
Tiga minggu sejak Indonesia memenangkan piala dunia edisi tahun 2026, masih ada kesan euforia tersendiri yang membuat di beberapa tempat terkadang masih begitu ingat tentang bagaimana perayaan besar-besaran dilakukan.
Di mana, para pemain Indonesia melakukan tur keliling Indonesia, di setiap tempat-tempat yang dirasa cocok, mereka akan buat sejenis panggung konser lagu-lagu nasional dengan ditambah games-games unik yang diprakarsai oleh para pemain Indonesia dan staf pelatih itu sendiri, dan juga edisi tanda tangan fans.
Meskipun hanya sekitar 15 kota besar di Indonesia, tetapi rakyat Indonesia juga tak begitu memprotes hal ini, mereka tahu bahwa pasti para pemain kelelahan sejak berakhirnya turnamen besar tersebut.
15 kota itu di antara lain, Padang, Palembang, Jambi, kemudian di pulau Kalimantan ada Balikpapan, Samarinda, Pontianak, setelahnya di pulau Jawa ada DKI Jakarta yang sudah lebih dahulu dilakukan, Yogyakarta, Surabaya, setelahnya menuju ke sisi Selatan Indonesia di mana Denpasar masih termasuk.
Menuju ke tengah Indonesia, ada Kota Makassar sebagai kota terbesar di Sulawesi, kemudian kota kelahiran sang bintang Reza Kusuma, Kota Palu.
Di sanalah mereka berlama-lama sejenak, bersilahturahmi bersama keluarga Reza dan calon istrinya, kemudian setelahnya trip mereka menuju Manado sebagai Kota ke-13, dan dua kota terakhir adalah Kota Ternate dan juga Kota Jayapura sebagai penutup tur keliling Indonesia.
Tur ini adalah sebagai tur kemenangan, semua daerah menunggu, bahkan mereka yang tak kedapatan daerah yang akan dikunjungi karena keterbatasan waktu dan fisik para pemain serta staf pelatih, mereka berbondong-bondong menuju daerah yang akan menjadi tempat tim nasional Indonesia singgahi.
Semuanya bersuka cita, inilah menjadikan fenomena langka yang terjadi di Indonesia, sangat jarang rakyat Indonesia merasa kesenangan yang bersifat massal, paling tidak mereka senang ketika Ferdy divonis–, Lupakan.
Kembali kepada Reza yang saat ini menatap keluar jendela rumahnya, dia yang telah memilih pulang ke Kota Palu, langsung membeli rumah yang minimalis, tetapi halamannya adalah sebuah kepentingan tersendiri.
Reza mempunyai sebuah prinsip, rumah kecil minimalis bisa ditempati dengan nyaman tak masalah, halaman nomor satu dengan luasnya diperhitungkan karena nantinya Reza ingin bisa berkegiatan hanya di halamannya saja.
“Tiga hari lagi adalah hari di mana saya mengikat janji dengan Vera,” gumam Reza.
Persiapannya cukup sederhana, tak perlu besar bagaimana, mereka hanya ingin sebuah pernikahan yang diberlangsungkan dapat diingat selamanya oleh masing-masing ingatan.
“Di depan, di pasang tenda, kemudian di sana … Di sana dan–”
“Reza!!! Wohoo! Kau ini, ya! Jangan ambil pusing! Kita yang bantu atur!” seru seseorang dari arah pintu pagar.
Rupanya itu adalah teman-teman seperjuangannya di SMA Harapan, mereka menaiki motor dan juga beberapa di antaranya terdapat mobil bak terbuka, benar-benar teman yang ada di saat suka dan duka.
***
__ADS_1
Hari di mana Indonesia merasakan, ketika bintang sepakbola mereka melaksanakan sumpah janji suci kepada wanita idamannya, wanita yang ada disaat dia senang maupun bersedih.
Wanita yang membuka tangan lebar-lebar meski pasangannya diterpa badai yang memberatkan pundaknya dalam meniti jalannya sebuah kehidupan.
Wanita ini, kelak akan menjadi pasangan hidup semati, dan juga akan menjadi ibu dari anak-anak mereka yang dengan harapan besar dari Reza, anak-anaknya bisa meneruskan tongkat estafetnya saat ini.
Dua orang saksi, wali masing-masing mempelai dan tentunya sepasang calon suami-istri telah bersiap, berjalan di atas karpet merah, ditemani cukup banyak orang yang sebagai tamu undangan.
