Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 61 - Bertemu Lagi, Febri.


__ADS_3

Rabu, 2 November 2022


Reza dan setimnya berangkat menuju ke Luwuk untuk tandang melawan SMA Jaya Bangsa. Tiga hari sebelum pertandingan, mereka harus segera ke sana dan menginap di penginapan yang disediakan langsung oleh sekolah.


Reza sendiri saat ini masih fokus bersama timnya. Dia juga baru akan pindah nanti Januari. Jadi masih cukup waktu bersama tim pertamanya ini sebelum melakukan pertaruhan ke benuar biru.


Dalam perjalanan, Reza hanya sesekali diam dan menikmati lagu yang diputar di bus. Butuh sekitar paling lama 15 jam perjalanan ke Luwuk memakai bus.


Sebenarnya memakai pesawat juga bisa, tetapi beberapa hal harus dilakukan sehingga akomodasi pesawat tak jadi.


“Hei, Reza! Kulihat kau sedikit berbeda sejak Senin kemarin kau terlambat.” Bagus datang dan duduk di samping kursi kosong Reza.


Reza menoleh sejenak. Matanya cukup sayu, entahlah, sejak mimpi Senin kemarin rasanya agak berbeda. Dia agak sulit tidur dan beberapa perasaan aneh mulai terus mengganggu dirinya.


“Kak … mimpi itu bunga tidur, kan?”


Bagus memiringkan kepalanya. “Ya, mimpi itu sejenis bunga tidur. Eh! Mimpi sudah bunga tidur juga!”


Reza terdiam. Dia awalnya tak memerdulikan mimpi itu. Namun, kemarin Selasa kembali mendapatkan mimpi yang sama. Mimpi itu malah perlahan memperjelas wajah dari pria tersebut, tetapi untuk mampu dilihat identitasnya, masih belum cukup.


‘Sis– Kiper! Kira-kira mimpi yang kualami ada hubungannya dengan kamu?’ batin Reza.


...[Tuan Rumah harus mencari tahu sendiri. Namun, satu hal yang pasti, sistem ada untuk Tuan Rumah, sistem ada dan terlahir dari {ERROR} {ERROR}]...


Reza mengernyitkan matanya. Tiba-tiba saja sistem tak mampu meneruskan perkataannya dan malah error. Reza semakin paham tentang misteri mimpi itu. Dan … untuk tidak mengganggu performanya, dia akan melupakan sementara hal itu.


***


Setelah sampai, Reza dan setimnya beristirahat untuk latihan besok. Pertandingan juga masih nanti hari Sabtu.


Keesokan harinya, semua pemain dan staf kepelatihan keluar dari penginapan yang tersedia dan segera mengambil tempat di sebuah lapangan untuk latihan. Lapangan ini rumputnya mulai rusak.


“Ya, setidaknya bisa dipakai,” gumam pelatih Sofyan.

__ADS_1


Pelatih Sofyan segera memberi arahan para anak asuhnya untuk segera bersiap menerima menu latihan hari ini. Semuanya pun berlatih sesuai arahan pelatih Sofyan, mereka digenjot kedisplinan dan kerapian dalam sistem pertahanan.


Tentunya tim yang mereka akan lawan adalah SMA Jaya Bangsa. Pertemuan kedua pada musim ini akan segera terjadi untuk semua tim. SMA Harapan akan bertemu kembali dan mencoba menyelesaikan pertandingan dengan sebuah kemenangan.


Di satu sisi, SMA Jaya Bangsa sendiri memiliki dendam yang harus dibayar tuntas atas kekalahan 2-1 dengan SMA Harapan pada pertandingan perdana musim saat itu.


Febri dan kawan-kawannya harus membalas dendam atas kekalahan mereka. Misi mereka membuat semangat menjadi lebih membara, sementara itu, SMA Harapan juga akan sulit.


Mereka harus mempertahankan sebuah nilai. Seperti beberapa istilah, meraih hal baik masih mudah daripada mempertahankan hal baik itu di masa depan.


Sebagai pemisalan, jika kamu mendapatkan nilai seratus pada sebuah pelajaran. Maka apakah kamu bisa mempertanggungjawabkan nilai itu kelak. Mampukah kamu menjaga nilai itu tetap menjadi demikian. Hal itu akan sulit daripada meraihnya.


Kembali ke Reza yang saat ini duduk terdiam. Dia memerhatikan pelatih Vino yang memberi arahan begitu serius kepada Riyandi.


