Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 148 - Indonesia Vs. Argentina (2)


__ADS_3

Reza yang mendapatkan momentum di lapangan mulai memberi arahan kepada rekan-rekannya agar bergerak sesuai apa yang telah dipelajari selama sebulan di Eropa dalam menjalani Pemusatan Latihan.


“Di sana, bergerak sesuai apa yang telah kalian pelajari! Saya akan mencari momentum kedua lagi!” seru Reza.


Reza mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut lapangan, bola yang dikendalikan oleh Argentina sesekali nyaris direbut oleh para pemain Indonesia.


Sementara itu, menit juga terus berjalan, pertandingan ini cukup seru untuk dinikmati, apalagi Indonesia pertama kalinya menghadapi Argentina di ajang turnamen besar dunia.


“Emmm … Kanan! Jangan sampai bocor di sana!” pekik Reza.


Reza kemudian berjalan agak maju hingga mendekati tepi kotak penalti, sementara itu bola sedang dikendalikan oleh Encinas yang mencoba mencari celah sempit di sisi kanan pertahanan Indonesia.


[Tuan, Sistem Kiper ingin memberitahu, bahwa jika Tuan bisa mengangkat trofi piala dunia, Sistem Kiper akan memberikan segala informasi yang sistem telah lama simpan!]


“Baguslah, saya suka!” seru Reza.


Dia bahkan semakin bersemangatnya untuk terus memberi arahan dan juga pergerakannya yang akan membahayakan tim lawan.


Encinas yang terlalu fokus dengan ruang sisi kanan pertahanan Indonesia, tiba-tiba saja bola diambil oleh Kakang dan langsung segera membawa bola mundur untuk merancang serangan dari bawah.


Reza mendapatkan umpan dari Kakang, dengan tegas Reza mengayunkan kedua tangannya dari samping ke depan menyuruh untuk rekan-rekannya maju tanpa takut.


“Haikal, saya akan beri tugas untuk menjaga gawang, jadilah kiper kedua, kalau bola ini lepas, maka ayunkan tanganmu layaknya kiper, seperti yang telah saya ajarkan!” jelas Reza yang langsung berakselerasi.


Haikal sendiri mundur menuju gawang, pandangannya fokus, seakan dirinya adalah kiper pengganti yang akan menghalau bahaya dari tim lawan.


Sementara itu, Reza masih terus maju hingga tengah lapangan, di sana dia memberinya kepada Marselino.


Marselino yang bergerak condong ke depan langsung memberikan bola ke sisi kanan yang mana Fajar sedang dalam posisi kosong tanpa kawalan lawan.


“Kak Fajar!” seru Reza.


Reza yang melewati Marselino, mengangkat tangan kepada Fajar yang sontak Fajar langsung melambungkan bola ke depan.

__ADS_1


“Eh! Maaf, Za! Agak jauh!” seru Fajar.


“Ya!” Reza dengan susah payah melakukan duel fisik bersama Enzo, hingga nyaris jatuh, tetapi dengan ancang-ancang kuat, Reza mampu menjaga keseimbangan dan langsung merebut bola itu serta berakselerasi lebih cepat.


“Lakukan!” pekik serentak rekan-rekannya menaruh kepercayaan tinggi kepada Reza.


Reza yang semakin dekat dengan tepi kotak penalti melakukan gerakan tipuan seperti hendak menembak, hal ini membuat Romero mati langkah dan terlewati oleh Reza.


Sekarang, Reza memasuki kotak penalti, dalam sepersekian detik saat itu, Reza melepas tendangan keras membuat suara dentuman keras sesaat punggung kaki Reza mengenai permukaan bola.


Bola yang bergerak begitu cepat, dengan mudahnya masuk dalam gawang, itu karena Emiliano sendiri hanya berdiri kaku dengan mulut ternganga lebar akan terkejutnya.


“GOOOOL!” pekik Reza.


Reza dan rekan-rekannya berlari ke sudut lapangan, sementara itu rekan-rekannya memberi ruang untuk Reza melakukan selebrasi ikoniknya, yaitu duduk bersila sambil membaca buku.


Setelahnya, semuanya melakukan pelukan hangat, ini adalah pertama kalinya Argentina serasa dipecundangi dimuka publik, rasa malu tentu ada, tetapi lebih kepada rasa kagum karena kehebatan Indonesia yang berubah banyak berkat kehadiran Reza di lapangan.


