Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 24 - Gadis Menawan


__ADS_3

Sekitar sejam, Reza telah menyelesaikan seluruh sesi latihannya. Tubuhnya dibasahi keringat, tempatnya berlari digenangi beberapa mililiter air asin. Keringat itu bahkan mengering dan membentuk butiran kristal kecil.


Reza duduk sembari terengah-engah, nafasnya naik turun, dia menatap rekan-rekannya yang juga kelelahan, tetapi rasa kelelahan mereka tidak begitu parah dibanding Reza. Rasanya ingin segera merebahkan diri di kasur yang empuk.


“Baik, besok kau akan melakukan itu lagi hingga hari Sabtu. Setelah hari Sabtu, besoknya akan tanding, maka manfaatkan beberapa hari ini untuk membentuk beberapa persen otot kecilmu.” Pelatih Candra dengan tak acuh.


Reza hanya menatapnya, dia kemudian melirik Riyandi yang baru saja selesai melakukan gerakan mendayung menggunakan mesin.


“Gimana? Enak, pasti sih! Hahah!” Wajah mengejek ditunjukkan Riyandi.


“Huft!”


“¹Bah, siko hii!” Bahasa Kaili Reza keluar begitu saja.


Riyandi memicingkan matanya. Dia menutup mulutnya sembari menahan tawa, “Hahaha! Kesal dia!” Riyandi pun melangkah pergi.


“Huu … ²nelengesi!” gumam Reza sembari meminum air mineral dalam sekali tegukan.


“Tidak saya sadar, beberapa kata bahasa Kaili saya keluarkan. Sangking capeknya!”


Reza pun berdiri dengan sempoyongan. Dia memegangi tembok. Sambil melihat rekan-rekannya yang mulai pergi, dia juga mengikutinya.


Namun, seketika badannya ambruk.


“Huh?” Tubuhnya ambruk bagai ditiup angin kencang.


Rasa lelahnya benar-benar terkumpul menjadi satu yang membuat badannya merasa kontraksi otot yang kuat. Beberapa sendinya mulai pegal, tetapi itu hal wajar, karena itu adalah tanda bahwa Reza melakukan latihannya dengan sungguh-sungguh.


“Satu hari … satu hari lagi saya harus coba, besok! Aarrghh! Reza! Pantang menyerah!” Reza menyemangati dirinya sendiri.


Dia pun mulai berdiri dan berjalan sempoyongan. Fisiknya kali ini digenjot hingga melewati batasnya, rasa bahagia bercampur lelah bersatu padu menjadikan ekspresi yang terlihat lemas.


Reza sampai di lapangan dengan mulai berjalan sedikit normal. Di sana, dia melihat rekan-rekannya berbaring di lapangan di bawah teriknya matahari pagi pada pukul 10.


“Sepertinya kalian juga kelelahan!” Reza datang dan langsung merebahkan tubuhnya di atas rumput.


“Yah … ini atas perintah pelatih Sofyan juga. Dia menyebut bahwa fisik kita kurang, jadi … digenjot lah latihan ini. Dan … kau malah meminta latihan tambahan, apa kau gila?!” Bagus menjawabnya dengan rasa lelah terlihat dari wajah tampannya tersebut.


“…”


Reza tak bisa berkata-kata. Dia juga belum mendapatkan kabar bahwa akan ada latihan tambahan bagi mereka. Reza malah meminta latihan tambahan lagi, jadi latihannya dua kali lipat dari rekan setimnya.

__ADS_1


“Ini semua demi tujuan pelatih Sofyan. Katanya pelatih berkawan dengan pelatih Shin, pelatih timnas Indonesia.” Jaka menghampiri keduanya sembari kembali berbaring.


Bagus dan Reza hanya diam. Tak ingin menyanggah apapun itu, yang penting adalah pelatih Sofyan tak mungkin membuat anak asuhnya cidera. Pelatih Sofyan sudah pasti menentukan setiap sesi latihan yang mereka lakukan agar tak ada indikasi cidera dalam latihan.


***


Semua teman-teman Reza pulang dengan rasa semangat yang tinggi. Sore hari itu, mereka dikabarkan bahwa akan kedatangan beberapa alat latihan baru yang dikelola sekolah. Alat itu tentu akan semakin menunjang kesuksesan dalam penaikan kemampuan mereka.


Alat latihan itu akan disiapkan esok hari. Karena kabar itulah, rasa lelah di wajah mereka tertutupi rasa senang dan semangat menunggu alat latihan apakah yang akan mereka gunakan.


Reza sendiri berjalan di bahu jalan dengan santai. Sesekali dia menatap beberapa toko yang sepi akan pelanggan. Tatapannya itu membuat beberapa pejalan kaki merasa curiga akannya.


