Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 144 - Nominasi Penghargaan


__ADS_3

November 2024, bulan di mana pemain-pemain terbaik dikumpulkan pada suatu gedung megah.


Ini adalah proses pemberian berbagai macam penghargaan sepakbola Eropa, ini adalah kejadian yang harus didokumentasikan dengan baik.


Reza mendatanginya, lagi pula namanya benar-benar masuk di beberapa penghargaan, seperti penghargaan pemain muda terbaik tahun ini, kemudian kiper terbaik tahun ini, dan juga pemain terbaik tahun ini.


Masuk ke dalam satu nominasi saja sudah sangat senang, tetapi Reza benar-benar masuk ke dalam tiga nominasi bergengsi ini.


Penghargaan Kiper Terbaik tahun ini, atau disebut Yashin Award. Ini diperuntukkan untuk para kiper terbaik yang memiliki banyak kontribusi di Eropa, terkenal dengan kemampuannya dan kehebatannya.


Kemudian Young Player Award In The Year, sebuah penghargaan untuk pemain muda yang prestisius dengan segala macam kemampuan mumpuni dan mampu mengejutkan persepakbolaan Eropa.


Dan … Yang paling prestisius dari semua penghargaan, salah satu yang diincar para pemain terbaik dunia, Ballon d’Or, sebuah penghargaan untuk pemain terbaik dunia tahun ini.


Reza duduk bersama jajaran pemain-pemain terbaik lainnya, memakai setelan jas rapi, perasaan gugup tentu ada di hatinya.


“Fyuuuh … Tenang, Za, tenang! Kau sudah menyelamatkan puluhan hingga ratusan kali, masa ini tidak bisa tenang,” gumam Reza.


Di sampingnya kanannya, ada Roback, penyerang muda tengah dari Milan, diusianya yang menginjak 20 tahun, membuat dirinya masuk nominasi pemain muda terbaik dunia, bersanding dengan banyaknya pemain muda lainnya.


Reza, satu dari dua puluh pemain muda yang benar-benar masih segar soal usia, masih 17 tahun, pemain paling muda saat ini yang masuk tiga nominasi lainnya.


“Reza, tenang saja, saya tahu kamu gugup, tapi kerahkan ketenangan kipermu di sini!” tutur Roback.


Ini adalah sebuah hal yang baru baginya, tentu siapa yang tak gugup menghadapi hal sebesar ini di percobaan pertama kali.


Proses penghargaan dimulai, dibacakan nominasi 5 besar dari pemain muda terbaik dunia.


Reza masuk 5 besar, bersanding dengan Musiala, Gavi, Bellingham dan juga Alvarez.


Ketika pembawa acara membawakan nama-nama itu, sontak Reza hanya bisa terdiam, menunggu dengan penasaran dan juga penuh akan perhatian selama ini.


“Dan … Pemain muda terbaik dunia tahun 2024 adalah Reza Kusuma!”


Sontak tepuk tangan memeriahkan gedung yang berada di Prancis itu, menggema dengan besar, di tengah Reza yang berdiri cukup kaku.

__ADS_1


Reza berjalan, mencoba menenangkan diri hingga naik ke panggung demi menerima penghargaan prestisius dunia pertama untuk dirinya.


“Emm … Pertama-tama, saya akan berterima kasih kepada Bapak Guru dan teman-teman saya di Indonesia, kemudian juga Pelatih Marian yang menemukan diriku.


Tanpa kalian, saya tidak bisa seperti ini. Kalian pasti telah mengenal saya, di mana pemain AS Trenčín beberapa bulan lalu yang mengalahkan PSG di final UCL.


Sekali lagi, saya benar-benar berterima kasih dengan keadaan saya yang terbilang apa adanya, tetapi masih bisa sebesar ini.”


Kalimat yang cukup panjang, tetapi dibawakan oleh Reza dengan lebih cepat dan juga jarak interval kata yang pendek, membuat dirinya seakan bisa melakukan pengendalian diri ini lebih tinggi lagi.


Reza melangkahkan kakinya, membawa piala penghargaan itu untuk disimpan olehnya.


Kemudian, pembawa acara kembali memberikan pimpinan untuk menepuk tangan atas kerja keras pemain muda bernama Reza Kusuma sejauh ini.


Dunia, khususnya Eropa menjadi gempar dengan kehadiran pemain muda asal Indonesia yang mampu mengobrak-abrik lawan tanding.


Sang pembawa acara, segera melanjutkan, kali ini Yashin Award adalah yang kedua untuk dibacakan, seluruh nominasi telah ditunjukkan dan lima besar telah dipampang di layar lebar.


