
Tak terasa waktu terus berjalan hingga semakin mendekati hari yang memanglah ditunggu-tunggu semua orang, di mana laga Timnas Indonesia U-17 yang akan bertemu tim-tim kuat dalam pagelaran Piala Asia AFC U-17 2023.
Tanggal 1 Mei, dengan keadaan yang semakin baik, tim Indonesia saat ini telah benar-benar siap seratus persen untuk menghadapi tim kuat lainnya. Meski kekuatan fisik mereka belum terlalu terbentuk, tetapi ada keuntungan lainnya, stamina mereka akan semakin membaik dan meningkat.
Reza sudah semakin bagaikan monster penjaga gawang, dia dalam tiga kali pertandingan antar pemain untuk membangun chemistry, dia sama sekali tak kebobolan. Belasan penyelamatan membuatnya semakin terlihat kuat.
...[Misi yang sudah ditunggu-tunggu, menangi Piala Asia AFC U-17 2023 dengan aksi yang menarik atensi, maka Tuan akan mendapatkan popularitas maksimum.]...
...[Hadiah dua misi yang sekaligus selesai, 24× minuman isotonik bernutrisi spesial dan juga Mata Bijak Yang Dapat Melihat Masa Depan (1~10 detik)]...
Itu adalah misi yang ditunjukkan oleh sistem Kiper saat Reza dalam perjalanan menuju Jepang di pesawat. Dia yang saat itu ingin tertidur, tiba-tiba terbangun dengan rasa terkejut.
Misi yang seperti akan menyelesaikan semuanya.
“Sistem apa kamu … akan menghilang?” gumam Reza.
...[Sistem tak akan menghilang, sistem hanya akan melakukan hibernasi sejenak hingga Tuan menjadi yang terkuat di dunia sepakbola khususnya penjaga gawang.]...
...[Selama hibernasi sejenak itu, semua kecanggihan sistem tetap bisa Tuan manfaatkan. Dan … fitur {Shop} yang dijanjikan Sistem dulu, akan segera muncul saat itu juga!]...
Reza sedikit terhenyak. Dia, seorang pemuda yang memanfaatkan sistem demi impiannya, melatih kemampuannya sekuat mungkin agar mampu beradaptasi, merasa sedih jika sistem akan menghilang setelah misi jangka panjang itu.
Apa yang ditakutkan Reza adalah ketika sistem menghilang maka kekuatannya selama ini bisa sirna. Namun, satu hal yang pasti dia merasa semakin tertantang adalah jawaban sistem yang terdengar ambigu. Apalagi dengan tulisan yang dicetak tebal pada kata hibernasi.
Reza menatap layar hologramnya, sedikit ada kesan terdistorsi saat itu sekilas mata. Namun, penglihatan sekilas itu tak dihiraukan bagi Reza, dia menganggap bahwa matanya agak kelelahan.
Dalam perjalanan ke Jepang yang sekitar 8 jam itu, Reza semakin yakin untuk melihat pecahan kecil masa depannya.
Yang mana, kemenangan di Piala Asia U-17 AFC 2023 adalah pecahan masa depannya, menurutnya. Lagipula firasatnya tak dapat dibohongi siapapun. Firasat mengatakan, kemenangan tak mudah akan didapatkan.
__ADS_1
Berarti tantangan besar akan Reza dan timnya hadapi saat itu. Melawan tim-tim besar dari Asia, benar-benar tak terpikirkan. Indonesia, menjadi salah satu tim dengan peringkat FIFA paling rendah yang akan mengikuti ajang ini.
“Hei! Kamu melamun!” ucap Nabil Asyura yang menyentuh pundak Reza dari kursi belakang.
Reza menaikkan tubuhnya dan menoleh ke belakang, ternyata Nabil dari tadi telah memerhatikan dirinya yang menatap terus menerus keluar jendela. Terlihat seperti ada beban berat yang harus dipikirkan matang-matang.
“Kalau ada masalah, jelasin aja,” celetuk Nabil dengan senyuman merekah.
“Ah, tidak apa! Saya hanya berpikir beberapa perkataan temanku di Palu.” Reza berbohong dan segera kembali merapikan posisi duduknya.
Kursi di samping Reza sendiri ada Yanuar yang sedang mendengkur cukup keras. Ini karena perjalanan malam hari yang melelahkan.
