
Pertandingan menghadapi Milan berakhir imbang yang membuat pertandingan memang patut dinikmati karena kekuatan yang nyaris seimbang.
Meski Reza yang seperti menggendong tim, tetapi rekan-rekannya juga adalah yang terbaik selama karirnya saat ini, dengan segala kelebihan dan juga kekurangan, tim ini bisa bersaing hingga saat ini.
Selepas beberapa pembahasan evaluasi akhir pertandingan, dan juga sebelumnya konferensi pers pasca pertandingan yang tak begitu berpengaruh untuk saat ini.
Melakukan perjalanan dari Italia yang memakan waktu beberapa jam, akhirnya Reza bisa berbaring santai di atas kasur empuknya memandang langit-langit kamar.
“Aahh~ Kemarin itu menyenangkan. Zlatan mampu membobol gawangku.” Reza bermonolog.
Dia memandang apa yang ada dari balik jendela. Gelapnya malam dengan beberapa bintang menghiasinya hingga manik mata Reza berbinar-binar.
“Wah … Sudah lama tak melihat bintang, hmm … Apa saya akan menjadi Bintang Paling Terang nanti?” gumam Reza kemudian beranjak dari kasurnya dan menuju jendela kamar.
Reza membuka daun jendela, dihirupnya udara malam yang begitu segar untuk sekelas daerah Eropa saat ini, khususnya di kota Trenčín.
“Rumah baru, yap, lumayanlah.”
Setelah mendapatkan gaji serta beberapa bonus, dia akhirnya bisa membeli rumah sepetak seukuran 36 meter persegi. Cukup baik untuk dirinya saat di Trenčín.
Di tengah lamunannya, Reza terkejut akan dering dari ponsel pintarnya. Berjalan ke lemari kecil samping tempat tidur, Reza meraih ponsel pintarnya.
“Wah! Vera!”
Reza buru-buru mengangkat panggilan, menempelkannya di telinga dan segera menyapa seseorang dari balik panggilan.
“Halo, Vera! Malam– Huh? Bu–Bukannya di sana jam …”
Reza melihat layar ponsel pintarnya, di sana tertera pukul 23.26 malam.
Jika waktu Indonesia Tengah, maka tepat pukul 08.26 pagi.
“Hahaha! Sini sudah pagi, Za! Oh, iya! Saya di bandara nih, tepatnya di bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Sedang dalam perjalanan menuju ke sana, Trenčín! Saya dapat beasiswa pertukaran pelajar internasional.
Ya, awalnya ada empat negara yang bisa saya kunjungi, salah satunya Slowakia, tepatnya di kota Trenčín!”
Reza terkejut sekaligus senang, karena dia bisa bertemu sosok salah satu penyemangat hidup yang baru. Dia sudah bisa dibilang menjalin hubungan kekasih bersama Vera.
Lagipula telah disetujui kedua belah-pihak bahkan teman-teman Reza di Palu malah senang. Bukan sesuatu yang romantis, tetapi akan ada.
“Jadi … Kapan ke sini?”
“Za~ Saya katakan nih, saya sudah di bandara Soekarno-Hatta!”
“Ah! Berarti … Besok, mungkin?”
“Baguslah kalau kau sudah paham, hihi~ Yaudah, pesawat sudah siap!”
Panggilan pun tertutup, tertinggal Reza yang semakin bersemangat lagi. Dia bahkan berharap sekolah tempat Vera berada akan sama sepertinya.
Namun, sepertinya itu tak akan terjadi, dia tahu salah satu sekolah elit di Trenčín yang bisa saja itu akan dimasuki Vera, sesuai dengan beasiswa pertukaran pelajar.
“Yaa … Paling tidak bisa bertemu,” gumam Reza.
__ADS_1
Dia pun menutup jendela dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Sedikit mencari posisi yang bagus, Reza akhirnya bisa tidur pulas demi sekolah besok hari.
***
Tang!
Sebuah bola melesat begitu kencang, menghantam tiang gawang.
Seorang kiper menangkapnya dengan baik hasil pantulan itu dan langsung menendangnya jauh ke depan.
Namun, di tengah, pemain lawan mendapatkan kembali bola dan lantas melakukan overlap sendirian hingga tepat berada di dekat kotak penalti.
Pemain ini mengambil ancang-ancang, dan diterbangkan bola hingga sang kiper melompat begitu akrobatik.
Bola itu melesat sangat kencang, membentuk rotasi tanpa batas.
Ketika benda bundar itu menghantam keras pergelangan sang kiper, kejadian naas terjadi, pergelangan sang kiper hancur akibat tendangan supermasif itu.
