Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 163 - Tiket Emas Final


__ADS_3

Palu, Indonesia.


Orang-orang saat ini sedang menatap televisi di hadapan mereka, teriakan demi teriakan membawa suasana pagi itu benar-benar begitu heboh.


Lagi pula pagi yang kebanyakan orang masih tidur malah dijadikan aktivitas dalam sebulan ini untuk wajib bangun cepat demi melihat Garuda Asia, Indonesia berlaga pada piala dunia untuk pertama kalinya sejak tahun 1930 saat masih bernama Hindia-Belanda.


Sekarang, mereka sedang menyaksikan ketika Indonesia akan mengoyak jala gawang dari negeri seribu kincir angin ini.


“Woah! Ah, itu awas!”


“Ayooo!”


“Ya! Akh, gagal!”


Sangat antusias, hal ini membuat fenomena baru pada pagi hari di Indonesia, dalam sebulan telah benar-benar mengubah waktu bangun pagi kebanyakan orang.


Stadion Gillette, Boston, Amerika Serikat.


Saat ini, bola hasil umpan lambung dari Kakang segera dikendalikan oleh Marselino di tengah.


Marselino memindai area, mencoba mencari ruang yang menurutnya kosong untuk melakukan serangan. Matanya terus mengedarkan pandangan tanpa tahu, dari arah sampingnya ada pemain Belanda mencoba menerjang.


“Awas, Lino!” teriak Witan yang mencoba menyadarkan Marselino.


Namun, Marselino tentu akan lambat bergerak dan berakhir bolanya direbut oleh De Jong yang langsung melambungkan bola di sisi kanan penyerangan, di mana Noa Lang sedang berlari.


Beruntungnya Haikal bisa melakukan duel udara dan mendapatkan bola yang langsung membuangnya keluar lapangan, beruntungnya lagi, sesaat bola itu melintasi bagian atas kepala Noa Lang, bola itu menyentuhnya dan menjadikan lemparan ke dalam bagi Indonesia.


“Robi, ambil!” seru Haikal.


Robi mendekati bola dan langsung melakukan lemparan jarak jauh yang mampu di terima dengan baik oleh Marselino di tengah agak ke belakang sedikit.


Setelahnya, proses serangan dari Indonesia mulai dilakukan kombinasi yang tentu menunjang penampilan mereka.


Para pemain Belanda tak begitu melepaskannya, mereka sudah sampai di semifinal, jadi mau tidak mau harus mengeluarkan seluruh kekuatannya.

__ADS_1


Tak ada yang tidak ingin tiket emas final, semua tim di seluruh dunia ingin tiket emas piala dunia, di mana mereka berdiri di puncak panggung dunia bersama sang penantang lainnya.


“Saya pengen maju, tapi kayak terlalu malas, capek juga,” gumam Reza sambil menatap layar digital di stadion yang menunjukkan waktu tak lama lagi berakhir, sekitar tiga menit lagi.


Serangan-serangan dari Indonesia maupun Belanda cukup aktif, tetapi tak begitu banyak yang membahayakan masing-masing gawang. Namun, Belanda lebih menguasai jalannya pertandingan.


Indonesia untuk sementara tiba-tiba melunak, ini kemungkinan karena mereka tidak terlalu bersemangat untuk mencetak gol, dengan satu alasan kuat adalah kelelahan saat bermain menghadapi Prancis masih ada.


Sementara itu, di tribun utama, seorang pria berpakaian tebal yang sangat tak cocok di musim panas seperti ini sedang menatap lekat ke arah Reza yang begitu antusias mengatur rekan-rekannya dalam pertahanan.


“Anak itu … Dia begitu bersemangat, ya? Apa … Dia sudah benar-benar menggunakannya, saya menunggu hal itu mengungkapnya!” gumam pria tersebut sembari berbalik dan masuk di antara kerumunan para penonton yang berdiri.


Menyadari ada sesuatu yang menatapnya begitu lekat, Reza memiliki suatu perasaan yang berbeda, benar-benar seperti habis dimata-matai oleh seseorang.


“Lu–luas sekali, semuanya jelas juga menatapku karena, ya, gitu deh,” gumam Reza sambil mengedarkan pandangan.


Perasaannya benar-benar berbeda, seperti ada hal yang mengganjal hatinya, begitu aneh dan membuat dirinya sangat penasaran akan hal yang telah terjadi baru saja itu.


Mencoba untuk sementara tak memikirkan itu, dia lebih mementingkan Belanda yang melakukan gelombang serangan dari tengah di mana Depay di depan kotak penalti langsung melepas tendangan spekulasi.


