
Suatu pagi yang cerah dengan awan bagai kapas yang mendominasi langit, cuaca yang sangat terik benar-benar membuat latihan Milan terkondisi akan cuaca panas.
Reza, dia telah mencoba beradaptasi di Milan, selagi juga mengulik informasi yang kata sistem ayahnya ada di klub Milan.
Reza, menjadi pemain termuda yang datang dengan harga pasar termahal di Milan, atau bahkan di Serie-A Italia.
Kiper berbakat yang hanya ada satu dalam berapa dekade, Reza mengubah sudut pandang publik bahwa kiper tidak akan begitu berguna untuk serangan.
Jelas Reza sangat berguna dengan harganya yang semahal itu, Reza bisa menyerang bahkan hingga mencetak gol dalam solo run ajaib miliknya.
Pelatih Milan, Pioli, memboyong Reza dengan harga fantastis bukan tanpa alasan, semua performa Reza selama di AS Trenčín adalah alasan yang sangat kuat darinya tanpa terbantahkan.
“Reza, saya tahu kamu pemain termuda di sini, tapi jangan sungkan!” Kiper utama Milan, Maignan, mendekati Reza yang agak canggung kepada rekan tim barunya tersebut.
“Yaaa … Masalahnya, tidak ada yang saya kenal di tim ini,” ungkap Reza memakai bahasa Inggris.
Maignan menepuk pundak Reza sebelum dia beranjak dan segera melakukan beberapa latihan, tentu Maignan tidak ingin posisi utamanya akan tergeser dengan kehadiran Reza.
Namun, bukan Reza jika dia akan menjadi pemain yang paling penting pada suatu tim, apalagi dengan berbagai macam popularitasnya yang melonjak, membuatnya semakin akan terus meningkatkan kemampuannya.
“Ya, mari kita beradaptasi sejenak, lagi pula laga debut atau tidaknya ditentukan pada Piala Super Italia, mempertemukan Milan yang juara Piala Italia dan Inter yang menjuarai Serie-A Italia,” gumam Reza dan segera beranjak.
Reza akan menunjukkan bahwa harga 11 juta Euro atau 180 miliar rupiah miliknya tak sia-sia dan juga gajinya yang sebesar 25.000 Euro per minggu lengkap dengan berbagai macam hal seperti pendapatan clean-sheet atau mencetak gol.
Ya, kebanyakan kiper tak akan melakukan klausul kontrak masalah bonus cetak gol, tetapi Agen Bryan, secara langsung tanpa menunggu pendapat Reza, memasukkan klausul kontrak bonus gol.
Reza tak masalah, malah dia semakin bersemangat untuk mencetak sebanyak-banyaknya gol demi menaikkan popularitas dan kemampuannya yang seiring waktu akan bertambah, apa lagi dengan usia semuda itu.
Hari demi hari, Reza melewati harinya di Milan dengan cukup damai, tetapi masih ada rasa penasaran tinggi tentang ayahnya yang kata sistem ada di Milan, bukan menjadi pemain tua, tetapi kemungkinan terbesar adalah staf pelatih.
Namun, satu hal yang dijelaskan oleh banyak staf pelatih, bahwa atas nama Bram Wijaya Kusuma, tak ditemukan dalam jajaran staf pelatih baik internal maupun eksternal.
“Tch! Sistem! Kau berbohong, berdusta, pengkhianat, penipu, bajingan!”
__ADS_1
[Ampun Tuan! Sistem hanya mendata apa yang Sistem bisa, menurut Sistem, ayah Tuan ada di klub ini sebesar 98,5%!]
“Bodoh! 1,5% adalah angka yang besar juga!” pekik Reza di kamarnya.
Reza telah menyewa apartemen di Italia, untuk jangka waktu selama tiga tahun, sesuai masa kontrak Reza di Italia.
Untuk rumahnya yang ada di Trenčín, dijadikan panti sosial yang mengatasnamakan dirinya dan juga Indonesia, dengan itu, Reza akan mencoba berbagi ke sesama dengan berbagai macam cara nantinya.
Mencoba untuk sejenak melupakan apa yang ada di Trenčín, Reza saat ini sedang berkeliling di koridor gedung staf kepelatihan.
“Wah! Reza, ini yang kesepuluh kamu ke sini,” ucap seorang petugas kebersihan.
“Iya, Pak Theo, saya masih penasaran dengan ayah saya!” ungkap Reza.
Petugas kebersihan yang bernama Theo pun hanya bisa menganggukkan kepala sembari tersenyum, wajahnya yang agak misterius, menyunggingkan senyuman yang tak dapat diartikan.
