Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 126 - Babak Adu Penalti Dimulai


__ADS_3

Langit biru cerah tanpa awan sama sekali, membuat udara yang seharusnya memasuki musim dingin malah terasa panas menyengat.


Di sebuah stadion yang amat megah, pertandingan antar tim musuh bebuyutan yang menarik untuk ditonton sepanjang hari, entah itu siaran ulang atau apapun itu.


Pertandingan antara Indonesia dan Thailand menjadi cikal-bakal berubahnya pesepakbolaan Asia Tenggara yang akan semakin maju ke depannya, mereka jelas akan merubah tatanan sepakbola Asia, khususnya Asia Tenggara.


Berada di lapangan yang sama, kedua tim benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatan mereka pada satu titik ini yang mana menentukan nasib mereka pada turnamen ini.


Baik Indonesia maupun Thailand, keduanya adalah tim kejutan di Piala Asia tahun ini, yang mana sebelumnya mereka tak pernah sama sekali menyentuh fase gugur saja.


Ini menjadi sebuah awal yang bagus bagi pesepakbolaan Asia Tenggara, mereka perlahan tapi pasti mulai menaikkan status dan kemampuan mereka demi bisa bersaing dikancah internasional.


“Ayo, Indonesia!”


“Semangat! Kiper gantengku!”


“Lakukan seperti biasa, yaa~”


Ribuan penonton wanita hanya terfokus pada seseorang saja, itu adalah Reza yang berdiri dengan gagahnya sembari sesekali mengelap keringat.


Wajahnya yang disinari cahaya matahari sangat terlihat tampan, apalagi dengan topi yang baru dia keluarkan sejak terakhir kali yang bahkan sudah dilupakan kapan itu terjadi.


“Saya agak merinding nih,” gumam Reza seraya mengelus tengkuknya.


Secara tiba-tiba, Thailand menyerang dari sisi kanan yang mana saat itu Bureerat terus bergerak dengan bebas dan sesekali melirik ke arah tepi kotak penalti.


“Oh ….”


Reza mundur selangkah, pandangannya diarahkan ke depan dengan fokus kepada dua penyerang yang bergerak secara aneh seakan itu adalah gerakan tipuan.


Kraisorn dan Arjvirai, penyerang andal dari Thailand yang sudah banyak mengemas gol dan pertandingan di Timnas Thailand.


“Nah … Sepertinya begitu,” gumam Reza.


Bergerak ke kiri, dia mendapati jalur yang hendak ditransfer oleh Bureerat.


“Di sana, jaga keduanya, mundur tiga gelandang!” seru Reza dengan sangat keras demi bisa didengar oleh rekannya.


Arahannya didengar, sontak Evan, Klok dan juga Sandy mundur membantu dua bek yang saat ini sedang mengawal pergerakan dua penyerang Thailand tersebut.


Mendapati ruang gerak semakin diperkecil, Bureerat memundurkan bola demi merangkai kembali serangan.


“Heh … Hanya segitu, ya?” ungkap Reza dengan senyuman seringainya.


“Oke, kalian bergerak ke depan, ambil bola!”


***


Menit demi menit terus berjalan, kedua tim selalu saling berbalas serangan sehingga para fans dan juga staf pelatih dipinggir lapangan selalu bernapas berat.

__ADS_1


Serangan dari kedua tim sangat berbahaya, tetapi baik Reza dan juga kiper Thailand, Kovit Wangsawad, keduanya masih sangat solid sejauh ini.


...[Peringatan! Anomali terdeteksi!]...


Du tengah kefokusannya demi menghalau bola, Reza mendapati notifikasi dari Sistem yang sangat aneh. Ini adalah notifikasi peringatan pertama kali sejak dirinya memegang Sistem.


“Ugh … Nyaris!”


Reza melompat dengan sedikit kehilangan momentum, beruntung dia bisa menyentuh bola dan menjauhkannya dari mulut gawang.


Reza berdiri dan berkata dalam benaknya kepada sistem.


‘Apa itu? Anomali apa?’ batin Reza disertai tanda tanya besar di atas kepalanya.


...[Sistem mengharapkan kontribusi Tuan dalam mencarinya!]...


“Alah! Bilang aja kalau memang tidak bisa, pakai embel-embel kontribusi segala!” gerutunya.


...


Sementara itu, jauh di ujung gawang, dimana kiper Thailand sedang fokus dalam penjagaannya.


“Dia, ya?”


...


Prit!


Di ruang ganti Indonesia, Pelatih Tae-yong menggertak sejenak Reza.


