
Bam!
Bola melaju sangat cepat dalam garis lurus dan menyasar tengah gawang.
Reza hanya diam, menyiapkan tangannya dan menangkap dengan mudahnya.
“Ehhh!”
Reza menatap Chanathip, kemudian berkata, “Oh, tengah, ya? Hihihi~ Saya tahu juga, loh!” Wajahnya yang dibuat-buat benar-benar menyebalkan.
Penendang kedua dari Indonesia datang, dia adalah Witan yang mengambil ancang-ancang, mundur tiga langkah secara lurus, pandangan tak bisa dialihkan.
Ini adalah naluri penyerang sayap, dengan tatapan tegasnya, Witan melangkahkan kakinya, dengan kaki kiri bagian luar, membuat bola sedikit terpelintir yang menciptakan kurva indah.
Namun, hal yang tak diduga-duga, kiper Wangsawad, mampu menangkapnya dengan erat sesaat dia melompat ke arah kiri atas. Tangannya seakan bisa terus-terusan meraih bola, lompatannya jauh, proporsi tubuh sangat baik di udara.
“Apa-apaan ini?!! Sudah dua penendang dari masing-masing tim, tetapi tak satupun masuk!” seru Tubagus, komentator TripleTV.
Para penonton di seluruh Indonesia, atau bahkan dunia benar-benar melihat penalti yang sangat langka terjadi.
Hal ini membuat atensi publik semakin tinggi kepada mereka, kanal-kanal siaran langsung di berbagai media sosial dibanjiri penonton yang membludak hingga beberapa server penyedia mengalami penurunan performa.
Di lapangan, penendang ketiga dari Thailand maju, Bureerat mengambil bola dan menciumnya sejenak.
“Ayo, ayo! Tendang ke mari! Wataaa!” Bergaya bagai ahli kungfu, Reza terlihat sangat kocak.
“Hei, jangan memprovokasi.” Peringatan dari wasit Takumi membuat Reza hanya mendengus kesal.
Bureerat menendang, dia mengambil posisi yang menurutnya akan sulit untuk ditebak.
Tepat di sudut atas kanan, bola melaju kencang hingga nyaris memasuki gawang, tetapi sebuah tangan yang terulur tegas menampar bola hingga menjauh.
“Wooaahh!” Seluruh stadion menggema.
“Huft … Semoga Bang Evan bisa masukin, perasaan saya tidak enak sih,” gumam Reza seraya menyingkir dari mulut gawang.
Penendang ketiga dari Indonesia, Evan maju dan mengambil bola kemudian meletakkannya di atas titik putih.
Evan menarik napas dalam kemudian dihembuskan dengan perlahan, mengambil ancang-ancang, Evan berlari dan menendang menggunakan kaki kanan bagian dalam.
Sepersekian detik kemudian, bola menarget posisi tengah dengan gaya jalur seperti pelangi, ini adalah teknik panenka yang terkenal.
Wangsawad yang sudah melompat ke kanan, menjadi terkejut akan tendangan itu, kakinya dicoba diulurkan sebelum dia semakin ke arah kanan.
Beruntung bagi Evan, ini adalah gol pertama dalam babak adu penalti!
“Mantap!” teriak Reza.
1-0, keunggulan bagi Indonesia dalam babak adu penalti setelah penendang ketiga!
Penendang selanjutnya dari Thailand, dengan perasaan gugup karena tiga tendangan dari rekannya sebelumnya tak menghasil gol.
Reza bersiap di bawah mistar gawang, dia mengangkat tangannya dengan tegas, kemudian menekuknya dan meletakkan ujung ibu jari di leher, setelahnya melakukan gerakan mendatar ke sisi lain leher.
Seluruh penonton terpana, mereka jelas tahu kode ini.
__ADS_1
Sebuah kode yang mana menghabisi lawan dalam sekali pertunjukan. Kode ini juga terkadang digunakan oleh orang-orang tak tahu diri di luar sana, sok menjadi preman terkuat.
“Wah! Dia … Sangat sombong, tetapi masih berkelas juga!!” seru Tubagus.
Seluruh dunia menyaksikan, yang mana calon juara baru Piala Asia, walaupun juga masih di babak semifinal, tetapi Indonesia sudah menjadi tim yang paling produktif serta tanpa kebobolan sama sekali, ini menunjukkan sekuat apa Indonesia sekarang.
Kraisorn membungkukkan badan, pandangannya sangat fokus, hingga ketika wasit meniup peluit, dia langsung berlari dengan tegas ke arah bola.
Syuuu!
Bola membelah udara, memporak-porandakan rerumputan, bola ini mendatar tanah ke sisi kiri gawang. Menurut Kraisorn, bola ini jelas akan masuk.
Namun, kembali lagi Reza meraung layaknya cheetah ke sisi kiri gawang, dia mengulurkan tangannya, tubuhnya yang proporsi membuatnya mudah dalam menjangkau bola.
Penendang keempat Thailand, gagal!
Benar-benar babak adu penalti yang menegangkan, Thailand gagal dan juga Indonesia gagal kecuali Evan yang berhasil menipu Wangsawad.
Reza menyingkir, Wangsawad bersiap di bawah mistar gawang.
