
Pertandingan kian sengit saat timnas Indonesia berhadapan dengan Jerman di Fase grup Piala Dunia 2026. Setelah dua gol berhasil dicetak oleh Hokky dan juga Reza, Indonesia kini unggul 2-0 atas Jerman.
Namun, keunggulan ini tidak membuat tim Indonesia terlena. Reza Kusuma, sang kiper muda berusia 20 tahun, terus memperkuat pertahanan timnya dengan melakukan penyelamatan gemilang dari tendangan-tendangan keras pemain Jerman.
Kiper yang bermain untuk klub Milan ini, menjadikan dirinya sangat dikenal sebagai salah satu kiper terbaik di dunia yang mampu membendung berbagai serangan lawan dan juga disatu sisi sebagai senjata kelas berat tim itu sendiri.
Dalam pertandingan melawan Jerman ini, Reza berhasil mengamankan gawangnya dari serangan-serangan berbahaya lawan. Ia juga berhasil menghalau tendangan sudut dan tendangan bebas dari pemain Jerman yang sangat berbahaya.
“Di sana, jangan sampai lengah, setelah istirahat lima belas menit tadi, Jerman agak berubah taktiknya!”
“Terus seperti itu, Robi dan Marselino, ayo perlahan maju!”
Selama pertandingan, Reza terus berkomunikasi dengan para pemain belakangnya untuk memastikan pertahanan tim Indonesia tetap kokoh. Ia juga sering memberikan instruksi dan bimbingan kepada para pemain muda di timnas Indonesia untuk turut juga ikut menyerang jika ada waktu.
Pertandingan semakin memanas ketika timnas Indonesia berhasil unggul 2-0 atas Jerman. Kiper andalan Indonesia, Reza Kusuma, semakin terlihat percaya diri dan semakin mampu menjaga gawangnya dengan baik. Namun, para pemain Jerman juga tidak mau kalah begitu saja.
Marselino, gelandang serang Indonesia, berteriak kepada rekan-rekannya, “Jangan lengah! Jerman bisa saja membuat kejutan!”
Robi, pemain gelandang bertahan Indonesia, mengangguk setuju dan berkata, “Kita harus terus menekan mereka dan mencari gol ketiga, satu catatan! Jangan lengah saja!”
Witan, penyerang sayap kanan Indonesia, memberikan semangat kepada rekan-rekannya, "Kita bisa menang! Kita harus tetap fokus dan tidak lengah, Reza sudah bersusah payah!"
Hokky, penyerang tengah Indonesia, berteriak memanggil Sananta, “Sananta! Siap-siap masuk, kakiku agak bermasalah!”
Sananta, pemain yang dikenal dengan kecepatannya serta penempatan posisinya, tersenyum dan membalas, “Siap, Hokky! Aku siap, Pelatih Tae-yong sedang menyiapkanku!”
Sementara itu, Jerman semakin gencar menyerang. Namun, upaya mereka selalu dihalau oleh Reza dan rekan-rekannya. Bahkan, Reza sempat melakukan penyelamatan spektakuler dengan menggagalkan tendangan keras pemain Jerman yang hampir membuat gol.
Ketika pertandingan sudah memasuki menit ke-85, para pemain Indonesia semakin merasa tegang. Witan berkata kepada Marselino, “Saya mulai merasa gugup, Marsel. Kita harus bertahan dengan keras, Reza sudah sekuat tenaga jatuh bangun dari tadi!”
__ADS_1
Marselino membalas, “Jangan khawatir, Bang Witan. Kita sudah melalui banyak pertandingan penting sebelumnya. Kita bisa mengatasi ini!” Marselino menatap Reza yang sedang mengelap keringatnya, begitu termenung melihat sangat kerasnya Reza untuk ditembus oleh pemain Jerman.
Namun, Jerman tidak menyerah begitu saja. Mereka terus menyerang dengan gigih dan menghasilkan beberapa peluang yang berbahaya. Reza terus melakukan penyelamatan gemilang dan membuat para pemain Jerman semakin frustrasi.
Jerman baru kali ini dan pertama kali mengalami apa yang dikatakan frustrasi, semua percobaan yang mereka lakukan selalu saja patah kepada Reza di bawah mistar gawang.
Kokohnya Reza di bawah mistar gawang tak dapat dipungkiri, itu semua adalah hasil dari berbagai kemampuannya yang menjadi satu hingga mampu bersaing dengan banyak pemain-pemain bintang lainnya.
Pertandingan pun berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Indonesia. Semua pemain Indonesia merayakan kemenangan mereka dengan gembira. Sananta berkata kepada Reza, “Kita berhasil, Za! Kita jelas melaju ke babak selanjutnya, enam belas besar!”
Reza tersenyum dan membalas, “Ya, kita harus terus memberikan yang terbaik untuk Indonesia, tetapi laga ketiga kita harus menyempurnakannya, kita kalahkan Italia!”
