
Palu, Indonesia.
Saat itu, nyaris seluruh sudut kota diramaikan dengan teriakkan kekesalan mereka, padahal ini masih pagi hari, justru adalah saatnya kerja mencari uang.
Namun, untuk pertama kalinya Indonesia membuat sistem absen di rumah, demi menciptakan keramaian tiada tara di seluruh penjuru Indonesia, pemerintahan memberlakukan sistem ini dalam jangka sebulan untuk hal ini.
Siapa yang sangka, Indonesia, yang katanya beberapa bagian pemerintahannya agak kurang, sekarang semakin saja berkurang karena keefektifan dan efisiensi mereka justru juga berkurang.
Namun, siapa yang tidak ingin mendukung Indonesia walau hanya dari balik layar televisi saja, hal ini membuat kejadian ini sangat langka dan kemungkinan terbesarnya adalah kejadian ini tak akan pernah terjadi lagi ke depannya.
Meski begitu, sistem sebulan ini tidak begitu banyak membuat masalah, justru para pekerja menjadi lebih bekerja keras karena sangat semangat ketika Indonesia memasuki piala dunia untuk pertama kalinya.
Hal ini berlaku bagi Citra, dia yang saat ini sedang mengisi absen pagi, masih begitu fokus menatap televisi, kemudian di tangannya juga ada beberapa lembar dokumen yang hendak dikerjakannya.
“Ya! Gooolll!” Citra berseru, sementara itu, seisi kompleks juga bergemuruh dengan teriakan yang begitu menggelegar.
Ini adalah gol yang diciptakan oleh Reza dari aksinya bersama tujuh rekan lainnya, dengan umpan satu-dua yang baik, koordinasi tanpa putus, membuat serangan ini menjadikan Spanyol seperti dipecundangi.
Dari segi kekesalan, Spanyol semakin memuncak, negara yang katanya kuat dalam persepakbolaannya bisa dibobol oleh negara yang baru saja bangkit ini, begitu memalukan.
Stadion NRG, Houston, Amerika Serikat.
Reza dan rekan-rekannya yang telah kembali ke posisi masing-masing segera menunggu para pemain Spanyol untuk memulai kembali pertandingan.
Dari kaki Asensio, kick-off diberlakukan dan segera diumpan ke belakang yang mana Gavi mendapatkannya. Sempat terdiam sejenak, Gavi menatap tajam Reza yang berdiri fokus di bawah mistar gawangnya.
Reza menyadari sesuatu, kemudian berkata kepada rekan-rekannya, “Awas, serangan dari Spanyol!”
Rekan-rekannya Reza mengangguk paham, mereka dengan formasi yang terkoordinir pun langsung menempatkan sesuatu posisi mereka, penjagaan zonasi hingga penjagaan perseorangan dilakukan.
Tanpa mencoba berpikir panjang lagi, Gavi berakselerasi sejenak kemudian segera memberikan bola ke sisa kanan yang mana Fati sedang bergerak dikawal Robi.
Ansu Fati awalnya tak ingin menerima bola, tetapi sayangnya bola telah benar-benar datang dan mau tidak mau mencoba untuk mengendalikannya di tengah kawalan ketat Robi.
__ADS_1
Robi terus beradu fisik dengan Fati, sama-sama pemain yang memiliki tubuh cukup ramping, tetapi kuat ini pun saling duel hingga salah satunya terjatuh.
Fati terjatuh, dan itu dianggap sebagai pelanggaran oleh wasit asal Jepang, Takumi, dia segera berdiri di titik pelanggaran dan menyemprotkan sejenis cairan berwarna putih yang akan cepat hilang.
Robi yang hendak memprotes pun langsung segera dibawa ke kotak penalti oleh Marselino.
Marselino menepuk-nepuk punggung Robi sambil berkata pelan, “Sabar, entah itu kau anggap tidak pelanggaran atau iya, jangan terpancing, lima menit lagi babak pertama berakhir, jangan buat drama!”
Robi hanya bisa menghela napas, dia menatap Fati yang tersenyum tipis, sehingga Robi pun hanya bisa menggerutu kesal.
Tendangan bebas dari sudut kotak penalti, jika ditarik garis lurus, maka berjarak sekitar 28 meter dari garis gawang. Hal ini membuat Reza berpikir bahwa tendangannya adalah umpan bukan langsung ke gawang.
“Kanan sedikit, ya, stop, boleh!” seru Reza yang mengatur pagar pemain, berjumlah dua saja.
Sementara itu, di dalam kotak penalti, ada empat pemain Indonesia yang sebenarnya ini terbilang simpel dan sedikit, itu berbanding terbalik daripada para pemain Spanyol yang nyatanya menumpuk para pemainnya hingga hanya menyisakan dua saja di lapangan tengah.
“Jika saya tangkap, serangan balik menjadi bencana bagi mereka,” gumam Reza.
