Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 138 - Cedera dan Pembalasan Diakhir


__ADS_3

Malam yang begitu heboh di Anfield Arena, puluhan ribu pendukung terus menyoraki tim favorit mereka, antara lain Livpool maupun AS Trenčín.


Situasi lapangan juga perlahan semakin menunjukkan intensitas yang berat, di satu sisi Reza yang mencoba melakukan trik-trik miliknya sedang bersiap.


“Umm … Gas!”


“Sini!”


Reza mendapatkan bola, dari tengah, tepat di tepi kotak penalti, dia perlahan maju sambil terus mewaspadainya posisi para pemain Livpool. Reza tak serta-merta maju, dia harus memikirkan kedalaman pertahanannya saat ini.


“Sini kosong, Reza! Saya membantu kamu!” seru Gajdos.


Reza pun melakukan kombinasi umpan bersama rekan-rekannya, tidak langsung maju seperti banteng yang tak memikirkan keadaan dan terus menerobos.


“Gerak depan, di sana cukup lengang!” seru Reza.


Reza, Gajdos, hingga Holly juga perlahan maju, di sisi kanan dan kiri juga dalam keadaan yang sedang panas-panasnya.


Reza bergerak terus melewati seorang pemain Livpool, dia adalah Nunez, dipecundangi begitu saja tentu membuat pemain kelas dunia ini cukup kesal. Hanya saja, Nunez masih mempunyai rasa dingin atas kemampuannya.


“Sini, gerak!”


Reza berputar, melakukan gerakan mengecoh kepada Nunez, bola yang dikendalikan dimain-mainkan dengan begitu bebas dan cukup lugas tanpa kendala apa pun.


Reza begitu bisa menguasainya, di tengah gempuran perang “Boo!” dari pendukung Livpool, mentalnya benar-benar kuat mampu membendung perasaan itu.


“Bang Witan!”


Reza memberi bola kepada Witan, setelahnya, permainan kombinasi umpan satu-dua membuat pertandingan semakin menarik untuk dinikmati.


Permainan kecepatan ala Reza dan Witan dari Timnas Indonesia benar-benar ditunjukkan. Permainan kecepatan tinggi ala Indonesia, ada secara langsung di hadapan puluhan ribu pendukung.


Semakin ke tengah, Reza mendapati halangan lain, Bajcetic dan Jones secara cepat mengawal pergerakan Reza.


“Sisi kiri, kanan, dua langkah ke samping, putaran penuh untuk mengecoh!” gumam Reza.


Dengan kelihaiannya, Reza menunjukkan kelasnya yang seperti penyerang andal abad ini, hanya saja dia ini kiper sehingga julukannya yang cocok adalah Kiper Terbaik Abad ini, mampu menjaga gawang dan juga membahayakan gawang lawan.


Terus melewati pemain-pemain Livpool, Reza tiba-tiba merasakan kesemutan di kakinya, hingga dia merasa goyah.


Dari depan, seorang pemain bertahan Livpool, Konaté, dengan kasarnya melakukan sliding tekel.


Telapak kaki Konaté menghantam posisi bagian depan kaki Reza, hingga dia sempat terbang melayang beberapa puluh centimeter di atas permukaan tanah, yang setelahnya jatuh begitu keras.


“Arrrghh!”


Kakinya yang kesemutan, ditambah hantaman keras membuat sakit tak tertahankan, apalagi dengan benturan dari terjatuh.

__ADS_1


“Hei! Maksudmu apa, huh?!” Witan langsung datang mendorong Konaté dengan emosi yang tersulut.


Beberapa rekan Reza juga datang, mereka mencoba meminta jawaban dari maksud bek tengah Livpool tersebut.


Wasit Luigi, dengan tegas membubarkan situasi, memanggil tim medis untuk mengobati Reza dan segera memanggil Konaté untuk memberi sesuatu.


Itu adalah kartu merah yang tegas! Tanpa kompromi, tanpa belas kasihan, Konaté diusir tepat di menit 34, harus mandi lebih cepat.


Sementara itu, Reza masih sedang diobati, AS Trenčín menjadi tim yang paling dirugikan tentang ini.


“Tidak bisa! Kau tidak bisa melanjutkan pertandingan!”


“Ah! Anji–” Hendak mengumpat Reza langsung terenyak. “Fyuuuh … Tenang, Za! Tenang! Lebih baik penting kakimu ini!”


Reza meringis kesakitan, ada perasaan ngilu dari kakinya. Ditandu keluar, Reza menatap sinis kepada Konaté yang baru saja keluar dan duduk di bangku pemain.


“Asal anda tahu, saya akan kembali!” gumam Reza dengan api yang membara dalam hatinya.


