
Istirahat antara babak telah usai. Masing-masing pelatih tentu memberikan arahan terbaik mereka kepada anak asuhnya.
Tak terkecuali pelatih Sofyan yang terlihat marah-marah akibat pertahanan terlihat lengah dan mudah dilewati. Haikal, Amin dan Rafli hanya menunduk tak berani membantah, mereka juga paham betapa kurangnya pertahanan saat ini.
Meski ada Reza Si Laba-laba Hitam, tetapi semua orang paham, kiper mana pun, kiper terbaik sekalipun pasti akan kebobolan banyak gol. Mereka semakin tak ingin membebani Reza untuk terus menjaga gawang dengan baik, mereka tahu kapan Reza akan lengah, yaitu ketika pertahanan benar-benar hancur atau fokusnya yang telah terpecah.
......……......
Pertandingan babak kedua dimulai, bola dimulai dari kaki Febri. Dia memberi umpan ke belakang dari titik tengah lapangan sebagai tanda babak kedua dimulai.
SMA Jaya Bangsa mulai mencoba membangun serangan dari titik mana pun, juga mencoba mencari sebuah ruang yang ditinggalkan Bagus dan rekan-rekannya.
‘Pemain bernomor punggung 10, yaitu Febri bergerak terlalu bebas, dia bisa saja kembali menjadi ancaman bagi lini tengah yang banyak kekurangan ini.’ Reza memikirkan cara terbaik untuk menghentikan pergerakan Febri.
Dia mulai mencoba memvisualisasikan segala hal yang bisa terjadi jika satu ruang kosong dimanfaatkan oleh Febri. Reza nampak mulai bergerak sesuai alurnya.
“Haikal, kemari dulu!” teriak Reza keras.
Sementara bola masih terus bergulir di lini belakang SMA Jaya Bangsa untuk membangun serangan.
Haikal yang melihat masih ada kesempatan untuk melonggarkan pertahanan, dia pun langsung berlari menuju Reza. Secara tak langsung, Reza dan Haikal yang saling berbicara membuat atensi penonton naik.
Pelatih Sofyan menaikkan sudut bibirnya. Dia ingin melihat rencana apa yang dibuat Reza untuk 45 menit terakhir ini demi menutup pertandingan dengan kemenangan.
Kembali kepada Reza dan Haikal, di sana terjadi perdebatan di antaranya.
“Hei! Kau menyuruhku menjaga Febri yang bagai belut itu?! Dari tadi saya sudah jaga, kok!”
“Oh! Ayolah, Haikal. Kau sama sekali tidak menjaganya, hanya mengekor bagai anak ayam di belakangnya. Jaga dengan benar.”
__ADS_1
“Aku punya rencana. Mungkin membuat kau akan kesulitan. Namun, di mana Febri berada, ikuti dia sambil terus mengawasi Kak Amin dan juga Rafli di garis pertahanan.”
Reza berhenti sejenak sembari menatap bola yang masih bergulir, tetapi mulai mendekati lini tengah.
“Untuk itu … buat dia mati. Mungkin kau bisa mengajak Kak Amin. Dengan itu, kesempatan rencana ini semakin besar.”
Reza kembali menatap jauh ke depan. Dia melihat bola di kaki-kaki pemain lawan semakin mendekat, Reza sontak mendorong Haikal untuk maju segera dan menghalangi Febri yang sedang membawa bola.
“Baiklah, kalau rencanamu itu bisa mematikan gerakan si belut itu.”
Reza pun bersiap di bawah mistar gawang, dia ingin mencoba terkaman layaknya harimau saat menangkap bola yang masih diolah oleh lawan. Dia ingin seberani Lev Yashin, menurutnya, anugerah sistem diberikan kepadanya untuk membuatnya semakin berani dalam mengambil pilihan.
...[Misi terpicu : Jaga gawang Tuan agar tak kebobolan lagi hingga akhir babak!]...
...[Hukuman jika gagal : Pengurangan 5 poin dari setiap kemampuan Tuan.]...
...[Hadiah jika berhasil : Penambahan 5 poin dari setiap kemampuan Tuan.]...
“Hei, sistem. Tumben bicara dan langsung memberikan misi secara tiba-tiba.”
...[Sistem hanya mengisi kekosongan misi. Tak mungkin sistem hanya berdiam diri menunggu Tuan menyelesaikan misi menaikkan pamor kiper Tuan di seluruh dunia.]...
