
Pagi yang berkabut di tengah musim panas yang melanda nyaris seluruh bagian Barat belahan dunia –Amerika dan sekitarnya.
Reza saat ini berbaring di sofa, di dalam kamar penginapannya, pandangannya sangat kosong, tetapi di satu sisi ada hal yang benar-benar dipikirkan olehnya.
“Frederic … Frederic … Dia benar-benar gila, mentalnya sudah sejatuh itu, tapi masih bisa tersenyum padaku!” gumam Reza. “Saya capek, mental dan fisik, 90% mengeluarkan tenaga Mata Masa Depan itu tidak main-main!”
Seharian ini Reza meminta izin kepada staf pelatih dan mengatakan sepatah dua kata kepada rekan-rekannya.
***
Malam hari sebelumnya, tiga jam setelah laga selesai.
“Reza? Hei, kau … Kenapa?” tanya Marselino sambil mengayunkan tangannya di depan Reza.
Reza menatap sejenak Marselino, kemudian membuka kecil mulutnya, suaranya nampak terdengar lirih di tengah keramaian stadion yang berangsur-angsur menurun.
“Capek … Besok … Besok saya mau … Istirahat sekaligus menenangkan diri.”
Marselino hanya bisa menatap Reza dengan kebingungan, kemudian datang Pelatih Tae-yong dengan wajah berseri-seri semangat.
“Pelatih, Reza …” Marselino mencoba menghalangi Pelatih.
Pelatih Tae-yong menyadari ada sesuatu yang terjadi kepada Reza, rasanya tidak seperti biasa, Reza yang sangat ceria dengan wajah tengil penuh kesombongannya.
“Yaa … Besok kau istirahat,” ucap Pelatih Tae-yong tanpa menunggu jawaban dari Reza langsung pergi bersama Marselino.
Reza tertinggal di ruangan ganti tim, dengan handuk yang masih menutupi kepalanya, keringatnya mengucur deras dengan napas yang menderu berat.
“Wah … Benar, sepertinya … Sistem … Tidak berbohong, dampak menaikkan persentase penggunaan Mata Masa Depan adalah hal yang buruk!” Reza bermonolog.
***
Kembali ie masa sekarang, Reza yang sekarang menatap langit-langit ruangannya pun menghela napas sejenak, tubuhnya benar-benar lemah dan sulit untuk digerakkan, tidak seperti biasanya.
Reza juga sudah meminum minuman isotonik bernutrisi spesial, tetapi efeknya benar-benar tak ada yang membuat Reza hanya bisa memaksakan tubuhnya untuk bergerak jika memang dia inginkan.
“90% belum bisa saya, terlalu berbahaya, kekuatan tubuhku dan usiaku adalah hambatannya,” gumam Reza.
Pandangannya berkunang-kunang, ini adalah perasaan buruk pertama kalinya sejak dia memegang bola saat SD dahulu, itu saat dia menginjak kelas 4 SD.
“Wah … Rasanya … Nostalgia,” gumam Reza.
Reza pun memilih tenggelam dalam ingatannya, hal ini demi membuat dirinya bisa menenangkan diri dari segala hal yang membuatnya benar-benar terkapar kelelahan.
__ADS_1
[Sistem telah mendata–]
“Lupakan, tidak perlu data kesehatan … Saya hanya kelelahan,” sela Reza yang langsung menghentikan sistem untuk berbicara.
***
Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia.
Citra saat ini sedang menikmati secangkir teh sambil menikmati angin malam yang menerpa wajahnya sembari membaca majalah.
Mata berkilaunya begitu fokus, seperti sulit untuk teralihkan dari pekerjaannya saat ini, walau begitu, Citra bisa teralihkan juga ketika menyesap teh miliknya.
“Reza … Kau sudah cukup besar seharusnya, ya?” gumam Citra.
Dari balik lembaran majalah itu, ternyata ada lembaran tunggal yang adalah sebuah foto hitam putih di mana Citra dan seorang pria yang saat itu masih muda sedang duduk santai di pinggir pantai.
“Ayahmu …”
Sebuah foto kembali dia lihat, foto di mana saat seorang pria dengan wajah nampak buram sedang memakai jersey hitam-merah dengan pola vertikal, itu adalah jersey kebanggaan dari Milan.
“Ayahmu di usia kedua puluh enam benar-benar sangat gigih, tahu nggak?” Citra bermonolog.
“Ey, sahabatku menyesap teh sendirian saja, saya ikutan!” Melani, sahabat sekaligus ibu dari Vera datang sembari membuka pintu pagar.
“Heh? Pria ini? Ayolah, Cit, pahami saja kenapa Bram pergi, saya rasa memang itu adalah satu-satunya jalan baginya demi anakmu!” balas Melani sambil duduk di samping Citra.
“Melan, apa Reza akan tahu ini?”
