
Pertandingan melawan Uni Emirat Arab telah selesai. Tentunya semua pemain kembali ke kamp pelatihan. Mereka pada malam hari itu juga diperintahkan untuk berkumpul di ruangan taktik.
Saat di kamp pelatihan yang tak jauh dari Stadion Utama GBK. Para pemain Indonesia U-17 sedang menunggu staf kepelatihan khususnya pelatih Bima untuk menceritakan apa tujuannya mengumpulkan mereka yang masih sangat lelah sehabis pertandingan sejam lalu.
“Huu … ini melelahkan,” ucap Nabil seraya berbaring terlentang di atas lantai.
Ketika pintu ruangan terbuka, tentunya dia langsung beranjak dan duduk di bangku yang telah tersedia. Semua pemain yang saling berbincang juga langsung terdiam.
Pelatih Bima masuk seraya membawa beberapa papan taktik. Dia sendirian. Para pemain juga menatap penuh penasaraan, mengapa pelatih Bima mengumpulkan mereka untuk sebuah arahan yang tak diketahui oleh mereka.
“Baiklah. Mungkin kalian heran. Nah, saya akan menjawab. Palestina mengalahkan Malaysia dengan skor 3-0 saat bersamaan kita main tadi. Malaysia berbahaya dan kuat, tapi Palestina juga lebih kuat untuk mengalahkan Malaysia.
Ini adalah pembicaraan taktik yang cepat. Palestina meski kalah melawan Uni Emirat Arab di laga pertama mereka, tetapi Malaysia yang termasuk kuat bisa mereka kalahkan seperti itu,” jelas pelatih Bima seraya sedikit demi sedikit mengatur pin magnet pada papan taktik.
Para pemain mulai menyimak dengan rasa kelelahan yang berangsur-angsur membaik. Lagipula minuman isotonik sudah menemani mereka untuk membalikkan energi yang terbuang saat berlaga.
Penjelasan dari pelatih Bima cukup panjang. Dia terus menjelaskan segala macan taktik yang dapat melawan Palestina lusa nanti pada tanggal 8 Oktober. Pelatih Bima juga kembali menurunkan skuad awalnya saat melawan Guam.
Achmad Zidan dan juga Figo Dennis kembali pada starting line-up. Menurut pelatih Bima ini adalah skuad terbaiknya saat ini. Namun, pelatih Bima juga mengganti seorang pemain belakang. Abdillah digantikan oleh Seva Aditya.
Pelatih Bima kemudian menjelaskan satu persatu apa yang harus dilakukan setiap pemain pada saat bertanding. Semuanya begitu jelas hingga mudah dipahami.
“Oke, saya rasa cukup. Untuk besok kita hanya berlatih pemantapan kemampuan taktik ini. Sekian, silahkan kembali ke kamar kalian!”
Para pemain pun bubar. Kali ini mereka kembali ke kamar dengan pemahaman taktik yang memenuhi kepala. Setiap visualisasi terus mereka buat untuk terus memahami dan tak melupakan taktik yang baru saja diberikan pelatih Bima.
Reza di kamarnya saat ini hanya menatap keluar jendela. Langit malam yang cerah begitu jelas memunculkan puluhan bahkan ratusan bintang indah. Meski langit Jakarta berpolusi, tetapi masih cukup nyaman melihat bintang nan jauh di mata.
“Bintang … saya akan menjadi bintang di dunia sepakbola nantinya,” gumamnya seraya berjalan menuju kasurnya.
Di atas lemari kecil sampinh kasurnya, terdapat jam Beker digital yang menunjukkan pukul 11:34. Itu terlalu malam, tetapi para pemain hanya memakluminya, khususnya Reza.
__ADS_1
Reza kemudian menutup matanya, mulai memasuki alam mimpi. Dalam mimpinya, Reza membayangkan menjadi kiper legendaris asal Indonesia yang mengangkat piala dunia bersama rekan setimnya.
Hingga Piala Dunia itu terjatuh dan saat itulah Reza terbangun akibat jam bekernya berbunyi tepat pada pukul 06:00. Reza kemudian mematikan jam bekernya dan segera membersihkan tubuhnya yang beraroma tidak sedap.
Setelah membersihkan tubuhnya, dia menuju lapangan. Di sana sudah ada beberapa rekan setimnya yang mulai melakukan pemanasan kecil sebelum masuk pada latihan inti. Reza juga melihat pelatih Bima yang mengarahkan beberapa rekan setim untuk segera bersiap.
Reza berlari kecil menuju titik mereka berkumpul. Di sana, Kafiatur mendekati Reza dengan senyuman ramahnya.
“Mari bekerja keras,” ucap Kafiatur seraya memegang pundak Reza.
Kemudian dari beberapa meter di tempat Reza, terlihat Andrika dan Ikram yang hanya menghela nafas pasrah. Kali ini mereka hanya mengandalkan keberuntungan untuk bisa masuk dalam starting line-up. Mereka sudah berusaha keras, tetapi sangat sulit mencuri tempat dari Reza.
