
Seusai pertandingan melawan SMKN Lumpoknyo, Reza pulang setelah beberapa hal yang pelatih Bima arahkan.
Tentunya semua pemain juga pulang dengan sukacita. Tak ada yang lebih menyenangkan selain memenangkan pertandingan berturut-turut tanpa kekalahan dan seri sekalipun.
Karena hari masih sore, masih sekitar sejam lagi masuk malam hari. Reza pun menuju taman dan bersantai di sana masih dengan seragam kipernya yang sedikit mengundang atensi. Dia menghirup udara segar. Burung-burung kecil beterbangan dan mendarat di depan Reza.
Itu karena serpihan roti yang Reza sebar beberapa waktu lalu.
“Ah! Akhirnya kalian datang!” gumam Reza sambil menghitung berapa ekor burung yang datang.
Di tengah dia sedang sibuk pada kegiatannya sendiri, beberapa gadis muda mencoba mendekatinya seraya membawa sebuah buku nota. Tujuannya hanya satu, meminta tanda tangan dari Reza.
Mereka akan meminta tanda tangan bintang yang baru lahir sebelum mereka harus mengantri saat bintang ini sudah bersinar terang.
“Eumm … Kak?”
Reza menatap tiga gadis muda yang malu-malu. Pakaian mereka sangat imut yang membuat Reza sempat terpaku dan tidak berpaling dari tubuh tiga gadis tersebut.
“Ah! Iya? Ada apa?” ucap Reza sadar akan kekhilafannya.
“Boleh minta tanda tangan?”
‘Wah, seterkenal itu kah saya sekarang?’ batin Reza sambil mengambil tiga buah buku nota dari para gadis.
Dia mulai menandatangani ketiga buku itu, diakhiri dengan menggambar simpel sarung tangan kiper. Ketiga gadis muda ini pun hanya tersenyum senang.
Ketiga gadis itu pergi meninggalkan Reza yang kembali fokus dengan burung-burung kecil. Reza dengan cekatan langsung mengambil seekor burung dan mengelusnya.
Dari arah belakang Reza yang menunduk, seseorang datang dan langsung menutup kedua mata Reza. Reza pun tersentak hingga melepaskan burung di tangannya.
Cuit Cuit Cuit
Burung itu langsung terbang menjauhi Reza dengan kicauan ketakutan. Entahlah, jika manusia mengerti bahasa hewan terutama burung, maka mereka akan mendengar “Manusia jahat! Aku dielus-elus dengan tak sopan!”
Kembali ke Reza yang sedang ditutupi kedua matanya oleh seseorang. Tangan yang lembut menyentuh wajahnya, harumnya bagai bunga yang bermekaran.
“Hei, ini … orang yang kukenal sepertinya,” ucap Reza perlahan berdiri.
Kedua tangan yang menyentuhnya sedikit kesulitan meraih tinggi Reza yang saat ini sudah mencapai 181 cm.
“Hoho pendek, yaa?”
“Aiishh! Reza mah gitu!” Suara imut nan indah pun terdengar di telinga Reza.
__ADS_1
Reza merasa familiar dengan suara itu hingga dia menebak apa yang dia pikirkan pertama kali setelah mendengar suara tersebut.
“Vera Saskia!”
“Benar!”
Vera langsung membuka kedua tangannya yang menutup mata Reza. Dia juga melangkah ke depan dan berhadapan dengan Reza. Keduanya saling menatap beberapa detik.
Hingga jantung Reza berdegup kencang. Perasaan hangat dan lembut begitu masuk ke dalam hatinya yang memang cukup keras dalam memilih sesuatu atau juga mempertahankan prinsip apapun itu.
“Hei, Reza? Yuhu~ Ada apa?” Vera melambaikan tangannya di depan wajah Reza.
Vera kemudian menyentuh wajahnya. “Apa ada sesuatu di mukaku?”
Reza menggeleng dengan cepat. Nafasnya dia segera hembuskan dan tarik begitu rakus. Benar-benar sebuah perasaan yang tiba-tiba lewat begitu saja tanpa kompromi. Dia yang sebagai kiper, tak mampu membendung perasaan itu.
“Anu … tiba-tiba di sini agak ¹napane!” ucap Reza sambil mengipasi wajahnya menggunakan tangan.
“Pffft! Mukamu jadi merah! Hahaha!”
Vera tertawa begitu puas. Dia tak henti-hentinya mengejek perilaku salah tingkah milik Reza. Perilakunya yang terlalu polos dalam hal hati dan perasaan benar-benar seperti anak baru lahir.
“Ayolah! Memang di sini panas! Napane!”