Kali ini yang mengambil tendangan keempat dari Indonesia adalah Saddil.
Berdiri di belakang tiga langkah dari bola, seluruh stadion bergema menunggu proses tendangan dari Saddil.
“Huufft ….”
Menghembuskan napas, Saddil langsung memosisikan tubuhnya condong ke depan dan berlari dengan langkah besar.
Kaki kanannya dipersiapkan, hingga menyentuh bola, kaki kanan bagian luar membuat bola melaju kencang hingga sedikit terpelintir.
Wangsawad melompat ke arah kiri, tangannya sekali lagi terulur dengan begitu tepat sasaran tanpa membuat gerakan sia-sia.
Alhasil, Wangsawad berhasil menepis bola membuat Saddil menendang rumput dengan kesal seraya menggerutu.
“Serahkan padaku lagi,” ucap Reza memberi semangat pada Saddil.
Penendang kelima dari Thailand, Yooyen mengambil posisi terbaik menurutnya.
Reza sendiri hanya diam sembari tersenyum. Dia sudah paham sekarang mengapa Thailand belakangan ini disebut tim kuat yang bangkit lagi selain Indonesia.
“Sepertinya kalian mempunyai aset penting,” gumam Reza.
Menyisihkan sementara masalah itu, Yooyen mengambil posisi, dia menendang dengan keras, tetapi karena terlalu gugup di hadapan ribuan hingga belasan ribu suporter Indonesia, bola malah melambung tinggi di atas mistar gawang.
Sontak seruan serentak menggelegar di stadion, “Uuuu!”
Yooyen menggelengkan kepalanya dengan pasrah, penendang kelima dari Indonesia juga telah bersiap, dia adalah Sandy yang perdana mengambil tendangan penalti di Timnas Indonesia sejak dinaturalisasi beberapa waktu lalu.
Sandy mengambil ancang-ancang, postur tubuhnya yang kuat dan juga sedikit besar membuatnya bisa dengan mudah mengatur energi kekuatan tendangan.
Sandy, menggeser bola ke sisi kiri atas gawang yang membuat Wangsawad nyaris menepisnya, beruntung bagi Sandy dan juga Indonesia, uluran tangan Wangsawad tak sampai!
“Penghabisan!”
“Penghabisan!”
__ADS_1
“Habisin! Habisin!”
Lantas stadion menggema dengan kata-kata yang tertuju pada Reza.
Reza bersiap di bawah mistar gawang, penendang keenam dari Thailand, Bunmathan, tak berhasil menyarangkan bola ke dalam gawang Reza.
“Habisin!”
Ya, jika penendang keenam Indonesia berhasil, maka Indonesia melaju ke final untuk menghadapi Korea Selatan yang menang telak 4-1 dari Iran.
“Habisin!”
Reza berdiri di belakang bola, dia akan menjadi penendang penentu disaat-saat menegangkan ini.
Para staf pelatih dipinggir lapangan tentu berdegup kencang jantung mereka, begitu menegangkan hingga membuat mereka merasa seperti di final Piala Dunia saja, padahal bukan!
“SERANG, REZA!!!” seru serentak rekan-rekannya setim.
Reza bersiap, pandangan fokus ke depan dan mengambil posisi empat langkah ke belakang serta dua langkah ke samping kiri.
Reza bertolak pinggang, mencoba mencari posisi yang pas untuk penempatan bola.
“Wah! Wangsawad benar-benar sulit ditebak, setiap kali saya gunakan Mata Bijak, dia selalu bergerak ke arah sembarang. Benar! Dia adalah Pengguna Sistem yang lain!!!”
...[Tuan 100% benar!]...
...[Tuan menemukan Pengguna Sistem Kiper Refleks dan Mata Elang Ajaib]...
“Oh ….”
“Jadi … Saya dapat hadiah? Ah! Daripada itu, lebih penting membuat gol!”
“Ambil ini jika bisa!”
Reza melangkahkan kakinya dengan tegas, rumput ketika diinjak Reza benar-benar tercetak jejak kaki dalam.
Reza menghempaskan bola dengan kaki kiri bagian punggung kaki.
Tekanannya, kekuatannya, akurasinya, semuanya terlihat begitu sempurna dan sangat memanjakan mata para pemirsa.
“HABISKAN!”
Bam!
Bola melintir, mencetak garis lurus ke tengah gawang bagian atas.
Wangsawad bahkan tak bergerak sama sekali dan hanya bersiap dengan kedua tangan di samping tubuh, benar-benar mati langkah menghadapi tendangan supermasif Reza!
Gol, itu adalah gol spektakuler mematikan langkah kaki kiper Thailand.
“Matamu, refleksmu tak bisa, kan?” ucap Reza seraya menunjuk kepada Wangsawad.
Wangsawad terkejut, tetapi dia hanya tersenyum tipis mengetahui bahwa Reza membongkar rahasia yang bahkan siapapun tak tahu.
“Woooo! Indonesia … Indonesia lolos ke final untuk pertama kali!!!”
__ADS_1
Para pemain, staf pelatih berselebrasi, mereka berbahagia karena bisa sampai ke final dengan sedikit ketegangan.