Setelahnya, wasit meniup peluit, tanda berakhirnya babak pertama dengan skor masih tak berubah sama sekali, hanya ada beberapa pelanggaran, percobaan tendangan dan dua kartu kuning saja yang dihasilkan pada babak pertama.


Semuanya itu dihasilkan dari rangkaian serangan Indonesia maupun Belanda, dua kartu kuning sendiri didapatkan oleh Kakang dan juga Marselino saat mencoba menghentikan musuh.


Di ruang ganti tim Indonesia, saat ini Pelatih Tae-yong sedikit murung, wajahnya tertekuk membuat para pemain menyadari kesalahan mereka bahwa terlalu melunak dan tak begitu semangat.


“Oke, babak kedua, kalian harus keluar menyerang, sisi kiri harus lebih kreatif, tadi sudah cukup kanan, dan … Reza, saya tahu kamu masih lelah, tapi … Keluar menyerang adalah harapan kami dan seluruh rakyat Indonesia!” jelas Pelatih Tae-yong dengan menatap satu persatu para pemain Indonesia.


Sementara itu, Reza saat ini hanya mengelap keringatnya menggunakan handuk kecil sambil mengangguk paham kepada Pelatih Tae-yong, semua pemain pun demikian yang membuat ruang ganti sedikit senyap.


Brak!


Pelatih Tae-yong menggebrak pintu loker di sampingnya, membuat seisi ruangan langsung berseru serentak, “Siap, Pelatih!”


Pelatih Bima hanya tersenyum, sementara itu Pelatih Indra menggelengkan kepalanya dengan pasrah.

__ADS_1


Babak kedua pun dimulai, kali ini, tim nasional Indonesia benar-benar keluar menyerang, mereka langsung menunjukkan cakar dan paruh yang tajam kepada lawan.


Setelah kick-off, bola saat ini dikendalikan oleh Reza di depan kotak penalti, sekitar menit ke-50 yang membuat seisi stadion bergemuruh menunggu aksi solo run dari Reza.


Menyadari Reza akan segera berakselerasi, para pemain Belanda langsung melakukan koordinasi pertahanan yang sebelumnya mereka telah latih berkali-kali hingga mampu mengekang Argentina saat perempat final.


“Ya! Reza, Reza maju!” seru komentator internasional bernama Peter Dryen.


Reza yang saat ini melihat rekan-rekannya pun langsung maju, karena telah memberikan kode bahwa gawang akan benar-benar kosong jadi mereka wajib menjaga dengan resiko besar juga.


Reza saat ini mendekati lingkaran tengah lapangan, tetapi Depay dan juga Gakpo, kemudian sebagai pendukung ada De Jong dan Taylor di belakang keduanya.


Kali ini, Belanda ingin menanggulangi bencana sekelas Reza, sudah banyak tim-tim kelas dunia dipecundangi hanya Reza seorang.


Reza, di Milan yang total sudah mencetak sebanyak 67 gol itu benar-benar menjadi momok menakutkan di Serie-A Italia, maka dari itu, Dumfries, pemain Inter juga memberikan peringatan kepada rekan-rekannya untuk benar-benar mengawal Reza.


“Bagus, mendekatlah, mendekatlah, saya akan mencuri tiket emas final!” seru Reza.


Reza pun langsung menghentakkan kakinya, membuat sebuah gerakan maju mundur yang cepat hingga melakukan putaran tak masuk akal melewati Depay maupun Gakpo yang hanya bisa terenyak.


“Sampai jumpa!”


De Jong dan Taylor tak ingin kalah, tetapi nyatanya gerakan zig-zag milik Reza mampu membuat mereka mati langkah, rekan-rekannya Reza yang lain juga hanya bisa mencoba bersikap dingin.


Mereka sudah sangat sering melihat Reza melakukan itu, jadi tak begitu kaget.


Reza sudah sampai di sepertiga pertahanan lawan, di sana ada De Ligt yang Reza lewati dengan teknik rainbow flick, kemudian sebelum bola jatuh di tanah, Reza mengayunkan kaki kanannya.


Perkenaan bola dengan punggung kaki menciptakan alur bola knuckle shoot andalan Reza dan berakhir jatuh di dalam gawang.


Noopert tak berkutik. Indonesia mengambil keunggulan pada menit ke-52 lewat sepakan ajaib dari Reza!


Dan … Seperti biasa, Reza berlari ke sudut lapangan untuk melakukan selebrasi bersila sembari membaca buku, ini adalah selebrasi yang sepertinya akan menjadi identitasnya.


Siu? Itu kuno! Mari belajar tentang 1.001 Cara Menjadi Kiper Hebat ala Reza Kusuma! Tersedia di–

__ADS_1


Lupakan, Reza saat ini kembali ke posisinya dan bersiap untuk selanjutnya.


__ADS_2