Pelatih Vino ingin memanaskan kembali Riyandi yang baru bermain tiga pertandingan pada musim ini. Dia tidak mau bintang yang dia temukan dan diajaknya itu pada klub harus tenggelam dengan bintang besar baru yang terlahir, yaitu Reza.


“Kak Riyan. Maaf jika saya merebut posisimu. Lagipula … persaingan ini sehat juga.”


Reza beranjak dan segera berlatih mengikuti arahan pelatih Vino. Sesekali pelatih Vino memanggil pemain lain untuk membantu kiper berlatih.


Di lapangan, para pemain melakukan pemanasan sebelum laga segera dimulai dalam tiga puluh menit lagi.


Febri menatap Reza yang sedang berlutut satu kaki untuk melakukan peregangan. “Kita bertemu lagi, Reza!” teriaknya yang sontak Reza menoleh.


Reza menatap begitu intens Febri. Dari apa yang Febri sadari, Reza telah banyak berubah. Apalagi dia sudah memiliki pengalaman sebagai pemain timnas usia muda.


“Kuharap kau tidak menjadi lebih jago,” gumam Febri.


Namun, apa yang disadari Reza sedikit berbeda dari pikiran Febri. “Siapa?”


Bagus yang dekat dengan Reza hampir tersedak. Bagus tak menyangka Reza sebegitu cepatnya melupakan rival lapangannya seperti tak memerdulikannya.


Setelah melakukan pemanasan, semua pemain memasuki ruang ganti masing-masing tim.

__ADS_1


Di ruang ganti pemain SMA Harapan. Pelatih Sofyan sedang menerangkan formasi yang sudah diaturnya beberapa hari lalu.


Pada garis pertahanan terdapat Haikal, Muhammad Rafli dan Adi Satria. Formasi ini membuat Arkhan serta Amin harus berada di bangku cadangan.


Pemain tengah ada Angga sebagai gelandang pengangkut air yang akan selalu turun dan maju tergantung kondisi, Teguh Sucipto bertugas mendampingi Angga sebagai gelandang yang serba bisa, atau bisa disebut playmaker.


Di sisi kanan dan kiri ada winger yang bisa turun membantu pertahanan serta menyerang, Danar dan Dennis. Mereka berdua masih terus dipercaya mengawal sayap tim.


Di depan bagian tengah, ada Bagus. Di samping kanan kirinya ada penyerang yang mampu memanfaatkan kecepatan dan penempatan posisi. Mereka ditugaskan untuk berlari tanpa bola menarik pemain agar Bagus bisa leluasa. Di kiri ada Cipto Prakarsa dan di sisi kanan ada David.


Setelah penjelasan formasi itu, mereka semua bersiap dengan jersey tandang mereka, jersey dengan warna dasar emas dan garis-garis bertikal berwarna merah memenuhi bagian depan dengan sela antara garis beberapa sekitar setengah centimeter.


Kedua kesebelasan berjalan dari lorong. Mereka berbaris menghadap tribun utama yang telah dipenuhi 400 kursi.


Mereka saling menyalami, dan sesaat Reza bertemu Febri dalam sesi bersalaman. Keduanya sempat terdiam membuat barisan terhenti juga.


Hawa dingin terasa bagi orang yang peka terhadap begituan.


“Kita bertemu lagi, Febri.”


Setelahnya, Reza melanjutkan langkah meninggalkan Febri yang terdiam sejenak sebelum berlanjut kembali.


Koin tos dilakukan, dan kali ini Reza dan Febri sekali lagi saling bertatapan membuat wasit pemimpin jalannya pertandingan agak canggung. Koin tos dilakukan, Reza mendapatkan bola.


Prit!


Peluti dibunyikan, Bagus menendang bola sebagai tana kick-off pun dimulai.


Adi Satria mendapatkan bola. Dia mengolah bola sambil melihat pergerakan teman dan lawannya. Febri mendekatinya, Adi Satria menjadi sedikit gugup.


Dia pun segera memberi bola kepada Reza. Di sana Reza lantas langsung menendang bola sekuat mungkin ke depan.


Bola tepat jatuh di depan David yang berada di setengah lini pertahanan lawan. David yang mendapatkan bola melakukan overlap menyusuri sisi lapangan.

__ADS_1


Srug!


Sebuah sliding tekel langsung membuang bola keluar lapangan. Kali ini, David menghadapi sosok bek yang menyulitkan.


__ADS_2