Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 140 - Final UCL Terpanas dan Terseru!


__ADS_3

Tahun 2024, tahun di mana banyaknya perubahan dalam tatanan sepakbola dunia.


Perlahan tapi pasti, dunia akan bisa mengenal seberapa gila atau juga seberapa ajaibnya kiper asal Indonesia yang mampu membawa AS Trenčín hingga melaju ke final UCL musim 2023/2024.


Kiper asal Indonesia ini juga mampu membawa negaranya meraih trofi Piala Asia untuk pertama kalinya dalam sejarah persepakbolaan Indonesia.


Kiper asal Indonesia yang sudah mandi gelar di awal karirnya, sudah memiliki banyak penghargaan dari suatu turnamen. Kiper ini lahir hanya sekali dalam satu abad.


Kiper ini beruntungnya lahir di negara Indonesia yang mana persepakbolaannya masih terbelakang.


Reza Kusuma, saat ini sedang berlaga di stadion Wembley London, Inggris, menghadapi PSG dalam final UCL.


AS Trenčín yang jadi tim kuda hitam mampu menggulung tim-tim kuat dari liga-liga top Eropa. Itu semua berkat kehadiran satu orang saja yang membawa puluhan perubahan pada tubuh AS Trenčín.


Reza juga yang saat ini sedang fokus menjaga gawangnya dari kebobolan, ditonton oleh jutaan pasang mata di seluruh dunia, final UCL ini adalah final terseru yang wajib mereka tonton hingga selesai.


Para penonton akan menjadi saksi hidup, ketika AS Trenčín mampu melibas habis PSG, mengandalkan senjata sekaligus benteng dari AS Trenčín, yaitu Reza Kusuma.


“Eh! Duh!”


Reza jatuh tersungkur karena kakinya sempat terlipat ke belakang.


“Hahaha! Jatuh konyol anjir, bikin malu!” seru Reza sambil menendang rumput.


Senyuman yang terpaksa juga harus ditunjukkan olehnya ke kamera yang menyorot padanya.


“Eh! Awas sisi kanan ada Ekitike!”


Namun, apa daya, peringatan dari Reza tak terdengar di tengah puluhan ribu pendukung oleh Kozlovsky.


Alhasil, bolanya direbut secara langsung, Ekitike pun melakukan overlap dan cut inside di dalam kotak penalti, melirik gawang, melepas tendangan terukur.


Reza masih bisa mengatasinya tanpa melihat memakai Mata Masa Depan, dirinya melompat ke sisi kiri, ke tiang dekat.


Mengulurkan kedua tangan, Reza merekatkan bola di kedua telapak tangannya. Bola benar-benar lengket tak bisa ada efek pantulan lagi.


“Arghh! Ini yang sudah ke tiga!” seru Ekitike kesal.


Reza mendaratkan tubuhnya, dan langsung mengambil posisi untuk berlari sambil memegang bola di tangan kanannya.


Ketika sampai di tepi dalam kotak penalti, tangan kanannya terayun tegas melepaskan bola yang melesat kencang dalam bentuk parabola.


“Ambil itu, Bang Witan!!!” pekik Reza dengan suara yang sangat keras.


Suaranya keras, tetapi dengan mudahnya teredam oleh puluhan ribu suara lainnya dari para pendukung.

__ADS_1


Beruntungnya, Witan bisa mendengarnya meski sangat kecil. Sontak Witan langsung berlari di sisi kanan sambil menoleh sejenak ke atas.


Bola hasil lemparan Reza sangat jauh, mampu melewati tengah lapangan hingga nyaris mendekati tepi kotak penalti PSG.


Witan yang berlari sekuat tenaga nyaris kehabisan tenaga, tetapi dirinya seperti ada dorongan tenaga baru ketika mendengar teriakan dari para pendukung yang menyerukan namanya.


“Witan!”


“Witan!”


“Cetak gol!”


Witan, mendapatkan bola, dalam dua sentuhan, dia melepaskan tendangan kuat memakai kaki kanannya ke sudut kiri atas gawang yang dikawal oleh Meslier, kiper PSG hasil transfer dari Leeds United.


Para bek tengah PSG yang mencoba menghalangi jalur tembak tak sempat karena kecepatan tendangannya melebihi cepatnya reaksi mereka.


Bola melaju kencang, menembus 100 km/h atau bahkan lebih lagi, menghunjam jala gawang tanpa perlawanan dari Meslier.


Meslier hanya melongo ketika bola menghunjam gawang yang dikawalnya. Tak bisa berkutik, hanya bisa menyesali bahwa kakinya tak bisa merespons tendangan itu untuk melompat.


“Gooool!” Witan berselebrasi ke sudut lapangan.


