Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 151 - Indonesia Vs. Jerman (2)


__ADS_3

Malam yang kelam dengan kesan dingin menusuk sanubari, di sebuah stadion yang cukup megah di tengah perkotaan pun sedang sangat ramai dipenuhi sorakan menegangkan dari para pendukung.


Di lapangan, dua tim merah dan hitam-putih sedang saling bertabrakan, antar Panser dan Garuda, saling bersinggungan membuat kesan bahwa ini adalah sebuah pertandingan mental dan fisik yang akan melelahkan.


“Dari kanan!” seru kiper tim merah, dengan lambang Garuda di dada kiri, bernomor punggung 99, Reza Kusuma, sedang memberikan arahan yang memang wajib sebagai kiper.


Goretzka dari sisi kanan mencoba melewati Robi yang sangat mengawal ketat pergerakan gelandang senior yang tentu bintang dari tim Jerman itu sendiri pada masa mudanya.


Goretzka mencoba melakukan gerakan tipuan, tetapi Robi, gelandang bertahan muda yang berkancah di Jepang, tepatnya kasta tertinggi Jepang, J1 League, tim Yokohama.


Robi yang sudah mendapatkan didikan keras di sana tentu tak akan menyia-nyiakan ilmunya begitu saja, dia akan begitu keras dalam menjaga pemain lawan.


“Awas, Robi!” seru Reza.


Goretzka melakukan pergerakan kecil, dia langsung menggeser bola ke kiri yang mana Musiala bergerak lebih ke depan, Musiala yang semakin ke depan mulai menatap gawang yang dijaga oleh Reza.


“Hemm … Melepas dari luar?” gumam Reza yang kemudian memosisikan tubuhnya ke arah jalur yang menurutnya jalur tendangan Musiala.


Benar saja, tebakan Reza cukup benar, Musiala langsung melepas tendangan dari luar kotak penalti, bola menyasar lurus ke sudut kiri atas gawang.


Reza melompat, dia dengan postur terbaiknya melenturkan badannya di udara, merentangkan tangannya sekuat tenaga.


Reza mampu menepis bola hingga menghasilkan tendangan penjuru, tetapi ketika tendangan penjuru dilancarkan, Reza dengan mudah memetik bola di udara.


Mendarat dengan kakinya, Reza langsung berlari hingga ke tepi dalam kotak penalti, sesekali dia menyambar pemain Jerman atau bahkan rekannya sendiri.


“Ini … Serangan … Balik cepat!” teriak Reza begitu mendominasi, cukup mengintimidasi tim lawan.


Bola membentuk parabola di udara, menargetkan Hokky, penyerang nomor 9 Indonesia yang berkancah di Eropa, tepatnya kasta kedua liga Belanda, FC Eindhoven, Hokky berlari mencoba mengejar bola pantulan di depannya.


Sementara itu, Ter Stegen sendiri juga langsung bergerak mencoba menangkap bola, tetapi Hokky yang lebih muda dan berenergi dengan mudahnya mendapatkan bola, Ter Stegen yang salah mengambil keputusan langsung mencoba mundur kembali.


Hokky yang melihat kesempatan mencetak gol sangat terbuka, langsung melepaskan tendangan ala bola gantung di atas kepala Ter Stegen.


Ter Stegen yang menyadari bola ditendang gantung pun mencoba sekuat tenaga untuk melompat, tetapi bola lebih tinggi dan secara mudah masuk ke dalam gawang, akurasi yang sangat tinggi, mampu menjebol gawang Jerman tepat di menit 23.

__ADS_1


Indonesia, mampu mencetak gol pertama kalinya ke dalam gawang Jerman, seluruh stadion bergemuruh semangat, mereka berteriak begitu lantang mengekspresikan dirinya.


Reza sendiri melompat semangat, dia akhirnya bisa mencetak assist untuk rekan setimnya, dia sebagai kiper yang pemegang Ballon d’Or kedua setelah Lev Yashin ingin menunjukkan bahwa mendapatkan penghargaan ini tidaklah salah, kiper terbaik dunia akan segera lahir.


“Bagus! Teruskan hal itu!” pekik Pelatih Tae-yong demi menambah semangat dirinya pribadi dan anak didiknya.


“Sini, jangan Cuma diam! Gas rayakan!” seru Kakang.


“Sudah, saya di sini, lagi pula masih lama pertandingan berakhir!” jawab Reza sambil mengambil handuk kecil di samping tiang bendera.


“Sepertinya lemparan kelas duniaku tidak akan ada yang bisa pecahkan, perlahan setiap saya melemparnya, terus saja meningkat jaraknya,” gumam Reza.


Pertandingan kembali dilanjutkan, tim Panser tak ingin menjadi tim kedua Eropa yang dikalahkan oleh tim Asia khususnya tim Asia Tenggara.


Indonesia yang mewakili Asia Tenggara, sebagai tim satu-satunya dari 10 anggota Asia Tenggara mampu menembus Piala Dunia 2026, bersanding dengan lima tim Asia lainnya, seperti Korea Selatan, Jepang, Iran, Qatar dan juga Australia.