Pergelangan tangan hancur, jari-jari tangan itu berjatuhan seperti tak memiliki harapan lagi.
"AAARRGHHH!”
Deg!
“Huh?!”
Reza beranjak secara spontan, matanya berkeliling di ruangan hingga matahari pagi menyinarinya.
“Apa itu?”
“Gila, mimpi aneh itu mengguncang mentalku,” gumam Reza.
Melihat jam beker di atas lemari kecilnya, sontak perasaan terkejut karena sudah pukul 08.54 pagi.
“Haaa … Dahlah, bolos sehari tak apa, nilaiku juga aman-aman aja.”
...[Tuan anak nakal.]...
Bibir Reza berkedut. Dia tak menyangka Sistem Kiper akan menyindirnya secara langsung.
Tak mengindahkannya, Reza memilih menuju kamar mandi untuk segera bersih-bersih badan.
Selepas mandi, memakai pakaian kasual –Kaos polos dengan celana pendek biasa– setelahnya langsung pergi keluar rumah untuk menghirup udara yang cukup segar.
“Hari yang membosankan. Sekolah, latihan, bertanding dan begitu terus setiap hari.
Agen Bryan juga belum menghubungi kalau ada sesuatu yang penting.”
Berjalan sambil mendengar musik adalah kondisi yang sangat pas dan nyaman. Saling menyapa dengan tetangganya yang sudah mengenalnya, atau bahkan telah menjadi fans akan dirinya.
“Vera …”
Duk!
Karena begitu melamun, Reza tak menyadari ada batu yang mencuat dan menjegalnya hingga dia terjerembab.
__ADS_1
“Duh … Memalukan!”
“Anda tak apa?” ucap seorang wanita dengan suara lembut dan gemulai.
“Haha, tak perlu dipikirkan,” jawab Reza.
Dia berdiri dan menatap wanita yang menanyainya. Apapun itu, rasa keterkejutan adalah yang pertama dan nyaris membuatnya kehilangan keseimbangan lagi.
“Vera?!!”
“Yo! Apa kabar, Bintang Paling Terang kita!”
“Se–Sejak kapan?!”
“Hari pertandinganmu melawan Milan, saya baru sampai saat itu!”
“Tadi malam?”
Vera berkedip genit, dia tersenyum jahil dengan juluran lidah yang menambah kesan imut baginya.
“Vera! Ayo, katanya mau bertemu Reza! Rumahnya di san–”
Vera dan Reza melirik serentak ke arah suara yang menarik perhatian keduanya.
“Ah~ Ibu~ Jangan membuat pengakuan gitu!” Vera menjadi kesal.
Reza sendiri hanya menatap ibunya Vera meminta sedikit penjelasan tentang permasalahan Vera yang akan menetap di Trenčín selama masa sekolahnya.
“Hanya satu semester, setelahnya jelas pulang.”
Sambil berjalan menuju rumah Reza, ketiganya saling berbincang.
“Terus, Vera akan nge-kost di sekitar sini, karena jarak sekolahnya dekat.”
‘Sudah diduga, bakalan masuk di sekolah elit itu,’ batin Reza.
Setelah sampai di rumahnya Reza, akhirnya penyambutan tamu dilakukan Reza sambil memberi kabar pada ibunya via panggilan video.
“Halo, Bu! Eca sama Vera dan ibunya nih,” sapa Reza.
“Wah, Bintang Paling Terang Ibu telah besar, ya!”
Percakapan antara ibu dan anak itu berlanjut, hingga merembet kepada percakapan antara kedua belah-pihak, berbagi cerita sejak Reza berkarir di Slowakia.
Semua itu lengkap hingga paket kuota antar negara Reza nyaris habis hingga tak bisa lagi melakukan panggilan video.
“Bu! Sudah dulu, ya!”
Citra dari seberang tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Reza pun menutup panggilan.
“Yasudah, saya dengan Vera mau pulang, jaga baik-baik rumah hasil kerja kerasmu ini!” ucap Melani sambil mengedarkan pandangan.
Keduanya pun pergi meninggalkan Reza untuk sementara waktu, karena Reza sudah bertukar alamat demi bisa berkunjung. Lagipula ada penjaganya, yaitu Melani yang memang telah mengambil cuti demi menjaga anaknya di negeri orang.
“Nah … Oke, saatnya menuju aktivitas intinya!”
__ADS_1
Bersiap, memakai jersey latihan dan menggendong tasnya yang berisi sepatu serta sarung tangan. Reza keluar rumah dengan menaiki bus menuju lapangan latihan AS Trenčín.