Setelah semuanya berkumpul, pelatih Bima mulai memberi arahan. Dia mengarahkan anak didiknya untuk mengimplementasikan taktik semalam. Dia ingin anak didiknya semakin paham akan taktik yang dia rangkai menjadi satu.
Semuanya berlatih. Latihan umpan juga mereka lakukan, apalagi taktik kali ini mengandalkan umpan yang akurat. Reza dan kawan-kawan dituntut untuk bisa memanfaatkan kecepatan mereka dan saling umpan satu-dua agar menyulitkan Palestina.
Lagipula tim Indonesia memiliki tinggi yang cukup pendek daripada skuad Palestina. Jadi mengandalkan bola datar adalah yang terbaik. Taktik ini sebenarnya sudah dijalankan saat melawan Uni Emirat Arab semalam, tetapi menurut pelatih Bima, rasanya taktik itu belum terimplementasi dnegan benar.
Dalam masa mereka berlatih, beberapa penggemar mulai mendukung mereka dari balik jala besi setinggi 4 meter yang mengelilingi lapangan latihan. Mereka menyerukan kata-kata motivasi untuk membuat para pemain Indonesia semangat.
“Nampaknya kau memiliki penggemar baru,” ucap Andrika seraya mendorong pelan Reza.
Keduanya tertawa ringan, sebelum peluit dari pelatih Markus mengejutkan keduanya. Pelatih Markus menatap tajam keduanya. Andrika dan Reza pun merasa bersalah karena tidak sungguh-sungguh dalam berlatih.
“Maaf, coach!” Serentak dengan tegas Reza dan Andrika.
Sementara itu, Ikram hanya menggelengkan kepalanya ringan tanda mencoba memaklumi kedua rekan kipernya tersebut.
***
Sabtu, 8 Oktober 2022. Di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
__ADS_1
Semua suporter dan para penonton mulai memadati stadion pada pukul 7 malam. Karena kick-off nantinya pukul 08:00, tentunya mereka bersiap lebih awal.
Di lapangan juga para pasukan pengaman mulai begitu sibuk. Beberapa staf stadion juga mondar-mandir mempersiapkan segalanya.
Di luar stadion, para suporter mulai antusias karena bus dari kedua tim telah datang secara bersamaan. Dari bus Indonesia U-17, semuanya turun satu persatu dan langsung menuju ruang ganti.
Para pemain Palestina pun turun dan sesekali curi-curi pandang kepada para pemain Indonesia. Tatapan mereka ada kesan gugup dan juga disatu sisi keberanian untuk mencoba pertandingan dengan permainan terbuka melawan Indonesia.
Di ruang ganti Indonesia U-17.
“Kita harus mengimplementasikan secara penuh taktik itu. Lagipula taktik umpan-umpan pendek saat melawan Malaysia akan terus dikembangkan. Jadi … semangatlah!” Pelatih Bima memberikan sedikit wejangan.
Para pemain juga sudah siap memakai jersey bagian atas putih dengan motif hijau dan biru pada kerahnya dan juga lipatan lengan, kemudian celana berwarna hijau penuh. Reza sendiri memakai jersey berwarna kuning dengan garis hitam para kerah dan juga lipatan lengan.
Menit demi menit, pemanasan kecil dari kedua tim telah benar-benar siap. Kedua tim telah siap bertempur habis-habisan. Apalagi Palestina yang baru mendapatkan 3 poin dari 2 pertandingan, 1 kekalahan dan juga 1 kemenangan.
Indonesia sendiri harus terus mencetak kemenangan, karena itu akan mempermudah dalam langkahnya menuju babak sebenarnya nantinya di Piala Asia U-17 2023.
***
Kedua tim berada di lorong bersama wasit yang akan memimpin jalannya pertandingan. Gemuruh di stadion begitu terdengar antusias, chant dan yel-yel dinyanyikan oleh para suporter yang mendukung Indonesia U-17.
Ketika wasit berjalan, kedua kesebelasan menuju lapangan.
Kedua kesebelasan berbaris untuk menyanyikan lagu nasional masing-masing.
Ketika Indonesia menyanyikan lagu kebangsaan, seisi stadion mengikutinya begitu khidmat. Rasa dingin mulai menusuk pori-pori, begitu merinding bagi banyak orang.
“Hiduplah Indonesia Raya~”
Setelah lagu selesai dinyanyikan, tepukan ribuan pasang tangan mulai menggema di stadion.
__ADS_1
Sesi foto dan koin tos dilakukan. Indonesia mendapatkan bola pertama. Kali ini, Arkhan yang melakukan kick-off.
Ketika wasit meniup peluit, Arkhan segera menendang bola dan pertandingan ketiga bagi Indonesia pun dimulai!