“Ibu! Eca bobol gawang Argentina!” teriak Reza di depan kamera yang ada di sudut lapangan.


“Bagus, Nak!” seru Citra dengan cukup kelelahan karena setumpuk tugas dari kantornya. “Ibu … Tidur … Sebentar, ya, masih pagi sekali ini,” gumam Citra.


Perbedaan waktu antara Amerika Serikat secara umum dan Indonesia sekitar 12 jam lebih lambat Indonesia, maka dari itu, di stadion NRG, Houston yang saat ini sudah malam, sedangkan di Palu, masih pagi hari di tanggal yang sama.


Di stadion NRG, Houston, Amerika Serikat, Reza dan rekan-rekannya yang saat ini telah kembali ke posisi masing-masing, pertandingan kembali dilanjutkan. Reza yang mencetak gol di menit 13 tadi sudah cukup merasa lega.


“Baiklah, tambah lagi, ya?” gumam Reza.


Reza berencana menambah skor sebelum turun minum di jeda antara babak pertama dan kedua. Reza memang berniat untuk meninggalkan Argentina semakin jauh ke depan, demi mencari aman saja, menurut Reza.


“Satu … Dua … Tiga. Wah, sampai tiga pemain maju, ya?” gumam Reza.


Di lini belakang, Kakang, Haikal dan juga Ferrari mencoba melakukan penjagaan zonasi, ini demi mencari beberapa masalah yang memang mereka hadapi.

__ADS_1


Indonesia menurut Pelatih Tae-yong sulit menggunakan penjagaan zonasi, entah bagaimana caranya, tetapi Indonesia sangat tidak efektif untuk mencoba penjagaan zonasi demi jebakan offside.


“Eh! Awas sana! Astaga, lebih baik tidak usah pakai penjagaan zonasi!” pekik Reza.


Baru saja sekitar dua menit melakukan taktik penjagaan zonasi, sekarang mereka mengalami kebocoran hingga umpan terobosan dari Almada mampu menembus jantung pertahanan Indonesia dan menuju Lautaro yang berdiri bebas.


“Akhh! Memang, ya!”


Reza maju dengan mengambil posisi penjagaan kiper, kedua tangannya terbuka di samping badan, pandangannya benar-benar fokus ke arah bola dan kaki.


Ketika Lautaro yang semakin maju mencoba mengecoh Reza, tanpa aba-aba, menggeser bola ke kanan hingga Reza terlewati.


“Sudah saya tau,” gumam Reza.


Reza lantas melompat ke belakang kanan, dia menerkam bola bagai harimau menerkam mangsanya, bola telah berada di tangannya begitu melengket, sedangkan Lautaro terjatuh karena berbenturan dengan Reza.


Bukan sebuah pelanggaran, karena bola pertama telah Reza tangani dengan cukup susah payah meski melihat memakai Mata Masa Depannya, dan juga kemampuan alami miliknya.


Reza berdiri, langsung berlari hingga ke tepi kotak penalti, dan melepaskan lemparan rekor dunia miliknya dengan kencang, bola membentuk parabola hingga menyentuh setengah lapangan lawan.


Di sana, I Nyoman telah berhasil menerima bola, dalam proses transisi ini, Indonesia meletakkan tiga pemainnya dan Argentina sendiri tersisa dua pemain di belakang.


Indonesia jelas unggul jumlah pemain dalam proses transisi ini, lantas I Nyoman terus berakselerasi, di sisi kiri ada Samir yang meminta bola.


I Nyoman memberinya, umpan terobosan melewati seorang bek tengah Argentina, Lisandro.


Entah mengapa, juara bertahan Argentina sangat melunak, terlalu mudah diserang dalam transisi serangan balik hingga membawa petaka bagi mereka.


Samir mendapatkannya, langsung berakselerasi dengan kecepatannya menusuk ke dalam kotak penalti, di dalam, dia memberi cut-back kepada I Nyoman yang telah menunggu di kotak penalti.


Romero tak sempat bertindak, I Nyoman telah bergerak. Dalam tiga detik pergerakan, I Nyoman membawa papan skor berubah menjadi 2-0 untuk keunggulan Indonesia.


Umpan cut-back Samir dan tendangan Tap-in I Nyoman sangat penting mengubah skor ini, seluruh stadion bergemuruh senang.

__ADS_1


“Mantap! Kenapa ini agak aneh, ya! Argentina kayak melempem kena air!” seru Reza sambil melompat kegirangan.


__ADS_2