Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 96 - Perempat Final, Menghadapi Vietnam.


__ADS_3

Pernahkah kalian melihat seseorang yang sudah ada di puncak segalanya, tetapi hanya satu hal buruk saja seseorang ini merosot jatuh hingga kembali ke awal mula.


Mereka-mereka inilah yang memiliki banyak pengalaman, ketika sudah jatuh, maka mereka bisa memilih langkah mana lagi yang kemungkinan tidak membuat jatuh lagi.


Pengalaman berada di atas segalanya, tanpa ampun, orang yang memiliki sebuah pengalaman dalam suatu hal mampu menyelesaikan hal itu lebih baik lagi setelah dilanda kegagalan awalnya.


Semua pemahaman tentang pengalaman ini harus ada pada setiap orang, buatlah dirimu nyaman dengan pengalaman maka kemungkinan besar kamu akan semakin berjaya di masa depan.


Hal inilah yang dialami oleh Reza, dia yang merasa sudah di atas angin, ketika mendapatkan sedikit masalah, sontak saja dia jatuh saat itu juga.


Cedera ringan yang dideritanya membuatnya semakin bersemangat untuk terus maju dan tidak melihat ke belakang untuk sementara.


“Wah … Mereka menyelesaikan laga dengan kemenangan!” ucap Reza dengan perasaan senang.


Dia pun mematikan televisi dan kembali beristirahat, sebab kemungkinan besok adalah hari yang diperbolehkan untuk dirinya pulang.


Baru sejam menutup mata, dia yang tidak nyaman tiba-tiba terbangun dengan beberapa suara ramai dari luar ruangan.


Turun dari ranjang, Reza menuju pintu ruangan dan membukanya.


Melihat ke kiri dan kanan, rekan-rekannya dan beberapa pemain Qatar datang sambil tertawa renyah.


“Hei … Jam jenguk sudah berakhir!” seru Reza dan langsung menutup pintu ruangan.


***


“Hahahah! Ayolah, Reza! Besok kau harus segera keluar. Lagipula kata pelatih, cederamu tak parah!”


Saat ini, di ruangan inap Reza, dipenuhi rekan-rekannya dan beberapa pemain Qatar.


Ada juga Ali yang saat itu secara tak sengaja menendang kepala Reza, dengan meminta maaf sebesar-besarnya, Ali merasa tak berkutik saat itu.


“Ali … santai saja, saya tidak apa-apa!” ucap Reza menggunakan bahasa Inggris.


Ali pun mengangguk ringan. Beberapa lama mereka saling bercanda ria, akhirnya mereka pulang kembali ke hotel tim masing-masing.


“Pelatih Bima! Perempat final lawan siapa?” tanya Reza sesaat Pelatih Bima ingin pergi.


“Tim Asia Tenggara lainnya, runner-up grup B, Vietnam!”


Tubuh Reza bergetar hebat. Lawan kali ini adalah Vietnam yang dalam peringkat FIFA sudah masuk 100 besar dan nomor 1 dalam lingkup Asia Tenggara.


Vietnam, salah satu musuh bebuyutan abadi Timnas Indonesi. Dari segala jenjang usia. Timnas Senior, Timnas U-19/U-20 hingga Timnas U-16/U-17 ini tak jarang merasakan kekalahan menghadapi tim ini.


“Pelatih, mohon bimbingannya!” seru Reza.

__ADS_1


“Ahaha! Yasudah, istirahatlah dan besok saya harap sudah ada di lapangan latihan!”


Reza pun ditinggal sendirian, ruangan yang sunyi membuat perasaan gugup mulai terasa.


“En …”


Reza mengambil posisi terbaiknya dan mulai tertidur pulas dalam keadaan lelah. Dia sudah mencurahkan semua tenaganya selama ini, sudah saatnya istirahat sejenak dalam sehari ini.


“Selamat … malam,” gumamnya.


***


Keesokan harinya, cuaca yang sangat cerah, temperatur disekitar sendiri agak bergerak menuju panas terik padahal saat itu masih pukul 08.00 pagi.


Di Training Ground Timnas Indonesia U-17, saat ini mereka sedang bersiap berlatih dengan tujuan yang sama di antara mereka, yaitu memenangi laga perempat final menghadapi Vietnam.


Laga kali ini adalah laga berat kesekian kalinya, lagipula Vietnam sendiri juga saat laga uji coba sebelum turnamen ini berlangsung melawan tim liga Jerman, Borussia, nyatanya Vietnam menang 2-1 saat itu.


Dengan itu benar-benar terbukti betapa kuatnya tim Vietnam.