Sananta merangkul Reza dan berkata, “Aman, Za! Selagi ada kau, kita ini sangat bersemangat!”
Reza hanya tersenyum, benar-benar hari yang berseri-seri, kemenangan menghadapi Jerman membawa Indonesia dengan cepat menuliskan namanya di babak enam belas besar tanpa memikirkan pertandingan ketiga menghadapi Italia.
Pertandingan menghadapi Italia hanyalah sebuah latihan menuju babak enam belas besar. Lagi pula Argentina saat menghadapi Italia, hanya menghasilkan seri tanpa pemenang dan gol.
Semuanya jelas, Argentina menghadapi Jerman, Argentina wajib menang jika ingin posisi kedua, kemudian Jerman juga masih ada kans lolos, untuk Italia, entah lolos atau tidak, lawan Indonesia adalah mimpi buruk mereka dengan tembok besar yang menghadang.
Kemenangan ini menjadi awal yang baik bagi Indonesia untuk melangkah ke babak selanjutnya. Reza dan rekan-rekannya harus terus menjaga performa mereka dan mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya.
***
Keesokan harinya, Reza dan rekan-rekannya yang berlatih bersama di salah satu tempat latihan sepakbola yang juga terbaik se-Amerika Serikat.
Mereka dengan wajah berseri-seri begitu bersemangat berlatih, ini karena kemenangan semalam mampu menambah daya gebrakan dan semangat seluruh pemain, Pelatih Tae-yong terus memberikan arahan di sela-sela latihan.
“Reza, aksimu semalam seperti biasa, sangat menakjubkan!” seru Witan yang merangkul pundak Reza.
__ADS_1
Reza menoleh kecil kemudian melayangkan senyuman tipisnya dan berkata, “Ya, begitulah, ini demi menuju puncak! Saya harus sekuat tenaga tanpa berbelas kasihan pada tim mana pun demi meraih apa yang juga saya impikan bersama kalian!”
“Hokky, kakimu aman?” tanya Fajar yang mendatangi mereka sembari menenggak sebotol minuman.
“Aman sih, cuma kata dokter fisio, ini jelas akan membahayakan kalau saya teruskan nanti tanggal 5 Juli saat laga melawan Italia!” ungkap Hokky.
“Lebih baik kau mundur, nanti di babak enam belas besar baru diteruskan!” usul Reza yang kemudian duduk sembari meluruskan kakinya.
Hokky mengikutinya dan segera membalasnya, “Memang, Pelatih Tae-yong katakan saja saya harus menepi paling tidak seminggu, karena sliding tekel dari Niklas Sule semalam memang agak keseleo,” jelas Hokky.
Mereka yang sedang berbincang saling melirik, senyuman hangat saling terlempar hingga mereka bisa dengan mudahnya langsung mengubah suasana yang cukup berat ini dengan suasana cerah.
“Kalian! Kata Presiden Prawibawa, kalau kita bisa mencapai berbicara banyak saat enam belas besar nanti, dia akan hadiahi sesuatu!” seru I Nyoman, dia tahu bahwa alur pembicaraan tadi terlalu berat.
“Iya, di wawancara eksklusifnya dia bilang begitu, kira-kira apa, ya!” sahut Marselino sambil meregangkan tubuhnya.
“Yap, kita tunjukkan saja, kita bisa kuat di enam belas besar, mau lawan siapa pun, kita jelas tidak akan main-main!” timpal Reza yang langsung membuat teriakkan semangat oleh mereka.
Di tengah seruannya, Reza menjadi teringat dengan ibunya dan Vera yang ada di Palu.
‘Saya akan bawa trofi ini untuk negara dan juga khususnya saya persembahkan untuk Vera dan ibu tercinta!’ batin Reza sambil menatap langit yang cerah.
Di Palu, Citra, Vera serta orangtuanya, Melani dan juga Bambang sedang berkumpul di rumah dengan ditemani secangkir teh.
“Anakmu sangat ajaib, sayangnya bapaknya aneh, masa ninggalin berlian sebagus itu,” ucap Bambang, ayah dari Vera.
“Sudahlah, Bambang, saya tahu Bram itu ada sesuatu yang mengharuskannya pergi meninggalkan kami!” jawab Citra.
“Yaaa … Intinya saya merestui Vera dan anakmu, Reza, untuk menjalin hubungan yang sah. Namun, saya harap, Reza bisa menjaga Vera, diusianya yang semuda itu tentu akan sulit meski sudah memiliki banyak uang!” jelas Bambang.
__ADS_1
“Isshh … Sudahlah, jangan terlalu diintimidasi begitu! Ini sahabat lamaku!” Melani mencubit tangan Bambang.
Vera hanya cekikikan melihat tingkah para orangtua tersebut, tetapi disatu sisi merenungi Reza yang sedang berjuang demi mengangkat trofi piala dunia pertama kalinya bagi negara Indonesia dan juga bagi negara di Asia.