
Di hari esok pada tanggal 17 Januari, Reza bersama Citra dan Agen Bryan bersama melakukan pendaftaran pemindahan sekolah bagi Reza.
Sekolah ini yang juga akan menjadi tempat bernaung Reza selama masanya. Entah Reza memutuskan fokus ke sepakbola dan putus sekolah, atau tetap melanjutkan sekolah dengan kemungkinan harus sering izin karena karir sepakbolanya.
Reza saat ini duduk di kursi dan menghadap kepala sekolah tempatnya menimba ilmu di Slowakia nantinya. Pria paruh baya dengan kumis putih tebal di bawah hidung, rambutnya yang mulai memutih karena umur.
“Tuan, bagaimana dengan persyaratan yang klien saya inginkan?” ucap Agen Bryan yang saat ini duduk di samping kanan Reza.
Citra sendiri berada di sisi kiri dan sedang menyimak dengan memegang smartphone yang menyala fitur terjemahan otomatis.
“Begini, Tuan Bryan. Menurut kami, jelas anak Nyonya Citra ini dapat menimba ilmu di sini,” jelas kepala sekolah yang bernama Dusek Vincenck.
“Wah … seperti nama anda, berjiwa pemimpin. Mampu melihat talenta klien saya dan memimpinnya ke jalan kebenaran!” Bryan mencoba sedikit meninggikan derajat Dusek.
Dusek sendiri hanya tersenyum. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat Bryan melakukan hal yang menurutnya percuma.
Setelah pendaftaran itu, akhirnya Reza telah resmi menjadi murid High School Trenčín Sport. Sekolah yang menampung para atlet olahraga untuk mereka menimba ilmu, kebanyakan ada yang tak sampai lulus dan memutuskan lebih fokus ke karir atlet.
***
Reza saat ini berada di asrama yang disediakan oleh klub. Agen Bryan sendiri saat ini sedang sibuk mengurus beberapa hal, seperti mengurus permasalahan beberapa kliennya.
Sedangkan ibunya, Citra, sedang beristirahat di sebuah penginapan yang cukup murah. Hanya 50 Euro per hari. Dan Citra menyewanya selama 5 hari, itu adalah waktu yang dia tetapkan untuk membimbing Reza selama di Eropa, setelahnya dia akan kembali ke Indonesia dan bekerja.
Reza memerhatikan kamar asramanya. Kamar, tidak, asramanya ini terlihat seperti rumah sederhana. Memiliki sebuah kamar, ruang tengah dan juga dapur kecil serta kamar mandi.
Di dalam kamar, hanya ada tempat tidur, lemari setinggi dua meter berada di sudut ruangan. Kemudian ada meja belajar tepat di samping tempat tidur.
“Ini … asrama semewah ini dengan harga sewa sebulan hanya seratus Euro saja?” gumam Reza.
Dia sudah mengetahui beberapa konversi mata uang dan neraca keuangan. Menurutnya itu sudah terbilang murah, sebulan seharga 1,6 juta rupiah lebih. Yap, sebulan.
Sedangkan gajinya saja dalam sebulan sudah berkali-kali lipat dari pembayaran asramanya, gaji sebulannya sebanyak 840 Euro atau jika dikonversi ke rupiah menjadi 13,89 juta rupiah. Itu adalah jumlah yang fantastis jika dirupiahkan. Kalah-kalah gaji Pegawai Negeri Sipil di Indonesia.
Reza merebahkan tubuhnya di atas kasur yang cukup empuk. Dia menatap jam di layar smartphone nya. Masih pukul sepuluh pagi.
__ADS_1
Waktu sekolah juga mulai ketika semester dua dilaksanakan yang pada awal Februari nanti. Dengan ini, Reza akan mencoba beradaptasi di lingkungan yang sangat berbeda daripada Indonesia, khususnya kota Palu yang terkenal panas karena dilintasi garis khatulistiwa. Kota Palu ke Slowakia. Itu sangat menyiksa fisik saat perubahan drastis lingkungan.
Reza keluar dari kamar asramanya. Dia berjalan di lorong gedung, setiap pintu terdapat nama sang pemilik asrama. Kebanyakan asrama kosong dan hanya ada 3 kamar dari 15 kamar asrama yang tersedia.
Reza keluar dari gedung utama asrama. Melihat lapangan mini di seberang gedung, dia segera melangkahkan kaki menuju ke sana tanpa ragu.
Reza sesekali melirik kanan dan kirinya. Situasinya masih cukup sepi karena liburan musim dingin sendiri belum berakhir. Liburan ini akan berakhir sekitar seminggu lebih sebelum laga selanjutnya dilangsungkan.
Setelah beberapa saat berjalan, Reza sampai di lapangan mini tempat di mana pelatihan biasanya dilaksanakan. Melihat sebuah kedung kecil di sisi lapangan mini itu, Reza merasa itu adalah tempat di mana alat-alat latihan diletakkan.
Reza berjalan ke arah gedung itu, dia mencoba membuka pintunya. Pintu gedung itu terbuka dan menampakkan alat-alat latihan yang begitu lengkap. Ada kerucut, tiang lunak untuk alat zig-zag, ada juga beberapa piringan kecil, tangga langkah cepat dan beberapa alat latihan lainnya.
