Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 107 - Penyelamatan yang Memverifikasi Kemenangan


__ADS_3

Pada menit ke 40, Bayern yang mencoba untuk keluar lebih ganas demi membalikkan keadaan terus menyerang disisa-sisa menit babak pertama.


Para pemain AS Trenčín mulai kelelahan menghadapi gempuran itu, tak terkecuali Reza yang merasa pusing dan mual karena terlalu banyak memanfaatkan kemampuan matanya tersebut.


“Pasif, berarti akan terpakai otomatis dengan syarat tertentu. Saya inginnya menjadi jenis kemampuan aktif saja, supaya bisa dinyala dan matikan.” Reza bermonolog rendah.


[Perubahan jenis kemampuan Mata Masa Depan dari Pasif menjadi Aktif.]


Reza terkejut, ternyata perubahannya seperti membalikkan telapak tangan, sangat mudah!


“Syukurlah, supaya saya juga mengandalkan kemampuan alami!” gumamnya. “Ini pun baru terpikirkan akan perubahan itu.”


Tap!


Reza melompat ke samping demi menepis tendangan mendatar dari Mathys. Meski begitu, bola hasil tepisan itu belum langsung keluar lapangan.


Dari sisi kiri, ada Sadio yang menyambut bola pantulan. Hal itu mengejutkan sejenak Reza sebelum dia mencoba kembali menenangkan diri.


Penguasaan dirinya telah benar-benar berbeda dari usianya yang masih terbilang belia di dunia sepakbola profesional. 17 tahun, seperti seorang pemain 25 tahun saja yang sudah dewasa dalam penguasaan diri.


Sadio saat itu menyontek sejenak saja bola, dari tengah, Mathys kembali menyambutnya dengan tap-in kecilnya.


Srek!


Reza menguatkan kakinya, kuda-kuda benar-benar tak terpikirkan siapapun, ketika dia menolaknya, sedikit bekas lompatan tercetak di tanah.


Reza melompat ke sudut kiri atas gawang. Menebak alur bola sudah makanan sehari-harinya, lagipula sejak sering menggunakan Mata Masa Depan atau istilahnya Mata Bijak, Reza menjadi lebih terbuka akan menebak alur bola.


Meski tak menggunakan Mata Bijak, Reza beberapa kali melihat sebuah garis tipis menuju arah gawangnya. Mengikuti garis visual itu, Reza terus-menerus menepis hingga menangkap bola. Istilahnya, pengalaman yang berbicara.


Kali ini, penglihatan garis visualnya itu cukup baik. Arah bola dapat dengan mudah ditebak sehingga Reza berhasil melompat ke arah yang benar.


Lompatannya kuat, memiliki teknik tinggi, manuvernya di udara membuatnya seperti terbang melambat.


“Gol?” gumam Mathys menebak akan hal itu.


Namun, Reza berhasil sempat menepisnya dengan apik. Alhasil benda bundar itu terbang ke atas mistar gawang dan keluar garis.


“Wah! Penyelamatanmu agak menegangkan kali ini,” celetuk Witan datang.


Tendangan sudut dilangsungkan, tetapi tak ada yang istimewa dari kejadian tersebut sehingga Reza hanya meninjunya jauh.


Di tengah, Gajdos mendapatkannya. Dia awalnya mencoba overlap demi transisi cepat penyerangan, tetapi sayang bolanya diintersep oleh Musiala.


“Di sini!” seru Witan di sisi kanan, tepat baru saja melewati garis tengah.


Permintaan bolanya terlambat, bola terlanjur diintersep dengan apik oleh Musiala.


Sekitar tujuh menit bersamaan dengan menit tambahan waktu, wasit Robert meniup peluit dengan kencang menandakan babak pertama berakhir untuk keunggulan satu gol AS Trenčín.


Bersama menuju ruang ganti, tepat di persimpangan, Mathys sejenak memanggil Reza.

__ADS_1


“Hei … Re–za!”


Reza berhenti dan menatap Mathys. Dia berjalan mendekat hingga hanya berjarak satu meter saja.


“Hai, Pemain Asia! Kamu … Kiper hebat!” Dalam bahasa Inggris yang agak kaku, Mathys mencoba berdialog.


“Terima kasih, tetapi sayang kita rival di lapangan. Namun, mari kita berteman di luar lapangan!” balas Reza dengan senyuman ramahnya.


Mathys mengangguk paham sebelum dia dipanggil oleh Newer untuk segera masuk ke ruang ganti demi membahas taktik selanjutnya.


“Awas aja menyimpang, saya masih normal.” Reza bermonolog dengan serius.


Di ruang ganti AS Trenčín, Pelatih Marian dan beberapa asistennya sedang mencoba membahas beberapa hal yang harus dilakukan oleh tim saat ini demi mempertahankan atau bahkan menambah skor untuk menjauhi Bayern.


“Reza! Kau jangan bergerak seperti itu lagi untuk sementara waktu. Kau kiper, kau adalah benteng terakhir kita.


Mau cetak gol? Dari pelanggaran, bola mati itu spesial untukmu!” jelas Pelatih Marian.


Reza mengangguk paham, lagipula manuver-manuver indahnya dalam penguasaan bola tidak akan begitu sering digunakan.


