Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 115 - Cukup Menang Tipis


__ADS_3

Disisa-sisa menit babak pertama, Iran maupun Indonesia memainkan taktik sepakbola yang berhati-hati.


Terlebih ketika para staf pelatih Indonesia melihat anak asuhnya yang agak kocar-kacir ketika diserang Iran, hal itu membuat decak kesal tersendiri dari Pelatih Shin.


Berpikir keras, itu adalah apa yang harus Pelatih Shin lakukan sekarang juga demi kenyamanan bermain pada babak kedua nanti. Babak pertama yang tersisa dua menit saja, membuat Pelatih Shin semakin berpikir keras.


Apapun itu, Pelatih Shin harus memperbaiki anak asuhnya setelah jeda babak pertama demi meraih poin penuh nantinya.


“Di sana, Kakak-kakak sekalian!” seru Reza dengan lantang.


Namun, suaranya tenggelam di tengah padatnya stadion yang membuat hanya Jordi saja mendengarnya, lagipula Jordi lebih dekat kepada Reza.


“Sabar,” balas Jordi.


Melihat layar digital jauh di atas stadion, Reza agak lega karena tak lama lagi babak pertama berakhir.


Dia, akan mengeluarkan kemampuannya di babak kedua nanti. Kemampuan andalannya, Mata Bijak dengan kombinasi dribble gesitnya.


“Yaa … Sepertinya harus bekerja ekstra, saya harus membantu rekan-rekan!”


Sekitar semenit beberapa detik kemudian, wasit asal Jepang, Hitoki Himura, meniup peluitnya sebagai tanda babak pertama berakhir.


“Reza! Semangat!” teriak seseorang ketika Reza melewati lorong pemain yang langsung terhubung dengan tribun.


“Vera! Ibu!”


Ya, Citra, Vera dan beberapa teman sekolahnya di Palu benar-benar datang langsung ke Qatar demi mendukung Indonesia, khususnya Reza yang bagi teman-teman SMA Harapan adalah panutan terbaik.


Kepala sekolah SMA Harapan pun tak tinggal diam, dia bahkan mensponsori untuk seluruh murid di sekolahnya datang mendukung Indonesia, terkhusus bagi Reza.


“Kepala sekolah kaya, mah mudah sekali, hahaha!” ucap Reza.


Reza pun tersenyum yang kemudian langsung masuk ke lorong hingga tak terlihat lagi bersama rekan-rekannya.


“Ayo! Kita ke gerai minuman! Haus nih, agak panas padahal malam dan ada AC-nya juga,” celetuk Bagus mengajak teman-temannya yang lain.


Sebagai catatan, Bagus dan angkatannya telah lulus yang kemudian penerus-penerus seperti Cipto serta lainnya meneruskan perjuangan, ditambah murid baru pada tahun ajaran baru kemarin beberapa bulan lalu.


***


Di ruang ganti tim Indonesia, Pelatih Shin menerangkan beberapa hal yang memang harus dilakukan dan jangan bergerak terlalu sembarang, tetap pada posisi untuk kedisplinan.


Jika memungkinkan bergerak bebas, maka bergeraklah sambil mengawasi situasi di lapangan.


Arahan itu terlihat mudah, tetapi ketika dipraktekkan di lapangan adalah kesulitan yang lain lagi.


“En … Apa saya bisa solo run?” ucap Reza sambil mengangkat tangan.


“Huhu~ Saya striker sepertinya akan kalah gol daripada kiper!” keluh Sananta dengan nada candaan.


“Itu bagus, lakukan selagi bisa. Tunjukan kemampuan ajaibmu itu, kiper muda!” balas Pelatih Shin yang langsung diterjemahkan oleh penerjemahnya.


Reza kemudian menoleh kepada Sananta dan tersenyum kikuk. “Ahaha~ Untuk Kak Sananta, maaf deh kalau akan begitu.”

__ADS_1


Kesenjangan sebenarnya terjadi disini, tetapi mau bagaimana lagi, Reza seperti pemuda yang dari bukan siapa-siapa tiba-tiba menjadi Bintang Paling Terang.


Itu semua berkat kerja kerasnya demi beradaptasi dari kemampuan yang diberikan oleh Sistem Kiper.


Kesenjangan ini tidak menutup bahwa Reza dikatakan curang hingga jika terus menerus dilakukan, Reza bakalan diperiksa berkali-kali oleh badan doping atlet.


Takutnya, atlet gila ini, dengan staminanya yang seperti tanpa batas, melakukan doping. Namun, semuanya terbantahkan ketika Reza dinyatakan secara resmi 100% tak memakai doping.


Hal itu juga sempat terjadi di Liga Champions, turnamen seketat itu tak bisa membiarkan seorang atlet melakukan kecurangan, tetapi Reza itu bersih dari zat gila tersebut meski dicurigai karena staminanya dan primanya.


Jeda babak pertama berakhir, hingga babak kedua pun segera dimulai, sang wasit meniup peluit setelah semua pemain bersiap.


Setelah peluit ditiup, Sananta yang memegang bola memberi kepada Evan yang berada di tepi lingkaran lapangan.


