
Di rumah sakit tempat Reza dilarikan, dia saat ini sudah terlihat siuman, pandangannya masih agak buram, napasnya juga sesekali kurang konsisten.
“Hei, Nak? Apa … apa yang kau rasakan?” Asisten pelatih kepala, pelatih kiper, Markus.
Dia yang saat ini mendampingi Reza di rumah sakit, sementara tim Indonesia masih dalam keadaan bertanding tanpa kehadiran Reza.
Meski begitu, Nabil dan rekan-rekannya masih sangat baik dalam bertahan dan juga menyerang. Andrika yang dibebankan tugas berat juga masih bisa menyelesaikan tugasnya hingga berakhirnya babak pertama, skor juga masih bulat kacamata.
Kembali ke Reza, dia tiba-tiba langsung mendudukkan dirinya, menatap sekeliling dengan linglung.
“Pertandingannya?!” serunya.
“Ssst … sudah, kamu istirahat saja. Istirahat dan tunggu hasil dari dokter,” jelas Pelatih Kiper Markus.
Reza pun perlahan mulai menyadari beberapa hal tentang kesalahannya dalam mengambil keputusan yang mengakibatkan bahaya bagi tubuhnya sendiri.
Dia tak memikirkan tubuhnya, dia hanya memikirkan bagaimana gawang agar tak kebobolan. Semua yang dia bayangkan menjadi pelajaran baginya untuk saat ini.
Pilihlah keputusan yang tepat, meski kalian sehebat dan sekuat apapun, keputusan yang kalian pilih salah maka hanya datang sebuah akibat buruk dari pilihanmu. Hidup jelas memilih, mencoba memilih keputusan benar dan membimbing kita ke jalan yang benar.
“Haa … maaf, Pelatih,” ucap Reza seraya menundukkan kepalanya.
Penyesalan tentu datang diakhir. Reza menyesal, sebab kesalahannya dalam memilih keputusan, membuat timnya kehilangan tembok kokoh mereka saat ini.
“Kau menganggap seistimewa itu di tim? Ayolah, Nak! Jangan salah, tim ini sudah dirangkai Bima sejak AFF tahun kemarin sebelum kamu datang.
Tim ini, walau tanpamu, masih bisa kok menahan imbang Jepang. Masih bisa kok memenangi melawan tim-tim kuat lainnya. Jangan anggap remeh tim yang telah kami bangun susah payah ini!”
Reza langsung dihadapkan oleh ceramah milik Pelatih Kiper Markus.
Reza juga salah mengambil kalimat saat itu, dia berpikir bahwa dia adalah yang istimewa dan bisa dibilang jantung tim. Namun, karena kesombongan yang mulai perlahan terbentuk membuatnya menjadi merasa lebih di atas.
Satu hal yang pasti, setiap orang pernah mengalami hal seperti itu. Mereka akan merasa di atas ketika kemampuan mereka semakin bagus.
Hal inilah yang membuat kebanyakan atlet sepakbola atau bahkan atlet olahraga lainnya yang berjatuhan dari papan atas sebab kesombongan mereka, watak mereka yang seperti itu jelas dibenci oleh para penggemar.
“Maaf, Pelatih, maaf dari lubuk hati saya paling dalam. Maaf telah berkata yang tidak semestinya, saya terlalu sombong,” lirih Reza semakin menundukkan kepalanya.
Markus pun berdiri dari kursinya, dia langsung merangkul Reza.
__ADS_1
“Nak, jangan menunduk seperti itu. Tataplah ke depan, jadikan kejadian ini sebagai pelajaran bagimu kelak di masa depan.
Semua orang pasti merasakannya, di mana mereka yang dari puncak tiba-tiba jatuh,” jelas Markus.
Dia melepas rangkulannya dan berjalan ke pintu ruangan, berbalik sejenak dan berkata, “Saya mau mengecek hasil pemeriksaanmu. Orangtuamu menelpon tuh.”
Mengarahkan pandangan dengan apa yang ditunjuk oleh Markus, Reza menatap smartphone nya di atas lemari kecil samping ranjang.
Reza buru-buru mengambil benda persegi panjang pipih itu dan segera menjawab panggilan dari ibunya.
“Nak!!! Kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi? Kenapa Eca dibawa pakai ambulans? Eca!”
Rentetan pertanyaan langsung menghantam gendang telinganya hingga berdengung sejenak. Menatap nanar layar smartphone nya, senyuman tipis terpatri jelas dalam raut wajahnya.
“Ibu, Eca tidak apa-apa, Eca cuma kelelahan–”
“Eca bohong! Nak, ibu tahu, ibu melihat tayangan ulangnya,” sela Citra yang membuat Reza terdiam.
