Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 60 - Mimpi Perlahan Mengungkap


__ADS_3

Reza hanya terdiam mendengar sindiran sistem yang bernama Kiper. Dia tak mempunyai tenaga untuk menyanggah kebenaran apa yang dikatakan oleh Kiper.


Dia memang sangat pesimis. Reza tidak begitu berharap saat pindah nanti akan segera dimainkan. lagipula pemain seperti Reza dari negara antah-berantah yang tak terkenal, membuat beberapa tim Eropa dan tim kuat lainnya memandang remeh Indonesia.


Namun, hal yang tak dimiliki oleh mereka ada pada negara Indonesia. Keberagaman membawa suatu persatuan, membuat rakyatnya mampu melawan hak atas mereka.


Kembali ke Reza. Saat ini dia sedang berbaring pada ranjangnya dalam diam. Sesekali dia menatap jam beker di atas nakas samping tempat tidur. Reza hanya menghela nafas panjang.


“Masih jam dua lebih lima menit. Latihan rutin jam tiga lebih tiga puluh menit. Jadi … masih agak lama.” Reza mengganti posisi berbaringnya yang awalnya terlentang menjadi menyamping.


Sembari menutup mata perlahan, Reza bergumam pelan. “Tidur aja dulu.”


Reza pun tertidur tanpa tahu sebuah email dari Pencari Bakat Radko memasuki smartphone nya.


Layar smartphone menyala di atas nakas. Dari layar terlihat pesan email dari Radko yang mengatakan Reza harus segera mengurus hal-hal untuk kepergiannya ke Slowakia nanti.


Pencari Bakat yang begitu perhatian kepada targetnya. Lagipula sudah lama tak mencari bakat, maka ketika dia keluar mencari, Radko langsung terjun ke negara antah-berantah untuk mencari berlian ditumpukan batu tak penting.


Berlian itu ingin diasahnya dan menjadi sebuah senjata sekaligus perisai dari bahan berlian. Senjata dan perisai untuk klubnya, dan demikian halnya untuk tim nasional dari targetnya itu.


***


Di lapangan SMA Harapan, para pemain sedang berkumpul tepat pukul 15.30. Di hadapan semua pemain, pelatih Sofyan berdiri dengan raut wajah kesedihan mendalam.


Pelatih Berto di sampingnya hanya bisa berdiri dan tak ingin mengurusi kesedihan kepala pelatih. Berto sendiri sudah mengetahui bahwa Reza akan segera pindah ke Slowakia pada semester mendatang untuk memenuhi klub baru dan klub profesional pertama bagi Reza.


“Baiklah … saya akan mengabsen kehadiran kalian, kedisplinan wajib dilakukan tanpa kompromi.” Pelatih Sofyan membuka map di tangannya dan segera satu persatu memanggil nama pemain.


“Bagus?”


“Teguh!”


“Amin …”


“…”


Hingga nama terakhir yang memang dia tak niat memanggilnya. Karena nama itu sendiri tak ada kehadirannya saat ini, ia adalah Reza Kusuma.

__ADS_1


‘Anak itu akan mengejar impiannya. Saya tak bisa melarang haknya,’ batin pelatih Sofyan.


Setelah para pemain melihat pelatih Sofyan meletakkan map daftar kehadiran, sontak kebingungan melanda mereka semua. Satu nama yang tak dipanggil pelatih Sofyan membuat suasana agak berubah.


“En … pelatih–”


Sebelum Bagus bisa berkata, pelatih Sofyan langsung memotongnya. “Reza? Dia sedang mengurus masa depannya.”


Sruk!


Seorang pemuda datang dan berhenti begitu tergesa-gesa dengan menunduk memegangi lututnya. Tubuhnya naik turun seiring nafasnya yang memburu. Keringat mengucur deras. Jantungnya berdetak kencang menjadi terpacu.


Jersey berwarna hitam dengan tas yang digendongnya menjadi pusat atensi para pemain. Dia adalah Reza yang sedang dibahas saat ini. Dalam keadaan kelelahan Reza datang secara tiba-tiba mengejutkan mereka semua.


“Ma–Maafkan saya! Saya terlambat! Sa–Saya baru pertama tidur siang sejak beberapa bulan lalu! Dan … malah ketiduran lebih lama!”


Pengakuan yang begitu jelas. Hal itu membuat hampir semua pemain SMA Harapan mulai menutupi mulut mereka dan tubuh mereka bergetar. Rasa ingin tertawa, tetapi harus ditahan ketika melihat pelatih Sofyan menatap intens Reza.


“Reza? Jangan terlena,” ucap pelatih Sofyan yang langsung membuat Reza berdiri tegak.


