Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 124 - Keinginan


__ADS_3

Pepatah buatan mengatakan, musuh abadi adalah teman di masa depan yang akan merubah pandanganmu terhadap sesuatu.


Musuh abadi bisa dibilang jarang terjadi oleh banyak pihak, tetapi Indonesia dan Thailand adalah kisah tersendiri yang mana menunjukkan kesan permusuhan yang tak pernah padam.


Musuh abadi lah istilahnya, tetapi dibalik permusuhan dalam lapangan, mereka mungkin masih memiliki hati untuk berteman di luar lapangan.


Musuh Abadi ini memiliki cerita tersendiri yang membuat kesannya semakin menarik, sanak-saudara, teman hingga orang tak kenal sekalipun akan saling berkumpul demi melihat hari di mana Indonesia sesosok burung Garuda akan bertemu Thailand yang diinterpretasikan sebagai Gajah Putih.


Garuda dan Gajah Putih, siapa yang menang, itu tergantung keberuntungan dan juga yang paling penting adalah kemampuan. Garuda, hewan mitologi yang digambarkan sebagai sosok perkasa, jika dinalar lebih dalam, Garuda bisa mencabik-cabik mangsanya dalam sekali tangkapan, sosok kuat nan perkasa!


Sedangkan Gajah Putih, memiliki arti yang sangat tersirat, kekuatan, kekayaan, menyebarkan keberuntungan adalah sebuah makna akan kekuasaan yang bisa berkuasa dan bertahan lama sebab keberuntungan –Pantas menang terus Piala AFF–.


Apapun itu, semuanya menunggu secara jelas, hari di mana Indonesia dan Thailand akan bertemu satu sama lain demi memperebutkan tiket menuju final dalam laga semifinal panas tanggal 13 Januari 2024.


“Ayo, bergerak! Jangan pikirkan musuh nantinya.


Yang terpenting dalam sebuah laga hidup mati adalah menang dengan strategi dan memecahkan kemampuan musuh dengan strategi!”


Ungkapan-ungkapan menggebu-gebu dilontarkan oleh Pelatih Tae-yong yang menggunakan bahasa Inggris, meski terdengar kaku, tetapi masih bisa dimengerti.


Di tengah kesibukan para pemain yang berlatih, Reza masih fokus dengan sarung tangannya yang mulai lecet di sana-sini.


“Memang sarung tangan sponsor, sesuai permintaan, tetapi bahannya menjadi lebih rentan.” Reza bermonolog.


Alhasil Reza memilih sarung tangan hasil hadiah ulang tahunnya beberapa waktu lalu. Sarung tangan yang banyak itu dijadikan bahan sebagai latihan saja.


“Reza, misalkan kita melaju ke final dan memenangi laga, apa yang kau inginkan nanti?” tanya Saddil mendatangi Reza.


Reza menoleh Saddil yang sedang menenggak sebotol minuman dengan cepat.


“Ya … Pertama-tama saya akan meminta kepada federasi sepakbola kita agar tak banyak makan uang anggaran untuk berfoya-foya, utamakan pesepakbolaan yang lebih baik.”


Sebuah perkataan yang menohok hingga mengejutkan Saddil.


“Awas, Za, tukang bakso lewat,” celetuk Saddil.

__ADS_1


Reza hanya menanggapi sebagai bahan candaan, lagipula sebenarnya permintaannya tidak muluk-muluk, dia lebih mementingkan kejayaan Indonesia dikancah internasional.


Hal pertama yang harus diperbaiki jelas adalah para tikus-tikus berdasi yang mendiami federasi harus disingkirkan, kemudian diberikan tempat sosok yang layak.


Setelahnya, pengelolaan liga diperbaiki sehingga bisa menyamai liga-liga top Eropa, atau tidak perlu jauh-jauh, menyaingi liga-liga top Asia saja sudah sangat bagus agar talenta-talenta muda seperti Reza bisa berkembang pesat dan tidak perlu harus pergi ke luar negeri yang mana jam terbang permainan dipertaruhkan.


“Hei, kalian berdua, ayo cepat pendinginan!”


Sebagai intermezzo sebelum latihan berakhir, para pemain membentuk lingkaran dan ditanyai sebuah pertanyaan satu persatu.


“Saya tahu ini agak berbeda, tetapi saya akan menanyai kalian satu persatu.”


Pelatih Tae-yong menunjuk Reza untuk pertama kali, lantas Reza maju selangkah dan menunggu pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Pelatih Tae-yong.


