
Pertandingan pekan kedua puluh telah usai, AS Trenčín kembali menyimpan kemenangan kali ini dan mencoba merangkak ke posisi tertinggi. Walaupun itu sudah terlihat mustahil, tersisa 2 pertandingan lagi dan posisi pertama Slovan Bratislava sudah mutlak di puncak dingin tak tergoyahkan lagi.
Sekarang target AS Trenčín hanyalah masuk zona championship. Enam posisi teratas dapat melakukan babak play-off, kemudian kualifikasi UEFA Champions League. Itu masih sangat panjang, tetapi babak play-off sepertinya sudah terlihat di depan mata.
Apalagi kemenangan AS Trenčín melawan Zlaté Moravce saat ini, segera naik posisi menjadi 5 dengan perolehan poin total 26, menurunkan Ružomberok ke posisi 6 yang kalah melawan Spartak Trnava dengan perolehan poin tetap di angka 24. Posisi Ružomberok juga terancam tergeser dengan Žilina yang berlaga esok hari melawan Podbrezová, Žilina sendiri memiliki perolehan poin total sebanyak 22.
AS Trenčín menyisakan dua laga lagi, melawan Spartak Trnava dan pada laga terakhir liga berhadapan dengan Podbrezová.
Namun, dua laga terakhir ini seperti pertandingan antara hidup dan mati. Jika kedua laga terakhir mengalami kekalahan, ada kemungkinan AS Trenčín akan kembali turun posisi 6 atau berada di zona degradasi jika beberapa tim di bawah AS Trenčín yang saat ini berbeda tipis perolehan poin meraih penuh kemenangan dua laga terakhir.
Dengan semua segala kemungkinan, tentunya Pelatih Marian Zimen tidak ingin mengambil resiko besar. Namun, satu hal yang dia targetkan, dia ingin memenangkan dua pertandingan terakhir demi mengunci posisi zona play-off UEFA Champions League.
Dengan dua pemain Asia Tenggara andalannya, dan beberapa pemain muda yang telah dia tingkatkan sejak masa muda mereka di AS Trenčín usia muda, Pelatih Marian Zimen percaya bahwa UEFA Champions League bisa didatanginya.
Tahan sebentar penjelasannya, kembali ke Reza yang saat ini sedang bersama rekan setimnya merayakan kemenangan mereka dengan pesta kecil meminum alkohol. Reza yang ditawarkan hanya tersenyum sambil menolak halus.
Reza bukannya tak menghormati, hanya saja dia tak akan pernah mengicip sekalipun minuman itu. Dia tidak mau mabuk dan malah menghambat performanya naik.
“Yo~ Reza! Sepertinya kau tidak ikut mereka yaa? Nih minuman kalengan,” celetuk Witan menghampiri Reza sambil memberi sebuah minuman kaleng.
Saat ini keduanya berada di lapangan latihan klub meninggalkan para pemain di dalam gedung. Setelah pertandingan itu, tentunya tim belum bisa pulang dan harus menunggu Pelatih Marian Zimen memberikan evaluasi dan beberapa teknik wejangan darinya.
“Oh, terima kasih!” Reza menerimanya, minuman itu juga hanyalah sejenis penambah stamina.
Membukanya, Reza menenggaknya dengan beberapa tegukan sebelum berkata, “Kak? Pernah lihat Knuckle shoot?”
Witan menoleh sejenak sebelum kembali menenggak minumannya. Dia sempat terdiam beberapa lama hingga membuka suara.
“Pernah … seperti C. Ronaldo, untuk yang lain kurang tahu,” jawab Witan.
Reza pun sempat berpikir sejenak. Hal ini adalah dilema terbesar dalam dirinya.
Itu terjadi setelah Reza mencetak gol kedua saat tendangan bebas melawan Zlaté Moravce yang memang baru saja terjadi.
Saat itu sistem tiba-tiba memberikan misi yang sangat sulit menurut pengetahuannya.
...[Misi terpicu!]...
...[Lakukan tendangan bebas dengan jenis Knuckle Shoot sesuai pemahaman Tuan!]...
...[Dapat dilakukan di mana pun dan kapan pun. Sistem Kiper menganjurkan melakukannya saat pertandingan agar popularitas Tuan naik beberapa persen.]...
...[Hadiah misi jika berhasil adalah popularitas naik 10% –Jika dilakukan saat bertanding– dan kemampuan Knuckle Shoot sempurna dari segala pemain di dunia!]...
...[Knucklet Shoot Mission!]...
__ADS_1
Entah apa yang merasuki sistem. Tiba-tiba saja memberi misi yang sangat sulit bagi Reza. Dia hanya memahami tendangan bebas dengan teknik lengkungan dan juga posisi menukik cepat ala Messi atau juga beberapa penendang tendangan bebas lainnya.
Untuk Knuckle Shoot, itu terlalu sulit. Para pemain bintang saja banyak yang tak bisa. Setahunya, ada beberapa pemain yang bisa cukup sempurna melakukan tendangan itu.
Sebagai informasi, Knuckle Shoot terlihat sepintas menyerupai tendangan melengkung yang selalu Reza lakukan.
Namun, ciri fisik paling terlihat adalah proses lengkungannya. Knuckle Shoot malah cenderung lurus, akan tetapi ketika mendekati gawang, alur bola itu terkesan melayang dan bergerak ke kanan dan kiri dengan cepat seolah menentukan ke arah mana bola akan jatuh.
Lain dengan tendangan melengkung, bola dari awal memanglah mematok alur bola yang melengkung entah itu keluar target atau ke dalam target.