“Wah … lengkap kali,” celetuk Reza.
Dia pun mengambil selusin kerucut. Namun, tiba-tiba suara notifikasi mengejutkannya.
...[Ding! Tuan … Sistem Kiper mendeteksi adanya niat Tuan untuk berlatih sejenak dalam beradaptasi di lingkungan yang agak dingin ini.]...
...[Waktu pelatihan : 2 jam]...
...[Hadiah : Minuman isotonik kelas Spesial 12×]...
Sejak setengah tahun lalu saat dia menerima sistem, Reza belum mendapatkan misi seperti ini. Sistem terlalu sering diam, bahkan dalam sebulan tak pernah berkomunikasi atau sekedar mengeluarkan misi kecil.
“En … apa itu minuman isotonik kelas Spesial?”
...[Minuman isotonik kelas Spesial adalah minuman yang diperoleh dari tujuh mata air dari masing-masing aliran di seluruh dunia kemudian diolah dan menghasilkan beberapa mililiter dari ratusan liter air.]...
...[Kemudian dengan memberikan beberapa bahan rahasia yang bahkan sistem Kiper tak mengetahuinya, minuman ini juga didiamkan selama beberapa bulan sebelum menjadi hadiah bagi Tuan.]...
...[Minuman ini membuat tenaga Tuan yang habis total bisa pulih secara 100% selama 5 jam ke depan tanpa henti. Tenaga Tuan akan bisa digunakan dengan segala pekerjaan apapun, khususnya sepakbola.]...
Mendengar penjelasan sistem, Reza menganggukkan kepalanya. Dia tidak menyangka minuman isotonik kelas Spesial selama dan serumit itu dalam pembuatannya.
Reza kemudian menyadari sesuatu. Sejak dia mendapatkan sistem, kemungkinan besar sistem sedang mengolah minuman isotonik itu dalam beberapa bulan hingga misi-misi kecil yang menghadiahkan minuman isotonik tersebut belum diluncurkan.
__ADS_1
“Wah … jadi selama ini sistem juga menunggu pengolahan minuman ini untuk memberikan sebagai hadiah misi?”
...[Seperti yang Tuan katakan.]...
“Tunggu, sebenarnya sistem ini diciptakan siapa?”
Sang sistem pun otomatis terdiam dan sama sekali tak menjawab pertanyaan Reza.
Reza yang melihat itu hanya menghela nafas dan segera mengambil kerucut serta sebuah bola di sana. Kemudian tangga langkah cepat juga dia ambil yang sepanjang lima meter.
Dia meletakkan dan menyusun semuanya menjadi rapi di lapangan mini. Aktivitasnya ini diperhatikan beberapa pemain yang memang sudah datang untuk melapor bahwa liburan musim dingin mereka telah berakhir lebih awal.
“Siapa pemuda itu?”
“Kiper kontrak awal.”
“…”
Percakapan di antara mereka tak membuat Reza terganggu. Bahkan dia sama sekali tak mendengar dan melihat beberapa pemain sedang saling berbincang.
Reza kemudian meletakkan bola di tanah dan menyiapkan tubuhnya dengan pemanasan beberapa menit. Itu dilakukan agar sendi-sendi nya bisa hangat dan tak kaku nantinya.
Setelahnya, dia mulai menggiring bola melakukan gerakan zig-zag melewati kerucut latihan. Dengan lihainya, dia memainkan bola di antara kakinya seperti menempel dan rapi.
Gerakannya sungguh mulus dan terkoordinir lebih baik. Kaki kanan bergerak untuk menyentuh dan membuat bola bergeser, lakukan langkah kecil dan segera menggeser bola lagi ke arah berlawanan. Lakukan itu berulang kali hingga deretan kerucut telah habis.
Aktivitas itu dilakukan beberapa kali, kemudian Reza melakukan langkah cepat di atas tangga tali yang saling tersambung. Langkahnya begitu cepat dan gesit, tangga itu terlewati cukup mudah.
Melihat apa yang dilakukan Reza, beberapa pemain lain mulai menaruh hormat tinggi terhadap Reza. Latihan di tengah dinginnya udara, tetapi tak membuat Reza mengurungkan niatnya.
Reza kemudian melakukan gerakan giringan bola dan menendang bola untuk tepat memasuki lingkaran yang digantung di mistar gawang.
Bola beberapa kali sulit memasuki lingkaran, hingga percobaan sekian kali, bola berhasil memasuki lingkaran.
Sebenarnya ini bukanlah latihan yang cocok baginya, tetapi dia berharap sang pelatih mau mengikuti banyak rencana gila miliknya. Seperti salah satunya menggiring hingga tengah lapangan atau bahkan hingga ke gawang lawan!
__ADS_1
Gerakan latihan lainnya terus dia lakukan secara konsisten selama 2 jam tanpa henti. Hingga notifikasi sistem menandakan bahwa misi telah selesai dan hadiah dari misi itu akan otomatis masuk ke fitur penyimpanan.
“Wah! Selusin ini akan saya pakai dengan efisien. Saya pakai jika tenagaku benar-benar terkuras habis.”