
Bola yang diawali dari kaki-kaki para pemain Iran, mereka saling memberi umpan dan membangun serangan dari bawah.
Taremi, salah satu penyerang tengah dari Iran bergerak cukup bebas di antara para pemain Indonesia yang masih mencoba merangkai pertahanan.
“Melebar, melebar!” teriak Pelatih Shin, dengan isyarat tangan juga.
Tujuan dalam formasi melebar ini untuk mencoba meminimalisir pergerakan sayap dari Iran. Takutnya, mereka akan melepas umpan silang yang bagi para pemain Indonesia bisa saja kalah dalam duel udara.
Meski sehebat apapun kemampuan Reza, Pelatih Shin tentu masih sangat khawatir. Lagipula sepakbola adalah permainan tim, jadi tim mumpuni lah yang akan meraih hasil terbaik pada akhir laga.
Semua ditentukan oleh kemampuan dan juga … Keberuntungan!
“Sisi kanan, awas kosong!” teriak Reza begitu lantang di tengah riuhnya stadion.
Stadion Al-Janoub yang berkapasitas sekitar 40.000 kursi itu telah dipenuhi oleh fans Iran dan juga Indonesia yang tak kalah ramainya.
Para suporter Indonesia, Ultras Garuda berada di tribun Timur yang mana di sisi kiper Iran, Beiranvand, hal ini mungkin membuat banyak pemain profesional akan gugup.
Namun, Beiranvand adalah bintang kiper Iran, dia jelas tak memedulikannya dan tetap fokus pada laga saat ini.
Aku hargai itu semangat perjuanganmu~
Yo ayo, ayo indonesia
Ku ingin kita harus menang~
Yo ayo, ayo indonesia
Ku ingin kita harus menang~
Lagu-lagu chants dari Ultras Garuda dikumandangkan, membuat seperti ada energi tersendiri yang masuk ke dalam tubuh para pemain Indonesia.
Reza yang saat itu seusai menangkap hasil tendangan jarak jauh dari Taremi, beranjak dan berlari hingga ke tepi kotak penalti.
Dia mengayunkan tangan kanannya ke depan, postur tubuhnya mengikuti gaya tolakan dari arah bola yang menghasilkan gaya pegas membuat bola terhempas jauh membentuk menyerupai busur jatuh.
“Itu dia! Lemparan rekor dunia dikeluarkan!” seru sang Komentator.
Sementara, di stadion semakin bergemuruh, bola yang terus melambung cepat dan semakin jauh melewati garis tengah itu hendak diterima oleh Sananta.
Sananta melirik ke atas, memprediksi, bola akan jatuh sekitar beberapa meter di depannya jika larinya dalam kecepatan konstan seperti ini.
__ADS_1
Para pemain Iran yang terlambat melakukan transisi hanya susah payah untuk terus turun, sementara kiper Iran, Beiranvand, sedang bersiap sewaktu-waktu Sananta mendapatkan bola.
Hendak maju juga, terlalu berisiko karena Sananta lebih dekat ke arah bola.
Mengejar bola yang semakin mendekati tepi kotak penalti, Sananta melirik sejenak gawang yang kemudian ketika bola jatuh tepat di depannya, kaki kanan sudah bersiap mengayun.
Kakinya begitu tegas, ayunannya benar-benar terasa kuat. Ketika sentuhan antara bola dan sepatu, sebuah dentuman kecil di tengah riuhnya stadion terdengar.
Sananta, penyerang muda Indonesia, melepaskan tendangan supermasif ke arah gawang Alireza Beiranvand.
Bola melaju pada jalur lurus dalam kecepatan konstan yang jika dihitung menggunakan alat bisa secepat nyaris 100 km/h.
Tendangan keras, tetapi kiper Iran sendiri masih dalam keadaan primanya, itu sebab dia dapat mengulurkan tangan kanannya diikuti lompatan tubuhnya.
Bola berhasil ditepis, tangannya bergetar!
“Ssshh …”
Tarikan napas para penggemar seperti terdengar begitu nyaring, mereka sangat antusias dalam proses terjadinya peluang ini.
Pertandingan terus berlangsung selama beberapa menit ke depan, hingga serangan dari Iran benar-benar membahayakan gawang Indonesia, khususnya Reza.
Dari sisi kanan, Gholizadeh, melakukan overlap sembari membawa bola di kakinya. Bola begitu lihai diolah sehingga Shayne yang memang menjaga agak kesulitan.
“Mundur, mundur! Marc!” seru Jordi secara cepat.
Marc Klok, gelandang bertahan Indonesia segera mundur membantu pertahanan. Lantas Sandy juga seperti itu, menyisakan Marselino dan juga Evan yang berada sekitar 10 meter dari tepi kotak penalti.