“Ngapain bawa tas? Dari sekolah kah?”
“Oh! Ini … baru pulang dari les tadi. Jadi … begitu.”
Reza mengangguk ringan. Dia kemudian duduk kembali di bangku taman sembari mengambil sepotong roti lagi. Kemudian dia menebar potongan demi potongan roti itu ke tempat yang dia sebar tadi.
Beberapa ekor burung mulai berdatangan. Vera yang melihat aktivitas Reza sedikit tertarik untuk menyegarkan otak dan pikiran. Dia kemudian merampas setengah roti dari Reza.
Vera kemudian mulai merobek roti menjadi potongan kecil tak memedulikan pandangan Reza yang begitu kesal karena rotinya diambil.
Vera yang terkikik tertawa hanya terus melempar potongan roti hingga potongan terakhir. Kemudian dia segera berdiri dan merapikan pakaiannya. Topi bundar miliknya dia kenakan.
“Saya pulang, ya!” Tanpa menunggu jawaban dari Reza, Vera pun berjalan keluar taman.
Reza yang ditinggal pun hanya menghela nafas lega. Akhirnya dia merasa bisa bebas. Bebas dari tekanan hati ketika Vera berada di dekatnya.
“Fyuuuh~ Ini … kenapa?” Reza memegang dadanya dengan penasaran.
Seperti ada hati pada seseorang. Reza merasakan hatinya berdebar-debar bagai mendapatkan cinta pada pandangan pertama. Hanya saja Reza bukan pada pandangan pertama melainkan seperti cinta pada pandangan berapapun.
__ADS_1
Cuit Cuit Cuit
Beberapa ekor burung mulai berkicau ria. Mereka menghadap Reza seperti ingin mengatakan sesuatu. Hingga Reza pun segera beranjak dan mereka berhamburan beterbangan melarikan diri. Seekor burung kembali berkicau layak membicarakan sesuatu, jika ada yang paham, maka dia akan terdengar seperti ini. “Manusia bodoh! Ini bukan genre romantis!”
***
Dalam perjalanan kembali ke rumah, Reza sesekali disapa para pejalan kaki lainnya. Memang, Reza benar-benar seperti orang terkenal baru di Indonesia khususnya Palu.
Beberapa menit kemudian, Reza pun sampai di rumahnya. Kondisi rumah benar-benar sepi tak ada penghuni. Lagipula pada Minggu, 23 Oktober 2022 ini, ibu Reza sedang bepergian dengan sahabat lamanya.
Ya, itu adalah ibu dari Vera, Melani. Mereka berdua bepergian untuk melakukan penyegaran otak. Sesibuk apapun mereka di kantoran, mereka masih butuh yang namanya kebebasan dan penyegaran.
“Haa … kira-kira pulang jam berapa,” gumam Reza sambil membuka kunci pintu rumahnya.
***
Di dalam, Reza mulai merapikan rumah yang sedikit berantakan. Dia juga memasak telur mata sapi sederhana dengan nasi goreng spesial untuk ibunya pulang nanti.
Reza sebenarnya paham akan bisa saja ibunya sudah makan malam dan kekenyangan. Namun, dia tetap memasakkan untuk dirinya sendiri sebuah telur mata sapi –Tanpa garam dan micin, sesuai menu makanan sehatnya– dan ibunya untuk jaga-jaga jikalau memang ibunya belum makan malam.
Setelah makan, Reza duduk di ruang tengah. Dia kembali memikirkan kejadian sore tadi yang membuat perasaannya berdebar-debar dan beterbangan bagai layangan putus di udara. Penuh afeksi bagi dirinya pribadi.
Di tengah keheningan waktu yang sudah memasuki malam hari, akhirnya ketukan pintu terdengar. Reza segera membuka pintu rumah dan menampakkan ibunya yang tersenyum sembari membawa sebuah bungkusan plastik.
“Daging ayam bernutrisi buat anak ibu!”
***
“Nasi gorengmu enak juga dimakan dengan ayam!”
“Jadi kalau tidak dimakan dengan ayam maka tidak enak, yaa, Bu?” jawab Reza dengan perasaan sedikit hancur.
“Bukan begitu, Eca!”
“Hahah! Eca cuma bercanda kok!”
Reza kemudian masuk ke kamarnya dan berbaring di atas kasurnya. Tentunya masih dengan afeksi terhadap Vera. Perasaan yang sulit hilang terus terlintas di benaknya.
“Inikah yang dinamakan ada hati kepada seseorang?”
...----------------...
Catatan Kaki : ¹Napane \= Panas
__ADS_1