Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 169 - Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Di sebuah rumah minimalis dengan desain ala Eropa sedang direnovasi cukup besar, ini adalah permintaan seorang wanita yang tak suka akan desain rumah tersebut.


“Bagus! Rumah minimalis dengan masih ada kesan Indonesianya jangan kau tinggalkan, Sayang!” ucap seorang wanita yang menggandeng tangan seorang pria.


Mereka adalah Reza dan Vera, sudah empat hari sejak upacara mengikat janji suci keduanya, sekarang mereka hidup secara cukup bebas tak tak terikat lagi peraturan orangtua yang begitu ketat seperti mereka masih terlihat anak-anak.


Reza dan Vera sudah mampu meniti hidup bersama, menua bersama hingga mempunyai keturunan yang baik budi pekertinya.


“Sayang, saya mau kembali ke Milan,” ucap Reza sembari menatap langit kemerahan pada ufuk Barat.


“Bentar-bentar, Vera foto dulu, lagi bagus nih!”


Reza hanya bisa menatap ternganga lebar, ternyata Vera adalah wanita yang juga suka memfoto sesuatu disaat lagi bagus-bagusnya.


“Terserah kamu aja, Vera mah ngikut,” jawab Vera yang masih fokus pada kamera ponsel pintarnya.


Reza duduk, membuka minuman kaleng dan menenggaknya dalam sekali teguk, air yang menyegarkan langsung membuat mata Reza menjadi lebih cerah.


“Okelah, lagipula saya mau nemuin sesuatu di sana,” ucap Reza pelan.


Kilas balik hari pertama pernikahan, saat itu, Reza dan Vera yang sudah tidur sekamar niatnya ingin melakukan malam pertama, Vera pun mandi dengan bersih dan wangi, sementara itu Reza duduk di pinggiran kasur menunggu.


Reza yang bosan pun akhirnya bertanya-tanya kepada sistem tentang beberapa hal yang selalu saja mengganjal hatinya, terlalu sulit untuk dilupakan dan terlalu mudah diingat meski sempat terlupakan.


“Sistem, ayah itu sebenarnya di mana?”


[Ayah Tuan, Bram Wijaya Kusuma, sedang berada di Milan.]


Reza yang ingin menunggu lebih banyak jawaban harus terhenti karena wanita tercantiknya sudah datang, aroma semerbak bunga mampu membuat hawa napsu miliknya naik hingga meledak-ledak.


“Ini pertama kalinya buat kita, dan … Kita masih sulit melakukannya, setelah konsultasi ke orangtuamu dan tentunya ibuku,” ucap Reza pelan.


Pada malam ini, pergumulan di atas ranjang untuk pertama kalinya bagi keduanya cukup panas, erangan nikmat keluar dari bibir mungil Vera.


“Sayang, pelan-pelan, masih terkunci rapat,” ucap Vera pelan dengan tarikan napas yang menderu.


“Hehehe.” Reza hanya tertawa, tetapi di samping itu dia telah menyiapkan pergerakan yang benar-benar akan membuka pintu gerbang Vera yang selama ini terkunci rapat.


“Aaaahh …”

__ADS_1


Erangan itu semakin besar, di tengah Reza yang melakukan pergerakan maju dan mundur begitu tegas, pergerakan ini mampu memporak-porandakan kunci gerbang kesucian yang telah Vera tutup rapat selama ini.


“Waahh … Ni–Nikmat!” gumam Reza.


“Aaaahh~”


Pergumulan panas itu berjam-jam terjadi, cairan berwarna putih lengket terciprat ke mana-mana, ini masih terlalu kasar dan tak jago dalam menjaga kendali pedang milik Reza.


***


Balik kembali pada masa sekarang, Reza yang mengingat bahkan sampai kepada pergumulan panas di atas ranjang pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kikuk.


“Heh, apa yang lagi kamu pikirin?” ucap Vera cukup menaikkan intonasinya.


“Gak, gak, Vera, hanya pikirkan rekan-rekan setim yang pasti akan membuat kejutan tentang kedatanganku,” jelas Reza begitu cepat.


“Wah … Kegeeran,” celetuk Vera.


***


Dua hari setelahnya, Reza dan Vera, beserta keluarga mereka dan beberapa teman masa sekolah Reza dan Vera sedang saling melepas senyuman.