...[Sistem juga bosan, Tuan!]...
Reza hanya menggelengkan kepalanya. Dia akhirnya mendengar suara sistem yang monoton tetapi ada sedikit bumbu khas dari nada suara milik sistem, rasanya seperti manusia, tetapi tidak juga dibilang manusia.
“Eh!”
Bola semakin mendekati lini pertahanan SMA Harapan. Meski Bagus dan rekan-rekannya mencoba menghalangi umpan satu-dua antara pemain lawan, tetapi umpan cepat mereka benar-benar menyulitkan Bagus dan rekan-rekannya.
__ADS_1
Reza kemudian melihat Haikal dan Amin yang menjaga ketat Febri. Febri yang menyadari dia ditargetkan dalam penjagaan ketat hanya bisa berdecak kesal dan tak bisa berbuat banyak, dia masihlah pemain penyerang yang banyak kurangnya dan begitu polos dalam hal menyerang memakai teknik.
“Rafli! Kau jaga pemain sayap kanan. Jaka! Terus awasi dengan penjagaan zonasi mu.
Teguh, amati lapangan. Saya melihat ruang kosong di sana, itu harus diisi. Teguh, lakukan tugasmu dengan baik. Danar dan Dennis terus menyusuri sisi lapangan dan amatilah.”
Pelatih Sofyan dengan suara lantangnya memberikan arahan secara cepat selama serangan dari SMA Jaya Bangsa. Sontak membuat Febri dan rekan-rekannya sedikit kesulitan akibat taktik yang mereka rancang sedemikian rupa ditutup rapat oleh arahan pelatih Sofyan.
Pelatih Saktiawan menggemeretakkan giginya karena begitu kesal anak asuhnya sangat buruk memanfaatkan beberapa ruang kosong yang sepersekian detik kemudian langsung ditutup pemain SMA Harapan.
Bola pun hanya mengalir kembali ke lini pertahanan tim musuh. Tak ada cara, menit demi menit tak ada serangan yang begitu membahayakan dari kedua belah pihak.
Akhir pertandingan semakin dekat dan hanya tersisa 15 menit saja. Reza dan kawan-kawannya meletakkan formasi parkir bus yang membuat kesulitan Febri dan rekan-rekannya menembus pertahanan berlapis tersebut.
Reza juga sering memberikan informasi di setiap pemain untuk mengisi kekosongan yang dia lihat jelas. Itu karena visi permainan menurut sistem sudah mencapai angka 90!
Visi permainan yang menakjubkan. Dengan kesadaran taktis diatas rata-rata,visi permainan semakin bekerja efektif.
Reza sesekali maju ke depan bahkan hingga mendekati lingkaran tengah lapangan. Dia mencoba membangun serangan bersama rekan-rekannya. Kiper mana lagi yang maju sejauh itu selain kiper-kiper kelas dunia seperti Neuer ataupun Higuita yang sudah lama pensiun itu.
Beberapa kiper mampu maju sejauh itu, tetapi masih begitu khawatir meninggalkan gawang yang menganga lebar. Namun, dari sorot mata Reza, membuktikan keraguan itu dia buang jauh-jauh.
Bahkan sesekali Reza menunjukkan skill nya di depan Febri yang semakin kesal. Dia bahkan termakan skill nutmeg oleh Reza yang sontak tawaan dari para penonton terdengar.
Reza begitu berani memegang bola hingga tengah lapangan sebelum dia memberi bola kepada Teguh ataupun rekan lainnya. Tak langsung mundur, Reza sesekali seperti seorang pemain gelandang saja.
Aksi-aksi kecil Reza pun menutup akhir pertandingan dengan kemenangan manis 2-1 atas tim tamu, SMA Jaya Bangsa yang membuat kemenangan perdana di Youth Tournament menjadi hadiah kado ulang tahun bagi kiper kelahiran 26 Juni 2006 tersebut.
Usianya menyentuh angka 16 yang membuat rekan-rekannya mulai berlarian merayakan kemenangan pertama bersama Reza dan mulai menargetkan Reza dengan kejahilan mereka.
__ADS_1
Akhir pertandingan yang buruk bagi SMA Jaya Bangsa. Mereka pun berniat membalaskan dendam pada saat laga kandang mereka di Luwuk untuk menjamu SMA Harapan!
Yah … meski itu masih sangat lama dan memakan waktu untuk balas dendam. Mereka pastinya akan lebih fokus ke laga selanjutnya.