Jordi melakukan duel fisik bersama Gholizadeh, keduanya cukup seimbang hingga sulit menentukan siapa yang akan kalah dalam duel kali ini, wasit sendiri sedang bersiap dan memfokuskan pandangannya jika sewaktu-waktu terjadi pelanggaran.
Asnawi dari sisi kanan juga membantu sembari mengawal Amiri yang terus bergerak bagai belut.
“Hati-hati! Jangan sampai lengah!” jelas Reza.
Saat ini, masa-masa krusial benar-benar terjadi di sekitaran area kotak penalti, Gholizadeh yang membawa bola dan terus dibayang-bayangi Jordi menjadi kesal.
Dia lantas memberi bola ke tengah, tepat di depan kotak penalti, tepi bagian luar telah bersiap Ghoddos dalam menyambut umpan itu.
Ghoddos yang mendapatkan bola, mencoba menendang, tetapi sayang ruang tembaknya telah ditutup rapi oleh Reza.
Ghoddos melirik ke depan kiri, di sana ada Taremi yang menunjuk ke depan.
__ADS_1
Marc yang menjaga Taremi sempat lengah hingga dia disalip, Taremi diberikan bola terobosan oleh Ghoddos.
Taremi, secara langsung berhadapan dengan kiper ajaib, kiper termuda, pemain termuda yang seharusnya pengalaman itu belum banyak. Namun, Reza sudah mampu menunjukkan pengalaman yang banyak –Liga Champions!
Taremi berniat memberi bola mendatar di sisi kiri Reza, dengan teknik yang halus tanpa stagnasi, Taremi menendang bola secara cepat dan tepat di permukaan bagian tengah.
Bola bergerak mendatar dengan sangat cepat, Reza dengan refleksnya dan juga sempat melihat beberapa detik ke depan menggunakan Mata Bijak, merendahkan tubuhnya dan menekuk kakinya.
Kakinya tertekuk ke kiri seraya tangan juga sebagai gerakan lanjutan. Bola itu menghantam kaki kiri Reza yang diteruskan kepada tangannya.
Bola terpantul, beruntungnya kepada Shayne yang saat itu berhasil menipu Gholizadeh dalam pergerakan spin miliknya.
Shayne langsung maju, melakukan transisi serangan balik cepat tanpa kompromi.
Transisi pertahanan Iran juga tak kalah cepat, kemudian hal yang tak terduga, Shayne melakukan umpan diagonal ke sisi kanan penyerangan yang mana Lilipaly bergerak sangat bebas dan lepas dari jebakan off-side.
Lilipaly, dia berhasil menggeser bola dua meter di depannya, meninggalkan bek kiri Iran yang tertinggal. Langkahnya cepat dan gesit.
Dari tengah, Hosseini, berniat mengecilkan ruang gerak Lilipaly sambil menunggu rekan-rekannya dalam bertransisi ke negatif.
“Cih!”
Lilipaly berhenti secara tiba-tiba, menggeser bola ke belakang dan memberi kepada Marselino yang langsung menendang ke sisi kiri jauh yang mana Saddil menunggu.
Pergerakan cepat ini membuat tim peringkat dua puluh FIFA agak kocar-kacir.
Kepanikan tentu terjadi, tetapi diredam oleh sisi positif dari sifat mereka yang telah mengalami belasan hingga puluhan pertandingan besar dan sulit.
Saddil yang mendapatkan bola, memberi umpan pendek kepada Sananta di sisi kanannya yang lebih cenderung mendekati tepi luar kotak penalti.
Sananta membalikkan umpan kepada Saddil sebelum dia ditekel secara keras, wasit tetap melanjutkan pertandingan, Sananta juga menganggukkan kepalanya kepada Saddil.
Saddil terus menjurus masuk ke kotak penalti sisi kiri hingga dia memberi umpan cut-back yang Marselino menerimanya dengan cukup baik.
Namun, sepertinya Beiranvand juga dalam keadaan sangat baik, bahkan dia bisa terus meningkat seiring waktu dalam pertandingan.
Beiranvand berhasil mementahkan bola itu tepat dimenit 37.
Babak pertama tak lama lagi berakhir, untuk sepanjang setengah jam lebih ini, kedua tim ini bisa dibilang nyaris seimbang.
Tim peringkat 145 menghadapi tim peringkat 20 dan terlihat cukup seimbang! Benar-benar pertandingan yang menyenangkan dan mengubah pola pikir penikmat bola lainnya.
__ADS_1
Ini adalah pertandingan revolusioner, dimana tim antah-berantah mencoba mengalahkan tim langganan Piala Dunia!