
Pertandingan kedua dari Indonesia berakhir, tetapi tak begitu saja berakhir bagi Reza.
Ini adalah awal dari misi dari Sistem yang sebenarnya demi mengisi kekosongan dan juga pencarian beberapa pecahan misteri di dunia.
“Anjir!” umpat Reza seraya membanting gelas plastik di tangannya.
Sebuah misi dari Sistem yang terbilang sangat sulit, bahkan nyaris mustahil karena memakai batas waktu yang sangat mepet.
...[Misi Khusus!]...
...[Carilah Pengguna Sistem Lain kedua!]...
...[Batas waktu : Akhir Turnamen Piala Asia AFC 2023]...
...[Hukuman jika tak selesai : Semua kemampuan dicabut!]...
...[Hadiah : - Mendapatkan ???]...
Apapun hadiah tanda tanya itu, Reza lebih memikirkan batas waktu yang tampak mustahil.
Lagipula, jika mereka sampai final, tersisa sekitar lima pertandingan lagi dan kemungkinan bertemu salah satu tim yang memiliki pemain Pengguna Sistem akan sangat kecil.
Walaupun Reza memerhatikan segala hal melalui tab miliknya, seperti topscorer atau apapun itu hal yang mendukung keberadaan Pengguna Sistem, tak ditemukan sama sekali petunjuk.
Misi itu harus paling dipikirkan, hukumannya tidak main-main, Reza seperti terkekang saat ini yang sebelumnya dia berpikir akan segera bebas dari hubungan Sistem.
Lagipula, banyak misteri yang harus dia pecahkan, seperti ayahnya yang ada di mana, alasan Sistem membantunya dan lain sebagainya.
“Kenapa, Za?” tanya Marselino yang saat ini mengangkat beban di kedua tangannya.
Reza menoleh sejenak, memasang senyuman kecil sembari menggelengkan kepala. “Tak apa! Saya hanya jengkel saja sih.”
Marselino mengendikkan bahunya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Hari pertandingan ketiga masih lama, sekitar empat hari ke depan atau tepat tanggal 23 Desember yang mana setelahnya, tanggal 1 Januari 2024 adalah 16 besar.
Reza mengesampingkan sejenak masalah misinya, dia masih berpikir untuk tujuan selanjutnya, yaitu mencapai final dan memenangi Piala Asia Senior bagi Indonesia untuk pertama kalinya.
“Ck! Membosankan, saya keluar dulu, Lino!” ucap Reza sembari meraih jaket tebal miliknya.
Marselino sendiri hanya menganggukkan kepala sembari memberitahu. “Jangan lupa siang nanti ke lapangan!”
***
Reza saat ini duduk di taman yang berhadapan dengan hotel tempatnya menginap. Mencoba menghirup udara segar, Reza menenangkan dirinya dari kepanikannya.
“Waahh … Udara segar!”
“En … Permisi, saya boleh duduk?”
Reza menoleh, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dengan kantung wajah besar dan rambut hitam acak-acakan, memakai pakaian kantor yang lusuh.
“Ya,” balas Reza tanpa sadar pria disampingnya berbicara bahasa Indonesia.
Hingga dalam sepersekian detik kemudian, Reza menyadarinya dan langsung berseru. “Oh, hai! Kita orang Indonesia, ya?”
__ADS_1
“Iya, saya sedang mencari pekerjaan yang direkomendasikan oleh rekan saya, tetapi tak ketemu-ketemu! Padahal kota besar, loh!” ungkap pria itu dengan nada kekesalan bercampur aduk.
“Kita lulusan apa, ya?”
Walaupun agak tak sopan, lebih baik Reza menanyakannya dan bisa memberi saran yang baik.
“Saya lulusan Sarjana Firma Hukum Indonesia,” jawab pria itu yang semakin tertunduk lesu.
“Pengacara, bisa? En …”
Pria itu menoleh kepada Reza, dia secara spontan langsung berteriak keras. “Oh!! Astaga! Reza, kiper hebat itu!”
‘Kamu baru nyadar? Ya, sepertinya dia kelelahan,’ batin Reza.
“Jadi Agen sepakbola aja atau pengacara, cari Firma Hukum yang nyari lowongan, mungkin deket-deket sini ada,” jelas Reza sembari berpikir.
Hal yang menjadi aneh ialah pria ini malah mencari kerja di Qatar yang notabene negara maju dan pastinya memiliki banyak prasyarat demi mendapatkan pekerjaan.
Namun, Reza tak memedulikannya, dia menatap dengan jelas pada mata pria asing itu yang perlahan kembali menunjukkan semangat.
“Oh, iya! Nama saya Ilhamsyah, jadi … Sampai jumpa, saya akan mencari kerja lagi!”
Ihamsyah pergi dengan semangat menggebu-gebu, salah satu sikap yang Reza inginkan juga.
“Dia saja bisa, masa saya nggak? Yosh! Saya akan menyelesaikan misi itu demi masa depan cerah!”
Jgeer!
Awan mendung membunyikan guntur yang menggetarkan kota Doha, hingga beberapa saat kemudian turun hujan nan deras yang sepertinya hujan musim dingin.
Reza berlari secepat mungkin ke arah hotel.