Vera yang ikut pun terus mengajak kedua orangtuanya, hanya saja, jelas, kedua orangtuanya benar-benar melepas putri kecil mereka kepada sosok yang dirasa cukup untuk menjaga putri kecil tersebut.


“Ibu, Ibu dan ayah Vera … Reza dan Vera pamit, cuma semusim kok, habis itu akan pulang sebentar dan–”


“Yo! Kau terus saja di Eropa! Habis itu ke liga Inggris, Premier League!” sela Bagus dengan cepat. “Supaya saya bisa nonton aksi-aksi memukaumu! Kalau dari Serie-A susah sekali hak siarnya!”


Reza pun sempat tersentak, ada tiga tim potensial yang meminta Reza untuk segera. Memberi keputusan, entah itu mengakhiri kontrak dengan Milan dan memasuki klub baru atau bagaimana nyamannya.


Klub itu antara lain, Manchester Blue dan Manchester Red serta The Chelsea.


Tiga klub raksasa Inggris menawari Reza dengan harga yang fantastis, jika dirupiahkan sekitar paling tinggi, yaitu 1,5 triliun atau 80 juta Pound.


“Ugh … Memikirkannya saja, terlalu banyak,” gumam Reza.


Reza dan Vera pun berpisah dengan mereka, meninggalkan senyuman hangat sembari menarik koper untuk menuju pintu pertama keberangkatan.


***

__ADS_1


Milan, Italia.


Reza dan Vera telah sampai, ini kedatangan dengan status suami istri untuk pertama kalinya, bagaimana pun pasti rekan-rekannya Reza di AC Milan akan cukup terkejut nantinya.


“Kita ke rumahku,” ucap Reza. “Ah, rumah kita bersama!” lanjutnya dengan cepat ketika melihat wajah tertekuk Vera.


Keduanya berjalan begitu santai, menghirup udara bebas polusi, kendaraan bermesin di Italia cukup jarang digunakan, orang-orang lebih suka jalan kaki atau juga menaiki sepeda.


Ketika sampai di depan rumah dengan desain modern zaman sekarang, seorang pria sedang menunggu sembari menghirup sebatang tembakau.


“Hmm … Siapa, ya?” ucap Reza sembari menggeser Vera ke belakangnya.


“Wah … Anakku sudah besar!” Hendak memeluk, Reza menghindar.


“Maaf, anda siapa dan sedang apa di rumah saya?” tanya Reza masih cukup tenang.


“Oke, ingat ini,” ucap pria itu sembari memakai topi berjenis flat cap lengkap dengan memakai seragam petugas kebersihan yang membuat Reza membelalakkan matanya.


“Ah! Pak Theo!” ucap Reza dengan cepat dan langsung mengambil tangannya untuk menyalaminya.


“Tapi … kenapa anakku?” seru Reza sangat bingung.


“Ya, ayolah, ke dalam,” ucap Theo cukup datar.


Reza pun dengan perasaan ragu mengizinkan Theo untuk masuk rumahnya, Vera pun dengan cepat beradaptasi akan rumah Reza dan langsung segera menghidangkan minuman untuk Theo.


Vera kemudian duduk di samping Reza, pembicaraan yang serius akan terjadi saat ini.


“Oke, pasti kamu bingung, tapi … Biar saya jelaskan, Bram Wijaya Kusuma, lahir tanggal 26 Juni 1980, menikah dengan seorang wanita cantik bernama Citra dan melahirkan seorang anak pada tanggal 26 Juni 2006.”


Penjelasan yang tepat sasaran langsung menohok jiwa dan raga Reza, rasanya ini adalah perasaan paling pedih selama dirinya hidup, perasaan amarah langsung memuncak begitu cepat hingga menggelapkan matanya.


“Permisi, ini adalah Bram Wijaya Kusuma, 'kan?” tanya Reza diiringi anggukan ringan dari pria tersebut.


Reza dengan cepat langsung menyerang pria tersebut dan melayangkan tinjuan beratnya, membuat keduanya jatuh tersungkur saling menindih.


Reza berdiri kemudian berkata, “Itu adalah bayaran karena kau meninggalkan ibuku dan … Saya!”


“Heh, salam kenal, anakku,” jawab pria itu balik dengan tersenyum penuh kehangatan walaupun sudut bibirnya mengeluarkan darah.

__ADS_1


__ADS_2