“Haa … daripada memikirkan hal yang belum tentu terjadi, lebih baik istirahat,” gumam Reza dan semakin memperbaiki posisi duduknya.
***
Sebuah pesawat dengan berlampu merah dan biru di kedua sisi sayapnya nampak mendarat sembari diarahkan petugas menara bandara. Landasan yang sepanjang garis lurus bercahaya semakin membantu pilot dalam proses mendarat.
Pengumuman di dalam pesawat sontak membangun beberapa penumpang, khususnya para pemain Timnas Indonesia U-17 dan staf pelatih yang berjumlah sekitar 36 orang.
26 pemain, ditambah 10 staf pelatih yang akan mendampingi para pemuda ini di Jepang demi meraih trofi Piala Asia.
Jepang. Negara canggih yang memiliki ribuan teknologi di dalamnya, di dalam gedung bandara saja, beberapa staf bandara diisi oleh robot pekerja yang sudah teruji.
Benar-benar negara canggih dan maju. Hal ini sebagai pemuda yang jarang keluar negeri, terutama ke negara-negara canggih, nyaris seluruh pemain terpukau dan ternganga lebar yang cukup memalukan.
“Ayolah, jangan lebay gitu!” keluh Nabil sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan kanannya.
“Yahuuu! Halo? Hello, hello! Robot … apa kamu memiliki kepribadian? Apa kamu bisa buang air? Apa kamu bisa makan?”
__ADS_1
Hal yang tak terduga, Reza malah menambah situasi semakin aneh. Dia berlagak begitu polos dan sambil menyentuh beberapa robot staf bandara. Reza menghujani robot itu dengan pertanyaan.
“Hahaha! Robot ini … aneh, dia tidak akan bisa mencapai titik di mana manusia berjaya. Otak mereka canggih, tetapi … masih kaku dan intinya aneh!
Mau sebaik apapun wujud mereka dan menyerupai manusia asli, itu akan mudah ditebak!” ungkap Reza dengan terlihat lebih serius.
“Ya, kita terlalu dimanjakan oleh robot canggih yang belum tentu kesetiaannya terjaga. Semoga dimasa depan, kita tak dikuasai robot!” sahut Nabil.
Pelatih Bima sendiri yang menyimak sikap anak asuhnya hanya menggeleng ringan. Dia memang akan berpikir kejadian ini akan terjadi, lagipula Jepang adalah negara luar Indonesia pertama mereka.
Terkecuali Reza yang sudah ke Eropa.
Mendatangi seorang pria memakai setelan jas lengkap, Pelatih Bima berbicara cukup serius. Pria yang cukup tampan dengan postur badan rata-rata, tetapi kesan wibawanya masih kuat.
“Oke, hotel yang akan kita tempati tak jauh dari lapangan latihan yang memang dikhususkan untuk kita berkumpul. Empat stadion juga tak begitu berjauhan, ya, hanya beda kota atau distrik saja sih!” jelas Pelatih Bima.
Seluruh tim pun mengikutinya. Saat sampai di luar gedung bandara, sebuah bus cukup besar telah menunggu mereka. Bus dengan warna merah yang mendominasi, logo Piala Asia AFC U-17 2023 Jepang menempel di sisi kanan dan kiri bus.
“Ayo, masuk! Kita harus istirahat. Laga pertama tanggal 3 Mei, besok 2 Mei, waktu kita cukup sedikit untuk melakukan beberapa hal awal di sini!” jelas Pelatih Bima.
Semua pemain memasuki bus dan segera saja bus itu berangkat menuju salah satu hotel yang sudah disediakan federasi sepakbola Indonesia dan juga federasi sepakbola Jepang yang memang mereka tuan rumah kali ini.
Hotel ini berada di pusat Kota Tokyo, pada pukul 03.00 dini hari, situasi Kota Tokyo ini terbilang masih cukup ramai dengan beberapa pejalan kaki dan juga penjual di toko-toko pinggir jalan.
“Nah … Jepang, negara ini mengingatkanku dengan beberapa film animasinya,” gumam Reza.
“Tsuba–”
Sebelum Reza melanjutkan ucapannya, Nabil segera menyanggahnya. “Hei, Reza, jangan ucapin itu di sini. Entar … kena begitulah.”
__ADS_1
“Yasudah, mari kita bekerja keras untuk menangkat trofinya!” seru Reza yang langsung diiringi sorakan rekan tim lainnya.