“Empat ke depan, semua posisi lini depan sama Marselino, berdiri di luar kotak penalti, agak condong ke depan dengan niat serangan balik!”
“Bagus, arahanmu searah denganku, bagaimana jika kau saya didik jadi pelatih di usia muda, merangkap pemain juga, itu prospek bagus bagi Indonesia,” gumam Pelatih Tae-yong.
Tendangan bebas dilakukan, ketika Pedri melepaskan umpan ke dalam kotak penalti, terjadi kekacauan yang membuat Reza memanfaatkan keadaan.
Dia melompat, sangat tinggi hingga kakinya kemungkinan besar jika diukur secara detail maka setinggi perut rekan-rekannya, atau kurangnya di sekitaran pinggangnya.
Reza mampu memetik bola, mendaratkan kakinya dengan kuat dan langsung melakukan manuver di ruang sempit, bergerak dengan bola masih di tangan, ketika keluar garis kotak penalti, Reza menjatuhkannya.
Reza membawa bola, kemudian empat pemain, Kwateh, Sananta, Witan hingga Marselino pun bergerak serentak membawa instrumen kepanikan bagi para pemain Spanyol.
Bagaimana tidak panik, dua pemain yang disisakan mundur dengan tergesa-gesa, Balde dan Torres bahkan dengan paniknya saling bertabrakan hingga waktu mereka mundur semakin sempit.
“Sekarang, lima lawan dua!” teriak Reza.
__ADS_1
Bagai gelombang tinggi yang menghantam apa saja yang dilewatinya, kelima pemain Indonesia ini terus berakselerasi, saling memberi bola sepanjang mereka berlari.
Melewati garis tengah lapangan, para pemain Spanyol yang terlambat untuk transisi pertahanan pun kocar-kacir dibuat oleh Reza dan rekan-rekannya.
“Bang Witan, ambil!”
Reza memberikan umpan terobosan, melewati Balde dan Torres, Witan mendapatkannya dan sekarang dia benar-benar sangat bebas hingga terus berlari sampai ke gawang yang dijaga Simon.
“Buat gol, jangan memalukan nama Kota Palu!!!” pekik Reza.
Witan menjadi terpancing, lantas menambah kecepatan dan meninggalkan Balde serta Torres di belakangnya beberapa meter.
Sementara itu, Kwateh, Sananta dan Marselino juga tetap berlari, mencoba mengawal pergerakan Witan, jika sewaktu-waktu ada yang mengganggu, maka mereka bisa melakukan pengawalan dengan maksud positif.
Seisi stadion bergemuruh, hal yang seharusnya sulit terjadi, tetapi tiba-tiba saja terjadi menciptakan suporter yang hanya bisa mengekspresikan dirinya dengan terbelalak melihat betapa dipecundanginya Spanyol bagi Indonesia.
Spanyol berada dalam cengkeraman cakar Garuda, begitu tak berdaya, menjadikan pertandingan yang harusnya mustahil malah membuat kemustahilan ini terjadi.
Witan terus berlari, hingga dia berhadapan dengan Simon, mencoba melakukan gerakan tipuan, Witan berhasil melewatinya dengan menggeser bola ke kiri.
Simon hanya sempat menyentuh sedikit bola, tetapi benda itu masih dalam penguasaan Witan tanpa terkecuali, dengan sontekan kecil saja, Witan mencatatkan namanya di papan skor.
Wasit meniup peluit, berbarengan dengan berakhirnya babak pertama. Witan mencetak gol, babak pertama berakhir.
Spanyol pun dikalahkan pada babak pertama, entah bagaimana mereka akan mencoba bangkit, tetapi sayangnya itu akan sangat sulit melihat betapa mengerikannya Reza di bawah mistar gawang.
Hari yang bahagia nan indah pun terjadi bagi seluruh rakyat Indonesia, dengan empat puluh lima menit membosankan selanjutnya, Indonesia memastikan satu tiket ke perempat final Piala Dunia 2026!
Indonesia, akan menunggu siapakah lawan selanjutnya antara Prancis dan juga Denmark.
“Ah … Meski belum tahu tentang keberadaan ayah yang masih misteri, dan kata sistem ada dalam jajaran staf pelatih Milan, tapi saya cukup senang dengan semua ini,” gumam Reza sambil memandang para pendukung yang perlahan pulang.
Reza masih sangat penasaran akan keberadaan ayahnya, dia akan mencoba mencari tahu, entah sampai kapan, dia tetap akan berusaha selagi keyakinan itu masih ada, terus mencoba adalah hal yang harus dilakukan.
__ADS_1
Jangan menyerah hanya dalam sekali atau dua kali percobaan, lakukan sampai beribu-ribu kali hingga apa yang ingin kalian capai terwujud, itulah prinsip Reza Kusuma.