Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 62 - Tangan ‘Sakti’ Saktiawan


__ADS_3

David mengambil bola dengan cepat dan melempar ke dalam kepada Bagus yang agak ke tengah lapangan.


Saat ini, dalam 15 menit pertama, serangan dari kedua tim belum begitu terasa. Seperti ada sesuatu yang janggal terjadi. Apalagi SMA Jaya Bangsa terlihat menurunkan intensitas permainan.


Satu persatu dari mereka saling memberi umpan di belakang garis pertahanan. Bagus dan David mencoba menekan agar lawan bisa saja lengah kemudian kehilangan penguasaan bola.


Kali ini pertandingan terlihat seimbang. Laga kedua bagi kedua tim berbeda saat laga pertama sekaligus laga perdana saat itu.


Saat itu, kedua tim bermain terbuka dan beberapa serangan terus terjadi. Sayang bagi SMA Jaya Bangsa, mereka harus kalah 2-1 dari SMA Harapan.


Tidak seperti ekspektasi banyak orang, SMA Jaya Bangsa harus segera membalaskan dendamnya. Namun, nyatanya saat ini mereka agak bermain tertutup dan hanya terus menggulirkan bola di antara mereka pada lini pertahanan.


“Mereka seakan mengarahkan kita untuk menekan,” gumam Reza.


Reza sebenarnya mulai menyadari kejanggalan atas tim lawan. Reza melihat Febri yang jauh di tengah lapangan hanya berjalan santai sambil melihat-lihat situasi. Matanya tak lepas dari pengamatan permainan.


“Mereka akan membuat kejutan kah? Saya harus fokus.”


Hingga menyentuh menit ke 30, pertandingan berjalan begitu alot tanpa adanya serangan-serangan berarti dari kedua tim. Hanya ada serangan yang menghasilkan tendangan gawang saja karena bola melambung tinggi di atas gawang.


Bagus juga di posisi depan agak terisolir dengan penjagaan zonasi yang begitu ketat dari tim lawan. David yang berlari ke sana ke mari tak begitu menguntungkan Bagus, seperti tim lawan telah mengetahui taktik dari SMA Harapan.


Perlahan tapi pasti, SMA Jaya Bangsa nampak mendominasi jalannya pertandingan yang membuat SMA Harapan kesulitan berkembang seperti ada sesuatu hal yang menghalau itu.


Taktik umpan gabungan antara pendek dan panjang dimainkan SMA Jaya Bangsa. SMA Harapan yang memang mengandalkan umpan pendek semakin terisolir dan menjadi sulit ketika pemain lawan terus melakukan pergerakan.


Permainan yang mendominasi bagi SMA Jaya Bangsa pun berlangsung hingga turun minum. Para pemain yang memasuki ruang ganti tim hanya bisa menunduk lelah, khususnya Reza dan teman-teman yang kelelahan dengan tekanan permainan terus berpindah.


Di ruang ganti tim tandang, SMA Harapan.


Pelatih Sofyan terdiam dan berpikir keras terhadap hal yang menghadang taktik serta formasi kuatnya saat ini. Taktiknya terlihat tak bekerja maksimal, bahkan kesulitan untuk berkembang.


‘Sakti, kau apa 'kan lagi anak didikmu,’ pikir pelatih Sofyan.

__ADS_1


Saktiawan atau yang biasa dipanggil Sakti, pelatih SMA Jaya Bangsa yang bersamaan masuk dengan pelatih Sofyan di SMA Harapan. Kedua orang ini adalah satu angkatan dalam sekolah dan beberapa tim sepakbola kecil di liga Indonesia.


Keduanya menjadi pelatih dengan impian masing-masing, saling mengalahkan dan meraih juara!


‘Semoga kegilaanmu tidak kau lakukan lagi pada anak didikmu. Saya takut juga,’ batin pelatih Sofyan.


Melihat pelatih Sofyan sedang melamun, Reza angkat suara dan sedikit mengungkap perasaan aneh saat pertandingan.


“Pelatih, sepertinya ada kejanggalan dengan mereka,” ungkap Reza dengan jelas.


Pelatih Sofyan mengangguk ringan. Dia pun segera menunjuk papan taktik di belakangnya. Dia mulai menggeser satu persatu pin magnet untuk turun ke belakang –Lini pertahanan.


Melihat taktik yang berubah, Teguh angkat tangan. “Pelatih, parkir bus? Kenapa?”


“Kita bertahan lima belas menit pertama babak kedua. Kemudian jika kalian merasa kejanggalan itu tak terjadi lagi, maka serang!”


Mendapatkan maksud dari pelatih Sofyan, semua pemain mengangguk ringan dengan beberapa pemahaman taktik yang mulai masuk dan dipelajari.


Bagus kemudian tersenyum dalam diam. Dia paham maksud tersembunyi dari pelatih Sofyan.


