Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 66 - Tiba Di Slovakia


__ADS_3

Tak terasa sudah, liburan musim dingin di Eropa sudah mau habis.


Tepat tanggal 15 Januari, Reza bersama ibunya dan juga Agen Bryan berangkat ke Slovakia untuk melakukan beberapa hal penting bersama klub baru milik Reza. Mereka bertiga duduk tenang di dalam pesawat yang akan mengantar ke Slovakia.


Kilas balik beberapa hari lalu. Sebelum mereka bertiga berangkat, Reza secara langsung dilepas oleh seisi sekolah. Mereka menyeru dengan lantang dan mendoakan Reza menjadi yang terbaik di klub barunya.


Pencapaian ini bahkan diliput beberapa media lokal. Entah karena ingin menambah kesan bahwa salah satu pemain muda bertalenta asal Indonesia bisa menembus Eropa, atau hanya untuk mencari cuan belaka. Reza tak memerdulikannya.


Selama dia bisa, maka para media yang selalu menghujatnya dengan beberapa kata negatif akan terbungkam segera.


“Sampai jumpa lagi!” seru kepala sekolah, Cahyono pada sebuah pelantang suara.


Seruan itu diiringi sorakan gembira dari seluruh murid lainnya. Reza pun hanya bisa tersenyum sembari menahan tubuhnya agar tak bergetar. Saat itu, tubuhnya bergetar menahan air mata haru. Namun, Reza tak ingin terlihat lemah secara mental di depan teman-temannya. Dia ingin menunjukkan betapa tingginya mental miliknya.


Setelah pelepasan secara resmi dari sekolah, Reza pun keluar dari sekolah dengan iringan lagu yang menciptakan semangat juang tinggi. Di tangannya, terdapat surat pindah dengan berbahasa Inggris.


“Apakah sekolah yang diurus agen Bryan bisa menampungku dan memberi izin kalau ada liga ataupun panggilan gitu?”


Reza pun menatap mobil minibus Avanza milik agen Bryan yang berhenti tepat di depannya.


“Ayo masuk! Persiapanmu masih banyak!”


Agen Bryan saat ini seperti seorang ayah yang berjuang untuk anaknya. Lagipula, selama baru meneken kontrak agen dan klien itu mendapatkan banyak hal, maka sang agen akan sangat sibuk.


Reza pun memasuki mobil. Di dalam, Reza bertanya dengan ragu kepada agen Bryan yang berada di kursi kemudi.


“En … kira-kira sekolah yang anda urus itu bisa memiliki persyaratan untuk anak didiknya bepergian dalam sepakbola?”


Agen Bryan melirik sejenak Reza sebelum kembali fokus kepada jalanan.


“Aman kok, banyak juga pemain muda yang berada di sekolah itu. Mulai dari sepakbola, basket bahkan voli. Sekolah itu seperti tempat menimba ilmu para atlet olahraga!” ungkap Bryan seraya membelokkan mobilnya di persimpangan.


Setelah penjelasan singkat itu, Reza hanya diam dan terus menatap fokus surat pindah tersebut. Dia sudah membulatkan tekad dan untuk sementara tak akan melihat ke belakang, dia akan melihat terus ke depan hingga sewaktu-waktu dia perlu melihat ke belakang sebagai pengalamannya.

__ADS_1


Kembali ke masa sekarang, Reza saat ini tertidur dalam penerbangan panjang dari Indonesia ke Slovakia. Paspor dan juga visa Pelajar merangkap visa Atlet sepakbola telah lengkap yang diterbitkan oleh kantor Imigrasi Indonesia.


Citra duduk di sampingnya, sementara Agen Bryan sendiri berada di di samping Citra yang dibatasi jalan antara kursi penumpang.


“Anakmu gigih juga dalam meniti karirnya,” ucap Bryan disela keheningan dan hanya suara pesawat saja.


“Anda tahu, agen Bryan. Anak ini sudah mempunyai cita-cita menjadi kiper legendaris sejak Taman Kanak-kanak,” jawab Citra.


Sontak Agen Bryan membelalakkan matanya. Dia pun hanya tertawa kecil mendengar betapa lebih awal cita-cita generasi muda sekarang. Dia sendiri saja bercita-cita menjadi agen sepakbola sejak SMA.


“Masih lama, lebih baik anda beristirahat,” ucap Citra seraya memosisikan tubuhnya senyaman mungkin kemudian menutup mata untuk tidur.


Agen Bryan pun melakukan demikian halnya. Mereka beristirahat dalam penerbangan yang akan memakan waktu sekitar sehari lebih dengan beberapa kali transit di negara atau kota terdekat.