“Reza! Kau tidak apa-apa?!” Suara yang ribut terdengar.
Reza pun menyadari satu hal, keluarganya dan teman-temannya mendukung sepenuhnya terhadap dirinya. Mereka begitu merasa khawatir ketika Reza harus dilarikan ke rumah sakit yang bermitra dengan panitia turnamen ini.
“Eca, ini ada Vera mau bicara.”
“Reza … hati-hati,” ucap Vera yang tiba-tiba terdengar suara berantakan.
“Melani!!! Anakmu menjatuhkan hapeku!” Teriakkan khas dari ibu-ibu yang marah.
Sontak dari panggilan terdengar ada perdebatan di antara Citra dan Melani ibunya Vera.
Alhasil membuat Reza tertawa renyah. Dia masih sangat bersyukur masih mendengar celotehan ibunya kepada Melani, ibu dari Vera.
“Halo, ini Bagus! Biasalah, kau tahu,” ucap Bagus.
Reza menyalakan televisi untuk melihat siaran sepakbola, sembari menjawab beberapa kalimat kepada Bagus.
“Kak, bagaimana kabar Youth Tournament?”
“Jelas SMA Harapan semakin di depan! Selain Riyandi, ada anggota baru lagi sebagai kiper. Dia sangat hebat, tak kalah hebat daripada kau!”
__ADS_1
Bagus dan Reza pun saling berbincang. Sesekali Reza masih fokus ke layar televisi yang mana serangan sedang berlangsung dari Indonesia U-17.
Serangan itu dari tengah, Narendra yang melakukan pergerakan mengumpan secara terukur ke depan menggunakan terobosan mendatar.
Nabil mendapatkannya, hingga dia berhasil melewati dua pemain Qatar U-17.
Nabil berhadapan dengan kiper, bola gantung diciptakan olehnya yang membuat sang kiper harus menatap bola itu melewati jangkauan jari-jemarinya.
Bola masuk pada menit 67, merubah skor menjadi 1-1.
Ya, sebelumnya tepat menit 60, Qatar berhasil mengungguli Indonesia terlebih dahulu lewat tendangan bebas pengecoh.
Awalnya yang mengeksekusi tendangan bebas, dia berniat melakukan bola datar di bawah pagar pemain yang melompat. Para pemain Indonesia yang membentuk pagar hidup bisa dibilang menyadarinya.
Namun, satu hal yang menjadi kesalahan, seorang pemain Qatar, Ali, melakukan gerakan kecil hingga menyentuh bola untuk merubah arah jalur bola.
Andrika tak mampu menghalau tendangan itu hingga Qatar mencetak skor.
Kemudian pada saat menit ketujuh puluh delapan, Pelatih Bima memasukkan Arjuna menggantikan I Komang sebagai penyerang.
Arjuna yang saat itu diplot sebagai supersub oleh Pelatih Bima mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Dua menit berselang, Arjuna mendapatkan bola liar hasil kesalahan sapuan dari bek Qatar. Arjuna jelas tak menyia-nyiakan kesempatan besar saat itu, lantas dengan mengendalikan bola menggunakan kakinya.
Melangkah dengan cepat, mengayunkan kaki kiri hingga menghempaskan bola keras. Bola tanpa kawalan itu lantas masuk cukup mudah ke gawang, sisi atas kiri.
Kiper Qatar, Hassan nyaris menyelamatkannya, tetapi dia hanya sedikit terlambat dalam bergerak.
Pada menit 80, Indonesia berbalik mengungguli Qatar lewat gol dari Arjuna yang memanfaatkan kesalahan bek Qatar.
“Goool!” teriak Reza yang justru mengagetkan Markus sesaat memasuki ruangan.
Panggilan dari Indonesia juga sudah ditutup, mereka yang berada di Palu merasa lega bahwa Reza baik-baik saja untuk saat ini.
“Hahaha! Jadi … bagaimana perasaanmu setelah melihat tim yang saya, Bima dan rekan-rekan lainnya rangkai?” Markus duduk di samping ranjang Reza.
Reza sempat terdiam. Dia masih memilah kalimat yang bisa digunakannya untuk saat ini agar tak menyinggung perasaan.
“Mereka sangat kuat. Saya merasa lega bagai semua beban hilang. Awalnya saya takut ketika gawang tanpa kawalan saya, jadi … ya gitu deh.
__ADS_1
Jadi … intinya mereka kuat dan mampu bersaing!”
Markus pun hanya tersenyum membalas penjelasan singkat dari Reza.