“Saya tahu, saya mengandalkanmu, tetapi. Sejauh ini kau belum bisa berkontribusi dalam hal serangan. Ayo! Kerahkan kemampuanmu, jangan ditunda-tunda!” jelas Pelatih Tae-yong.


Reza sendiri hanya menanggapinya dengan anggukan kepala, dia sama sekali tak berniat menunjukkan kemampuannya, lagipula ketika melihat menggunakan Mata Bijak, dirinya seakan ditutupi kabut hitam.


Dia tak bisa melihat lebih dari tiga detik yang membuatnya kesulitan dalam menebak gerakan lawan saat melakukan giringan bola.


‘Apa karena anomali yang dikatain Sistem?’ pikir Reza.


Dia tentu berpikir, bagaimana resiko besar yang akan diperbuatnya jika melakukan kesalahan kecil saja.


Ada pepatah mengatakan, tak dicoba maka tak ditahu. Terlalu mendasar, pikiran tak dibuka luas, pepatah itu tak cocok untuk Reza yang pelan-pelan dan memikirkan segala hal demi hasil baik ke depannya.


Jika tak tahu, maka tak perlu dicoba, bisa-bisa resiko yang akan ditanggungnya sangat besar nantinya.


***


Babak kedua pun dimulai, tetapi kedua tim masih nyaris sama seperti tadi, terus menyerang dan menghasilkan hasil buruk, tak ada gol satupun bersarang dari kedua tim.


Reza berhati-hati, sementara para pemain Thailand lebih berhati-hati lagi agar tak menyiptakan pelanggaran di area pertahanan mereka demi menjaga agar Reza tak mengambil tendangan bebas mematikan yang bisa saja 100% gol.

__ADS_1


Hingga menit ke 90, kedua tim tak begitu saling menyerang lagi dan menurunkan intensitas hingga setelah tiga menit kemudian, wasit meniup peluit tanda berakhir babak kedua.


Pertandingan kembali dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu yang akan berlangsung selama 2×15 menit.


Pada babak ini, tak ada yang istimewa, kedua tim saling hati-hati dan tak begitu menyerang, kedua pelatih pun telah pasrah dan memilih babak adu penalti yang jelas akan menegangkan.


***


“Ya! Sepertinya Reza kehilangan sihirnya, dia tak kunjung menunjukkan kemampuan dribble ajaibnya!


Sekarang, kita hanya berharap babak adu penalti ini akan berlangsung cepat!”


Komentator, hingga para fans tentu menyayangkan Reza yang tak mengeluarkan kemampuan ala Messi.


Meski begitu, Reza akan menunjukkan kemampuan ajaib lainnya lagi.


“Tiga detik cukup untuk menebak datangnya bola.” Reza bermonolog.


Babak adu penalti menegangkan pun dimulai, penendang pertama adalah dari Thailand, Dangda.


Dangda mengambil ancang-ancang, menghembuskan napas yang berat di depan ribuan suporter Indonesia yang duduk di tribun belakang gawang.


“Kanan.”


Reza melompat sesaat bola ditendang, arahnya benar-benar tepat, tangannya diulurkan ke atas sesaat bola berpindah arus.


Reza menepisnya!


“Ugh ….” Dangda menekuk wajahnya.


“Yahoo!” Reza berseru semangat.


Penendang pertama dari Indonesia pun datang, Marselino di sana mengambil ancang-ancang, menatap tegas Wangsawad yang juga terus fokus ke depan.


Marselino melangkah, dia menendang menggunakan kaki kanan bagian dalam, bola melesat ke arah kiri.


Wangsawad, secara alami bergerak ke kiri dan berhasil menangkap bola.


“Oh?” Reza bergumam, dia sempat terlintas sesuatu yang terasa aneh.


“Dia … Kah?”


Marselino menunduk lesu menuju tengah lapangan yang di mana para pemain berkumpul.


Penendang kedua dari Thailand maju, Reza pun bersiap di bawah mistar gawang sambil menatap jahil ke arah Chanathip.


“Oh, kau? Ke kanan, ya!” ucap Reza dalam bahasa Inggris.


Chanathip menggeleng ringan, dia tersenyum penuh kemenangan tanpa tahu Reza telah menebak dengan jelas jalur bolanya dalam tiga detik ke depan.

__ADS_1


Chanathip mengambil ancang-ancang, tubuh condong ke depan seraya melangkah cepat, pandangan fokus ke titik permukaan bola.


Bam!


__ADS_2