Kali ini, nama Reza Kusuma keluar lagi sebagai lima besar, bersanding bersama Donnarumma, Livakovic, Onana dan juga Alisson.


AS Trenčín, terbilang tim lemah, maka dari itu, puluhan hingga total sekitar 174 penyelamatan telah Reza dapatkan bersama klub profesional pertamanya tersebut.


Dia juga menjadi pemain yang paling penting di UCL hingga mengubah beberapa kejadian yang sebenarnya sudah ditebak, hanya saja berkat kehadiran Reza, dia mengubah segalanya.


“Ah … Terima kasih untuk semua, saya kiper dari Indonesia akan terus mengagungkan namanya dikancah internasional, saya akan memajukan sepakbola Indonesia memakai kemampuan saya ini!


Terima kasih, Yashin Award adalah yang paling berkesan sejauh ini.”


Kali ini, dengan sedikit bergetar, Reza melontarkan kalimat yang dia tahan sejak namanya dipanggil. Dirinya yang semuda ini tentu akan mengejutkan banyak pihak karena berhasil merebut dua penghargaan prestisius Eropa.


Berpindah ke penghargaan utama, Ballon d’Or, sayangnya mau sebagus apa pun Reza sebagai kiper dan mencetak banyak gol, dirinya yang hanya di urutan enam tak bisa masuk dalam penjurian lima besar.


Pemenang Ballon d’Or tahun ini adalah Nbappe, menjadi pemain terbaik dunia, seperti meneruskan perjuangan dua pemain terbaik dunia, yaitu Messi dan Ronaldo.


“Haaa … Ballon d’Or sepertinya sulit sih,” gumam Reza saat berjalan meninggalkan ruangan bersama pemain lainnya.

__ADS_1


“Ey! Reza!” Sebuah suara yang familier mengejutkan Reza.


Reza menoleh ke belakang, di mana Witan berlari menghampirinya dan segera merangkul Reza.


“Reza! Saya, pemain Indonesia yang masuk nominasi Ballon d’Or, meski urutan empat puluh dua!” seru Witan.


“Hah?! Wah! Dua pemain Indonesia bisa masuk nominasi, keajaiban!” balas Reza.


Keduanya pun keluar ruangan dan memilih duduk di taman depan gedung, di sana, keduanya bercengkerama layaknya kakak adik yang sudah lama tak saling bertemu.


“Bagaimana kabarmu di Milan?” tanya Witan.


“Baik, sudah enam belas pertandingan saya jalani dan mencetak delapan belas gol serta menjadi topscorer, satu trofi pertama, yaitu Piala Super Italia.”


“Anjir! Kau, ya! Masih saja mendominasi dan nggak kasih ke yang lain!”


“Ada kok, tapi … Lebih dari itu, Bang Witan aman di Sunderland?”


“Aman! Saya nyetak tujuh gol dari sepuluh pertandingan, lumayan membantu, Sunderland diakhir pertengahan musim ini dipatok memimpin klasemen!” jelas Witan.


“Baguslah kalau betah, bentar lagi kualifikasi Piala Dunia 2026, sekitar Januari 2025 kalah nggak salah, kita harus berjuang saat itu!”


“Iya, saya dari Inggris, kau dari Italia, kita harus beberapa kali pulang ke Indonesia atau bahkan langsung travel ke negara yang hendak dihadapi atau tuan rumah kualifikasi!” tutur Witan.


Keduanya pun tenggelam dalam kenangan di mana saat AS Trenčín yang masih jaya, sekarang, AS Trenčín agak kesulitan untuk menembus lima besar klasemen, hal itu membuat Reza dan Witan merasa tidak puas.


Mereka ingin AS Trenčín saat ditinggal mampu berbenah, tetapi ini sayangnya tidak mereka lakukan.


“Oh, iya! Sampai bertemu nanti!” seru Witan dan segera pamit undur diri.


Reza pun demikian, sekarang tujuan mereka berbeda, tetapi di satu sisi sama, yaitu memajukan klub yang mereka bela saat ini.


Reza dengan Milan, selama enam belas pertandingan, Milan sama sekali tak menyentuh kekalahan atau bahkan hasil imbang, kemudian kebobolan saja tak pernah.


“Haaa … Sekitar beberapa bulan lagi, kualifikasi babak pertama Piala Dunia 2026 akan berlangsung, kemudian babak kedua, babak ketiga dan babak final. Ah … Akan panjang!” gumam Reza.

__ADS_1


__ADS_2