Bola kick-off dimulai dari kaki penyerang Jerman, Schade, memundurkan bola ke belakang untuk mencoba merancang serangan dari bawah.


Pertandingan ini terus berjalan, Jerman yang sepenuhnya menguasai bola sungguh kesulitan untuk menembus garis pertahanan Indonesia, sangat solid hingga begitu sulitnya ditembus.


Sekarang, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia sangat diperhitungkan, bukan lawan yang jelas mudah, bahkan bisa saja akan sangat sulit untuk ditembus jika hanya setengah-setengah mengerahkan kekuatan.


“Sisi kanan awas agak longgar, sisi kiri coba geser sedikit!”


“Di tengah … Cukup baik, terus jaga kedalaman pertahanan, jangan sampai meloloskan Panser berkaki dua itu!”


Reza tidak akan pernah diam pada suatu pertandingan, dia akan terus memberi arahan entah itu kecil atau besar demi menunjang keberhasilan tim mereka selama ini. Diteruskan bukan hanya dari Indonesia, di level klub saja jelas Reza tak pernah diam.


Bahkan Reza pernah dikatakan pemuda paling ribut di lapangan, mulutnya tak henti-hentinya bergerak untuk memberikan belasan hingga ratusan arahan dalam satu pertandingan saja.


Pelatih Tae-yong saja terkadang hanya bisa tersenyum menghela napas pasrah, semua yang dikatakan Reza juga yang ingin dikatakan olehnya, jadi perkataan itu juga sudah diwakili oleh Reza.


“Di depan harus lebih maju, serangan balik tadi bagus!” seru Reza.


Ketika pada menit keempat puluh satu, Reza yang mendapatkan bola bebas dari kesalahan para pemain Jerman pun berniat langsung melakukan akselerasi miliknya.

__ADS_1


“Ini dia, kau akan melakukannya, ‘kan? Saya akan menjadi kiper pengganti!” seru Haikal.


Reza hanya menganggukkan kepala dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat, akselerasi sungguh indah untuk dipandang begitu lama.


Bahkan beberapa pemain Jerman lumayan terpukau akan aksi Reza yang meliuk-liukkan tubuhnya di antara mereka, manuvernya sungguh indah dengan pergerakan yang begitu licin bagai belut.


“Ke sini, kau Musiala!” seru Reza menggunakan bahasa Inggris kepada Musiala.


Musiala yang terpancing pun mendekati Reza, tetapi dengan perangai yang jahil, langsung saja diangkat bola di atas kepala Musiala, kemudian Reza membisikkan sesuatu sejenak sebelum dia meninggalkan Musiala yang kesal.


“Saya menipumu,” ucap Reza sesaat melewati Musiala.


Dalam sepersekian detik, Reza sudah berada di tengah lapangan, melakukan pemindaian area, Reza memilih untuk terus membawa bola tanpa memberikan pada rekannya.


Reza memutuskan hal seperti itu, karena rekan-rekannya terlalu dikawal ketat oleh para pemain Jerman dan jika satu kesalahan kecil saja, maka Haikal harus menunjukkan latihan kipernya dengan segera.


“Baiklah, saya akan meneruskan, Mata Masa Depan akan saya gunakan dengan baik!” gumam Reza.


Dengan postur badan yang begitu baik, melakukan manuver di antara pemain Jerman, hingga Goretzka, Sane atau bahkan Niklas Sule.


Para pemain bintang Jerman dengan mudahnya dipecundangi seorang saja, Reza bagai cheetah yang sangat lincah bergerak mengincar mangsanya.


“Ugh … Nyaris!”


Dengan beberapa langkah lagi, Reza sudah mendekati busur kotak penalti yang mana dia langsung menerbangkan bola itu menggunakan kaki kanannya yang menurutnya sejauh ini tidak begitu bagus.


Bola membentuk kurva indah di udara, menyasar sudut kanan atas gawang yang dikawal Ter Stegen.


Seharusnya ini mudah, tetapi pergerakan bola yang melintir membuat Ter Stegen yang sudah memegang bolanya malah terlepas hingga membuat bola itu terpantul ke dalam gawang.


Reza yang telah melihat bahwa itu gol pun langsung berlari ke sudut lapangan dengan sangat berenergi, dia berteriak begitu keras, dan langsung melakukan selebrasinya dengan napas yang menderu berat.


“Wooo! Ini, saya suka! Instingku benar-benar gila, rasanya seperti kerasukan Messi atau bahkan kemampuan milikku sendiri!” teriak Reza begitu ekspresif.


“Hahah! Bagus, Reza! Dengan ini kita bisa bernapas lega!” ucap Witan yang langsung memukul dada Reza.

__ADS_1


Reza melemparkan senyuman yang sangat berbahagia, Seperti tenggelam dalam lautan gula yang amat manis.


__ADS_2