
Palu, Indonesia.
Saat ini, Citra sedang sibuk bekerja untuk menyelesaikan tugas kantornya. Sembari menyusun beberapa dokumen, dia melihat siaran ulang dari laga Indonesia menghadapi Thailand.
“Imbang, ya?” gumamnya.
Srak …! Srak …!
Tiba-tiba dokumen yang dipegangnya jatuh berhamburan yang membuatnya terkejut. Ketika hendak mengambilnya, cangkir berisi kopi hangat di atas meja tersenggol olehnya dan jatuh ke lantai hingga pecah.
“Eh? Apa … ini? Firasatku tidak enak,” lirihnya sambil memegangi dadanya.
Dari ruangan sebelah, rekan kerjanya datang dan membantu Citra membersihkan dokumen beserta pecahan cangkir. Seorang OB juga membantunya dan itu memanglah tugasnya.
“En ….” Citra menatap bingkai foto, terlihat dirinya berfoto bersama Reza yang tersenyum ceria memegang ijazah SMP.
***
Tokyo, Jepang.
Saat ini, tim Indonesia U-17 sedang berlatih. Latihan mereka tak begitu ketat untuk kali ini, lagipula banyak dari mereka yang kelelahan dan harus memulihkan tenaga seusai kemarin melawan Thailand.
Reza sendiri dari banyaknya rekannya yang mulai berjatuhan dan terduduk lelah, dia sendiri masih terlihat sangat fit. Tubuhnya terus bergerak mengikuti beberapa arahan pelatih kiper.
“Ya! Bagus, tangkap bola ini. Nah, kau bergerak ikuti piringan dan kerucut-kerucut itu! Tetap fokus!” jelas Markus yang sebagai asisten pelatih kiper.
Melihat Reza yang betapa semangat dan tak kenal lelah terus berlatih meski sudah terlihat kemampuan ajaibnya, membuat satu persatu dari mereka yang sebelumnya terduduk kelelahan sekarang mulai beranjak dan kembali berlatih.
Pelatih Bima sendiri tak begitu keras untuk saat ini, dia juga akan membuat beberapa rotasi agar jikalau Indonesia U-17 memasuki perempat final, mereka bisa lebih segar melawan runner-up grup B.
Menurutnya, Indonesia sudah dipastikan keluar sebagai juara grup A jika mampu memenangi laga ketiga ini dan akan bertemu runner-up grup B.
“Nah, karena kalian ingin berlatih lagi, ayo berlari keliling lapangan selama lima putaran setelah itu istirahat hingga waktu yang saya tidak tentukan!” ungkap Pelatih Bima.
‘Saya akan terus menaikkan fisik kalian!’ batin Pelatih Bima.
Lantas semua pemain menurutinya dan segera lari mengelilingi lapangan latihan yang telah disediakan oleh panitia turnamen Piala Asia AFC U-17 2023 ini.
Seusai berlari, semua pemain pun dipersilahkan untuk melakukan aktivitas sendiri-sendiri. Reza sendiri masih fokus dalam melatih kekuatan kipernya.
“Hmm … masih terlalu lambat! Ayo, lebih cepat! Lebih cepat dan lebih cepat!” seru Reza dengan semangat.
Dia dibantu oleh Pelatih Bima yang memang menyukai semangat milik Reza. Pelatih akan mencoba sebisa mungkin membantu Reza yang bersemangat demi meningkatkan kualitasnya.
“Reza, apa kau sadar bahwa kemampuanmu ini terlihat aneh?”
“Aneh … bagaimana, Pelatih?”
“Ya, aneh saja. Kau terlalu kuat, terlalu sulit dijebol seperti … ah! lupakan!” Pelatih Bima pun kembali mengambil bola dan membantu Reza dalam latihannya.
__ADS_1
Reza pun hanya mengendikkan bahu mencoba tak memerdulikan perkataan Pelatih Bima dan lebih memilih melanjutkan latihannya.
Hingga sekitar setengah jam kemudian, Pelatih Bima menyelesaikan membantu Reza dan dia akan kembali ke ruangannya untuk menyusun beberapa formasi dan juga taktik yang cocok untuk saat ini.
Reza pun kembali ke hotel dengan memakai bus. Saat sampai di hotel, di lobi ada beberapa rekannya yang duduk-duduk santai sambil berbincang ringan.
“Saya masuk dulu,” ucap Reza.
Di dalam kamar hotelnya, Reza terduduk dengan napas yang menderu. Perasaan tegang tiba-tiba melandanya.
“Pelatih Bima … agak aneh, dia seperti mengetahui sesuatu!” gumamnya.
“Dan sebenarnya sudah sejak dapat sistem ini, saya masih bingung darimana entitas ini?”
[Tuan hanya perlu merangkak naik ke puncak dunia, saat berada di sana nanti, Sistem Kiper akan mengungkapnya.]
[Sebenarnya Sistem pernah memberi petunjuk Tuan, tetapi Tuan tak mengacuhkannya dan hanya menganggap itu sebuah hal yang biasa saja.]
Reza terkejut ketika Sistem Kiper tiba-tiba berbicara dari telepatinya. Suara monoton khas robot wanita itu pun membuatnya terkejut, dan disatu sisi merasa bingung.
“Yaa … lebih baik kujalani aja deh, daripada pusing mikirin itu,” celetuknya dan segera membersihkan badannya.