“Lambat laun, Citra, lambat laun Reza akan tahu itu, jadi … Kau bisa tahan amarah anakmu nanti, jika dia marah kepada Bram,” jelas Melani sambil menunduk.
Keduanya pun tenggelam dalam nostalgia yang tak berujung, membuat anak hingga orangtuanya saja tenggelam dalam hal ini.
Reza yang saat ini telah sadar dari lamunannya, segera berdiri, meregangkan tubuhnya, rasa sakit dan pegal benar-benar dirasakan oleh seluruh bagian tubuhnya tanpa terkecuali yang membuat Reza hanya bisa mendengus kesal.
“Haaa … Kenapa jadi tiba-tiba teringat ibu dan … Ayah?” gumam Reza.
Dia segera menghampiri bingkai foto yang menunjukkan dirinya memegang ijazah SMP sedang tersenyum berfoto bersama wanita tercintanya, ibunya.
“Sistem, puncak dunia, apa meraih trofi piala dunia, saya akan menemukan semua pecahan misteri ini?” Reza bermonolog sembari mengusap kaca bingkai foto tersebut.
[…]
“Titik-titik apa itu, hah?” seru Reza dengan kesal.
__ADS_1
[Sistem Kiper akan mencoba mengungkap semuanya jika telah waktunya, karena sistem Kiper adalah ………]
“Alah, kata yang disensor? Cih, hari yang tenang dan damai ini tanpa latihan malah dibuat kesal, ya sudah deh, saya juga mau istirahat, besok baru latihan kembali!”
Reza pun keluar ruangan dan menuju koridor hotel tepat di ujung, di sana ada mesin minuman dan seorang pemuda berambut coklat yang sedang mengambil kaleng Sprita. Niatnya ingin mengambil yang segar-segar dari mesin minuman.
“Bagas? Eh, di sini lagi?”
“Oh, Reza, ini 'kan juga tempat penginapan kawanku, Haikal … Ah! Apa …”
“Benar, ya, Haikal jelas temanku, tapi sudahlah, tidak penting, temani saya curhat bentar deh!”
Reza pun mempersilahkan Bagas untuk masuk ke ruangannya, Reza langsung ambil tempat untuk sesi curhat dirinya, ini demi menenangkan dirinya yang selepas pertandingan semalam selalu saja berdebar dan penuh keringat, serta perasaan khawatir yang tinggi.
“Reza … Kau itu kiper hebat, masa cuma karena semalam sudah kecapekan begini,” ucap Bagas sambil menenggak minumannya.
“Hmmm … Tidak ada gunanya sih curhat dengan kau,” balas Reza sambil memalingkan wajahnya, sementara itu, Bagas membatu di tempat dengan hati yang hancur.
***
“Sampai jumpa!” seru Reza mengiringi kepergian Bagas dari ruangannya.
Setelah saling berbincang selama sejam lebih, Reza mendapatkan perasaan yang hangat, dan juga tenang, sudah bukan seperti perasaan khawatir akan sesuatu.
Matanya juga sudah tidak buram, rasa sakit di matanya perlahan berangsur-angsur hilang.
“Jangan sampai memakai Mata Masa Depan lebih dari 60%!” Reza menuliskan kalimat itu dalam-dalam di ingatannya.
“Oke, hari yang tenang tak lama lagi berakhir, rasanya hariku terlalu padat, saya ingin ambil libur panjang sepertinya setelah turnamen puncak ini, setidaknya berkumpul bersama keluarga baru,” gumam Reza.
Reza memasuki ruangannya dan segera membuka kaos hitam polosnya, tubuhnya yang rapi dengan kotak-kotak di perut membuat siapa saja akan terpesona.
Menatap dirinya, Reza tiba-tiba melamun, memikirkan sebuah mimpi yang diberikan oleh sistem yang sudah sangat lama itu terjadi.
Saat Reza usia empat tahun, di mana sosok pria dalam ingatannya yang berwajah buram pergi meninggalkannya, menurut mimpi yang sudah lama terjadi saat itu, pria tersebut adalah ayahnya.
Namun, tentu Reza masih tak begitu percaya, semua hal harus benar-benar diperhatikan dan segera dipecahkan agar hidupnya bisa tenang dalam meniti karir hingga naik sampai atasnya puncak.
Hari yang tenang dari Reza berakhir, keesokan harinya, Reza dihujani latihan yang sangat berat. Namun, latihan ini malah Reza rindukan jika sehari saja ditinggali olehnya.
“Belanda, ya?” gumam Reza.
Semifinal yang telah ditentukan, di mana Indonesia akan menghadapi Belanda dan pertandingan sebelah adalah Jepang menghadapi Korea Selatan.
__ADS_1
Pertandingan yang sangat mustahil, di mana kesempatan dua tim perwakilan Asia akan ada di final!