Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 93 - Terpaksa Imbang


__ADS_3

Pertandingan kali ini terlihat perlahan mulai naik intensitas tinggi. Beberapa kali pelanggaran terjadi di lapangan tengah.


Penguasaan bola cukup berimbang, percobaan dari kedua tim sama rata yang membuat pertandingan kali ini cukup menarik untuk ditonton dan mendapatkan kesan seru darinya.


Reza yang saat ini memegang kendali bola, melirik ke depan dengan fokus. Reza mencoba mencari celah di antara para pemain Thailand untuk memberikan umpan lambung kepada rekannya.


Namun, pertahanan Thailand sangat solid, masing-masing kekurangan dari tim diperbaiki berangsur-angsur hingga membentuk kesolidan tanpa batas bagi mereka.


“Ck! Terlalu solid,” gumam Reza sambil memberikan bola kepada Iqbal.


Dia memilih umpan pendek daripada serangan langsung, itu karena ada kemungkinan ketika dia melambungkan bola maka Thailand bisa merebut penguasaan bola.


“Iqbal, lakukan penyisiran lini tengah, kau coba maju! Narendra, ayo! Kreatif lagi dan pikirkan cara!”


Pelatih Bima terus memberi arahan dari pinggir lapangan walaupun suaranya nyaris tak terdengar karena keramaian stadion tersebut.


“Awas, Femas!” teriak Pelatih Bima.


Namun, Femas tak mengacuhkannya, alhasil dari arah depan sebuah intersep gemilang dilakukan oleh Kittibun sehingga penguasaan bola kembali kepada Thailand.


Kittibun kemudian terus berlari mendekati kotak penalti, Iqbal dan juga Rizdjar mencoba mengawalnya. Beberapa pergerakan kecil dari Kittibun lantas mengecoh keduanya.


“Ayolah! Jangan lengah, perhatikan sekitar!” ketus Reza yang begitu kesal.


Reza kemudian ketika Kittibun sudah memasuki kotak penalti, dia segera maju dengan tetap dalam posisi berwaspada ala seorang kiper. Pandangannya sangat fokus ke arah bola dan juga kaki Kittibun yang bergerak liar.


“Kanan kah?” Reza mencoba menebak arah bola.


“Ah, bukan!”


Reza segera melompat ke arah kiri karena Kittibun menendang ke arah sebaliknya dari tebakannya. Refleksnya yang sangat apik membuat sentuhan pertama bola dengan jari-jemarinya membuat bola bergeser hingga keluar garis lapangan tepat di samping tiang gawang.


“Wah! Nyaris!” gumam Reza, yang kemudian menatap lekat ke arah rekan-rekan pertahanannya. “Fokus, jangan sampai lengah dan kehilangan arah!”


Sepak pojok pun dilakukan, Sirichai yang mengambil sepak pojok menendang bola dengan cukup rendah dan hanya setinggi dada saja.


“Ah! Aku terlewat!” Habil berencana mengintersep bola, tetapi bola cenderung lebih cepat bergerak.


Bola terus bergerak, kekacauan terjadi di kotak penalti yang membuat Reza nyaris kehilangan fokus. Dia terus mencoba menggerakkan matanya ke arah yang menurutnya bola bergerak.

__ADS_1


“Dari depan kotak penalti!” seru Reza.


Iqbal melihat keluar kotak penalti, Kittibun saat itu bersiap melesatkan bola. Iqbal melompat dan berbalik untuk menghadang alur bola, beruntungnya itu berhasil dan menghempaskan bola ke arah sisi kiri lapangan.


Di sana, Channarong, penyerang sayap dari Thailand melambungkan kembali bola.


“Hyaaa!” Arkhan melompat tinggi dan melakukan duel udara bersama salah satu pemain Thailand, Ritthirong.


Arkhan berhasil menyundul bola dan menjauhkannya dari area kotak penalti.


Serangan itu beberapa kali terus berulang dalam interval waktu yang berdekatan, tetapi beruntungnya pertahanan Indonesia U-17 sama solidnya seperti pertahanan Thailand U-17.


Seluruh Indonesia benar-benar melihat betapa kuatnya generasi muda atlet sepakbola Thailand.


Generasi muda Thailand saat ini saja sudah menyulitkan Indonesia, apalagi jika generasi muda mereka yang akan melawan Indonesia 5 tahun ke depan.


Tentunya satu hal yang hanya mereka pahami, itu adalah lawan sulit untuk mereka saat telah tiba waktunya.


Kembali ke lapangan, menit pertandingan sudah menyentuh tepat 40 menit berjalan.


Kedua tim saling serang, tak ada yang saling mendominasi, pelanggaran juga banyak telah tercipta hingga membuat dua kartu kuning dari wasit diangkat kepada pemain Thailand dan juga Achmad Zidan yang melakukan pelanggaran profesional agar Indonesia terhindar dari serangan balik Thailand.


Semua hal yang telah terjadi menambah kesan bahwa pertandingan ini adalah yang terbaik selama terakhir kali kedua tim ini bertemu.