***
Minggu, 9 Mei 2023, Stadion Okinaga Tokyo.
Kali ini, lawan yang akan dihadapi Indonesia U-17 adalah Qatar. Salah satu tim Timur Tengah yang kuat, tetapi mungkin saja Indonesia mampu menyainginya untuk saat ini.
Indonesia sekarang sudah jelas berbeda. Meski beberapa dari mereka tak jarang egois dan mementingkan pribadi, tetapi perlahan tapi pasti kepentingan bersama tak lama lagi dicapai dan hubungan antar mereka bisa lebih fokus lagi.
“Ya, di mana pun anda berada, saya Tubagus bersama Bung Binder akan menyiarkan laga pamungkas bagi Indonesia U-17!
Qatar yang digadang-gadang sebagai calon juara grup harus jatuh ke posisi keempat dengan dua kali kekalahan.
Sementara Indonesia berada pada posisi kedua dengan perolehan 4 poin.
Jepang pada posisi pertama dengan 6 poin dari dua kali menang menghadapi Qatar dan Thailand, kemudian kalah menghadapi Indonesia.
Untuk Thailand sendiri, mereka di posisi ketiga dengan 4 poin, menahan imbang Indonesia, memenangi laga menghadapi Qatar pada hari pertama dan harus mengakui kekalahan dari Jepang sore tadi!”
Penjelasan panjang dari Tubagus si komentator menambah kesan bahwa Indonesia sangat berkesempatan untuk lolos menuju ke fase gugur perempat final.
Peluang itu sangat terbuka lebar.
Hingga pertandingan melawan Qatar pun dimulai. Waheed Mahmoud, melakukan overlap di sisi kanan pertahanan Indonesia U-17.
Beruntungnya, Arkhan dengan cekatan menghalangi Mahmoud sebelum masuk ke frontcourt. Lebih baik menghalau lebih awal daripada membiarkan lawan masuk ke frontcourt.
Reza saat ini juga sesekali mengarahkan rekannya dalam pertahanan, dia tak ingin terlalu cepat atau kebanyakan jatuh bangun.
__ADS_1
“Di sana, kosong itu, Iqbal!” kata Reza sembari menunjuk.
Namun, tiba-tiba saja bola umpan lambung langsung tepat melewati Majdi Ali.
Majdi Ali yang berhasil mengelabui Iqbal berhasil melakukan putaran badan 360° dengan cukup baik.
Seusai melakukan aksinya, Ali terus maju hingga berhadapan dengan Reza.
Ali mencoba terus merangsak, tetapi Reza yang begitu garang langsung menyerang hingga mampu menangkap bola yang masih dikendalikan Ali.
Ali yang saat itu hendak menendang, secara tak sadar dan tak sengaja menghantam kepala Reza.
“Eh?” Reza yang sebenarnya antara salah dan benar dalam pengambilan keputusan langsung terdiam di lapangan.
“Ah! Medis, medis!” teriak Ali.
Wasit pun segera menghentikan pertandingan dan memanggil tim medis Indonesia.
Dalam keadaan tegang, para pemain berharap Reza tak cedera parah. Seluruh pendukung Indonesia terdiam menunggu bagaimana kemajuan dari tim medis.
Di televisi, tayangan ulang dari terkaman Reza dan hantaman dari kaki Ali terlihat jelas. Tak ada yang bisa disalahkan, Ali sendiri tak sengaja. Reza yang ingin disalahkan dan membahayakan dirinya, tetapi nyatanya dia menyelamatkan gawangnya.
Ali saat ini berjongkok di dekat tim medis yang menangani Reza sedikit ketakutan.
“Tenang, Ali! Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu,” ucap Nabil mendatanginya, tentunya menggunakan bahasa Inggris.
Tim medis terlihat cukup panik saat itu, mereka mencoba melakukan sesuatu.
Reza yang saat itu tak sadarkan diri pun mau tidak mau langsung dilarikan ke rumah sakit. Ambulans stadion langsung bergerak, membawa Reza dengan cepat.
Insiden ini membuat hati para pendukung dan pemain semakin gusar.
Insiden yang membuat Reza harus dilarikan ke rumah sakit akibat benturan keras di kepalanya.
Kiper pengganti, Andrika pun membawa beban berat dipundaknya sembari khawatir keadaan rekan setimnya.
“Semoga Reza, baik-baik saja! Saya sangat khawatir, ayo, seluruh Indonesia mendoakan yang terbaik untuk Reza. Semoga cederanya tak parah!” Komentator Tubagus bahkan lebih kawatir lagi.
Palu, Indonesia.
Citra yang saat itu menonton pertandingan menjadi histeris ketakutan. Dia segera menelpon rekan-rekan kerjanya. Beberapa dari mereka berdatangan dan menenangkan Citra.
Para pemain klub sepakbola SMA Harapan juga datang ke rumah Reza untuk menenangkan ibu dari teman mereka.
Semua benar-benar menunggu kabar dari rumah sakit tempat di mana Reza dilarikan.
“Semoga kamu baik-baik saja, Eca!” gumam Citra dengan tubuh bergetar.
“Reza … saya ingin membobol gawangmu, jadi semoga kau baik-baik saja!” gumam Bagus yang saat itu menatap tayangan ulang insiden Reza.
__ADS_1