jadi kemenangan ini diumpamakan sebagai hadiah ulang tahun bagi Reza.


Pelatih Sofyan sendiri memberikan kebebasan kepada anak asuhnya, tetapi dia memberi ultimatum untuk besok Minggu tak ada kebebasan seperti ini. Mereka harus semakin berlatih dengan giat, menambal kekurangan di lini pertahanan.


Beberapa jam di sekolah. Reza pun pulang, waktu juga sudah semakin larut. Reza tak ingin terus larut dalam kesenangan, dia masih harus terus berlatih dan membuat tubuhnya semakin proporsional sebagai seorang kiper.


Reza masih memikirkan tangannya yang terhempas oleh sebuah tendangan torpedo dari Febri. Itu masih sekelas anak seusianya, bagaimana jika pemain kelas dunia, bisa saja tangannya patah.


Ini saja, dia masih sedikit merasakan agak kesemutan. Reza sambil terus berjalan, dia mengurut pergelangan tangannya dengan baik.


Beberapa waktu di perjalanan, akhirnya dia sampai di rumah. Saat mencoba mengetuk pintu, dia sama sekali tak melihat sepatu kerja ibunya di depan pintu.


Reza pun mengetuk pintu, tak ada jawaban sama sekali dari dalam yang membuat Reza harus mengeluarkan kunci cadangan miliknya. Reza pun membuka pintu dan mendapati rumahnya benar-benar gelap gulita karena sama sekali belum dinyalakan lampu.


Reza bolak-balik ke setiap ruangan yang dibutuhkan berkegiatan untuk menyalakan lampu, setelah itu dia membuka pakaiannya menunjukkan tubuhnya yang ramping tanpa otot terbentuk.


“Saya ingin lebih memperkeras tubuh ini. Dengan otot yang kencang di perut, tangan dan juga dada, bisa saja bentuk tubuh yang semakin kuat, maka kemampuan kiper ini bisa dimanfaatkan lebih efektif.” Sambil melihat cermin penuh di depannya, dia berpose bertolak pinggang.


Reza pun menuju kamarnya, di sana dia segera masuk ke kamar mandi yang berada di kamarnya. Ruang kamarnya yang sederhana, hanya ada tempat tidur yang muat dua orang, meja belajar, dan juga lemari pakaian.


Di dindingnya dihiasi oleh poster-poster beberapa kiper kelas dunia, mulai dari Lev Yashin, Kahn, dan beberapa kiper modern kelas dunia saat ini.


Reza mandi dengan cepat. Dia pun mengambil pakaian di lemarinya, pakaian yang sederhana, celana pendek dan juga kaus putih bercorak merah.


Reza menuju ruang makan. Di sana dia membuka tudung saji, tak ada apapun.


“Mungkin saya harus masak, pasti ibu lelah sepulang kerja, yah … meskipun setelah menonton pertandinganku, dia langsung pergi kerja, jadi … akan saya kurangin bebannya.”


Reza pun membuka kulkas. Di sana ada sayuran segar dan juga 2 ekor ikan berukuran telapak tangannya yang masih terlihat segar. Reza mengeluarkannya, dia pun segera mengolahnya menjadi makanan yang lezat.


Ikan digoreng dengan tepung. Sayuran yang berupa wortel, buncis dan juga kacang panjang diolah menjadi makanan yang bernama capcay. Semua itu dia masak selama 30 menit lamanya.


Terlihat menggugah selera, Reza pun menunggu ibunya di meja makan sambil memainkan smartphone sederhana melihat-lihat berita yang tidak terlalu penting.


Beberapa waktu berlalu, hingga 15 menit kemudian, pintu rumah Reza diketuk. Dia pun segera pergi menuju ke pintu depan. Di sana dia mengintip dari balik jendela samping pintu untuk melihat apakah itu ibunya atau bukan.

__ADS_1


Reza pun membuka pintu pertanda bahwa memang itu ibunya yang terlihat membawa kotak kardus misterius berwarna coklat.


“Selamat datang, Bu!” Reza menyalami tangan ibunya.


Citra yang melihat Reza pun sedikit tersentuh. Aroma lezat dari ruang makan benar-benar tercium di hidung kecilnya tersebut. Wajahnya yang kelelahan masih terlihat cantik dengan rambut sepanjang pinggang terurai rapi dengan penjepit rambut di bagian dahi atasnya.


“Sepertinya anak ibu sudah masak nih,” ucap Citra sembari masuk yang dibantu Reza membawakan kotak kardus misterius.