“Tatapanku hanya tatapan mengisi bosan, kok.” Reza menyahuti muda-mudi yang saling berbisik saat saling berpapasan.


Sontak muda-mudi yang terlihat sedang bermesraan pun langsung segera meninggalkan tempat tersebut.


“Haa … anak zaman sekarang, eh! Saya sih anak zaman sekarang juga.” Reza seketika membantah perkataan pertamanya dengan perasaan malu.


Tak terasa, dia sudah sampai di rumahnya. Rumah yang sederhana, dengan cat berwarna hijau telur asin menambah kesan minimalis dari rumah tersebut.


Pekarangan rumah yang ditumbuhi bunga-bunga ibunya membuat aroma harum khas bunga mulai masuk ke lubang hidungnya.


Reza sampai di depan pintu yang terbuka. Dia kemudian melepas sepatu lamanya, sebab dia belum ingin memakai sepatu baru. Dia akan memakai sepatu baru saat pertandingan nanti.


Kulitnya yang seputih salju, dengan rambut segelap jurang bergelombang sepanjang pinggang, bola mata segelap malam dengan tatapan berbinar, alis tipis, pipi yang terlihat tembem dan imut.


Pakaiannya yang terlihat imut dengan warna hijau muda, beberapa detail kecil di setiap sisinya. Rambutnya yang memakai pita kupu-kupu kuning menambah betapa menawannya gadis di depan Reza.


Gadis itu pun menoleh saat Reza mengucapkan kata “Eca pulang!”


Hal itu membuat ibunya juga menatap Reza. Dia berdiri dan langsung menggiring Reza ke seorang gadis yang tak dia kenali.


“Eca! Ini–”


“Hai, nama saya Vera Saskia. Panggil aja Vera, euum … salam kenal!” Gadis menawan itu mengulurkan tangannya.


Reza terkesiap. Jantungnya berdegup kencang layaknya sebuah senapan mesin yang sedang menembak. Betapa kencangnya hingga Reza merasa dia akan segera pingsan.


“Cantik ….”


“Eh?” Gadis bernama Vera dan ibunya Reza pun serentak demikian.

__ADS_1


“A-ah … bu-bukan gitu, eh! Maksudku … a-anu … aisshh!” Reza berlari ke dalam rumah dan langsung masuk ke kamarnya.


“Pffft!” Ibunya Reza menahan tawa dengan menutup mulutnya menggunakan tangan nya.


Sementara itu, Vera hanya tersenyum sembari memperlihatkan deretan gigi putih bersihnya. Dia hanya memasang wajah seperti itu.


“Ah! Maaf yaa, Nak Vera! Eca memang begitu!”


“Tidak apa kok, Tante!”


“Setua itu kah saya?”


“I-itu ….”


“Hahaha! Kamu memang tua Citra.” Sosok wanita dewasa dengan memakai pakaian kantor memasuki rumah.


Citra hanya terdiam mendengar wanita tersebut. Wanita yang memiliki rambut hitam sepanjang bahu, dengan wajah terlihat serupa dengan Vera, kulitnya pun putih bersih.


“Hahah! Tidak perlu canggung. Ini sahabat lamamu loh!” Wanita masuk dan langsung duduk di samping Vera.


“Iish! Ibu! Kenapa harus nelpon terus sih! Ganggu!” Vera menggerutu kesal.


Sosok yang dipanggil Vera tersebut bernama Melani. Dia adalah sahabat lama Citra, sejak mereka sekolah. Saat ini, keduanya kembali bertemu ketika Melani melamar pekerjaan di kantor tempat Citra bekerja. Keduanya pun saling kenal kemudian kembali akrab seperti dahulu.


“Iya tuh, apa kata anakmu. Jangan nelpon terus!” Citra mengejek Melani.


“Ini bosmu! Dia langsung menyuruh saya mengerjakan setumpuk tugas! Baru masuk, tapi langsung seperti itu? Saya minta gaji lembur nanti!” Melani dengan tampang kesal hanya bisa mengeluarkan unek-unek nya.


Ketiganya pun tertawa dengan bahagia. Tak ada rasa canggung, Reza sendiri hanya terdiam di kamarnya.


“Perasaan ini … apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Saya yang baru sehari menginjak usia 16 tahun merasakannya,” gumam Reza sambil menyentuh letak jantungnya yang masih berdegup kencang.


Aroma bau keringat tercium di lubang hidungnya.


Reza mengangkat tangannya dan mengarahkan ketiaknya ke arah hidung. “Hmm! Bau asam!”


...----------------...


Catatan kaki :


“¹Bah, siko hii!” \= “Bah, kau ini!”

__ADS_1


“Huu ... ²Nelengesi!” \= “Huu ... Melelahkan!”


__ADS_2