Evan pun sempat mengontrol sejenak bola menunggu langkah cepat rekan-rekan sayap melakukan pergerakan.


Lilipaly di sisi kanan, Saddil di sisi kiri telah bersiap menerima umpan cepat dari Evan.


Dalam sepersekian detik kemudian, Evan melambungkan bola ke sisi kiri secara diagonal kepada Saddil.


Saddil mencoba bergerak, dia memantulkan sedikit bola ke depan menghindari penjagaan dari Saddegh.


Gerakannya lihai, dengan kakinya yang menari-nari di antara sisi bola mencoba mengecoh Saddegh.


“Ambil!”


Umpan silang setelah meloloskan diri dari Saddegh, di kotak penalti, Sananta mencoba menerimanya dengan menahannya menggunakan dada.


Sementara bola berada di atas dadanya sepersekian detik kemudian, melirik ke arah gawang, Sananta secara tegas mencoba tendangan akrobatik yang menambah atensi pada dirinya.


Bola melesat, Beiranvand juga bereaksi lebih hebat lagi, dia mengulurkan tangan panjangnya dengan tegas, memotong jalur bola.


“Aghh! Masa nggak gol sih!” keluh Sananta sembari beranjak kembali setelah mendarat.


Puluhan menit kemudian, Reza yang semakin jenuh menunggu sambil sesekali menyelamatkan bola pun akhirnya mendapatkan kesempatan tepat di menit 84.


Saat itu, skor yang masih kacamata, Reza berniat merubah angka itu menjadi satu untuk keunggulan Indonesia.


Dia seperti yang telah terjadi, mengaktifkan Mata Bijak sambil mengendalikan bola.


...[Hati-hati Tuan, Sistem Kiper mendeteksi ada pengguna Sistem juga pada ajang ini!]...


“Anjir, kenapa baru kau kasih tahu? Ini sudah– Ah! Sudahlah, mending fokus dulu!”


Sudah dapat ditebak, raut wajah Reza agak kesal, sembari bergerutu, Reza terus menggiring bola begitu lihai dan melewati beberapa pemain kelas dunia lainnya.


Taremi dilewati!


Azmoun apa lagi!


Gholizadeh bahkan mati langkah!


Semuanya begitu mulus tanpa stagnasi, agak membosankan bagi yang sudah sering melihatnya, tetapi masih ada kesan tersendiri ketika Reza berhasil melewati satu persatu pemain lawan.

__ADS_1


“Itu dia! Wohoo~ Darah saya mendidih! Ini mengagumkan! Skill-nya, pergerakannya, semuanya terlihat mulus!


Messi! Ini Messi dengan profesi Kiper!”


Sraatt!


Sebuah tarikan dari Ghoddos, Reza agak kehilangan keseimbangan, tetapi dia sedikit menggertak kepada wasit yang hendak meniup peluit.


“Lanjut!!! Masih … Bisa!”


Bola bergulir ke depan, sementara Reza menyentuh rumput memakai kedua tangannya yang kemudian dengan menambah kekuatan kaki, dia berhasil kembali seimbang.


Pada momentum ini, Reza seperti kerasukan arwah yang bersemangat.


“Hahaha!”


Reza menggeser tubuhnya dan menendang bola ke depan secara lembut demi melewati seorang bek yang mendatanginya.


Dari sisi kanan dan kiri, hingga belakang perlahan menyusul untuk mematahkan serangan ini.


Namun, ini adalah Reza, dia bisa melihat beberapa detik kemudian dan memilih apa yang harus dilakukan.


“Hegh!”


Nyaris bertabrakan penuh karena terlalu fokus kepada Mata Bijak, dia sempat menyerempet Hosseini.


Jarak bola ke mulut gawang sejauh 27 meter, itu sudah cukup pendek untuk saat ini dengan kemampuan miliknya.


“Tangkap ini!”


Bam!


Membelah udara, bola begitu cepat melintas seperti peluru yang ditembakkan, kecepatannya nyaris menyentuh 120 km/h dari alat yang telah disediakan penyelenggara.


Bola ini sebenarnya mudah, tetapi karena kecepatannya membuat Beiranvand harus bersusah payah.


Bola jalur lurus!


Tangan besar dan panjangnya mengulur, dia mencoba menyentuhnya untuk beberapa centimeter saja.


Jarinya bersentuhan dengan permukaan bola, gesekan fluktuasi terjadi hingga bola masih terus menerobos dan masuk ke gawang!


Tendangan supermasif penghancur!


“GOOOOOL!”


Seisi stadion bergemuruh, Reza dan rekan-rekannya berlari ke sudut lapangan demi berselebrasi.


Reza tetap pada selebrasi ikoniknya, duduk bersila dan membaca sebuah buku yang bersampul “1001 Cara Menjadi Kiper Hebat”.


“Mantap, Rezaaaa!!!”


Tak ada yang tak bersemangat, seluruh staf kepelatihan dan pemain cadangan berseru senang.

__ADS_1


Sementara itu, para pemain Iran bertunduk lesu. Menit sudah menyentuh angka 87.


“Cukup menang tipis, deh!” gumam Reza sembari meletakkan buku miliknya ke sisi luar lapangan.


__ADS_2