“Jika kita berhasil mencapai final dan menang, apa yang kamu inginkan?”


Reza agak terkejut, pertanyaan iseng-iseng dari Saddil lantas ditanyakan ulang oleh Pelatih Tae-yong.


“En … Jangan cepu, ya?”


“Oke, pertama dan yang utama demi kejayaan sepakbola Indonesia. Para oknum yang numpang demi uang di federasi lebih baik disingkirkan.”


“Woooo!” Seluruh pemain berseru senang, baru kali ini ada anak muda macam Reza yang blak-blakan sejauh ini.


“Kedua, perbaiki liga-liga Indonesia pakai anggaran yang telah disediakan, jangan hanya tahu masukin ke saku aja, hehe~”


Melihat suasana semakin berbahaya, asisten pelatih Arianto langsung menyela. “Oke, oke, lebih baik hentikan. Kita akan ke pemain selanjutnya!” Asisten pelatih Arianto, menengahi sebelum tambah berbahaya.


“Saddil, apa yang kamu inginkan?”


“Karena usia saya yang seperti ini, saya berharap ada beberapa klub bergengsi di Asia meminang diri ini yang tak lama lagi habis kontrak di Selangor.”


Pelatih Tae-yong kemudian menunjuk Marselino, salah satu pemain muda bertalenta yang masuk dalam daftar 100 besar wonderkid dunia.


“Karena sudah sejak transfer musim panas kemarin sudah dipinang Deinze klub kasta kedua liga Belgia, saya masih tak terlalu menginginkan sesuatu.

__ADS_1


Mungkin hanya berharap bahwa saya bisa menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dari sana setelah sempat melakoni empat laga.”


Setelahnya, Pelatih Tae-yong terus menerus bertanya tentang keinginan mereka jika memenangi laga antara Indonesia dan Thailand.


Keinginan ini menambah pengetahuannya akan proses berpikir anak asuhnya. Hanya saja, apa yang paling tak terpikirkan olehnya adalah jawaban Reza yang seperti melantur, tetapi bisa menohok dalam kepada oknum yang tersinggung.


Menyisihkan masalah ini, Pelatih Tae-yong pun menutup latihan intensif mereka selama dua hari terakhir, dan besok adalah laga menghadapi Thailand yang akan diselenggarakan di stadion Lusail yang berkapasitas sekitar 89.000 penonton.


“Sssh … Ini semakin melelahkan saja,” gumam Reza meski dia sudah menyetok minuman isotonik bernutrisi spesial miliknya.


Sesekali juga dia memberikan kepada rekan setimnya demi menunjang stamina mereka dalam berlaga agar dia juga tak kesusahan nantinya menanggulangi lawan.


...[Halo! Sudah lama Sistem tak berbicara. Sistem Kiper merasa, ilmu yang diberikan telah cukup sehingga terlalu sia-sia membuang-buang waktu Tuan!]...


“Masalahnya, kau memberi misi gila itu!” hardik Reza.


Dia saat ini berjalan kaki menuju hotel yang memang tak jauh, perasaan malu langsung menyentuh dirinya ketika tiba-tiba menghardik Sistem yang notabenenya tak diketahui oleh orang-orang sekitar.


Reza menggerutu, dia tak habis pikir awalnya, tetapi mau dibuat apa, dia harus tetap mengerjakan misi itu demi hadiah yang masih misteri.


“Lagipula kenapa kau memberi misi terus sih?! Oh, hmm … Berapa, ya? Ah! Pokoknya katamu setelah misi ketenaran itu, saya bisa bebas!” gumam Reza.


...[Demi mengisi kekosongan.]...


“Selalu saja seperti itu. Sistem tak ada gu–” Reza menyadari perkataannya yang akan benar-benar menohok. “Sistem tak ada belas kasihan,” lanjutnya dengan pelan.


...[Sistem tak ada gunanya.]...


“Ya, maaf, deh!”


...[Ya. Intinya, Sistem Kiper akan memberikan misi sesuai kemampuan Tuan dan juga demi menyelesaikan beberapa pecahan misteri dari awal keberadaan Sistem Kiper.]...


Reza hanya terdiam, dia malas berdebat dengan eksistensi yang tak jelas dari mana keberadaannya tersebut.


“En … Setelah kupikir-pikir, perkataan ku atas keinginanku tadi agak berbahaya, ya? Jika ada intel? Anjirlah!”

__ADS_1


Reza menambah kecepatan langkahnya hingga sampai ke lobi hotel dalam tiga menit kemudian.


__ADS_2