Reza yang sudah sembuh dari cedera ringannya, harus diberikan porsi latihan yang lebih kecil daripada sebelumnya. Lagipula Reza masih dalam keadaan baru pulih dari cedera ringan.


Tim Indonesia sedang bersiap, sementara itu di Training Ground lainnya, Vietnam sedang dalam keadaan tak diuntungkan.


Banyak pemain inti dari mereka berjatuhan cedera akibat latihan dan juga menjalani pertandingan yang terlalu intens.


Dilanda badai cedera justru merugikan mereka, dan malah menguntungkan Indonesia saat ini.


***


13 Mei 2023, pukul 20.00 Waktu Jepang.


Di stadion Okinara yang berkapasitas sebesar 45.000, yang mana laga antara Indonesia U-17 melawan Vietnam U-17 sedang berlangsung.


Stadion itu nyaris dipenuhi oleh para pendukung Indonesia dan juga Vietnam. Perang mulut di antara suporter terjadi, membuat pertandingan kali ini semakin memanas.


Di ruang ganti Indonesia U-17.


Pelatih Bima menaruh harapan besar pada skuad pilihannya kali ini. Meski skuadnya tak banyak berubah, hanya beberapa di antaranya saja yang dirotasi.


Seperti I Komang dan Arjuna yang sebelumnya masuk tim inti, sekarang harus duduk di bangku cadangan karena Yanuar dan Riski menggantikan keduanya.


Untuk lini tengah masih dengan lima pemain, masih ada Arkhan dan Nabil yang mengawal sisi kiri serta kanan lini tengah.


Kemudian Narendra, Femas dan juga Achmad Zidan masih setia di tengah. Kesolidan mereka terbukti jelas sejauh ini, meski ada beberapa salah paham di antara mereka.

__ADS_1


Untuk bek, masih ada Rizdjar, Iqbal dan Habil yang berdiri sejajar.


“Oke, saya harap kalian melakukan taktik yang saya katakan. Umpan satu-dua, umpan cepat yang membuat para pemain Vietnam panik!”


“Siap, Pelatih!” seru serentak semua pemain.


Semuanya pun beranjak dari bangku dan segera keluar ruangan demi laga yang ditunggu-tunggu oleh khalayak ramai.


“Ya! Apa yang kalian tunggu?! Ini adalah perempat final! Indonesia menghadapi Vietnam!!!


Di mana pun anda berada, mari dukunglah Indonesia untuk memenangi laga ini dan melaju ke semifinal!”


Komentator Bung Tubagus sangat bersemangat, stasiun televisi TripleTV adalah stasiun yang menayangkan siaran sepakbola terbaik di Indonesia.


“Sebagai informasi, Reza, dia dalam baik-baik saja setelah cedera yang dialaminya beberapa hari lalu.”


Indonesia Tanah Airku~


Sang komentator terdiam ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Tim kesebelasan meletakkan tangan kanannya di dada kirinya, tempat lambang burung garuda berada.


Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka, Tanahku, Negriku yang Kucinta~


Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya~


Seusai reff terakhir dinyanyikan, sorak-sorai tepukan tangan dari para pendukung langsung menggema di stadion.


Setelah lagu itu dinyanyikan, lagu kebangsaan Vietnam digemakan dan beberapa saat kemudian selesai juga.


Koin tos dilakukan, kapten kesebelasan Indonesia U-17 yang saat itu adalah Reza, saling bertatapan dengan kapten Vietnam, Vi Hao Bui.


Koin tos dimenangkan oleh Reza dan lebih memilih memegang bola terlebih dahulu.


Wasit dari Jepang, Takebayashi Satoshi, meniup peluit babak pertama dimulai.


Dari kaki Nabil, dia memberikan bola ke belakang kepada Achmad. Di sana Achmad mengumpan dengan cepat kepada Narendra.


Narendra lantas langsung melambungkan bola ke depan yang saat itu Arkhan sudah bergerak maju, Arkhan mendapatkan bola, para bek Vietnam yang belum siap menjadi terkejut.


Arkhan melakukan pergerakan indah, memainkan bola di antara kakinya, setelah melirik sejenak ke arah gawang, dia melesatkan bola dengan keras.


Bam!


Meski serangan kejutan dimenit-menit awal ini cukup positif, tetapi sayang akurasi tendangan Arkhan masih dalam keadaan belum baik.


Bola justru menyamping di tiang gawang, ya, walaupun hanya beberapa centimer saja dari tiang gawang.

__ADS_1


“Oh, serangan kejutan dari Indonesia! Ah! BAM! Sayang … akurasinya belum dalam keadaan baik-baik saja!”


Pertandingan yang intens melawan Vietnam pun dimulai dari saat itu juga.


__ADS_2