Menit demi menit hingga wasit Al-Ayubi dari Arab Saudi pun meniup peluit berakhirnya babak pertama.


Kedua tim pun berjalan memasuki lorong stadion dan menuju ruang ganti masing-masing. Beberapa staf pelatih dan pemain cadangan lain juga fokus pada aktivitas mereka sendiri.


Di ruang ganti tim Indonesia U-17, saat ini Pelatih Bima dan juga asisten pelatihnya sedang membahas beberapa taktik yang harus tetap dipertahankan 45 menit ke depan pada babak kedua.


Taktik ini cukup berhasil, menarik ulur para pemain Thailand hingga serangan balik pun tercipta. Namun, efektivitas seorang pemainlah yang berbicara, seberapa efektif serangan dan seberapa efisien peluang mereka untuk mencetak skor.


Semua itu harus segera diperbaiki dalam waktu dekat, pemain Indonesia U-17 masih tak jarang menyia-nyiakan kesempatan, atau bahkan terlalu egois hingga kesempatan besar bagi rekan lain malah terbuang karena keegoisan individu.


Mungkin hal itulah yang membuat Timnas Indonesia dari segala usia menjadi kurang cepat maju. Mereka terlalu tenggelam dalam keegoisan dan sikap yang tempramen.


Sikap ini yang harus diubah agar Timnas Indonesia dapat bersaing.


Nah, perlahan tapi pasti dengan kepengurusan federasi yang baru, pelatih-pelatih berlisensi dan liga yang tepat adalah keputusan terbaik untuk saat ini demi memperbaiki pesepakbolaan Indonesia.

__ADS_1


“Penjelasan dari saya cukup, mari kita tentukan kepada seberapa kuat kalian bekerja keras!” seru Pelatih Bima.


Lantas seluruh pemain pun berdiri dan berkumpul membentuk lingkaran, mereka saling bersorak memberi semangat.


***


Di lapangan, pertandingan babak kedua telah dimulai. Kedua tim masih tak ada yang merotasi seorang pemain, pelatih kedua tim masih cukup nyaman dan puas dengan skuad saat ini.


Di sisi kanan, Nabil memberi umpan terobosan kepada Yanuar yang mampu membaca apa yang dipikirkan olehnya.


Yanuar mendapatkan bola yang melewati celah di antara dua pemain Thailand. Yanuar pun langsung berlari, dia semakin mendekati kotak penalti.


Awalnya Yanuar hendak mengeksekusi lebih cepat. Namun, sudut matanya mendapatkan Riski yang berlari bebas merangsak semakin ke dalam kotak penalti.


“Ya, kau harus memanfaatkan ini, Riski!” teriak Yanuar dan memberi umpan datar area kepada Riski.


Riski yang berlari dengan cepat langsung menendang bola mengikuti gaya kakinya yang bergerak maju.


Namun, Phassakorn, kiper Thailand mampu dan masih lebih baik dari awal pertandingan. Dia berhasil menangkap bola dengan tegas karena benda bundar itu jatuh ke dalam pelukannya.


“Jiaah! Nggak gol!” keluh Riski.


Selepas serangan itu, giliran Thailand yang melakukan serangan balik. Namun, sekali lagi, Reza masih dalam keadaan yang sangat baik.


Entah berapa tendangan yang dia mentahkan, tetapi satu hal yang pasti, dia bagai mendirikan dinding dari batu bata merah di mulut gawang sehingga tak ada satupun yang bisa menembusnya.


Pertandingan terus berjalan, sorak-sorai dari para pendukung terus bergemuruh mendukung Indonesia maupun Thailand.


Ketika Indonesia menyerang, gemuruh dari pendukung Indonesia sangat terdengar jelas, begitupun sebaliknya ketika Thailand menyerang, para pendukungnya tak mau kalah pula.


Namun, meski kedua tim saling menyerang, seintens apapun saat ini, tak ada satupun yang berhasil mencetak skor.


Pada saat ada tendangan bebas dalam jarak yang terbilang dekat, Reza mengambilnya, tetapi keberuntungannya sedang buruk sehingga dua kali tendangan bebasnya dimentahkan masing-masing dari pagar pemain dan kiper.


“Ya! Sepertinya pertandingan akan berakhir tiga puluh detik lagi! Disisa pertandingan ini, Indonesia mencoba ngotot untuk mencetak skor!”


Sang komentator, Bung Tubagus, merasa lelah terus berteriak sepanjang pertandingan sehingga beberapa kalimat terakhirnya tak begitu bersemangat.


“Dan … pertandingan berakhir, Indonesia terpaksa imbang untuk kali ini!”

__ADS_1


Ketika peluit dari wasit dibunyikan, seluruh stadion bersorak dan bertepuk tangan. Mereka mengapresiasi kedua tim yang bermain sangat intens sehingga terlalu menarik untuk dinikmati.


“Haa … terpaksa imbang, kau sih, kaki ini lagi tidak beruntung!” Reza menendang rumput dan menyalahkan kakinya yang tak beruntung saat mengeksekusi tendangan bebas.


__ADS_2