Reza membawa ibunya menuju kamar ibunya untuk segera mandi di kamar mandi yang tersedia di ruang kamarnya.


“Eca! Jangan dibuka dulu kotaknya!” Dari dalam kamar terdengar teriakkan lembut yang menyentuh kalbu.


Reza hanya diam duduk di meja makan sambil menunggu ibunya.


“Yaah … sudah dingin,” gumam Reza yang kemudian dikejutkan oleh ibunya.


“Hahah! Tak apa, Eca. Tetap terasa hangat kok bila dimakan dengan anak ibu tercinta.” Citra datang sambil mengusap rambutnya Reza.


Citra pun duduk berhadapan dengan Reza untuk menikmati makanan yang telah Reza buat.


“Ini untukmu, Nak!”


Reza menatap manik mata ibunya. Ada perasaan haru di sana yang membuat Reza sedikit tak tertahankan.


Reza lantas membuka kotak misterius itu yang isinya membuat matanya membelalak terkejut.


“Ini ….”


Reza memerhatikan isinya, terdapat sepasang sepatu bola bermerek Adedis dengan warna merah dan corak keemasan pada sisi-sisi sepatunya.


Ada juga sepasang sarung tangan kiper berwarna hitam dengan corak putih bermerek Adedis. Sarung tangan dengan bertuliskan bagian pergelangannya, yaitu Reza.


Kemudian ada satu benda lagi yang membuat Reza terkejut. Sebuah topi berwarna putih dengan merek dan logo terlihat jelas pada bagian depannya, ada juga bendera merah putih di sisi kiri topi, kemudian sisi kanannya tertulis bordir nama Reza.


“Ibu ini ….”

__ADS_1


“Ya, itu hadiah ulang tahun kamu. Sepatu dan sarung tangan itu akan mengganti yang usang menjadi baru. Kemudian … topi itu bisa dipakai saat kamu bermain di sore atau pagi hari dan mengarah langsung ke matahari.


Topi bisa menjaga pandanganmu dari silaunya matahari.”


Reza tak bisa berkata-kata, sebegitu sayangnya Citra kepada anak satu-satunya tersebut yang membuat Reza hanya tertegun.


“Te-terima kasih, Bu!” Reza melepaskan kotak kardus itu di lantai kemudian memeluk ibunya yang masih duduk di kursi makan.


Mereka berdua terlihat berpelukan begitu hangat layaknya anak dan ibu yang sudah tak bertemu dalam jangka waktu begitu lama, rasa kasih sayang di antara mereka benar-benar terlihat jelas.


Reza menitikkan air mata sedikit demi sedikit. Rasanya, itu adalah hari paling bahagia dalam hidupnya. Sekarang dia memiliki ibunya yang mendukungnya, kemudian sistem yang mendampinginya.


[Sistem merasa terharu.]


[Sistem juga telah menambahkan 5 poin disetiap kema–]


‘Sudah! Diam kamu, sistem. Saya masih ingin seperti ini tanpa suara monoton itu.’ Reza membatin dengan sedikit kesal.


[Baik .⁠·⁠´⁠¯⁠`⁠(⁠>⁠▂⁠<⁠)⁠´⁠¯⁠`⁠·⁠.]


‘Sejak kapan kamu memakai emoticon seperti itu?’


[Sejak ini, Tuan (⁠≧⁠▽⁠≦⁠)]


Reza hanya bisa terus berdiam. Dia masih ingin memeluk ibunya dan tak ingin lepas.


“Ugh! Sudah, Nak. Ibu mau istirahat, lelah, isi absen di sore hari setelah pertandinganmu itu melelahkan. Tapi … pertandinganmu benar-benar hebat! Sayangnya Eca kebobolan ….”


Reza melepas pelukan kepada ibunya. Kemudian dia sedikit mengusap matanya yang mulai penuh air mata yang tertahankan.


“Yaah … mau bagaimana lagi, Bu. Tendangannya sangat keras, terhempaslah tangan Eca ini.”


“Hahah! Berolahraga lah dengan giat, isi tubuhmu dengan protein tinggi agar tubuh itu memiliki otot yang kencang dan tak mudah dihempaskan, hahaha!”


Citra pergi sembari berucap demikian, diawali tawa dan juga diakhiri tawa yang membuat Reza hanya cemberut di meja makan.

__ADS_1


“Terima kasih sarannya, Bu!”


__ADS_2