Penerbangan ini dari Jakarta. Jadi, ketiganya harus terbang ke Jakarta dan segera mengambil tiket penerbangan dengan tiga kali transit menuju Slovakia.


Kemudian dari ibukota Slovakia, Bratislava, mereka akan menggunakan kereta menuju kota Trenčín, tempat dimana bermarkasnya klub AS Trenčín saat ini.


***


Reza, Citra dan agen Bryan melakukan beberapa kali transit hingga tak terasa mereka telah sampai di ibukota Slovakia, Bratislava.


Menaiki kereta menuju kota Trenčín, memakan waktu sekitar sejam kurang ataupun lebih tergantung waktu keberangkatan atau kendala beberapa hal yang bisa terjadi.


Reza benar-benar baru pertama kali menginjakkan kakinya di luar negeri. Orang-orang di sana sangat tinggi, tubuh mereka terlihat lebih berisi. Perumahan yang rapi dengan kesan abad pertengahan masih cukup kental di sana, walaupun mulai banyaknya gedung-gedung pencakar langit di beberapa tempat. Bisa dibilang kesannya abad pertengahan, tetapi dibalut dengan hal modern di luarnya.


Orang-orang berlalu-lalang, memakai sepeda atau menggunakan kaki mereka. Ada juga memakai kendaraan pribadi. Semua aktivitas itu membuat Reza cukup antusias.


“Eropa itu berbeda dengan Indonesia, Nak!” celetuk Bryan di sampingnya.


Saat ini mereka berada di dalam kereta menuju kota Trenčín. Beberapa kali melewati gedung-gedung perumahan, hamparan padang rumput dan mengitari pegunungan membuat Reza semakin terlihat bersemangat.


Tak terasa, mereka telah sampai di stasiun tujuan. Kali ini menggunakan bus menuju area klub AS Trenčín.

__ADS_1


Beberapa menit diperjalanan, ketiganya telah sampai. Di sana, area yang begitu luas benar-benar milik klub sepakbola AS Trenčín.


Ada sebuah stadion yang berkapasitas 10.000 penonton, beberapa lapangan kecil tempat berlatih. Ada asrama pemain, gedung-gedung staf dan administrasi kemudian gedung perawatan benar-benar terlihat lengkap.


“Wah … luas!”


“Hei! Kalian ….” Di gerbang masuk. Ketiganya disapa oleh seseorang.


Sesosok pria dengan senyuman ramah, wajah khas orang Asia dengan rambut yang agak panjang. Tubuhnya agak berisi dengan postur tegap.


“Wi–Witan? Pemain Witan Sulaeman?”


Sontak pria yang bernama Witan itu hanya tersenyum semakin memperlihatkan deretan giginya. Witan sendiri akhirnya paham siapa yang telah datang pada saat sekitar dua atau tiga minggu akhir liburan musim dingin.


“Apa kau itu kiper yang baru melakukan kontrak awal dengan tim ini?”


Reza mengangguk tegas. Citra dan Bryan sendiri hanya mencoba melepas Reza untuk beradaptasi di sana.


“Owh … anak Palu ke dua!”


Akhirnya keduanya mulai saling akrab, meski terpaut beberapa tahun, Reza cukup mudah akrab dengan seseorang yang lebih tua dari dirinya, apalagi sesama anak Palu. Citra dan Bryan sendiri menunggu keduanya melakukan tur keliling area klub secara tak resmi.


Hingga tak terasa, waktu sudah sore hari. Witan pamit untuk kembali ke rumahnya.


Akhirnya, ketiganya menuju gedung klub. Di sana pengurusan kepindahan dilakukan secepat mungkin agar Reza dapat segera bergabung latihan setelah liburan musim dingin nantinya yang tak lama lagi.


Bahkan sesi foto untuk Reza juga sudah selesai. Dengan jersey putih bertuliskan nama Reza berhuruf besar dan bernomor punggung 99. Nomor itu sudah secara langsung Reza pilih saat kontrak awal.


Setelah sesi pemotretan dengan gaya fotogenik, diposting lah penyambutan akan Reza di AS Trenčín. Di akun resmi Instabook, AS Trenčín menuliskan kata-kata yang bagus.


“Welcome Reza Kusuma @rezakusuma!”


Sontak postingan yang ditunggu-tunggu para penggemar ataupun pengikut Instabook Reza langsung membanjirinya dengan tanda suka ala Instabook serta komentar mendukung.

__ADS_1


__ADS_2