“Lari sepuluh kali keliling lapangan, segera!” lanjutnya begitu tegas.


‘Kau harus beradaptasi, Reza,’ batin pelatih Sofyan melihat Reza melakukan apa yang dia perintahkan.


Sementara itu, teman-teman Reza yang melihat rekan sekaligus bintang mereka saat ini merasa kasihan. Tak biasanya Reza terlambat, bukan, ini malah pertama kali selama dia menjadi bagian dari tim SMA Harapan.


Setelah tiga puluh menit, akhirnya Reza yang benar-benar kelelahan mengakhiri putarannya. Dia segera mendatangi pelatih kiper, Vino, untuk meminta latihan tentang masalah refleks yang terlambat jika pandangannya terhalang.


“Ya, jika seperti itu. Hanya insting lah dan pengalaman yang berbicara. Kau harus mengingat di mana terakhir posisi pemain lawan memegang bola sebelum terhalang rekanmu atau lawan.


Kemudian dalam sepersekian detik, jikalau lawan menendang, kau harus bisa mencoba menggunakan insting yang saya katakan diawal. Arah mana bola akan datang.


Atau bisa juga kau mempelajari kaki pemain lawan. Kaki dominan dan arah ke mana saat menendang. Itu penting!”


Reza yang berdiri tegak mendengar begitu seksama. Perubahan sikap hari ini baginya benar-benar berbeda seperti bukan Reza saja.


[Kiper mendeteksi Tuan Rumah memiliki perubahan sikap. Perubahan sikap ini adalah sebuah awal karir Tuan Rumah untuk maju nantinya.]

__ADS_1


‘Perubahan sikap, yaa?”


Reza bukan tanpa alasan menjadi agak berbeda. Dia mempunyai alasan kuat dirinya berbeda seperti biasa. Hal itu ketika sesaat dia tertidur pulas.


Beberapa waktu lalu di rumahnya saat Reza mulai tertidur.


Mimpi mulai terealisasi pada alam bawah sadar miliknya. Mimpi yang membuatnya akan mengingat dan menjadi berbeda atas dirinya sendiri.


Mimpi itu menunjukkan Reza yang masih benar-benar belia. Reza saat itu masih berumur 4 tahun, umur di mana mereka mulai mengenal dunia yang begitu luas dengan cepat.


“Papa … endong!”


Reza yang terlihat imut mengangkat tangannya dengan raut wajah berbinar kepada sosok pria yang nampak buram pada bagian wajahnya. Mimpi itu membuat sosok pria itu semakin misterius.


“Nanti yaa, Nak! Papa mau pergi dahulu.”


Mendengar kata-kata yang seperti penolakan, sontak Reza yang masih kecil itu menangis sejadi-jadinya, dia melapor pada ibunya, Citra tentang perlakuan sosok pria yang nampak buram tersebut. Citra yang terlihat masih agak muda dan wajahnya masih lebih cantik lagi.


“Tak apa, kamu pergi saja. Dia akan cepat melupakan perpisahan tak menyedihkan ini.”


Citra menggendong Reza di pundaknya yang membuat pandangan Reza ke arah belakang dan tak melihat sosok pria berwajah buram yang agak terdistorsi.


“Saya akan pergi. Saya berharap anak kita akan bertemuku di masa depan dengan didampingi hal aneh itu.”


Pria itu perlahan pergi dan menghilang di balik kabut tebal. Perlahan juga dunia itu mulai menjadi serpihan kecil dan beterbangan bebas di angkasa.


“Dia ayahmu.” Suara berat yang begitu mengerikan.


Di saat itu juga, Reza terbangun dari tidurnya dan refleks melihat jam beker di atas nakasnya menunjukkan pukul 15.20.


“Wah! Sial! Saya terlambat!”


Reza pun segera bersiap-siap. Dia langsung ganti pakaian menjadi jersey khusus latihan dan memakai kaus kaki. Dia juga membawa tasnya yang berisi sarung tangan dan juga topi.


Di teras rumah. Dia memakai sepatu dengan tergesa-gesa.


“Mimpi menyebalkan. Entah apa maksudnya, tetapi pria itu seperti tak asing. Apa benar suara mengerikan itu mengatakan bahwa pria dengan wajah buram dan terdistorsi adalah ayahku?”

__ADS_1


Reza pun seketika tersentak. “Ya, setidaknya mimpi ini menyelamatkanku dari terlambat yang lebih parah jika saya tak bangun lebih cepat!”


Kembali ke masa sekarang. Setelah mendengar penjelasan pelatih Vino, Reza duduk di bangku pemain. Dia berniat istirahat yang memang waktunya istirahat bagi para pemain dari latihan berat.


__ADS_2