
Dua tahun sejak bagaimana Reza dan Bram bertemu, itu adalah pertemuan yang jelas akan diingat oleh keduanya.
Apalagi ketika Bram pulang ke Indonesia kembali, di mana Citra, istrinya sendiri nyaris dilaporkan penganiayaan dalam rumah tangga.
Hal itu terjadi karena kaki Citra benar-benar melayang dan menghantam wajah Bram hingga Bram jatuh tersungkur di lantai. Beruntungnya Bram malah senang, karena tak mungkin juga istrinya akan diam saja saat pertemuan itu terjadi.
Dalam dua tahun ini, banyak hal yang Reza lewati, dia yang hengkang ke The Chelsea, untuk sekali lagi membuat sejarah di mana kiper dengan perolehan gol terbanyak bahkan topscorer dalam satu musim pertamanya.
Reza mampu mencetak 26 gol dari keseluruhan pertandingan, dia bahkan bersaing dengan Haaland yang berusia 28 tahun cukup kesulitan karena betapa mengerikannya pengebom satu ini.
Haaland nyaris menyalipnya diakhir pertandingan Manchester Blue saat tandang ke Cystal Pal, tetapi beruntungnya saat itu golnya hanya mampu menyamai gol dari Reza.
Reza menang diakumulasi assist yang mana dia memiliki empat assist, selisih dua assist dari Haaland.
Reza memboyong penghargaan Premier League pertamanya, meski sempat dalam sebulan dia sama sekali tak bermain karena cedera engkelnya yang mengharuskannya mundur sejenak.
Saat ini, Reza sedang tergesa-gesa, sangat tergesa-gesa. Dia mengendarai mobilnya benar-benar ugal-ugalan di tengah padatnya jalanan Inggris Raya.
Hal ini karena suatu sebab, di mana istrinya, Vera benar-benar akan segera melahirkan. Sesuatu yang membuat kiper setenang Reza di bawah mistar gawang harus benar-benar panik bukan kepalang.
“Mi–Minggir woy!” Membunyikan klakson, hingga seorang seorang pengemudi mencoba mendahuluinya.
Pengemudi itu menatap Reza yang tergesa-gesa, sudut matanya mendapatkan seorang wanita sedang sesak napas di kursi bagian tengah.
“Melahirkan?” gumam pengemudi tersebut.
Mobil sedan hitamnya pun mendahului mobil Reza, hingga dengan cekatan sang pengemudi memasang sirine kecil di atas mobilnya, ini adalah mobil polisi swasta yang dikelola oleh suatu perusahaan pembantu kepolisian dalam masa-masa genting.
Pengemudi itu adalah polisi yang sebenarnya lagi mengambil cuti, hanya saja melihat keadaan yang nampaknya sangat genting ini pun dia bertindak sesuai hati nuraninya.
Dengan pelantang suara, polisi bernama O'Neil berteriak, “Mohon menepi, keadaan genting!”
Reza benar-benar merasa terbantu, hal ini membuatnya langsung menginjak gas mobilnya mengikuti mobil di depannya, bahkan sangking cepatnya mobil kelas sport tersebut, mobil polisi di depannya nyaris didahului kembali.
“Ini … Dalam pertandingan sepakbola, saya tak begitu panik, kenapa sekarang baru panik?!!” gumam Reza.
Reza, seorang pria berusia 22 tahun, melajukan mobilnya di jalanan perkotaan hingga dia benar-benar sampai di sebuah rumah sakit.
Di sana, Reza memberi anggukan kepala dan jempol kepada orang yang dia tak tahu siapa, hanya saja dia akan mengingat plat nomor atau bahkan wajah penolongnya tersebut.
__ADS_1
Di tandu sorong rumah sakit, Reza berlari menuju ruang operasi, berharap-harap cemas tentang keadaan istrinya, hingga sekitar 30 menit kemudian, seorang perawat mempersilahkan masuk.
“Sayang!” seru Reza menghampiri Vera.
“Sayang, bu–bukannya kamu ada pertandingan malam ini?” tanya Vera begitu lemah.
“Ayolah, lupakan itu, kamu lebih penting!” balas Reza.
Reza celingak-celinguk, mencari keberadaan anak pertamanya, hingga seorang perawat menghampirinya dan mengatakan anaknya berada di sebelah tirai dan sedang dibersihkan.
“Reyga!” seru Reza, menatap haru anak laki-laki pertamanya tersebut.
“Rey saja, Sayang!” seru Vera mencoba lebih bersemangat.
“Reyga Kusuma, dipanggil Rey, semoga kamu menjadi anak yang berbakti kepada orangtuamu, kami,” ucap Reza.
