Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 160 - Sistem Sepakbola : Pembunuh Tendangan


__ADS_3

Perempat final terseru sepanjang sejarah piala dunia memang paling pantas dicetuskan saat ini, ketika Indonesia menghadapi Prancis dalam perebutan tiket ke semifinal.


Segel nol kedua kiper benar-benar memutarbalikkan kejadian yang telah terjadi, mampu membuat seisi stadion atau bahkan seluruh dunia bergemuruh hebat menunggu dua kiper kelas dunia membawa masing-masing tim mereka menuju puncak dunia.


Baru perempat final sudah se-heboh ini, bagaimana dengan semifinal atau bahkan finalnya nanti, ini jelas piala dunia terbaik dalam sejarah, di mana tim baru dari Asia mampu memporak-porandakan pertahanan tim-tim kelas dunia lainnya yang langganan piala dunia.


“REZA!!!”


“REZA!!!”


“REZA!!!”


“INDONESIA!!!”


Stadion bergemuruh, masih penendang kedua dari Prancis mampu meledakkan kekuatan teriakan dari para pendukung.


Penendang kedua, Dembele, merasa terprovokasi dan segera melangkah maju saat wasit meniup peluit, tetapi hal yang membuatnya akan menyesal seumur hidupnya, adalah tendangannya terbang ke angkasa.


Reza hanya tinggal tersenyum tipis, metodenya dalam memprovokasi secara halus pun telah bisa dilakukan olehnya.


Penendang ketiga dari Indonesia, Witan telah melangkahkan kakinya menuju titik putih penalti, napasnya menderu, benar-benar hal yang paling menegangkan dalam hidupnya selain membawa Sunderland menuju English Premier League dari English Championship League.


Witan berdiri di belakang bola, menatap Frederic yang menatapnya rendah padahal soal usia, Witan jelas tiga hingga empat tahun lebih tua.


Dengan cepat, Witan menjadi terpancing emosi, lantas melangkahkan kakinya dengan ayunan yang tegas, kemudian menendang bola menggunakan kaki kanan bagian dalam.


Bola melesat ke sisi kiri gawang, tetapi untuk ketiga kalinya dalam babak adu penalti, Frederic mampu menjaga gawangnya tanpa kebobolan.


“Wah, benar, entahlah, tapi seharusnya dia memiliki sistem!” gumam Reza.


Dari dalam benak Reza serta muncul layar hologram berwarna biru, segera menjelaskan kepada Reza bahwa Frederic adalah pengguna sistem.


[Frederic Henry adalah pengguna sistem yang bernama Sistem Sepakbola : Pembunuh Tendangan.]


“Namanya … Aneh, anjir!” umpat Reza sembari melangkahkan kakinya untuk mengantisipasi penendang ketiga dari Prancis, yaitu Coman.

__ADS_1


Mencoba tak memikirkannya, Reza memilih bersiap untuk menahan tendangan dari Coman.


Coman melangkahkan kakinya dengan baik dan tegas, menatap tajam sudut kiri atas yang mana itu adalah targetnya, hal ini menjadikan Reza cukup mudah untuk menyelamatkan gawangnya.


Bola ditendang, Coman pun gagal dalam eksekusinya kali ini, Reza mampu membaca arah bola dan menepisnya.


“Saya harus memecahkan fokusnya, Pembunuh Tendangan sih tidak main-main namanya,” gumam Reza.


Reza pun menatap Pelatih Tae-yong dan menunjuk dirinya, itu menandakan bahwa Reza meminta lebih awal sebagai penendang pemecah kebuntuan dalam adu penalti yang sama sekali belum mencetak skor ini.


“Reza, kau …” Pelatih Tae-yong hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Reza pun maju sebagai penendang pemecah kebuntuan dalam adu penalti ini, dia akan melakukan teknik agar kiper muda ini benar-benar terkena mental yang membuat penurunan performa.


Tentu segala hal harus dicoba demi membuat Frederic harus benar-benar melakukan kesalahan, entah itu sedikit saja.


Reza berdiri di belakang bola, menatap tajam Frederic. Dua kiper muda yang mengubah adu penalti ini menjadi sebuah hal yang sangat lama dan begitu menegangkan di satu sisi.


“Frederic, kau … Seharusnya tahu siapa saya, di dalam dirimu pasti memberitahukannya!” ucap Reza sambil memegang bola.


“Oh, begitu, apakah kau yang dikatakan oleh apa yang ada dalam diriku ini? Hahaha … Ternyata hal aneh ini ada di tempat lain juga,” balas Frederic.


“Sini, kau kiper 99, Reza Kusuma!” seru Frederic memakai bahasa Inggris yang cukup baik.


“Ya! Ini, terima tendanganku!” balas Reza sembari meletakkan bola di titik penalti. “Di kanan nanti, ya!” lanjut Reza dengan senyuman tengilnya.