AS Trenčín pun memainkan laga dengan pontang-panting selanjutnya, meski begitu, mereka masih bisa menahan gempuran keras dari Livpool.


Beberapa percobaan dari Livpool, masih bisa ditangani kiper pengganti Reza, Kukucka.


Namun, satu hal yang pasti, sangat terlihat jelas, AS Trenčín terlalu kesulitan tanpa Reza.


Reza yang melihat itu dari pinggir lapangan hanya bisa terdiam, dirinya tak berdaya melihat rekan seperjuangannya kesulitan menghadapi gempuran Livpool.


“Haaa … Saya terlalu memanjakan rekan-rekanku! Ah! Benar-benar sial!” gumam Reza.


Meski begitu, Reza juga masih diberi kesempatan untuk tetap bisa berlaga dalam putaran kedua semifinal UCL.


Usai pertandingan, AS Trenčín harus mengalah dengan kekalahan dua gol tanpa balas.


Kesempatan AS Trenčín pada putaran kedua adalah semifinal yang benar-benar berat. Pelatih Marian bahkan mulai terbebani akan hal itu.


***


“Sssshh … Benar-benar, ya!”


Dalam masa perawatan, Reza terus mengecek kondisinya hingga apakah bisa dipakai dalam batas maksimal tanggal 25 April nanti pada putaran kedua semifinal UCL.


“Jangan diforsir, ya?”


“Reza! Jangan dipaksakan! Kau sudah berjasa di klub ini, jangan mengorbankan karirmu hanya karena Si Kuping Besar itu!” ungkap Pelatih Marian sesaat Reza keluar dari gedung perawatan medis klub.


“Iya, Pelatih, saya hanya mencoba peruntungan!”


“Kau pemain paling gila yang kutemui, baiklah, kita akan berjuang di putaran kedua!”

__ADS_1


***


25 April, di stadion na sihoti, Trenčín.


Kedua kesebelasan sedang berlaga di malam yang perlahan mulai berubah suhunya seperti tak biasa.


Ini adalah musim peralihan, kemungkinan terbesar, awal Mei hingga Juli atau paling lama sekitar dua hingga tiga bulan ke depan adalah musim panas.


Di lapangan, AS Trenčín sudah memiliki amunisi terbaiknya, Reza Kusuma yang menatap dingin kepada siapa pun.


“Awal-awal adalah saat yang tepat!” teriak Reza.


Dalam sepersekian detik kemudian, dia bahkan merebut bola dari rekannya sendiri, berakselerasi begitu cepat hingga benar-benar sulit diikuti para pemain Livpool.


“Anjir! Reza! Kau terlalu gila!” seru Witan sambil mengikuti lari Reza.


Namun, Reza yang telah sembuh dari cederanya, langsung mengaktifkan bom bunuh diri miliknya.


Ini adalah pertaruhan, jika dia terlalu berlebihan, maka cedera yang baru sembuh akan menyala dan semakin membakar kemampuan kaki kiri Reza nantinya.


“Bodoh! Jangan!”


Reza acuh tak acuh akan peringatan Pelatih Marian, dia terus berakselerasi hingga tepat di tepi kotak penalti Livpool.


Mengambil ancang-ancang, Reza melepas tendangan memakai kaki kanannya, bola bergerak lurus begitu cepat hingga tiba-tiba saja terlihat menghunjam jala gawang, Donnarumma sendiri hanya terpaku pada tempatnya.


“Bagus! Lagi!”


Reza tak melakukan selebrasi tengah rekan-rekannya yang berkumpul padanya.


“Kejar waktu!”


“Kejar waktu apa! Ini masih menit dua woy!” pekik Witan menjitak kepala Reza dengan candaan.


“Saya akan menciptakan tiga gol!”


Witan terdiam, tetapi perasaannya benar-benar tak dapat dipikirkan lagi. Ada kesan misterius dari tatapan Reza yang semakin lama semakin dalam dan dingin, bahkan seperti kosong saja.


“Heh! Dua kali lagi!”


Pertandingan dimulai kembali, baru saja kick-off, Reza maju dengan garangnya tanpa memikirkan situasi saat ini.


Nunez, pemain Livpool yang mengendalikan bola merasa berat ketika Reza datang bagai harimau yang hendak menerkamnya.


“Saya ambil!”


Seperti mustahil, Reza dalam beberapa detik, sudah mendekati Nunez dan merebut bola. Nunez yang sempat terenyak hanya bisa melihat punggung Reza yang meninggalkan dirinya.

__ADS_1


***


Pertandingan berakhir, AS Trenčín benar-benar comeback secara mengejutkan, digendong Reza secara langsung, menghasilkan tiga gol tanpa balas. Itu adalah kemenangan, AS Trenčín melaju ke final menghadapi PSG!


__ADS_2