Hari itu, tanggal 26 Juni 2028, tepat di hari ulang tahun Reza, bayi laki-laki pertama pasangan suami istri bernama Reyga Kusuma telah lahir ke dunia.
“Haaa … Administrasi dan lain sebagainya, nanti saya yang urus, yang penting semua fasilitas memadai untuk istri saya!” ucap Reza pada seorang dokter.
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya, dia benar-benar mendapatkan pasien, istri dari bintang sepakbola dunia.
Reza duduk dengan tenang, sekarang ketenangannya benar-benar seperti air yang tak tersentuh apa pun, sangat tenang hingga pintu dari rooftop terbuka dan menampakkan pria dengan raut wajah khawatir.
“Huh?! Sejak kapan kamu di sini, Bang Witan?” tanya Reza.
“Sejak kapan, sejak kapan, ini saya bela-belain ke sini sebelum pertandinganku,” balas Witan sedikit kesal.
Reza hanya tersenyum, sekarang dia telah menjadi ayah dari bayi bernama Reyga, dia harus menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya.
Sedangkan, Witan saat ini duduk di samping Reza, merangkul pundak Reza begitu hangat.
“Tak saya sangka, ternyata anak laki-laki berusia 16 tahun waktu itu sekarang telah menjadi ayah,” ungkap Witan dengan senyuman cerahnya.
Reza hanya menunduk, perasaannya diselimuti sebuah perasaan di mana dia harus bertanggung jawab sebagai ayah yang baik, jangan sampai meninggalkan keluarga demi karir, ini adalah pertaruhan.
“Merenung? Jangan katakan sesuatu, jangan katakan kau sedang memikirkan tanggung jawabmu sebagai ayah jika kau melanglang-buana ke penjuru Inggris Raya, jadi tak sempat menjaga istri dan anakmu,” seru Witan.
Witan berdiri dan berjalan ke pinggiran rooftop di mana ada pagar pembatas di sana, dia bersandar pada pagar pembatas itu dan mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
“Lihatlah itu, tak lama lagi senja akan datang, pikirkan masalah yang akan kau hadapi ke depannya, saya yang berusia 27 tahun, jelas merasakan itu!” jelas Witan.
Reza semakin menundukkan kepalanya, dia cukup merasa dilema, entah mengapa akhir-akhir ini, aktivitasnya membuatnya sangat bosan. Dia mungkin adalah pesepakbola pertama yang selalu merasa bosan dan seperti tak ada tantangan.
Reza berdiri, dia menghampiri Witan, ikut menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas, menatap matahari yang hanya menyisakan cahaya jingga hingga kemerahan.
Kemudian dia menoleh kepada Witan, dengan tekad yang tak akan pernah padam entah kapan pun itu, dia meletakkan tangannya di dadanya dan berseru, “Ya, saya rasa tidak harus menyerah, kita hanya bisa pantang menyerah demi meraih apapun itu dengan segala rintangan!”
“Bagus, saya mau lihat kamu yang berusia 16 tahun, dari pandanganku, kamu seperti kembali ke usia 16 tahun yang saat itu benar-benar bertekad membawa Indonesia menjuarai piala dunia,” ungkap Witan.
Sementara itu, matahari semakin tenggelam di balik gedung, dengan semakin gelap saja langit, Reza pun menatap senja itu begitu lekat.
Reza mengumpamakan bahwa senja itu adalah masa depannya yang perlu dilewati dengan tantangan, di mana ada masa tenggelam hingga terbitnya terang.
Reza, berterima kasih, dia benar-benar berterima kasih dengan keadaannya yang seharusnya sangat spesial ini.
“Terima kasih semuanya,” gumam Reza sembari mengingat panjangnya perjalanannya hingga sampai seperti ini.
...----------------...
...Arc 6...
^^^Kiper Legendaris Berakhir^^^
...----------------...
Terima kasih untuk semuanya, kurasa ini adalah perpisahan, ya, seharusnya seperti itu. Reza, dia akan menatap senja, menatap masa depannya bersama rekan-rekannya dan keluarganya yang mendukungnya.
Reza, Vera, Citra, dan semuanya, pamit undur diri, perjalanan jauh ini tak berarti tanpa kalian, saya sangat berterima kasih, sangat-sangat berterima kasih.
...----------------...
Post Credit.
“Hoaaaam … Tahun ini teknologi begitu maju, rasanya apa yang harus aku lakukan sebagai penerusmu, ayah,” ucap seorang anak berusia 15 tahun.
Matanya menatap sayu kepada seorang pria dewasa yang memberikannya sarung tangan berwarna hitam dengan bercorak putih, memiliki banyak sobekan di mana-mana.
“Ya, ikuti keinginanmu.”
__ADS_1