Sementara itu, di Indonesia, mereka sedang menunggu dua kiper ini, apakah akan mengubah skor atau bahkan tidak sama sekali.


Citra harap-harap cemas, dia dan keluarga Vera nonton bersama di rumahnya, mereka benar-benar sulit untuk bernapas lega pada situasi ini.


Di lapangan, Reza mundur tiga langkah, dan segera bersiap dengan bertolak pinggang, menoleh ke belakang di mana rekan-rekannya juga harap-harap cemas apakah Reza akan membawa perubahan.


“Pembunuh Tendangan akan saya hancurkan!” seru Reza ketika wasit meniup peluit.


Reza melangkahkan kakinya dengan hentakan yang penuh keyakinan, matanya menatap tegas ke arah gawang tanpa mengubah postur tubuhnya yang sudah sebaik itu.

__ADS_1


“Mata Masa Depan, 90%!” lirih Reza penuh keyakinan.


Dalam sekejap, matanya menjadi cerah dengan cahaya kehitaman yang keluar, garis-garis putih mengambang, seluruh pergerakan benar-benar mampu ditebaknya dalam kesempatan yang sangat akurat sepanjang 10 detik pertama.


Frederic dari bayangan mata Reza bergerak ke kiri, tetapi hal itu tak membuat Reza menggeser bola ke kanan, alhasil dengan keyakinan dan prediksinya, Reza memilih di tengah dan dengan tendangan kerasnya.


Bola melesat begitu cepat, gesekan dengan udara tak membuat kecepatannya menurun, hingga Frederic telah bergerak ke kiri, tetapi refleksnya pun masih patut diperhitungkan.


Namun, ketika Frederic hendak menepis bola yang dalam garis lurus ini, sebuah hal aneh terjadi, nampaknya kemampuan Pembunuh Tendangannya tiba-tiba tak berfungsi baik.


Bola terus melesat hingga menghunjam gawang, sementara itu Frederic menatap kosong sarung tangannya yang mengeluarkan asap kecil, hingga terdapat sobekan di ujunh jarinya.


“Ah …”


Reza tak percaya, dengan mengandalkan kekuatan, bola itu dengan mudahnya masuk, tetapi justru lebih terkejut adalah bagaimana sarung tangan Frederic bagian ujung jarinya menghasilkan asap dan sedikit tersobek.


“Maaf,” celetuk Reza tanpa sadar mengeluarkan kekuatan tendangan maksimal yang telah diasahnya hingga sekuat saat ini.


Mata kosong Frederic tercipta, rasanya keputusasaan tiba-tiba muncul dari dalam benaknya, ketakutannya meluas dan membuatnya tenggelam dalam keputusasaan terdalam.


Frederic bergeser, dan membuat Reza mengambil tempat, menyelamatkan tendangan dari penendang keempat Prancis, yaitu Fofana.


Penendang kelima dari Indonesia adalah Egy yang seharusnya dia penendang keempat, tetapi Reza mengambil kesempatan itu untuk meruntuhkan mental dari Frederic.


Frederic berdiri dengan tatapan kosong, sementara itu ketika wasit meniup peluit, Egy menendang bola dan masuk begitu saja tanpa gerakan dari Frederic.


“Eh, anjir! Kenapa dia? Seburuk itu kah saya menjatuhkan mentalnya?” gumam Reza cukup khawatir. “Tapi … Setidaknya ini kesempatan,” lanjut Reza sembari kembali bersiap untuk penendang kelima dari Prancis, yaitu Tchouameni.


Reza berhasil menangkapnya, kemudian Marselino bersiap di belakang dan menendang menggunakan kekuatan ketika wasit meniup peluit.


Frederic yang benar-benar mentalnya telah jatuh pun sekali lagi tak bergerak, hal ini membuat Indonesia melaju ke semifinal dengan cukup dramatis dan terasa aneh karena Frederic sebelumnya sangat kuat, tetapi tiba-tiba memburuk saat Reza yang mengambil eksekusi keempat tadi.


Reza tidak langsung merayakan dengan selebrasi bersama rekan-rekannya dan staf kepelatihan, dia lebih memilih menuju ke Frederic yang terduduk dengan pandangan kosong.


“Maaf,” ucap singkat Reza.

__ADS_1


Frederic menatap Reza dengan pandangan yang cukup hidup, dia tersenyum kemudian berkata, “Pembunuh Tendangan adalah sistemku, tetapi dipatahkan dengan sistem Kiper Legendaris, memang patut kau adalah legendaris!”


Reza pun bernapas lega, Frederic nampaknya tidak begitu merasa kecewa dengan hasil ini dan memilih untuk maju ke depan demi Piala Dunia 2030 nantinya.


__ADS_2