
Reza dan rekan-rekannya berhasil mengukuhkan kemenangan secara dramatis melalui adu penalti yang tentunya menegangkan juga.
Selepas konferensi pers pasca pertandingan yang melelahkan, Reza sebagai Pemain Terbaik dalam Laga, hanya bisa menghela napas panjang.
Istirahat demi latihan esok hari, Pelatih Tae-yong membuat peraturan yang sebenarnya ketat, tetapi masih bisa ditolerir lagi.
Reza sendiri saat ini telah membersihkan seluruh tubuhnya yang penuh keringat, seragamnya pun telah diberikan kepada penanggung jawab tim untuk dibersihkan.
Berbaring di atas kasur yang empuk, Reza menoleh kepada Marselino yang masih fokus ke ponsel pintarnya, lagipula ini masih pukul 20.30 malam.
Masih terlalu malam untuk tidur, membuat Marselino sibuk dengan ponsel pintarnya, mungkin saja ada beberapa hal yang memang penting.
Reza sendiri, fokus kepada layar digital transparan di depannya yang menunjukkan kotak hadiah karena telah menyelesaikan misi dengan baik tanpa kurang satupun.
Jantungnya berdegup kencang, entah misteri apa yang ada dibalik kotak hitam-putih.
Menekannya dengan pelan, Reza menyimak proses pembukaan kotak yang nampak menarik seperti pada sebuah gim gacha.
Kotak berputar, mengeluarkan cahaya-cahaya kemerlap, hingga meletus dan menyisakan sebuah gulungan kertas berpita merah yang melayang.
“Woahh!”
Reza menekannya, gulungan kertas berpita merah itu pun tiba-tiba muncul di atas tangannya.
“Eh?” Marselino terpana.
“Itu … Sulap! Walaaa!” Reza menjadi canggung.
“Tidak perlu menyangkal, kau terlalu aneh, seperti ada sesuatu pada dalam dirimu,” jelas Marselino.
Reza terkesiap, napasnya perlahan mulai naik turun semakin cepat dan agak tak terkendali. Keringat tentu mulai timbul dan meluncur deras dari dahinya.
“Sebenarnya … Saya robot.”
“Alah! Candaan ini terlalu garing, dahlah, saya tidur, selamat malam dan tak usah dipikirkan!” Marselino meletakkan ponselnya di atas nakas dan merebahkan tubuhnya kemudian menarik selimut untuk tidur.
‘Wah … Sepertinya Lino curiga,’ pikir Reza.
Menyisihkan masalah yang saat ini terjadi antara dirinya dan Marselino, dia kembali fokus kertas yang ada di tangannya.
Reza membuka ikatan pita merah itu, dibukanya gulungan kertas secara cepat.
Dari atas ke bawah, tulisan rapi bak komputer, tetapi masih terlihat kealamian dari tulisan tangan.
__ADS_1
“Yang terhormat, Reza Kusuma, kami telah mendirikan rumah di Inggris, Italia, Perancis, Jerman dan juga Spanyol.”
“HAAAHH!” teriak Reza yang justru mengejutkan Marselino.
Marselino beranjak dan langsung bertanya dengan tergesa-gesa, “Ada apa?”
“Saya main tap-tap burung dan malah jatuh, padahal skornya sudah dua ribu!” ungkap Reza.
Marselino pun kembali merebahkan dirinya dan membelakangi Reza, tak memedulikan Reza yang masih bangun.
“Rumah?”
...[Ya, rumah Tuan disediakan di lima negara besar itu untuk persiapan jikalau Tuan pergi ke lima negara tersebut!]...
“Persiapan jauh-jauh hari, ya?”
Reza kemudian memindahkan pandangannya kembali fokus ke kertas, yang mana baru setengah saja dia baca belum keseluruhannya.
“Menurut analisis Sistem, orangtua atas nama Bram Jaya Kusuma, dia masih ada di dunia. Kemudian letaknya masih dalam wilayah Indonesia, tepatnya Palu!”
Apa yang Reza baca membuat hatinya terasa sakit. Jantungnya semakin berdebar kencang, diremasnya kertas tersebut sembari menggerutu kesal.
“Anakmu sudah sebagus ini, tetapi kau cuma diam!” Reza cukup kesal, lagipula anak mana yang kesal dengan ayah yang meninggalkannya dirinya dan ibunya.
Reza mengambil ponsel pintarnya, dia segera mencari nomor agennya yang telah membantunya hingga kini layaknya seorang ayah yang menyayangi sepenuh hati.