Reza juga kebingungan, mengapa sistem Kiper tiba-tiba saja memberinya misi yang terkesan mustahil baginya. Dia tak mempelajarinya, dia tak menguasainya, dan dia tak memahaminya!
Rasa frustasi mulai melandanya. Dia begitu tergiur dengan misi itu. Popularitasnya bisa naik, yang dari 54% menjadi 64%. Kemudian kemampuan Knuckle Shoot dari segala pemain akan menyatu dan membentuk Knuckle Shoot sempurna.
Dengan itu, Reza bisa saja mengubah ikonnya saat melakukan tendangan bebas. Dia bisa saja dikenal sebagai penendang tendangan bebas Knuckle Shoot sempurna terbaik di dunia, hanya dalam angan-angannya.
“Hei! Melamun?”
“Oh! Itu … saya jadi penasaran dengan itu, Knuckle Shoot!”
“Jangan bilang kau mau mencobanya? Tendangan yang seperti fiksi itu?! Sudah lama sekali tak terlihat tendangan itu!”
Reza sendiri hanya cengar-cengir membalas keterkejutan Witan. Reza berdiri dan mengambil bola yang memang ada di sampingnya saat itu.
Reza pun mengajak Witan untuk melihatnya melatih apa yang tak pernah dia lakukan sebelumnya. Rasanya akan mustahil bagi banyak orang, akan tetapi ini Reza, dia akan berusaha sebisa mungkin berlatih dan menunjukkannya di pertandingan liga nantinya.
...[Baik, Tuan!]...
Reza pun mundur empat langkah di belakang bola dan bergerak ke kanan sebanyak dua langkah. Reza berdiri tegak, menjaga keseimbangan pada pangkal jari-jari kedua kaki agar tak goyah nantinya.
Reza kemudian berlari seperti biasa ke arah bola. Dengan tubuh yang condong ke depan, dia mengarahkan kaki kirinya diayunkan sekuat tenaga. Kaki kanan sebagai tumpuan berjarak sekitar 10 cm di samping bola.
Tepi sisi kaki bagian dalam agak melengkung dan berada di tengah bola. Ujung kaki tepat menunjuk ke arah tembakan.
Melakukan gerakan lanjutan, permukaan bola yang hampir berada di pusat bagian bawah mengenai punggung kaki.
Sepatu itu mengenainya secara jelas. Ketika bola ingin terhempas, segera Reza melakukan gerakan lanjutan dengan melompat untuk menghalau kaki kirinya semakin terhempas ke depan dan mendorong bola lebih kencang dan jauh lagi. Ini adalah inti dari Knuckle Shoot.
Setelahnya, bola terbang ke arah gawang. Sayangnya, bola tidak membentuk apa yang Reza pahami setelah melihat puluhan rekaman di internet.
Bola yang seharusnya agak melayang kemudian bergeser ke kanan dan kiri, serta sedikit ada perputaran ringan untuk menstabilkan bola tak terjadi. Bola malah melambung tinggi menuju cakrawala.
“Lah …”
Witan sendiri hanya menutupi wajahnya. Dia ingin tertawa, tetapi terasa sulit dan berat.
__ADS_1
Percobaan Knuckle Shoot pertama … gagal!
Percobaan Knuckle Shoot kedua … gagal!
Percobaan Knuckle Shoot ketiga … gagal!
…
Berapa kali pun Reza mencoba, hingga staminanya terkuras habis. Waktu juga mulai menunjukkan malam hari, rekan setimnya yang melihatnya hanya bisa terdiam dan pergi meninggalkannya, Witan pun demikian. Pelatih Marian Zimen sendiri tersenyum dari balik jendela gedung, dia ingin menunggu tendangan macam apa lagi yang sedang dilatih mati-matian oleh Reza.
Bahkan hingga malam hari, Reza terus melatih tendangan itu. Belasan bola terus terbang ke cakrawala, sesekali malah hanya bergulir ringan saja di permukaan tanah.
Hanya lampu lapangan latihan yang menyinarinya. Wajah penuh butiran keringat, kerutan kekesalan menghiasi wajah tampannya.
“Fyuuh … masih yang kedua puluh satu!”
“Lagi!”
Bola keluar lapangan.
“Lagi!”
Sekali lagi bola terbang di atas mistar gawang.
Hingga percobaan kedua puluh tujuh, tiba-tiba saja gerakan aneh ketika bola melesat ke gawang membuat Reza bersorak gembira.
Gerakan pertama berhasil, putaran bola yang nyaris tidak terjadi. Itu membuat bola seperti melayang, hanya saja … bola itu kembali terbang ke langit.
“Hahaha!”
Reza terbaring di rerumputan. Menatap langit cerah yang dihiasi bintang-bintang indah sejauh mata memandang.
“Usaha tak mengkhianati hasil, bukan?” Witan mendatanginya.
Dia sempat melihat gerakan terakhir kali bola yang nyaris tak melakukan rotasinya atau perputaran bolanya.
“Ya … ini adalah awal latihanku melatih ini,” ucap Reza hingga perlahan tapi pasti, matanya mulai menutup dan segera mendengkur keras.
“Lah … sampai ketiduran,” celetuk Witan.
Akhirnya sebagai Kakak Senior yang baik, dia memapah Reza menuju asrama milik Reza. Dengan membawa tas Reza juga, akhirnya Witan sampai dan membaringkan tubuh Reza di atas tempat tidurnya.
“Saya pulang … ehem, is–istri saya menunggu!” gumam Witan.
Reza pun ditinggal, dia tertidur begitu pulas masih dalam keadaan memakai jersey kipernya. Mendengkur begitu nyaman layaknya anak kucing.
__ADS_1
“Knuckle Shoot … besok … besok … akan … nyam! Nyam!” Dia mengigau parah.