
Hari yang ditunggu-tunggu serta dinantikan oleh ratusan ribu hingga juta para penikmat sepakbola Asia, khususnya Indonesia yang memang sedang dalam keadaan paling antusias.
Negara berpenduduk 280 juta ini seakan memiliki aura bersemangat paling kuat di antara para peserta turnamen Piala Asia AFC 2023 ini.
Bagaimana tidak antusias, akhirnya tim kebanggaan mereka bisa berbicara banyak dikancah Asia yang memang selalu jadi bulan-bulanan tim-tim kuat Timur Tengah, Indonesia menjadi terbelakang.
Namun, sekarang Indonesia telah berubah, Indonesia telah menjadi tim yang bangkit dari jurang kelemahan yang mana membuat mereka bisa terbang bebas bagai burung Garuda demi menghajar setiap lawan tanding mereka.
“Wuah! Akhirnya bisa melihat penuhnya stadion yang mana Ultras Garuda berkumpul dari seluruh Asia!” seru Reza.
“Ibu … Tonton Eca, ya, di Palu sana!” gumam Reza seraya menatap langit yang yang cerah tanpa awan sama sekali.
Ini masih sore sekitar pukul 15.00, sedangkan jauh di Indonesia, mereka sudah empat jam atau lima jam lebih cepat lagi, sekitar pukul 20.00 WITA.
“Yosh, mari kita bermain-main,” celetuk Reza.
Dari belakang, sebuah tangan menoyor kepala Reza hingga dia terkesiap.
“Woy!” seru Reza seraya menangkap tangan pelaku yang menoyor kepalanya.
Reza menariknya ke depan, sontak sosok yang sebenarnya terasa mustahil berada di sana.
“Kak … Fajar?”
“Hehe, sana, masuk ruang gantimu, saya akan duduk di tribun yang mana kau tempati gawangnya, entah di tribun Barat atau Timur.”
Fajar langsung pergi dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana, gaya jalannya begitu slengean dan tak memedulikan sekitar.
“Hmm ….”
Mencoba menyisihkan sementara masalah yang hendak dia bicarakan bersama Fajar, Reza pun memasuki ruang ganti yang mana rekan-rekannya telah menunggu dan sedang menyimak beberapa penjelasan dari Pelatih Tae-yong.
“Kalian semua, bergerak dengan bebas, saya akan memberi kalian ruang untuk bergerak bebas sesuai insting.
Namun, sebebasnya apapun kalian bergerak, jangan melupakan para pemain Thailand yang tentu berbahaya!”
__ADS_1
Semua penjelasan diarahkan begitu jelas tanpa berbelit atau bahkan membingungkan para pemain.
Sementara itu, Reza sedang fokus memakai handwrap khusus kiper yang menjaga resiko cedera jari-jari ataupun pergelangan, kemudian Reza memakai sarung tangan berwarna hitam dan merah yang pada bagian pergelangannya tertulisnya namanya.
Selepas memakainya, Reza pun beranjak bersama rekan-rekannya yang sudah siap memulai laga panas hari ini. Mereka membentuk lingkaran, mengulurkan tangan ke depan dan berseru dengan semangat.
Kesebelasan Indonesia menuju lorong stadion yang mana kesebelasan Thailand telah menunggu beberapa detik yang lalu.
“Wah … Messinya Thailand ada nih, Bang Chanathip, pengen rasain gocekan mautnya,” celetuk Reza menggunakan bahasa Inggris.
Asnawi yang mendengarnya di depan pun hanya menggelengkan kepala, dia sudah tak kaget dengan perangai Reza yang apa adanya dan juga cukup tengil hingga mampu membuat lawan kena mental ataupun kesal.
“Chanathip, terlalu sederhana,” gumam Reza dengan pandangan dingin dan datar.
Asnawi menyadarinya, tetapi dia hanya diam sembari menunggu wasit memimpin jalan keluar menuju lapangan hijau.
Hingga wasit asal Jepang, Takumi, segera memimpin menuju lapangan, tepat sebelum memasuki garis lapangan, bola dengan corak indah diambilnya.
Kedua kesebelasan menghadap ke bangku cadangan, mereka akan menyanyikan masing-masing lagu kebangsaan.