Apa yang dipikirkan Bagus tak bisa ditebak oleh pelatih itu sendiri. Lagipula pelatih hanya mencoba melakukan pencegahan dari sebuah bencana apapun itu yang membahayakan gawang tim asuhannya.


Pelatih Sofyan menatap Reza. “Reza … fokus!”


Reza mengangguk tegas dan segera menjawab dengan lantang. “Ya, pelatih!”


***


Selepas paruh waktu, kedua kesebelasan kembali masuk. Aura dari para pemain SMA Jaya Bangsa benar-benar terasa berbeda. Aura semangat yang sebelumnya tak ada menjadi menyeruak keluar. Kemudian ada sedikit senyuman misterius dari mereka semua.


Di pinggir lapangan, pelatih Sofyan berkomunikasi dengan pelatih Saktiawan.


“Sakti … sepertinya kau membuat anak asuhmu menjadi agak berbeda lagi. Sesuai julukanmu di kalangan pelatih Youth Tournament sektor Sulawesi Tengah.

__ADS_1


Tangan ‘Sakti’ Saktiawan. Dengan tanganmu, kau melakukan sesuatu kepada mereka dan taktik yang kau jelaskan menambah semangat bagi mereka. Namun, di satu sisi akan ada efek jangka panjang kelak!”


Pelatih Saktiawan yang mendengar beberapa nasihat dari rival pelatihnya itu hanya menatap rendah Sofyan. “Kau tahu, Fyan? Saya tetaplah seperti ini hingga akhirnya.”


Di lapangan, pertandingan pun kembali berlanjut. Dan perbedaan benar-benar terlihat yang membuat serangan spartan dari SMA Jaya Bangsa tercipta.


Berawal dari Febri yang menyusuri tengah lapangan, dia langsung melakukan tendangan direct ke gawang. Bola melengkung membuat Reza sempat mati langkah, tetapi dia terselamatkan ketika bola itu membentur tiang gawang dan kembali memantul ke tengah.


“Wah! Ini … aneh.”


Febri mendapatkan kembali bola. Dia mengumpan secara cepat kepada Andi di sisi kanan penyerangan –Sisi kiri pertahanan SMA Harapan.


Andi melakukan overlap dijaga dengan Adi Satria. Adi mencoba melakukan sliding tekel. Beruntungnya sliding tekel itu bersih dan membuang bola keluar lapangan.


Lemparan ke dalam. Dengan gerakan tipuan, Febri menggeser bola dan segera melakukan cutting inside. Febri kemudian menendang bola menggunakan kaki kirinya. Posisinya yang nyaman benar-benar tanpa kawalan.


Dum!


Dentuman tendangan terdengar keras. Reza langsung terbang ke arah kanan dengan tangan kanannya terulur. Bola yang menarget sudut atas gawang pada tiang jauh pun ditepis Reza hingga keluar lapangan dan menghasilkan tendangan penjuru.


Serangan demi serangan terus dilakukan, begitu mendominasi. Taktik parkir bus adalah satu-satunya cara menghalau gelombang serangan itu. Mau sehebat apapun mereka, ketika menghadapi gelombang serangan dari tim yang sifat dendamnya aktif, benar-benar merepotkan.


Dalam 20 menit pertama babak kedua, serangan lebih mendominasi dari tim kandang. Total 6 shoot on target di gawang Reza selama babak kedua dimulai, berbanding terbalik dengan SMA Harapan yang belum satupun menghasilkan shoot on target.


Serangan itu membuat SMA Harapan terus tertekan dengan stamina yang juga terkuras habis melakukan taktik parkir bus.


Adi Satria, Angga dan Rafli benar-benar digantikan dengan berturut-turut Amin, Jaka dan Arkhan.


Arkhan masih dipercaya, lagipula dia memang lengah saat itu, dan dia saat ini sudah diperingatkan.


Tangan ‘Sakti’ Saktiawan terbukti mampu mengubah timnya yang biasa saja menjadi luar biasa dalam waktu tertentu. Kemampuan menggandakan semangat dan rasa ingin unggul ini memiliki kekurangan.


Tim yang seperti ini akan benar-benar terkuras fisik dan mentalnya. Apalagi jika keinginan mereka tak tercapai, yaitu unggul. Bisa saja tim akan semakin terpuruk, tetapi sebaliknya, jika mereka bisa unggul maka tim akan menjadi semakin percaya diri.

__ADS_1


Namun, tangan ‘Sakti’ Saktiawan belum seberuntung dulu. Saat ini, hingga babak kedua berakhir, skor 0-0 masih bertahan dan nampaknya untuk dipihak SMA Harapan mereka telah kehabisan bahan bakar.


Secara berturut mengalami dua hasil imbang!


__ADS_2