Dia menunjuk Reza yang saat ini melompat riang, itu adalah assist pertama dari Reza. Benar-benar murni dari tangan ajaib Reza, mampu membuat Witan bisa memanfaatkan kesempatan tersebut.


“Itu dia! Itu yang kusuka!” seru Reza sambil mengambil minuman yang disimpannya di dekat tiang gawang.


Satu sama lain dari mereka mulai menunjukkan kesan keegoisan tinggi, apalagi Kylian yang terus memegang bola meski dikekang para pemain AS Trenčín.


Kylian terus bergerak, dia juga tak jarang direbut bolanya karena keegoisan miliknya.


“Ini yang saya tidak suka dari Kylian Nbappe! Dia egois, lebih respect saya ke Bang Dodo dan Messi!” gumam Reza.


Meski begitu, dia juga tak bisa meremehkan peraih topscorer Piala Dunia 2022 lalu, raihannya sama seperti saat ini dengan 9 gol.


“Mari kita mencoba beberapa hal yang jarang saya lakukan!”


Ketika ada sebuah umpan yang terlanjur jauh, bola itu membentuk parabola dan mengarah kepada Reza.


Reza bukannya menyiapkan tangannya, dia malah melompat dengan mengayunkan kakinya ke atas, menyerupai kalajengking yang menyerang mangsa memakai ekornya.


Kaki Reza menghantam bola hingga menjauhkannya dari mulut gawang.


“Wah! Masih bisa digunakan juga!”


Merasa terprovokasi, Nbappe yang mendapatkan bola di luar kotak penalti langsung melepas tendangan terukur yang tak kalah cepatnya juga.

__ADS_1


Reza sudah bersiap di posisi, ketika bola ditendang, Reza langsung melompat ke kanan menyusuri tanah dengan tangan terulur tegas.


Bola tendangan mendatar, dihalau dengan mudah oleh Reza, membuat Nbappe semakin kesal.


Menit demi menit kemudian, ada suatu ketika saat Witan memegang bola, Nbappe melakukan sliding tekel berbahaya membuat Witan jatuh terhantam ke tanah.


“Kuning!”


Wasit mengangkat kartu kuning dengan tegas kepada Nbappe yang berjalan lesu ke arah sembarang.


Di pinggir lapangan, Nbappe mengayunkan kakinya dan menendang botol minuman tim AS Trenčín.


Sontak keributan pun terpancing oleh para pemain AS Trenčín yang berada di bangku cadangan dan Nbappe sendirian.


Insiden saling dorong terjadi, para pemain PSG yang sedari awal kesal bertambah kesal.


Padahal, Nbappe yang memantik api di dalam minyak, tetapi Nbappe malah merasa dirinya yang menjadi korban atas insiden kecil ini.


“Hei, hei! Hentikan!”


Bahkan Reza secara tegas mendorong rekannya menjauh dan juga mendorong kecil para pemain PSG.


Mencoba melerai dengan sedikit lembut tak bisa, bahkan para staf kepelatihan juga mulai panas hingga mulai ikut-ikutan dalam pertikaian antar pemain ini.


“Bodoh! Kalian bodoh! Ini main bola, bukan mau main UFC! Diam! Woy!” teriak Reza begitu keras.


Witan yang sudah beranjak juga mencoba melerai rekan-rekannya yang semakin panas.


Wasit, staf stadion mulai mencoba menurunkan situasi yang semakin memanas ini, apalagi para pendukung di stadion perlahan mulai melontarkan kalimat-kalimat hinaan.


“Anjir! Kenapa lagi ini kah? Waktu itu Manchester Unity, sekarang PSG!” ucap Reza begitu kesal.


Dia tiba-tiba merasakan hantaman keras di kepalanya, ternyata seorang pemain PSG sudah bermain tangan dalam situasi ini.


“Woy! Main tangan, ya! Sini! Baku hantam kita, Njing!” Reza benar-benar tersulut emosi.


[Tuan harap tenang! Pikirkan sesuatu yang mendamaikan!]


“Hah! Huuu … Untung kau ingatkan, Sistem Kiper!” gumam Reza sambil mengedarkan pandangan. “Haaa … Mereka juga perlahan mulai berpisah, sepertinya tak lama lagi kondusif!” lanjutnya.


“Reza!” panggil Witan.


Reza mendatangi Witan yang sudah berada di tengah lapangan melihat rekan-rekannya yang terlalu heboh dalam mendalami situasi.


“Wah! Saya kira Cuma di Indonesia yang begini, ternyata di pertandingan kelas Eropa saja bisa gini!” ucap Witan dengan perasaan gugup.

__ADS_1


“Yaaa … Gitu deh!”


Sekitar 10 menit kemudian, akhirnya pertikaian itu dapat diredam dan pertandingan kembali dilanjutkan pada babak kedua nantinya.


__ADS_2