Tak hanya itu, seusai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, para penonton mulai menunjukkan tajinya dalam membuat keramaian di stadion.
Nyanyian-nyanyian yang sudah disiapkan jauh hari, chants para suporter yang sangat kreatif dan juga beberapa kesan yang memang seperti baru terlihat saat ini.
Suporter Thailand menunjukkan sikap gugup, tatkala di hadapan puluhan ribu suporter Indonesia yang menggemakan stadion.
Para pemain Thailand, baik yang di lapangan maupun yang duduk di bangku cadangan merasakan atmosfer terasa mendidih, nyali mereka seakan menguap hingga menjadi ciut.
Pelatih Kepala Thailand, Polking, mengedarkan pandangan di seluruh penjuru dunia. Bahkan kamera-kamera stadion menunjukkan gambaran yang mana suporter Indonesia seperti tenggelam dalam lautan kebebasannya, begitu liar dan juga tanpa belas kasihan terus menggelorakan semangat juang mereka.
“Wah ….”
Wasit Takumi sendiri nyaris terlambat beberapa detik dalam meniup peluit, dia terkesima akan antusiasnya warga negara Indonesia kali ini, mungkin ini pertama dalam hidupnya yang sudah 40 tahun.
Prit!
__ADS_1
Wasit meniup peluit, Spasojevic memberi umpan ke belakang yang mana diterima dengan baik oleh Abimanyu.
Abimanyu mengedarkan pandangannya, para pemain Thailand perlahan mulai maju hingga terus menekan pertahanan Indonesia.
“Sepertinya Thailand menekan lebih awal dengan high pressing!” gumam Reza sembari memikirkan cara demi menembus pertahanan Thailand.
Abimanyu yang mengendalikan bola melirik ke kanan, di sana ada Marselino yang bergerak maju, diberikannya bola, Marselino mendapatkannya dan langsung melakukan overlap.
Melewati garis tengah lapangan, Marselino langsung dihadang oleh dua pemain Thailand, Chamratsamee dan juga Yooyen.
Marselino hendak mengeluarkan skill miliknya, tetapi dari sisi kanan, Evan berlari sembari memberi kode bahwa dia meminta bola.
Evan diplot sebagai gelandang sayap, ini hasil kreativitas Pelatih Tae-yong.
Evan yang menerima bola hasil umpan datar Marselino, langsung menendang kembali bola dengan melambungkannya secara diagonal menuju Saddil di sisi kiri tepat di depan.
Serangan yang terkoordinir di awal-awal babak pertama adalah yang diinginkan oleh Pelatih Tae-yong, dia berniat membawa anak asuhnya paham akan taktik serangan awal yang ampuh.
Di sisi kiri, Saddil mendapatkan bola, tetapi dia dihadang begitu saja oleh Bureerat.
Saddil tak bisa bergerak, dia yang hendak berputar malah mendapati dirinya terkepung karena Yooyen telah datang lebih cepat dari perkiraan.
“Wah, ini bakalan sulit.” Reza bermonolog.
Dia terus memerhatikan rekan-rekannya, kesannya ada, dan itu sangat berbeda saat menghadapi lawan-lawan sebelumnya, kali ini menghadapi Thailand seperti terisolasi lebih awal.
Thailand seperti telah mengetahui taktik dan teknik pemain Indonesia, memang, Thailand dan Indonesia sering bertemu dalam laga-laga wilayah Asia Tenggara.
Hal ini membuat kedua tim seharusnya sudah saling mengerti dan bisa menilai kelemahan dari masing-masing mereka.
“Tahan saja sih, lebih baik babak adu penalti, ini terlalu sulit. Saya juga malas keluarin kemampuan solo run, karena terlalu melelahkan fisik dan mental.”
Reza telah mengambil keputusan bulat, dia akan menahan sekuat tenaga gawangnya, selagi menunggu apakah rekannya bisa mencetak skor atau tidak, lagipula dia telah bersiap babak adu penalti yang menegangkan.
Babak adu penalti jelas akan sangat menegangkan, di mana penguasaan mental harus bisa dikendalikan seorang pemain.
__ADS_1
“Hmm ….”