“Halo, Pak Bryan. Apa saya ganggu nih?”
“Jelas ganggu, ini kau tahu jam berapa di Indonesia?!”
Reza melirik sejenak jamnya, yang mana di Qatar tepatnya Doha sudah jam 21.00, sedangkan perbedaan waktu terlihat jelas, Qatar sekitar lima jam lebih lambat daripada Indonesia.
Berarti di Indonesia sudah pukul 02.00 dini hari.
“Maaf, maaf! Kalau gitu nanti besok saja!”
“Eh! Tidak perlu, saya tahu kamu sedang tergesa-gesa.”
Akhirnya Reza menjelaskan akan ayahnya yang masih ada, juga masih berada di Indonesia tepatnya di kota Palu, hampir seluruhnya dijelaskan kecuali tentang informasi dari Sistem atau Sistem itu sendiri.
“Oke, nanti sebentar saya cari. Sekarang saya mau tidur, lelah urusin klien asal Thailand itu, dia manja sekali hanya karena kalah dari kalian!”
“Si–” Hendak menanyai siapa kliennya, Reza hanya mendapatkan suara tut tanda berakhirnya panggilan.
__ADS_1
“Ugh … Saya salah, besok minta maaf,” gumam Reza.
Reza pun membersihkan semuanya, dia menggulung kembali kertas itu dan mengikatnya dengan pita merah miliknya, disimpannya di dalam koper miliknya.
Reza merebahkan tubuhnya, menyelimuti dirinya karena udara yang terasa dingin nan kelam.
‘Siapa kau sebenarnya, Reza dan … apa itu sistem?’ pikir Marselino yang ternyata belum tidur dan terus menyimak apa yang Reza lakukan.
Hal yang tak disadari Reza, dia juga membuat kesalahan fatal karena membaca cukup lantang isi dari kertas tadi, apalagi ada kata Sistem yang sebenarnya sangat awam bagi banyak manusia atau bahkan nyaris seluruh manusia.
Definisi sistem Reza yang ditangkap Marselino sangat berbeda dari definisi sistem sesungguhnya.
Membuat rasa penasarannya menggebu-gebu dan memaksa keluar.
“Besok akan saya tanyakan,” gumam Marselino.
Ruangan kamar pun menjadi hening di dalam kegelapan dan hanya lampu kecil di atas nakas menyala.
***
Pagi yang begitu cerah, matahari bersinar terik membuat olahraga di pagi hari lebih terasa melelahkan dan memberi rasa dehidrasi yang lebih signifikan dari biasanya.
Apapun itu, di sebuah tempat pelatihan, telah dipenuhi suara ribut dari para pemain sepakbola yang berlatih, mereka adalah tim dari Indonesia yang sudah sangat serius berlatih.
Reza sendiri untuk sementara melupakan masalah ayahnya dan juga lima rumah di lima negara berbeda yang tentunya akan sangat mengejutkan.
Reza memilih untuk lebih fokus terhadap apa yang akan dihadapi nantinya, yaitu menghadapi Korea Selatan tanggal 16 Januari yang sudah tak lama lagi.
Waktu seharusnya terasa berjalan sangat cepat seiring tumbuhnya kemampuan adaptasi waktu yang lama.
Baru sehari latihan, tiba-tiba kalian sudah merasa bahwa hari pertandingan telah lewat dan kita menyebutnya kemarin.
Semua itu ada sangkut pautnya dalam hal transfer pikiran dan juga mental yang berpengaruh dalam pola pikir dan juga pola visualisasi dari seseorang.
“Iya, tidak perlu bergerak, kau tidak akan masuk starting lagi, Witan!”
“Langkahkan kakimu lebih tegas, Egy, atau kau tidak akan mendapatkan jam bermain!”
“Apa itu? Terlalu lemah untuk sebuah tendangan. Buat Reza tak berkutik, Saddil!”
Semua diberi arahan, sementara Reza berlatih seperti biasanya, dia akan menangkap hasil tendangan rekan-rekannya, selalu saja dan semuanya ditangkapnya dengan mudah. Hal ini membuat para pemain Indonesia merasa kesal sendiri.
Lagipula pernah dicoba empat bola sekaligus di arah yang berbeda-beda ditendang, Reza berhasil menepisnya dalam jarak interval lompatan yang amat singkat, nyaris tak masuk akal sebenarnya.
__ADS_1
“Oke, mungkin setelah Piala Asia ini, saya akan pulang satu hingga tiga hari di Palu, supaya bisa leluasa mencari ayah yang tak tahu diri itu.”