***
23 Desember 2023
Hari di mana Reza dan rekan-rekannya akan menghadapi Irak pada laga terakhir grup, terhitung Indonesia telah memegang dua kemenangan tanpa kebobolan sama sekali.
Indonesia hanya butuh hasil imbang saja demi menuju posisi enam belas besar nantinya, tetapi selama mampu memenangi laga kenapa tidak.
Hari yang istimewa sebenarnya, sebagian keluarga pemain datang mendukung mereka karena telah mendapatkan cuti bersama di Indonesia.
Citra sendiri yang sudah mengambil cuti sejak lama, dia tetap setia mendukung anaknya bersama beberapa rekan kerjanya.
Meski tak bisa bertemu karena peraturan ketat Pelatih Shin, keduanya selalu saling bertelepon yang mana Pelatih Shin izinkan memegang ponsel.
Di lapangan, Reza telah berada di bawah mistar gawangnya, melakukan gerakan kecil dan memusatkan pandangannya ke depan demi fokus yang maksimal.
“Misi nyaris mustahil itu harus segera diselesaikan, saya sendiri di topscorer mencetak lima gol, tetapi di bawah posisi tak ada satupun pemain potensial Pengguna Sistem selain Eldor Shukurov,” gumam Reza.
“Menjadi Kiper Legendaris itu sulit, ya?” Reza bermonolog.
Hingga wasit asal Jepang, Takeda, meniup peluit tanda babak pertama dimulai.
Indonesia yang melakoni pertandingan ini tentunya tak terlalu menyerang terbuka, Pelatih Shin lebih memilih tahan imbang saja Irak.
__ADS_1
Namun, sebagian pemain menjadi pembangkang secara tak langsung, mereka berniat menyerang demi meraih kemenangan tiap laga.
Pelatih Shin yang menyadari niat anak asuhnya, hanya menggelengkan kepalanya dengan pasrah, dia pun tetap mendukung semua keputusan anak asuhnya.
Srak!
Sebuah tendangan dari Hussein mampu dipatahkan oleh tangkapan gemilang dari Reza.
Setelahnya, Reza menjatuhkan bola dan langsung menggiringnya dengan cepat.
Pelatih Irak, dia segera memerintahkan anak asuhnya untuk mundur secepat tenaga dan jaga gawang sepenuh jiwa.
“Heh, mereka mencoba meredamnya, ya?”
Reza terus menggiring bola, sesekali memberikannya kepada Marselino, Marc ataupun Sandy yang langsung kembali memberikannya kepada Reza lagi.
Dari sisi kanan, Reza memberi umpan terobosan kepada Witan yang memang dimainkan, Witan berlari dan langsung menjaga bola agar pemain Irak tak merebutnya.
“Sini, jangan sampai blunder, bahaya!” jelas Reza.
Witan memberi bola atas yang diterima dengan dada oleh Reza.
Reza mendapatkannya, kemudian dia kembali berakselerasi tak kenal lelah yang justru hal inilah ditakuti oleh lawan-lawan Reza sebelumnya.
“Nah, mari kita sedikit mengubah laga membosankan menjadi menarik!”
Dalam satu langkah, Reza berhasil melewati Al-Ammari yang dipecundangi dengan melewatkan bola di antara kedua kaki.
Setelahnya, Reza memberi sebuah kesan akan segera mencetak gol cepat ini.
Reza berputar dengan cepat untuk menghindari seluncuran memotong dari bek Irak, Zaid.
Zaid yang terlewat hanya mengumpat dalam hati, dia telah meninggalkan posisinya yang membuat Reza dengan nyaman terus maju.
Di depan Reza, ada empat pemain sekaligus yang mengawal hingga mengelilingi dirinya.
Reza berhenti, menatap keempat pemain Irak yang mengelilinginya, tersenyum tipis hingga dia tiba-tiba bergerak secara cepat.
Hal ini mengejutkan keempatnya, tetapi setelahnya Reza melakukan teknik rainbow flick di antara celah dua pemain.
Dua pemain lainnya yang hendak meraih bola dari belakang tak mampu, mereka jelas sudah terlambat satu langkah.
“Eaaa!”
Reza berputar, dia sudah seperti belut yang bergerak bebas tanpa stagnasi.
Total enam pemain dilewatinya dengan mudah, hingga Reza berhadapan langsung kepada kiper Irak, Fahad, yang saat ini maju secara perlahan dengan tetap berwaspada.
Reza menambah kecepatannya, hingga dia menggeser bola ke kiri secara cepat membuat Fahad mencoba menyergah, tetapi dia hanya menangkap rumput saja.
Reza sudah lewat dan berjalan dengan pelan menuju mulut gawang, dengan sentuhan kecil, Reza mencetak golnya yang keenam pada turnamen ini tepat menit 4!
“Jika Pengguna Sistem lain sadar, mereka pasti dalam waktu dekat akan berkonfrontasi sengan saya,” gumam Reza setelah memikirkan berbagai cara demi bertemu Pengguna Sistem lain.
Reza, kiper ajaib yang mampu menyerupai penyerang telah lahir, semua pemain memikirkannya dan waspada jikalau tim mereka akan menghadapi tim yang dibela Reza.
__ADS_1