Walaupun sudah menguasai Mata Bijak, tetapi tak jarang agak goyah dan mengakibatkan pusing dan mual yang tak tertahankan.


Hasil besar, resiko juga besar. Begitulah yang memang harus diberikan oleh Sistem Kiper, itu dibuat agar Reza benar-benar merasa tertantang dan tak langsung merasa diatas angin.


Perlawanan harus ada dari lawan, itu dilakukan demi Reza akan meningkat seiring waktu dan tidak secara instan.


Masalahnya, Sistem Kiper telah memberinya hadiah awal masuk yang sangat kuat, Kartu Atribut Lev Yashin.


Memiliki rekan yang percaya satu sama lain adalah bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Rekan yang saling percaya satu sama lain akan sulit dibangun dalam waktu singkat.


Chemistry di antara mereka dibangun selama berminggu-minggu demi mencapai kesatuan mutlak.


“Nanti kalian percayakan kepada adik saya ini!” Witan memberi arahan.


Sebagai kakak Senior di Timnas nantinya, tentu Reza akan dianggap adik oleh Witan. Perbedaan 4 tahun itu adalah alasan Witan menganggap Reza adalah adiknya.


***


Berjalan menuju lapangan, Reza sekali lagi berpapasan dengan Mathys yang jelas terlihat berbeda. Tatapannya sangat serius, mata coklat itu seperti kosong.


“Kita adalah rival, ingat … Itu!” seru Mathys dalam bahasa Inggris.


Reza hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Mata segelap jurangnya juga benar-benar seperti hendak membunuh siapapun yang menatapnya.


Saat ini, para pemain sudah menyebar ke posisi masing-masing. Mathys juga terlihat dalam keadaan yang agak maju lagi.


Perubahan formasi dari Bayern juga membuat staf pelatih AS Trenčín menganggap Bayern masuk mode serius.


Apapun bisa terjadi. Apalagi dengan para pemain AS Trenčín yang mulai kelelahan sejak babak pertama.


Prit!

__ADS_1


Dari kaki Mathys, bola diumpan ke belakang kepada Sane.


Sane yang saat itu langsung melambungkan bola ke sisi kiri penyerangan yang mana Sadio telah bersiap melakukan overlap di sana.


Namun, beruntungnya Duriska dalam keadaan primanya sehingga bisa beradu lari dengan Sadio yang memang cenderung terlihat lebih unggul.


Teknik Duriska, melakukan sapuan bola dalam sepersekian detik setelah mendapatkan kesempatan itu.


Bola Lemparan ke dalam langsung dilakukan oleh Sadio dengan cepat.


Sane mendatanginya. Sane yang saat itu melirik ke tengah depan kotak penalti, di sana ada Goretka yang tak dalam penjagaan.


Reza terus fokus. Dia melihat Sane yang bergerak lihai, tetapi ketika ada satu pergerakan kecil, dia langsung berseru kencang.


“Merapat!”


Sane mengumpan kepada Goretka yang saat itu melepas tembakan sekali waktu. Dalam proses terjadi, Stojsavljevic dan Pires telah merapat untuk menutup jalur tembak.


Bola hasil pantulan, datang kepada Mathys yang saat itu mengangkat bola dalam keadaan berbalik belakang dari gawang.


Melompat, melakukan manuver di udara untuk melaksanakan tendangan salto, atau Bycicle Kick.


“Nah! Ini …!” seru Reza senang bersiap.


Dari depan, datang Bainovic yang mencoba mengganggu prosesnya.


Reza menggeleng ringan kepada Bainovic. Alhasil dibiarkan begitu saja hingga prosesnya terjadi segera.


Tap!


Menguatkan gravitasi di kakinya, kemudian lepas landas dengan kuat. Tolakannya membuatnya terbang melompat ke sisi kanan atas gawang.


Tangan kanan mencoba meraih, sembari gemuruh seisi stadion yang merasa Bayern akan segera mencetak gol lewat pemain muda tersebut.


Namun, sepertinya plot armor keras terjadi pada Reza. Dia untuk sekian kali bisa menyelamatkan gawangnya dari kebobolan.


Tangan kirinya diangkat untuk diulurkan bersamaan dengan tangan kanan. Bola langsung dipegang erat sesaat menyentuh kedua telapak tangannya.


Reza jatuh, berguling dengan posisi terbaik jatuh kiper, kemudian bertelungkup sejenak demi membuat rekan-rekannya melakukan transisi ke depan.


***


Menit 87, Bayern yang mulai putus asa mencoba terus menerus menyerang.


Namun, demi apapun itu, Reza masih benar-benar kuat dalam penjagaannya. Kokohnya dia di bawah mistar gawang tak dapat dipungkiri.


Hingga penyelamatan terakhirnya di menit 89 membuatnya memverifikasi kemenangan karena setelah pergantian menit kesembilan puluh, asisten wasit di pinggir lapangan hanya mengangkat angka dua.


Dalam dua menit, sudah dipastikan Bayern tak akan bisa meski terus dicoba. Seperti mencoba mencari potongan jerami di tumpukan jarum. Sangat, sangat sulit membobol gawang Reza!


Bayern Munch 0 – 1 AS Trenčín.

__ADS_1


__ADS_2