Di hari pernikahan yang cukup sederhana ini, Reza Kusuma dan Vera Saskia mengikat janji suci atas keduanya, dengan perkataan cukup panjang tanpa terpotong, keduanya dengan seruan “Sah!” dari para saksi dan tamu undangan.
Sontak tepukan tangan meriah dan teriakan yang tak kalah meriah dari teman-temannya Reza, baik dari timnas Indonesia ataupun dari mana pun mereka berada, ini adalah hari kedua yang terpenting setelah memenangkan piala dunia.
“Lempar! Lempar!” teriak para tamu undangan.
“Hehe, yok!” Reza dan Vera berbalik belakang, mengangkat bunga yang sudah disediakan dan dilemparnya ke belakang.
Namun, kejadian konyol terjadi, bunga itu terbang melesat hingga keluar area rumah Reza dan ditangkap oleh anak kecil yang lewat.
Sontak, gelak tawa pecah, ini adalah bagaimana Reza yang tak dapat mengatur kekuatan tangannya dalam melempar sesuatu.
Reza mendekati Citra, berlutut dan menyalami serta mengecup tangan ibunya, memeluknya begitu hangat.
“Jaga Vera, jangan seperti Ayahmu,” bisik Citra begitu pelan.
“Ayolah, Bu, jangan dulu bahas dia,” balas Reza dengan wajah yang tertekuk.
[Ding! Tuan … Tuan telah berhasil merangkak dan meraih posisi puncak dunia sepakbola! Kiper Legendaris pantas disematkan dalam “Title” Tuan di manapun Tuan berada!]
[Semua yang ingin Tuan tanyakan, silahkan! Pintu jawaban terbuka lebar untuk Tuan! ⊂((・▽・))⊃]
‘Reaksi itu …’ batin Reza.
__ADS_1
“Reza! Ayolah, kita duduk-duduk santai, tinggalin wanitamu itu, hahaha!” seru Bagus yang berkumpul bersama teman-teman SMA Harapan dulu, sekarang mereka merintis takdir yang berbeda.
“Kurang ajar, ya, Kakak!” Sempat pamit kepada Vera, Reza langsung mendatangi Bagus.
“Pffft! Kakak? Ayolah, Za, panggil nama aja di sini, tidak perlu kata itu lagi!” balas Bagus.
“Iya, Reza, kita akan bernostalgia di sini!” sahut Teguh Sucipto.
“Yoi-yoi,” timpal Danar dan Dennis secara bersamaan.
Reza pun ikut larut dalam nostalgia ini, ditemani Vera dan meninggalkan tamu undangan yang memilih juga fokus kepada hidangan ala makanan khas Kaili, dengan kuah-kuah santan, seperti Uta Kelo, dan beberapa hidangan daging seperti Uvempoi ataupun Kaledo.
“Kolesterol dan darah tinggi menjauh,” celetuk Reza diikuti gelak tawa para tamu undangan.
Ini adalah hari penuh senyuman cerah, Reza dengan setelan jas memang tak dapat dipungkiri membuatnya ingin segera melepas jas itu dan meninggalkan kemeja sebagai pakaiannya.
“Issh, kebiasaan! Ini kita pakai sampai acara berakhir, memangnya kenapa tidak suka jas?!” seru Vera.
“Jersey lebih enak sih,” gerutu Reza.
Sikap keduanya membuat teman-teman Reza cukup merasa iri, tetapi di satu sisi senang karena kiper SMA Harapan dulunya sekarang mampu membawa negaranya meraih trofi piala dunia dan mendapatkan hati seorang wanita cantik.
“Reza, setelah ini, kau bakalan ke Milan lagi?” tanya Teguh.
“Ya jelas, di sana dia bermain!” sahut Cipto hingga membuat Bagus menatapnya sengit.
“Sudah, sudah, ini … Jelas saya ke sana, tersisa semusim sebelum saya pindah, kira-kira ke mana?” ungkap Reza.
“Mudah kali kau bilang kira-kira ke mana!” seru Teguh.
“Hmm … Kata agen Bryan, saya ditawari sekitar lima belas klub potensial, dengan tawaran transfer nyaris menembus satu triliun jika dirupiahkan, tentunya dengan uang pelepasan atau ganti rugi yang harus ditanggung mereka jika saya pindah dengan cara seperti ini,” jelas Reza.
__ADS_1
“HAAAA?!!” Jelas, keterkejutan pasti ada di antara mereka, bahkan Vera seorang pun masih harus terkejut.