Dari belakang Reza, sebuah tangan memegang pundaknya, Reza berbalik dan melihat Pobega, Gelandang Tengah Milan yang tersenyum ramah kepada Reza.
“Reza, ceritakan orang-orang Indonesia! Saya penasaran dengan kalian!”
Reza pun akhirnya mengiyakannya dan keduanya segera pergi dari sana setelah berpamitan kepada petugas kebersihan tersebut.
“Reza, ya? Heh …” gumam Theo sembari meninggalkan alat kebersihannya dan langsung memasuki salah satu ruangan tanpa ada kesan sungkan.
**
Hari semakin dekat, di mana Piala Super Italia akan segera diselenggarakan sebelum Serie-A Italia berlangsung, sekitar seminggu sebelum Serie-A bergulir.
Hari ini, tanggal 14 Agustus, Milan dan juga Inter secara rival bertemu di stadion Giuseppe, di mana kandang milik Milan.
Rival sekota ini akan menunjukkan bahwa persaingan itu akan seberapa panasnya, menilik sejarah kedua tim ini.
“Wah … Akhirnya saya langsung debut!” seru Reza.
__ADS_1
Di ruangan ganti bagian depan, Pelatih Pioli sedang menerangkan formasi yang akan mereka bawakan demi memenangi laga yang terbilang termasuk pra-musim, tetapi cukup bergengsi juga untuk kedua tim juara Serie-A maupun Piala Italia.
“Reza, saya percayakan gawang kepadamu! Tunjukkan performa apikmu saat di Trenčín!” jelas Pelatih Pioli.
Reza mengangguk paham, sementara, di sebelahnya, Maignan hanya bisa menatap lesu kepada Reza, nampaknya posisi utamanya sebagai kiper akan segera tergeser berkat kehadiran Reza.
Meski begitu, Maignan masih tetap berharap banyak kepada Reza untuk memberikan berbagai macam gelar nantinya, Maignan, berharap demikian!
Laga Piala Super Italia dimulai, Inter dan Milan secara cepat saling bertabrakan, melakukan adu teknik di lapangan yang membuat. Seisi stadion bergemuruh.
Adu taktik, adu fisik dan berbagai hal dilakukan untuk saling menembus formasi tim.
Reza sendiri mencoba memberi arahan kepada rekannya, kebanyakan dari mereka belum begitu paham akan arahan Reza yang seharusnya akan sangat manjur ketika ke rekan-rekannya di AS Trenčín.
Mencoba melupakan apa yang telah berlalu, Reza sekali lagi memberikan arahan kepada para pemain bertahan Milan, itu demi menghalau gerakan-gerakan serangan dari Inter.
Di sisi kiri pertahanan Milna, Dumfries mencoba melakukan pergerakan, tetapi beruntungnya arahan dari Reza, bek kiri Milan, Fernandez bisa bergerak lebih cepat selangkah dari Dumfries.
Pertandingan yang semakin memanas, membuat Rez tepat di menit 34, melakukan pergerakan ketika mendapatkan bola dari Gabbia, bek tengah Milan.
Lantas pergerakan Reza langsung menggerakkan sekitar empat pemain Inter untuk mencoba merebut bola secara frontal dari Reza, tanpa kompromi, pelanggaran saja hendak mereka ciptakan.
“Wah! Agresif!”
Reza dengan skill miliknya, meliuk-liukkan dirinya di antara pemain, tubuhnya yang tinggi tak membuatnya kesulitan, malah semakin leluasa bergerak.
Sudah sampai di tengah lapangan, Reza yang melihat kiper Inter, Onana, maju terlalu ke depan dan kehilangan posisi pun membuatnya langsung melepas tendangan memakai kaki kiri.
Bola melesat melengkung di udara, menciptakan garis parabola gantung yang membuat Onana mencoba berlari mundur untuk menghalau bola jatuh yang semakin mendekati mulut gawangnya.
Namun, apa daya, bola terlalu cepat dan secara mudah langsung masuk ke dalam gawang membuat seisi stadion berseru senang.
Reza yang menciptakan gol itu melakukan selebrasi ikoniknya, selebrasi yang telah menunjukkan identitasnya sebagai kiper ajaib abad ini, nama selebrasinya adalah Membaca Buku Pintar Kiper.
__ADS_1
“Hehehe! Gol pertama di Italia, yakan!” Reza mengangkat jerseynya ke atas, menunjukkan baju dalaman yang bertuliskan ‘Gol Pertamaku di Italia!’.
Entah mengapa, tetapi Reza telah menyiapkan baju itu demi hari ini. Sepertinya Reza sangat Percaya diri yang bisa mencetak gol debut di Milan.